Hello visitor!

My workcorner

This is a picture of my workstation when I am at my MANGUNI Site in Manado.
It is a wooden house and my view is the lovely Manado Bay, with the Manado Tua and the swimming pool, as you can at the picture below.

This site had to undergo a nearly TOTAL REVAMP due to in consistency in the text, I am sorry about that. Perhaps you had been lost in the mess before and I apologize for the inconvenience.

A few years has passed and WordPress has changed read “improved” their editing format and this piece was left behind. At this moment I am STRUGGLING to try to insert a picture from my Google Photo collection since half an hour and unfortunately I was not succesful. ……But now I have no time anymore left since it is 2100 hours already which is bed time for grannies like I am I will try to make a next effort tomorrow perhaps I will have more luck. So wish me luck please and Good night .

DSC00382

.

Below is a picture of my daughter Dina Mariana and myself and my grandson Ewaldo Andipo Sugandi yesterday having tlunch at BGM.

 

Come again maybe by then this posting will be finished, ….Hopefully.BYE BYE.

HARI KEBANGKITAN NASIONAL DAN DR. GSSJ RATULANGIE (1) dari tangan Bpk. IBRAHIM ISA

HARI KEBANGKITAN NASIONAL
DAN DR. GSSJ RATULANGIE (1)

Pelbagai cara dapat ditempuh, — pada saat kita memperingati HARI KEBANGKITAN NASIONAL 20 MEI 1908. Hari ini aku mengimbau perhatian pembaca pada salah seorang tokoh nasional. Beliau adalah salah seorang yang tergolong PAHLAWAN NASIONAL. Tokoh tsb bernama DR. G.S.S.J Ratulangi.

Mengenal pejuang-pejuang pendahulu kita, para ‘founding-fathers’ dari kemerdekaan dan berdirinya negara Republik Indonesia, adalah salah satu cara untuk mengenal sejarah bangsa kita. Juga merupakan salah satu faktor untuk mengenal identitas dan kepribadian bangsa. Ia merupakan syarat terpelihara dan diperkokohnya kesedararan berbangsa. Dan dengan itu pula memperkokoh persatuan bangsa.

Menyinggung masalah persatuan bangsa, terkenanglah pada sahabat karibku Jusuf Isak, pemimpin Penerbit Buku Bermutu “HASTA MITRA”. Aku tidak bisa lupa komunikasiku dengan Jusuf Isak menjelang Hari Kebangkitan Nasional beberapa tahun yang lalu. Ketika mengajukan ide-idenya berkenaan dengan seratus tahun Hari Kebangkitan Nasional. Jusuf menulis kepadaku antara lain sebagai berikut:

“Apakah moral dan message paling inti dan paling hakikat dari peristiwa Kebangkitan Nasional 100 tahun yang lalu? This is it: Persatuan nasional. Karena persatuan nasional kita merdeka, karena persatuan nasional kita kuat dan mandiri, karena persatuan nasional amburadul negeri terimbas amburaqdul, akibatnya negeri serba tergantung, rakyat sengsara, cuma segelintir elit yang tetap senang.

* * *

Bisa dipastikan tidak banyak pembaca, terutama generasi mudanya, yang bisa memberikan jawaban yang benar, siapa Dr. Sam Ratulangi itu. Termasuk orang-orang Indonesia asal Minahasa, biasa disebut KAWANUA, mungkin tidak bisa memberikan jawaban yang lengkap. Mungkin pernah mendengar bahwa Dr Sam Ratulangi adalah salah seorang tokoh pejuang kemerdekaan asal Sulawesi dan salah seorang pemrakarsa dan pendiri organisasi pejuang kemerdekaan Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi, KRIS.

Kita punya banyak tokoh nasional dan juga yang telah dianugerahi gelar sebagaI Pahlawan Nasional, karena jasa beliau-beliau terutama dalam perjuangan melawan kolonialisme Belanda, pendudukan Jepang dan perang kemerdekaan melawan Belanda.

Salah satu tokoh yang unik dan terkenal namanya pada tahun-tahun perjuangan kemerdekaan dan beridirinya Republik Indonesia, adalah DR SAM RATULANGI. Kukatakan u n i k, karena setelah diangkat oleh pemerintah Republik Indonesia sebagai Gubernur Sulawesi, beliau ditangkap pemerintah NICA yang dikepalai oleh Letnan Gubernur Jendral Dr. H.J. VanMook dan dibuang ke Serui.

Tokoh dan pahlawan nasional Dr GSSJ Ratulangi, yang namanya dikokohkan dalam sejarah antara lain dengan dipancangkannya nama beliau untuk sebuah jalan di daerah Gondangdia, Menteng.. . . Jalan tsb sebelumnya bernama Jalan Asembaru. Ditahun 1976 DKI menyetujui usulan dari beberapa orang Manado agar jalan tersebut diberikan nama Jalan Sam Ratulangie. Ini ada hubungannya dengan sebuah gedung di Jalan Asembaru 26. Gedung itu adalah gedung “PERGURUAN KRIS”.

Seperti diceriterakan oleh Pangalila Ratulangi: Perumahan Perguruan KRIS adalah rumah bersejarah. Di masa Perang Dunia II, di situ bermarkas organisasi yang bernama Penolong Kaum Sulawesi. Merupakan pusat pertolongan di seluruh Jawa, untuk wanita-wanita Minahassa yang terlantar karena suami-suami mereka (KNIL) diinternir oleh tentara Nippon. Sesudah perang wanita-wanita itu berangkat ke Minahassa. Kembali kekampung halaman mereka menyebarkan kesedaran Kebangsaan Indonesia!

Ternyata wanita-wanita itu telah menjadi soko-guru pertahanan Barisan Nasional di Minahassa. Ketika para orangtua merek dipenjarakan Belanda, para pemuda remaja mereka pun berontak melawan tentara Belanda pada bulan Februari 1946. Hal itu terjadi walaupun ayah-ayah mereka berfihak KNIL kembali.

Salah satu kegiatan sosial yang dikordinir dan dilakukan oleh Dr Sam Ratulangi ialah mengurus para keluarga bekas tentara KNIL. Agar kehidupan dan pendidikan anak-anak mereka bisa berjalan terus dengan baik. Kegiatan ini dikoordinasikan dalam satu organisasi yang dinamakan Penolong Kaum Selebes (PeKaSe) dan markasnya adalah di Nieuwe Tamarinde Laan No 26 jalan mana kemudian diberi nama Jalan Asem Baru.

Situasi amat rumit. Di satu fihak para keluarga KNIL itu merupakan bagian dari rakyat Minahasssa dan harus diurus dengan baik penghidupan dan pendidikan bagi anak-anak mereka. Di lain fihak perjuangan nasional melawan Belanda harus berjalan terus seirama dengan perjuangan kemerdekaan seluruh negeri. Dalam situasi rumit seperti inilah, Dr Sam Ratulangi bersama kawan-kawannya melakukan pekerjaan menangani tugas berat yang mereka hadapi.

Dr GSSJ Ratulangi (lahir di Tondano, Sulawesi Utara, pada tanggal 05 September 1890) meninggal dunia pada tanggal 30 Juni 1949, setelah menderita sakit beberapa lamanya. Ketika itu kantor berita AP dan Reuters menyiarkan kabar dari Jakarta, a.l sbb:

Dr GSSJ Ratulangi penasihat Delegasi Republik Indonesia, dan mantan Gubernur Sulawesi meninggal dunia. < Ketika itu Republik Indonesia dan pemerintah Belanda sedang dalam periode perundingan Konferensi Meja Bundar, I.I.). Dr. Ratulangi menempuh studinya di Amsterdam dan Zurich. Pada masa itu ia aktif dalam gerakan dan perkumpulan mahasiswa Indonesia. Pada zaman kolonial Hindia Belanda Ratulangi adalah anggota ‘Volksraad’. Selain itu ia pemimpin sebuah mingguan nasionalis.

* * *

Maka tidak heranlah kita membaca laporan Pangalila Ratulangi, yaang a.l berbunyi sbb:
Pada saat jenazah Ayah saya akan ditempatkan diperistirahatan sementara di Tanah Abang maka diadakan Ibadah (1949). Tanpa termasuk dalam rencana/acara maka tiba2 satu barisan perwira2 KNIL memasuki tempat upacara dan berbaris dengan rapih mengesankan.
Mereka lalu memmberikan salam hormat kepada jenazah sebagai ucapan terima kasih atas jasa almarhum membantu memberikan perhatian kepada keluarga2 mereka sewaktu mereka terpaksa berpisah karena harus menunaikan tugas kemiliteran mereka.
Inilah yang dimaksudkan uniknya Dr Sam Ratulangi. Di satu fihak ia adalah pejuang kemerdekaan anti kolonialisme Belanda, yang kemudian dipenjarakan pemerintah NICA di Serui. Di lain fihak sejumlah opsir KNIL datang berbaris memberikan penghormatan pada (jenazah) Dr Sam Ratulangi, karena kegiatan kemanusiaan yang dilakukannya terhadap para keluarga anggota-anggota KNIL.

* * *

BERDIRINYA YAYASAN PERGURUAN KRIS
Referensi: “DR.G.S.S.J.RATU LANGIE & YAYASAN KRIS” oleh Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta, 1978.

Sejak Teks Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia dibacakan oleh Bung Karno dan Bung Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945, sebagai realisasi daripada kemerdekaan tersebut maka pada tanggal 5 Oktober 1945 Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dibentuk, hal ini merupakan langkah pertama bagi pengisian kemerdekaan dengan membentuk suatu alat kekuasaan yang terorganisir. Segenap rakyat di seluruh Nusantara tua-muda, laki-perempuan mengangkat senjata rela berkorban baik harta maupun nyawa untuk membela nusa dan hangsa.

Disamping Tentara resmi yang terbentuk dalam organisasi Tentara Keamanan Rakyat, terdapat pula berbagai macam organisasi-organisasi lain seperti Barisan Pelopor, Barisan Benteng Indonesia, Laskar Hisbullah, Barisan Rakyat Indonesia, Angkatan Pemuda Indonesia, Angkatan Pemuda Indonesia Sulawesi, Gabungan Pemuda Indonesia Sulawesi dan lain-lain. Pata pemimpin Angkatan Pemuda Indonesia Sulawesi (APIS) dan Gabungan Pemuda Indonesia Sulawesi (GAPIS) mengadakan perundingan, yang kemudian diperoleh kesepakatan bahwa organisasi APIS dan GAPIS bersepakat untuk meleburkan diri kedalam satu wadah, yang akhirya pada tanggal 10 Oktober 1945 terbentuklah satu badan baru secara resmi dengan nama Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS), dengan formasi pimpinan sebagai berikut:

Ketua : A.R.S.D. Ratu Langie; Wakil Ketua : Baharuddin ; Sekretaris I : Kahar Muzakar ; Sekretaris II : J. W.Waworuntu ; Bendahara I : S. A. Pakasi; Bendahara II : H. M. Idrus; Pembantu Umum : M. Idris, Mahmud
Pembantu Bidang : Frans Panelewen; Penerangan

Program Perjuangan sebagai berikut :
1. Berusaha tetap memelihara perjuangan dengan sistem perlawanan rakyat total, serta selalu kerjasama bahu membahu dengan badan-badan perjuangan lainnya : Koordinator : Daan Mogot, Kepala Pasukan : J. Rapar
2. Mengirimkan utusan ke daerah-daerah pedalaman untuk membentuk cabang-cabang KRIS, serta menampung keluarga-keluarga Minahasa
3. Sekolah Rakyat PEKASE dilanjutkan dengan nama baru yaitu Sekolah KRIS. Mengingat keadaan di Jakarta sering terjadi pertempuran-pertempuran, para guru diwajibkan mengantar jemput murid-murid Sekolah KRIS.
4. Disamping itu, juga Sekolah KRIS dijadikan markas KRIS cabang Jakarta Raya yang bertugas mengatur strategi perjuangan para pemuda KRIS
5. Menjalankan usaha-usaha sosial, antara lain menangani para pengungsi akibat peperangan
6. Mengobarkan peperangan diseluruh wilayah Jakarta dengan taktik “Hadang-Tempur-Rampas”.

Para Pemuda KRIS di Jakarta mengadakan perlawanan dalam bentuk pertempuran-pertempuran yang terdiri dari kelompok-kelompok kecil terdiri dari 3 sampai dengan 5 orang. Dengan keberanian yang luar biasa mereka mengadakan serangan dari berbagai penjuru kota Jakarta seperti daerah Senen, Keramat, Cikini, Jatinegara, Petojo hingga Tanjung Priok secara serentak tanpa memperdulikan siapa komandan mereka, bertempur dengan hasil yang gilang gemilang.

Kelompok-kelompok kecil seperti Kelompok Lukas Palar, Jopi Pesak, Endi Ruminggit, Piet Sumilat, Piet Sibih, Alex Pangemanan dan lainnya, mereka bertempur dengan gayanya masing masing. Mereka inilah yang membawa harum nama KRIS dimata masyarakat, tanpa adanya hasil daripada perjuangan kelompok-kelompok kecil ini, kiranya KRIS tidak akan mungkin menjadi faktor yang menentukan langkah-langkah perjuangan dalam arti perjuangan kemerdekaan Rakyat Indonesia kita ini.

Selain perjuangan-perjuangan fisik yang telah disebutkan diatas, KRIS cabang Jakarta Juga memikul beban tugas untuk mengadakan infiltrasi ke dalam tubuh pasukan KNIL, guna mencari kontak dengan daerah-daerah Sulawesi yang masih di bawah kekuasaan KNIL.
Untuk merealisasi tugas tersebut pimpinan KRIS menempuh dua jalan yakni : pertama : mengadakan infiltrasi langsung ke dalam tubuh KNIL untuk merongrong kekuatan militer Belanda; kedua, mengurus dan membentuk barisan-barisan rakyat yang berjuang di daerah kekuasaan KNIL.
Dengan kedua cara ini perjuangan KRIS sangat berhasil, hal ini terbukti dengan terjadinya pernberontakan di Manado yang terkenal dengan peristiwa 14 Februari 1946. Sabotase-sabotase yang terjadi di dalam markas Belanda seperti di Makassar, Jayapura dan Kupang. Terorganisirnya gerakan pasukan gerilya di Sulawesi Selatan dibawah pimpinan Nan Pondaag, bekas ketua KRIS cabang Jakarta yang dikirim ke Makassar. Organisasi tersebut ialah Kesatuan Gerilya Sulawesi Selatan (KGSS).

Demikianlah salah satu sumbangsih para Pemuda Indonesia tergabung dalam organisasi KRIS, yang lahir dalam kancah Revolusi rakyat Indonesia, dengan konsep perjuangan Nasional sendiri, tanpa menuntut balas jasa ataupun penghargaan, itulah salah satu sumbangan daripada para Pemuda Sulawesi bagi tuntutan perjuangan kemerdekaan Bangsa dan Negara Indonesia.

Diatas telah dibicarakan secara singkat tentang perjuangan para pemuda KRIS dalam perjuangan bersenjata, berupa pertempuran-pertempuran melawan pemerintah kolonial Belanda, yang ingin tetap menjadikan negara kita sebagai negara jajahannya, dimana dapat diperlakukan bagaimana saja sesuai dengan keinginan dan kemauan mereka secara semena-mena. Di samping itu KRIS juga berjuang di lapangan pendidikan, setelah perjuangan senjata berakhir, dalam fase itu para pemuda memerlukan ilmu pengetahuan yang merupakan syarat mutlak untuk terjun ke dalam masyarakat sebagai pengganti generasi tua yang harus digantikannya, untuk itu harus mempunyai bekal ilmu pengetahuan yang cukup sebagai senjata perjuangan guna mengisi kemerdekaan.

Untuk mewujudkan hal tersebut harus mewujudkan dan memajukan dunia pendidikan, maka pemimpin-pemimpin KRIS yang berpusat di Jalan Asam Baru No. 26 (sekarang Jalan Dr. Ratu Langie No. 26) pada tanggal 15 Januari 1946 membuka Sekolah Rakyat KRIS, mula-mula sekolah di buka di jalan Mampang, kemudian pada bulan Mei 1945 pindah ke Jalan Asam Baru No. 26 Jakarta.

Sekolah Rakyat KRIS dibuka untuk segenap lapisan masyarakat. Murid-murid diterima tanpa memandang suku ataupun agama, sekolah terbuka bagi siapa saja yang ingin belajar disitu. .
Ketika Belanda melancarkan Agresi Militer ke I pada bulan Juli 1947, secara paksa sekolah-sekolah Pemerintah Republik Indonesia di Jakarta dirampas oleh Belanda (NICA), disebabkan kebanyakan guru serta para orang tua murid menolak untuk menjadi pegawai Belanda (NICA), juga para muridnya pun tidak mau lagi masuk sekolah pemerintah akan tetapi memilih sekolah swasta seperti : Taman Siswa, Muhammadiyah, Perguruan Rakyat, Perguruan Sinar Baru, Perguruan KRIS, dan lain-lain yang waktu itu tergabung dalam badan Koordinasi Perguruan Nasional, yang diketuai oleh M. Said dari Perguruan Taman Siswa.

Pada waktu Belanda menjalankan kembali Agresi Militer ke II pada bulan Desember 1948, seluruh pimpinan Pengurus KRIS antara lain : H. A. Pandelaki, A. J. Supit, A.Z. Abidin, W.H.M. Kaunang di tangkap oleh Belanda karena dianggap orang-orang republik, dengan adanya kejadian itu, menjadikan Perguruan KRIS bertambah teguh baik semangat maupun pendiriannya, untuk mengikuti jejak langkah Pemerintah Republik Indonesia.
Untuk mencapai stabilitas dan penyelenggaraan yang sebaik-baiknya, yang sesuai dengan ketentuan Hukum dan Undang-Undang, maka pada tanggal 28 Januari 1949, Perguruan KRIS diberi status hukum, dengan diresmikan sebagai satu yayasan yakni “Yayasan Perguruan KRIS” (Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi) dengan akte Notaris R. Kardiman No. 47 tahun 1949.

AKTIVITAS GEDUNG YAYASAN PERGURUAN KRIS
Jalan Dr. Sam Ratu Langie No. 26, Jakarta

Apabila kita berbicara mengenai peranan dan perjuangan para Pemuda KRIS, sebagai salah satu sumbangannya untuk tercapainya kemerdekaan Negara Republik Indonesia kita ini, kita tidak akan terlepas dari pada sebuah gedung yang terletak di Jalan Dr. Sam Ratu Langie No. 26 Jakarta (dulu Jalan asam Baru 26), yang merupakan pusat kegiatan politik perlawanan rakyat serta usaha-usaha sosial dan pendidikan pada masa sebelum dan sesudah Prokarnasi 17 Agustus 1945.

Sejak zaman Pendudukan Tentara Jepang sampai pada masa revolusi fisik, berbagai macam kegiatan, baik politik maupun sosial, telah dipikirkan digerakkan dan dikendalikan dari gedung Jalan Dr. Sam Ratu Langie No. 26 ini, yang hingga saat ini ditempati “Yayasan Perguruan KRIS” yang menjalankan kegiatan dalam bidang pendidikan yang meliputi SD, SMP, SMA dan AMI/ASMI.

Pada zaman pendudukan tentara Jepang, Gedung Sekolah Yayasan Perguruan KRIS dipergunakan sebagai tempat kantor Badan amal PEKASE (Penolong Kaum Selebes) dalam kegiatan sosialnya menampung keluarga-keluarga Pelaut, Pelajar / Mahasiswa yang tidak mendapat lagi kiriman biaya dan orang tuanya akibat keadaan perang, keluarga-kelaurga ex KNIL yang ditawan Jepang dan lam-lain.

Selain menangani kegiatan sosial dan pendidikan Kantor PEKASE di Jalan
Dr. Ratu Langie, juga merupakan tempat pertemuan para pemuda Sulawesi ex anggota MAESA yang kegiatannya dibekukan oleh Tentara Jepang. Kontak hubungan tetap berjalan antara Pemuda MAESA dengan para mahasiswa Ika Dai Gakku, hal mana membuka kesempatan untuk berdiskusi tentang situasi politik, yang menjurus pada persiapan dan peranan pemuda untuk masa depan bangsa dan tanah air Indonesia. Para pemuda segera membuat rencana penyusunan kekuatan masa untuk mempersiapkan diri dan menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi.

Setelah tersiar kabar bahwa Tentara Jepang telah menyerah kalah kepada Tentara Sekutu, terjadi saat-saat yang menentukan, Bung Karno dan Bung Hatta di bawa ke Rengasdengklok, sekembalinya dari Rengasdengklok yang kemudian pada tanggal
17 Agustus 1945 jam 10.00 pagi Bung Karno dan Bung Hatta atas nama Bangsa Indonesia membacakan teks Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, dimuka eksponen Pemuda dan masyarakat lainnya, saat itu semakin bergelora tekad perjoangan untuk membela dan mernpertahankan Kemerdekaan Bangsa dan Tanah Air Indonesia.
Sejak Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, segera dibentuk organisasi Angkatan Muda Sulawesi (AMS) di bawah pimpinan Gajus Gagola, mereka mengadakan aksi pencoretan seperti pada tembok-tembok, kereta api dan lain-lain, hal ini dimaksudkan untuk membangkitkan semangat oang dan seluruh pemuda beserta rakyatnya.

Usia AMS tidak lama, ketika Barisan Keamanan Rakyat (BKR) terbentuk, AMS bergabung ke dalam BKR ini, dalam wadah organisasi inilah para pemuda AMS bertemu dengan para pemuda Rapar yang sejak lama telah dibina sebagai pasukan tempur istimewa dibawah bimbingan politis dari Mr. Ahmad Subardjo, Mr. A.A. Maramis dan Dr. G.S.S.J. Ratu Langie.

Perjuangan para pemuda beserta rakyat bergerak sangat cepat, komando pemuda berkumandang secara revolusioner dari markasnya di Menteng Raya 31. Serentak pula kelompok pemuda Sulawesi menggabungkan diri dengan para pemuda Menteng Raya 31, yang tergabung dalam satu wadah organisasi Angkatan Pemuda Indoensia (API), sehubungan dengan itu para pemuda Sulawesi pun membentuk organisasi di bawah koordinator API dengan nama Angkatan Pemuda Indonesia Sulawesi (APIS) dengan markasnya di Jalan : Dr. Sam Ratu Langie No 2, namun demikian APIS ini di dalam segala aktivitas perjuangannya bergerak searah dan satu tujuan dengan formasi perjuangan API Menteng Raya 31, APIS selalu memelihara persatuan dan kesatuan antara pemuda-pemuda Indonesia yang berjuang untuk melenyapkan segala bentuk penjajahan atas dasar perjuangan nasional seutuhnya.
Demikian catatab yang dibuat oleh Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta, 1978.
(BERSAMBUNG)

* * *

Laporan Jupi Jupiter mengunjungi Serui

Beberapa waktu yang lalu saya menerima email dari Jupi. ia adalah seorang kawan satu network yakni SULUT BOSAMI. Jupi dari tugasnya dan dari hobbynya sering berkelana. Pengalaman dalam berkelana, disertai berbagai foto sering di sampaikan di mutiply.com atau wahana2 lain sejenis.

Dibawah ini adalah salinan pengalamannya mengunjungi SERUI beberapa bulan yang lalu  (2012).

Sam Ratulangi memberi ceramah
Sam Ratulangi memberi ceramah

Sam Ratulangi memang sudah tiada tapi karyanya menjadi buah bibir ditanah Papua khususnya Serui. Beliau diasingkan oleh Belanda pada tahun 1946, tak membuat padam semangat untuk membangun. Ditengah pengawasan ketat berhubungan dengan orang tak membuat Pak Ssam Ratulangi merasa terkucil ditanah Papua. Beliau begitu mudah bergaul di kalangana masyarakat Papua dan terus mengajak anak-anak muda Papua untuk belajar, karena anak muda yang akan memimpin negeri ini dimasa depan.

Suatu kesempatan indah untuk mengunjungi Serui, setelah beraktivitas saya masih mendapat kesempatan untuk bertemu langsung para saksi sejarah yang masih hidup, orang-orang yang pernah dekat dengan Pak Sam Ratulangi.

Pertama kali saya ketemu pak Markus Arasui yang berumur 90 tahun, dulunya sebagai mantri suntik, sayangnya pak Markus sudah tidak bisa berjalan harus dipangku, tapi masih bisa mendengar dengan baik, hanya sayangnya sudah suka lupa akan ingatan masa lalu.

Kemudian saya bertemu dengan Bapak Karel Mambai saat ini berumur 81 tahun, masih sehat berjalan dengan tongkat, bisa mendengar dengan baik tapi memorynya sudah banyak berkurang.

Satu hal yang masih terus teringat dipikirannya yaitu kata-kata Bapak Sam Ratulangi ketika mereka masih anak-anak muda, mereka berenam, dipanggil Pak Sam Ratulangi dengan suara besar, “kamu anak muda mau MERDEKA Atau Tidak? “  “MERDEKA” jawab mereka.

Pembinaan generasi penerus
Pembinaan generasi penerus

“Pak Sam Ratulangi baik bagi orang Papua, waktu itu dia  perhatikan anak2 muda di jaga betul dia tahu anak2 ini akan menjadi masa depan atau penggerak kemerdekaan.”

“Anak2 yang diajar semua anak2 baik anak Papua, untuk jadi mantri, siang dia mengajar. Kalau rapat malam”

Yang terakhir saya bertemu dengan Mantri Tonce Bonai lahir 10 mei 1931, cukup tua bukan.

Tapi Pak Tonce sangat kuat dengan umur seperti ini masih sanggup berjalan, berpikir dan menganalisa pasien. Tapi mata sudah mulai kurang baik untuk melihat dimikroskop, mantri tersisa dari jaman Belanda.  Adiknya merupakan orang paling dekat dengan Pak Sam Ratulangi yang selalu ada disamping beliau yakni bapak almarhum Nicolas Bonai, merekalah yang bergerak dibidang politik.

Bapak Sam Ratulangi sebagai dokter dan guru, beliau mengelilingi Yapen dengan perahu, jika pada perayaan 17 agustus semua masyarakat dari kampung-kampung datang ke kediaman beliau masuk bebas. Tapi diluar hari kemerdekaan mereka tidak bisa masuk, jika mereka bertemu langsung ditangkap oleh polisi. Hanya Nicolas Bonai yang sering masuk keluar kantor polisi tapi karena kehebatan berpolitik mereka dibebaskan.

Pak Sam Ratulangi juga mengajarkan pramuka bagi masyarakat ditempat yang dia kunjungi, mendidik anak-anak muda pendidikan politik.

Suatu waktu Sam Ratulangi dicari tentara Belanda, Para masyarakat yang tahu akan hali ini segera menyembuyikan Sam Ratulangi ke dalam lemari  pakaian dan menghanyutkan lewat Kali Tarau ( Manakarua) ke laut.

Pengaruh pendidikan Sam Ratulangi sangat luar biasa di tanah Papua, setiap orang di Serui sangat menghormati beliau, para politisi juga mereka mengagumi karya Sam Ratulangi.

Dibalik kehebatan seorang Putra Minahasa di tanah Papua , saat ini rumah pengasingan Pak Samratulangi yang seharusnya menjadi situs sejarah bangsa tidak terawat dan sementara diklaim milik salah satu keluarga Papua.

Sungguh sedih melihatnya jika hal-hal seperti ini menjadi hilang dari Tanah Papua, pemuda dimasa depan tak ada lagi yang mengetahui akan Sam Ratulangi pernah tinggal di Tanah Papua dan mendidik anak-anak Papua menjadi pemuda masa depan Negara ini.

Saya berterima kasih kepada Om Lefrand Kawoan yang sebagai Ketua Kerukunan Sulawesi Utara di Serui mengantar saya mengunjungi tiga orang saksi kebesaran Sam Ratulangi yang masih hidup hingga saat ini.

Diskusi ketujuh buangan bersam Bp. Silas Papare
Diskusi ketujuh buangan bersam Bp. Silas Papare
Sketsa mengenai tibanya para buangan
Sketsa mengenai tibanya para buangan
Para buangan bertani untuk memberi contoh
Para buangan bertani untuk memberi contoh

coffeete@

Selanjutnya saya ingin tambahkan beberapa foto yang dibuat ditahun 2008 dimana SAM RATU LANGIE bersama keluarga berdiam selama 2 tahun.

Gerbang dan jalan masuk ke Situs
Gerbang dan jalan masuk ke Situs
Gerbang dan jalan masuk ke Situs
Bp. Adwin dan Ibu, Ibu Shirra dan suami
Ruang depan
Ruang depan
Ruang tempat Ibu Milly di semayamkan (1996)
Ruang tempat Ibu Milly di semayamkan (1996)
Ruang belakang dan sumur
Ruang belakang dan sumur

Kesemuanya bagi saya sangat kukenali, dan semoga penampilan seperti yang difoto dapat dipertahankan. Mungkin ada baiknya sesekali gedung ini dimanfaatkan untuk acara2 tertentu.

SEKIAN dan TERIMA KASIH.

My GERUNGAN ROOTS

Silsilah Keturunan Dotu ESTEFANUS GERUNGAN
Silsilah Keturunan Dotu ESTEFANUS GERUNGAN

Jika masih muda kehidupan terbentang terbuka dihadapan kita….. Melihat masa depan dengan mencari jawaban kepada pertanyaan: “Bagaimana saya bisa bertahan untuk meneruskan keberadaan didunia yang sebegitu cepat berobah?”

Pada umur yang semakin lanjut kita lebih sering melihat kebelakang, jauh kebelakang bahkan sampai memikirkan perihal “Bagaimana sebenarnya sampai kita sampai eksis?” Dalam upaya mencari jawaban untuk pertanyaan ini sampai2lah terkadang kebidang filosofis.

Namun ini bukan maksud dari postingan ini melainkan menelusuri jejak mundur keberadaan fisik kita yakni asal usul kita……..

Mengenai alm. ayah saya telah banyak diposting di blog saya ini baik salinan atau kutipan dari artikel2 mengenai beliau, juga mengenai asal-usul ibu saya pun banyak posting. Cukup Anda melihat pada”blogrol” yang ada disisikiri atau kanan dari blog saya.

Kali ini saya ingin sajikan mengenai satu dari AKAR-AKAR saya yakni ” Akar keluarga GERUNGAN saya”.

Ternyata di keluarga ini ada pemuka2 masyarakat yang telah membuktikan kemampuannya. Dalam buku: “Silsilah DOTU ESTEFANUS GERUNGAN” yang disusun oleh Alm. J.B. Gerungan dan diterbitkan Juni 2006 maka Jaap Gerungan telah memperlihatkan ginealogi keluarga GERUNGAN dengan berbagai foto yang ada dalam koleksi beliau.

Sayang jilid yang saya miliki adalah hasil fotokopy-an sehingga foto2 dan naskah selengkapnya tidak layak untuk discan. Saya telah membuat janji dengan puteri sulung dari Jaap Gerungan yang bernama Meidy bahwa saya bermaksud meminjam koleksinya akhir bulan ini. Semoga dapat saya tambahkan di postingan ini.

Anda dapat melihat pada dokumen:

My GERUNGAN ROOTS 

hal2 berkenaan dengan nama2 keluarga besar GERUNGAN sejauh tercatat dalam data2 Oom Jaap Gerungan. Perlu diketahui bahwa ada beberapa kesalahan tik dalam daftar2 yang disajikan disana.

Konon saya dengar bahwa Oom Boeng Dotulong (Ya…. beliau juga masuk keluarga besar GERUNGAN)  telah menerbitkan pembaharuan dari dokumen ini, dan juga bahwa (sesuai dengan tingkat teknologi masa kini) sudah ada versi yang dibuat dengan software khusus yang banyak dipakai untuk maksud demikian.

Silahkan melihat2 apakh nama Oma, Opa , Oom atau Tante Anda ada pada daftar itu.

Mengangkat lagi perihal Jalan Sam Ratulangi no 26-28

Tentang sejarah patung 1/2 badan SRMengangkat lagi perihal Jalan Sam Ratulangi no 26-28

2 September 2008
2 September 2008

Di bawah ini ada “notes” yakni kopy  komunikasi per email yang saya copy/paste  dari satu flashdisk lama file berjudul “Notes Harry”  dilihat tanggalnya “25  April 2010” sudah hampir dua tahun, ya…, en toch, BELUM LUPA……

Harry Kawilarang
Padahal sekolah ini menjadi kebanggaan masyarakat Jakarta sekaligus memperlihatkan pengabdian guru-guru asal Minahasa mengisi pembangunan bangsa Indonesia melalui pendidikan. Namun sangat disayangkan, nilai-nilai “Memanusiakan Manusia” peninggalan Dotu Ratu Langie begitu mudah luntur dikalangan penentu kebijakan untuk melanjutkan pendidikan masyarakat.
April 14 at 10:06am ·

Indra Rondonuwu
Jamang qta basekolah di KRIS masih banya tuama deng wewene Kawanua basekolah di sana. Kalo lia itu foto papan dari Yayasan Perguruan “KRIS” ini mungkin berumur sejak berdiirnya sekolah ini? Masih tetap berdiri tegak namun apakah bangunannya yg dulu merupakan asrama guru-guru dan para keluarganya masih tegak berdiri karena bangunannya lebih dari 55 … See Moretahun? Apakah masih laik utk ditempati atau sudah tambal sulam tapi masih ditempati oleh para penghuni lama mungkin sudah turunan ke 3 ato 4? Bagi para ex murid Perguruan KRIS ini sdh sepantasnya memikirkan atau ikut sumbangsih sesuatu demi berdirinya serta pelestarian daripada peninggalan Pahlawan Nasional MINAHASA DR. Sam Ratulangi.
April 14 at 1:21pm

22 April 2010 Robohan atap sudah dihilangkan tetapi dinding2 masih dibiarkan
22 April 2010

Harry Kawilarang
Bung Indra, rata-rata torang alumnus sekolah KRIS dari samau angkatan terpanggil untiuk biking bagus dan bangkitkan kembali kebesaran KRIS. Maar, apa mau dikata, selain guru-guru, juga pemilik KRIS yang merasa lebe berkepentingan, samua ide-ide ini nyand bis terwujud. Dus kase dorang pe mau jo. Kalo torang datang, dorang curiga mau iko campor dorang pe urusan. Ngana pe papa lei tau qta alumnus KRIS 1953-1960.
April 14 at 4:30pm

Lani Ratulangi
Saya sudah berupaya dengan usulan kepada Ketua Yayasan Perguruan KRIS.
Katanya waktu saya menyampaikan surat ini tahun 2009 ke Ir Edwin di DPRD, dia bilang dia mo beking taman kanak2 disana. Sampai sekarang bagimana (kita so 3 bulan di Mdo) jadi nentau itu keadaan. Mar mo tanya: Itu foto Bung Budi bikin kapan?…
Info lain ada di satu postingan mengenai “berdirinya Yayasan perguruan KRIS”   Postingan ini Disalin dari: “DR.G.S.S.J. RATU LANGIE & YAYASAN KRIS” oleh Dinas Museum dan Sejarah Daerah Khusus Ibukota Jakarta, 1978

ADA APA YA????? Di Gedung KRIS itu? 1/2 tahun lalu KKK masih memanggil Pengurus Yayasan…. Gak ditanggapi terus diundang lagi dengan kata2 kalo gak datang akan diberitahu Walikota. Eeeh, katanya Bpk Ketua kirim Oma2 yang dari Pengurus …..

Itu kabar terakhir yang saya dapat waktu di Jkt.

Sekarang Bung Ventje so ndak ada siapa ya mo dobrak?
April 14 at 6:14pm

Indra Rondonuwu
Shalom !

Bung Harry K. kalo saya perhitungkan paling sedikit masih ada sekitar paling sadiki ada 700 alumnus Perguruan KRIS yg masih aktif dan berada di masyarakat Indonesia. Saya usulkan saja torang beking REUNI AKBAR PERGURUAN KRIS tanpa memlihi siapapun dia baik yg Kristen, Katholik, Budha, Islam maupun tidak beragamapun dipersilahkan hadir. … See MoreBentuk panitia lengkap dan saya usulkan bung Harry dibantu dengan tentunya Ibu Lani Ratulangi bersaudara menjadi pelaksananya. Baru torang sama-sama mencarikan sponsor atau mendatangi Depdikbud. DKI, atau siapapun pengusaha Kawanua yg tergerak hatinya utk membangun kembali serta menyelamatkan sekaligus melestarikan peninggalan momentum sejarah dari Pahlawan Nasional DR. GJJS Ratulangi. Saya rasa masih banya Tou Minahasa/ Kawanua yg ingin membantu serta perduli apa-apa yg menjadi warisan yg tiada ternilai dengan materi dari para pahlawan MINAHASA ini. Bung Hary siapa lagi yg akan perduli kalau bukan torang dari alumnus dan para Tou Minahasa/Kawanua terutama generasi muda yg dinamis di jaman globalisasi serta demokrasi sekarang ini? Selamat berjuang bung serta para ALUMNUS PERGURUAN KRIS.
Tuhan memberkati kami semua.
April 15 at 1:05pm

Indra Rondonuwu
Mohon maaf salah ketik seharusnya DR. GSSJ. Ratu langie bukan DR. GJJS Ratulangi. Terima kasih.
April 15 at 1:10pm

Indra Rondonuwu
So itu torang musti minta bantuan pemerintah DKI bagaimana jalan keluar terbaik utk mengatasi hal yg lama tdk teratasi padahal hanya internal kelihatannya tetapi tentunya untuk “menggusur” anak-beranak sdh 4-5 turunan saya tdk “mudah” tapikan pasti ada SOLUSI yg pantas harus diberikan apakah Yayasan tdk akan mengadakan perbaikan struktur perbaikan … See Morebangunan yg tampaknya akan roboh tanpa ada pemeliharaan yg benar. Semoga jalan keluar secara musyawarah yg baik bisa ditempuh dan diberikan kepada seluruh penghuni keturunan guru maupun pegawai Perguruan KRIS tersebut. Wahalualam.
April 15 at 2:16pm

Penampakan sekeliling patung
Penampakan sekeliling patung

Harry Kawilarang
Jangang bicara gampang tuang. Masalah yang dihadapi skarang adalah konflik di dalam keluarga Oom Sam sandiri yang nyanda bersatu. Masing-masing punya kepentingan dan torang alumnus ndak bisa dan nemau iko campur.

Indra Rondonuwu
So itu torang musti minta bantuan pemerintah DKI bagaimana jalan keluar terbaik utk mengatasi hal yg lama tdk teratasi padahal hanya internal kelihatannya tetapi tentunya untuk “menggusur” anak-beranak sdh 4-5 turunan saya tdk “mudah” tapikan pasti ada SOLUSI yg pantas harus diberikan apakah Yayasan tdk akan mengadakan perbaikan struktur perbaikan … See Morebangunan yg tampaknya akan roboh tanpa ada pemeliharaan yg benar. Semoga jalan keluar secara musyawarah yg baik bisa ditempuh dan diberikan kepada seluruh penghuni keturunan guru maupun pegawai Perguruan KRIS tersebut. Wahalualam.
April 15 at 2:30pm

Lody F Paat
Saya termasuk orang Minahasa yang tidak tahu banyak tentang KRIS dan sekolah yang dikelola KRIS. Saya percaya para alumni SekolahKRIS berkeinginan “menceritakan” tentang Sekolah KRIS dan menceritakan KRIS kepada orang Minahasa yang berada di Jakarta.
April 16 at 2:39pm

Indra Rondonuwu
Banyak cerita suka duka pasti bung Lody, kalo anda mo lia sedikit utk tambahan pengetahuan tetant Perguruan KRIS silahkan buku beberapa website dari Perguruna KRIS atau website dari Zus Lani Ratulangi dan yg lain-lain menyangkut Perguruan KRIS. Selamat bung Lody. God bless.
April 16 at 5:35pm

Anjing yang menjaga patung, atau patung menjaga anjing
Anjing yang menjaga patung, atau patung menjaga anjing

Bert Toar Polii
Dubes Indonesia untuk AS Dorodjatun Kuntjoro-Jakti pada tahun 2001 menyatakan kedekatan Dubes dengan Sulawesi Utara atau Minahasa ini kembali diungkapkannya, disebabkan oleh pendidikan yang pernah dikecapinya di sekolah menengah Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS) di Jakarta yang didirikan oleh Dr.Ratulangi, dengan guru-guru sekolah asal … See Morekawanua sepeti Tendean, Kaloke dan lain-lain yang telah menjadikannya orang yang berhasil. Pada perayaan HUT Kawanua USA yang pertama bulan Mei tahun lalu (2000) di New York, Dubes mengatakan bahwa tanpa pendidikan yang diperolehnya di sekolah KRIS tersebut dia tidak akan berdiri di hadapan masyarakat kawanua di New York sebagai Duta Besar RI di AS.
Dalam kesempatan malam itu Dubes menghimbau warga kawanua untuk turut memberikan bantuan finansial kepada sekolah KRIS yang sekarang sedang dipugar., Apakah rencana pemugaran ini tidak terwujud? http://www.kawanuausa.org/articles/14-kawanua-usa-beri-penghargaan-kepada-dubes-
April 16 at 5:55pm

Budi Lengkoan
Tamba akang oki jo dang , orang yg tahu Kebaktian pasti mengerti KASIH …..!
April 16 at 6:25pm

Lani Ratulangi
Kemarin saya baru ke Jkt. Eso2 kita mo lia itu patung 1/2 badan Alm. Ayah saya apa sudah dirapihkan atau belum. Sudah sejak Agustus 2008 saya memonitor itu keadaan disana. Ada apa ya. Itu sebenarnya JELAS bukan urusan keluarga mo dibikin apa gedung itu …. Itu urusan dari Yayasan Perguruan KRIS tetapi saya kasihan itu patung Alm. Ayah saya koq dijadikan penjaga mobil bisu saja
April 16 at 8:51pm ·

Lody F Paat
@Indra: Makase Brur informasinya.
April 16 at 11:19pm ·

Emilia Augustina Pangalila-Ratulangie
Gedung perguruan KRIS didahului oleh nama gedung PeKaSe.
Ialah Penolong Kaum Sulawesi. Organisasi di kelpalai oleh Nyonya Maria Ratulangie-Tambajong. Waktu perang dunia II, keselamatan isteri dan anak-2 ex-KNIL dijagai oleh PeKaSe diseluruh tanah Jawa. Pekerjaan, persekolhan dan kesehatan adalah pokok -2 yg dijagai.
Patung Ayah saya adalah semboyan usaha tersebut.
April 20 at 8:37pm ·

Lani Ratulangi
Terima kasih Zus yang memberikan info dari “first hand” karena merupakan saksi hidup dari hal2 yang terjadi digedung itu (1945-1950an). Kesedihan saya mengenai alam video ini.

Thu at 8:46am ·

Harry Kawilarang
Setahu saya patung Dr GSSJ Ratu Langie dilakukan atas inisiatif Gubernur DKI Tjokropranolo. Karena tidak ada tempat yang memungkinkan di sepanjang jalan GSSJ Ratu Langie. Selain itu Yayasan pendidikan KRIS tidak di dirikan oleh Oom Sam. Lagi pula Gedung Sekolah hanya menjadi kantor Oom Sam dalam kegiatan PKC sejak 1942-1945 dan menjadi markas … See Moreperjuangan Laskar KRIS. Sementara Oom Sam sendiri bersama keluara tinggal pada rumah nomor 10, bersebelahan dengan kediaman Ir Laoh, juga di Jalan yang sama (yang waktu itu adalah Jalan Asem Baru). Posisi Oom pada yayasan Perguruan KRIS sebagai lambang. Sementara pendiri yayasan terdapat antara lain. Mr AZ Zainal Abidin, Hans Pandelaki, Vetnje Sumual dan Engku Kaunang. Engku Kaunang sangat berperan dan di ikut sertakan karena memiliki ijazah guru waktu itu. Jadi, sekali lagi gedung Sekolah di nomor 28 sama sekali bukan kediaman keluarga Sam Ratu Langie, tetapi adalah milik Yayasan Perguruan KRIS yang dipimpin oleh Dr. Uki Sujoko-Ratu Langie. (Catatan Editor: Ketua Yayasan Perguruan KRIS adalah Ir. Edwin Kawilarang, Wakil Ketua Yayasan Perguruan KRIS adalah Ibu Yessy Sancha-Supit, dr Uki Rat Langie  adalah Anggauta Yayasan Perguruan KRIS, 14 Januari 2012)   HK
Thu at 9:07am

Indra Rondonuwu
Shalom !
Bung Harry K. kalo saya perhitungkan paling sedikit masih ada sekitar paling sadiki ada 700 alumnus Perguruan KRIS yg masih aktif dan berada di masyarakat Indonesia. Saya usulkan saja torang beking REUNI AKBAR PERGURUAN KRIS tanpa memlihi siapapun dia baik yg Kristen, Katholik, Budha, Islam maupun tidak beragamapun dipersilahkan hadir. … See MoreBentuk panitia lengkap dan saya usulkan bung Harry dibantu dengan tentunya Ibu Lani Ratulangi bersaudara menjadi pelaksananya. Baru torang sama-sama mencarikan sponsor atau mendatangi Depdikbud. DKI, atau siapapun pengusaha Kawanua yg tergerak hatinya utk membangun kembali serta menyelamatkan sekaligus melestarikan peninggalan momentum sejarah dari Pahlawan Nasional DR. GJJS Ratulangi. Saya rasa masih banya Tou Minahasa/ Kawanua yg ingin membantu serta perduli apa-apa yg menjadi warisan yg tiada ternilai dengan materi dari para pahlawan MINAHASA ini. Bung Hary siapa lagi yg akan perduli kalau bukan torang dari alumnus dan para Tou Minahasa/Kawanua terutama generasi muda yg dinamis di jaman globalisasi serta demokrasi sekarang ini? Selamat berjuang bung serta para ALUMNUS PERGURUAN KRIS.
Tuhan memberkati kami semua.

Lody F Paat
@Indra: Makase Brur informasinya.
April 16 at 11:19pm

Harry Kawilarang
Setahu saya patung Dr GSSJ Ratu Langie dilakukan atas inisiatif Gubernur DKI Tjokropranolo. Karena tidak ada tempat yang memungkinkan di sepanjang jalan GSSJ Ratu Langie. Selain itu Yayasan pendidikan KRIS tidak di dirikan oleh Oom Sam. Lagi pula Gedung Sekolah hanya menjadi kantor Oom Sam dalam kegiatan PKC sejak 1942-1945 dan menjadi markas … See Moreperjuangan Laskar KRIS. Sementara Oom Sam sendiri bersama keluara tinggal pada rumah nomor 10, bersebelahan dengan kediaman Ir Laoh, juga di Jalan yang sama (yang waktu itu adalah Jalan Asem Baru). Posisi Oom pada yayasan Perguruan KRIS sebagai lambang. Sementara pendiri yayasan terdapat antara lain. Mr AZ Zainal Abidin, Hans Pandelaki, Vetnje Sumual dan Engku Kaunang. Engku Kaunang sangat berperan dan di ikut sertakan karena memiliki ijazah guru waktu itu. Jadi, sekali lagi gedung Sekolah di nomor 28 sama sekali bukan kediaman keluarga Sam Ratu Langie, tetapi adalah milik Yayasan Perguruan KRIS yang dipimpin oleh Dr. Uki Sujoko-Ratu Langie. (Catatan Editor: Ketua Yayasan Perguruan KRIS adalah Ir. Edwin Kawilarang, Wakil Ketua Yayasan Perguruan KRIS adalah Ibu Yessy Sancha-Supit, dr Uki Rat Langie  adalah Anggauta Yayasan Perguruan KRIS, 14 Januari 2012)

HK

Emilia Augustina Pangalila-Ratulangie
Gedung perguruan KRIS didahului oleh nama gedung PeKaSe.
Ialah Penolong Kaum Sulawesi. Organisasi di kelpalai oleh Nyonya Maria Ratulangie-Tambajong. Waktu perang dunia II, keselamatan isteri dan anak-2 ex-KNIL dijagai oleh PeKaSe diseluruh tanah Jawa. Pekerjaan, persekolhan dan kesehatan adalah pokok -2 yg dijagai.
Patung Ayah saya adalah semboyan usaha tersebut.
Thu at 7:06pm

Lani Ratulangi
Terima kasih Zus yang memberikan info dari “first hand” karena merupakan saksi hidup dari hal2 yang terjadi digedung itu (1945-1950an). Kesedihan saya mengenai patung ayah saya kutuangkan dalam video ini.
Thu at 8:46am

Harry Kawilarang
Setahu saya patung Dr GSSJ Ratu Langie dilakukan atas inisiatif Gubernur DKI Tjokropranolo. Karena tidak ada tempat yang memungkinkan di sepanjang jalan GSSJ Ratu Langie. Selain itu Yayasan pendidikan KRIS tidak di dirikan oleh Oom Sam. Lagi pula Gedung Sekolah hanya menjadi kantor Oom Sam dalam kegiatan PKC sejak 1942-1945 dan menjadi markas … See Moreperjuangan Laskar KRIS. Sementara Oom Sam sendiri bersama keluara tinggal pada rumah nomor 10, bersebelahan dengan kediaman Ir Laoh, juga di Jalan yang sama (yang waktu itu adalah Jalan Asem Baru). Posisi Oom pada yayasan Perguruan KRIS sebagai lambang. Sementara pendiri yayasan terdapat antara lain. Mr AZ Zainal Abidin, Hans Pandelaki, Vetnje Sumual dan Engku Kaunang. Engku Kaunang sangat berperan dan di ikut sertakan karena memiliki ijazah guru waktu itu. Jadi, sekali lagi gedung Sekolah di nomor 28 sama sekali bukan kediaman keluarga Sam Ratu Langie, tetapi adalah milik Yayasan Perguruan KRIS yang dipimpin oleh Dr. Uki Sujoko-Ratu Langie. (Catatan Editor: Ketua Yayasan Perguruan KRIS adalah Ir. Edwin Kawilarang, Wakil Ketua Yayasan Perguruan KRIS adalah Ibu Yessy Sancha-Supit, dr Uki Rat Langie  adalah Anggauta Yayasan Perguruan KRIS, 14 Januari 2012)

HK
Thu at 9:07am

Emilia Augustina Pangalila-Ratulangie
Saya setuju dengan keterangan Harry Kawilarang. Tetapi jangan lupa bahwa suatu dasar kejadian-kejadian februari 1946 di Minahassa juga berdasarkan perasaan kebangsaan wanita-2 exKnil yang begitu dijagai oleh PeKaSe di bawah pimpiinan Maria Ratulangie-Tambayong. Anggauta BNI di Minahassa terutama ialah wanita-wanita ini dan anak-2 remaja!!!
Thu at 7:06pm

Parkiran yang pada malam hari tempat operasi kakilima restoran
Parkiran yang pada malam hari tempat operasi kakilima restoran

Lani Ratulangi
Betul Harry, cuma ada kesalahan kecil2: Rumah nr 10 didiami oleh Oom Frits Laoh atau sering dijuluki Oom Flaoh dan ia BUKAN Ir. Yang Ir blakangan tinggal di Jln Diponegoro sewaktu beliau mengerjakan Proyek Dermaga BITUNG. Mengenai Yayasan Pendidikan KRIS khan ada ceritanya panjangf lebar di web-ku.
Sekarang yang menjadi Ketua Yayasan itu adalah … See MoreIr. Edwin Kawilarang (GOLKAR) dan adik saya dr Uki Sudjoko-Ratulangi menjadi (aku gak tahu apa) dan konon yang wakil Ketua Yayasan adalah Ibu Yessy Sancha Bakhtiar-Supit. Yang juga kebagian disuruh kesana kemari adalah Ibu Kitty Ratulangi (untuk APA wa’llahualam).
Tadi saya nengok ke Jln SR 26-28: YA AMPUUUUUN! Nanti saya kirimkan videonya. Saya bikin foto dari Patung Ayah seperti ada air matanya menetes …..
Thu at 10:08pm

Harry Kawilarang
Mau ralat, mengenai pendiri Perguruan KRIS. Semula saya tulis Mr AZ Zainal Abidin, Hans Pandelaki, Ventje Sumual dan Engku Kaunang.
Seharusnya, Mr AZ Zainal Abidin, Hans Pandelaki, Pelly Supit dan Engku Kaunang.
Yesterday at 7:25pm

Emilia Augustina Pangalila-Ratulangie
Engku Kaunang adalah bekas guru dari PeKaSe. Jadi perguruan KRIS dapat dianggap sebagai penerusan usaha PeKaSe.
Yesterday at 7:51pm ·

Harry Kawilarang
Partisipasi Orang Minahasa Dalam Kancah Revolusi di Jawa

Ribuan orang Minahasa di Jawa turut berjuang untuk kemerdekaan Indonesia . Ribuan telah menyumbangkan darah dan jiwanya bagi tanah air. Mereka berjuang tidak atas perintah Yang Mulia Soekarno atau Yang Mulia Hatta, tetapi atas kemauan sendiri. Dr GSSJ Sam Ratu Langie (suratnya kepada guru-guru di Tondano, Desember 1945)

Masyarakat Minahasa Korban Aksi Teror…
Selang dua tiga hari setelah peristiwa Ikada 17 September 1945, Ketika itu Karel Tobing bersama dua pemuda dari Kelompok Tanah Tinggi pergi ke Jalan van Heutz (Teuku Umar) untuk menemui Nico Mogot, seorang teman yang menjanjikan “jatah” pembagian senjata bagi kelompok pemuda Tanah Tinggi (Purbaya-Nakula) . Tetapi teman yang dicari tidak di rumah, supaya lebih dekat kembali ke sana pada siang harinya, para pemuda meneruskan perjalanannya ke Jalan Lembang 17 untuk menemui keluarga Mamuaya untuk menanyakan nasib seorang teman yang di penjarakan di penjara Salemba. Mamuaja adalah pegawai tinggi “Gevangenis- Wezen” (penjara) departemen Kehakiman. Pada percakapan itu, para pemuda mendapat keterangan, semua tahanan yang tak berbahaya di Salemba dan Cipinang, secara berangsur akan dibebaskan. Mamuaja juga menjelaskan bahwa beberapa tahanan sudah di bebaskan Jepang, tepatnya mereka di beri kesempatan “melarikan diri”. Katanya, para petugas bangsa Indonesia selalu berusaha memberi kesempatan pada tahanan-tahanan tertentu untuk melarikan diri. Dia sangat menyesali tindakan para penculik bapak Mogot, kepala penjara Cipinang, yang tidak bertanggung jawab, karena sebagai kepala penjara dia selalu berusaha membela para tahanan. Tidak dapat dipercaya, bahwa dia seorang mata-mata Belanda. Pada masa penjajahan bapak Mogot adalah anggota Volksraad dan semasa Jepang dia di angkat menjadi kepala penjara Cipinang. Anaknya, pahlawan kemerdekaan Daan Mogot, gugur dalam sebuah pertempuran merebut gudang senjata Jepang di Pesing (Tangerang). Oknum-oknum yang tak dikenal telah menculik bapak Mogot dari rumahnya di taman van Heuts (Cut Meutiah) pada akhir bulan Agus­tus 1945. Ibu Margo Mamuaja adalah anggota pengurus yayasan amal Penolong Kaum Celebes (PKC). Setiap hari dia sibuk mengajar dan membimbing para ibu yang ditampung di Kramat 75.

Sementara Margo Mamuaya bercerita tentang usaha PKC, datang seorang pembantu yayasan dari Jalan Asem Baru 26 yaitu Weinur, yang tampak agak gugup. Tanpa memberi salam dia langsung mela­porkan, bahwa Tanjung Oost dan Tanjung West diserbu barisan “Banteng”. Penghuni-penghuniny a dirampok, malah ada yang ditelanjangi. Dia berkata, bahwa barisan itu membawa bendera merah berkepala “Banteng”. Suami isteri Mamuaja sangat kaget, lalu Mamuaya bertanya, apakah Piet Pantow, Cayus Gagola dan Bart Ratu Langie sudah mengetahuinya. Dia menjawab: “Belum. Mereka tidak ada di rumah”. Ibu Mamuaja menyuruh dia segera mencari mereka, supaya mereka mengambil tindakan. Setelah Weinur pergi, ibu Mamuaya menerangkan, bahwa semua penghuni kamp penampungan Tanjung Oost dan Tanjung West adalah keluarga para anggota KNIL, yang ditawan Jepang atau yang turut melarikan diri ke Australia dengan pejabat-pejabat pemerintah Hindia-Belanda. Supaya mereka jangan terlantar dan terpaksa melakukan perbuatan-perbua­ tan tidak baik, atas prakarsa Dr Ratu Langie dibentuk badan sosial PKC, yang oleh Jepang di izinkan mendirikan tempat-tempat penampungan di Tanjung Oost dan Tanjung West untuk orang-orang tuna wisma asal Sulawesi . Selanjutnya mereka dididik dalam berbagai ketrampilan. Yang trampil jahit-menjahit dipekerjakan di Kramat 75, dan kepada yang belum mempunyai ketrampilan khusus diberikan santunan, yang didapat dari sumbangan-sumbangan orang-orang Kawanua. Selang beberapa waktu Weinur datang kembali untuk memberitahukan, bahwa dia tidak berhasil menjumpai siapa pun. Hari sudah lewat tengah hari. Ibu Mamuaya bertanya pada tamu-tamunya apakah mereka dapat mengusahakan bantuan. Pada waktu itu dua orang pemuda Sulawesi datang ke Jalan Lembang, yang juga mengabarkan tentang terjadinya perampokan di kamp Tanjung Oost dan Tanjung West dan sekaligus untuk menyatakan kesediaan mereka untuk turut membantu. Jalan menuju Tanjung Oost dan Tanjung West harus melewati pos-pos penjagaan laskar-laskar rakyat. Jadi, jika benar laskar rakyat yang memusuhi orang-orang Manado , pemuda-pemuda Sulawesi tentu tidak akan mereka biarkan lewat begitu saja.

Pada waktu itulah Karel Tobing, seorang dari tiga pemuda Jalan Purbaya, meminta bantuan mobil dari seorang teman, Komisaris polisi Kanapi. “Kalau dia sendiri tidak punya mobil, mungkin di kantor ada yang dapat meminjam”, kata Karel Tobing menjelaskan gaga­sannya.

Selanjutnya, ketiga pemuda tamu itu pergi ke kantor pusat Kepolisian di Departemen Dalam Negeri di Noordwijk (sekarang Kantor Departemen Dalam Negeri) untuk menemui Komisaris Kanapi. Di sana para pemuda mengetahui bahwa pada hari itu Kanapi baru mengambil sebuah pickup Mercury dari sebuah kantor Jepang. Setelah para pemuda menjelaskan maksud kedatangan mereka, dia segera menyerahkan mobil itu. Di samping itu dia juga memberi dua buah pistol dengan beberapa butir pelurunya untuk membela diri, yang menurut keterangannya juga baru saja diambil dari kantor Jepang yang sama. Persoalannya sekarang ialah, siapa yang jadi sopir. Tidak ada yang mahir. Tobing dapat menjalankan mobil tetapi sama sekali belum mahir. Namun karena tidak ada yang lebih tahu, akhirnya Tobing yang menyetir. Akhirnya mobil sampai juga di Jalan Lembang dan kebetulan seorang dari dua pemuda Sulawesi tadi, Frits Runtunuwu, mahir membawa mobil. Kemudian mobil diserahkan padanya, supaya dia dapat mengungsikan wanita dan anak-anak Tanjung Oost dan Tanjung West tersebut. Setelah mengucapkan “selamat”, Tobing dan kawan-kawan hendak pergi menyelesaikan urusan mereka dulu ke Jalan van Heutz (kini Jalan Cut Mutiah) dengan janji pada sore harinya mereka akan datang lagi ke Jalan Lembang. Tetapi Margo Mamuaja yang merasa khawatir kalau nanti rakyat tidak akan membiarkan pemuda-pemuda Manado itu pergi ke Tanjung Oost dan Tanjung West, mendesak supaya mereka turut pergi. Akhirnya disetujui supaya Tobing turut membantu mengungsikan para wanita itu sedang dua temanya akan menyelesaikan urusan mereka. Sebenarnya tidak seluruh kabar yang didengar tentang pelaku-pelaku perampokan itu dapat dipercaya. Agak sulit diterima akal bahwa anak buah Dr. Muwardi mengadakan perampokan di kamp-kamp penampungan janda dan piatu. Namun emosi tidak menghiraukan pertimbangan akal waktu itu, maka untuk sementara Dr. Muwardi dituduh membiarkan anak buahnya merampok wanita dan anak-anak berdasarkan laporan bahwa perampok-perampok itu membawa-bawa bendera merah dengan gambar kepala Banteng.

Setelah melalui berbagai rintangan dan pemeriksaan, yang semuanya berlangsung dalam suasana persaudaraan, kelompok kecil itu tiba di Tanjung Oost. Melihat mobil memasuki kompleks kamp, para penghuninya lari menyembunyikan diri di tempat-tempat yang dianggap aman. Masing-masing memegang buntalan, sisa barang milik mereka. Mereka sangat ketakutan, curiga selalu siap melarikan diri. Keadaan mereka itu mengenaskan, terlebih anak-anak mereka. Di antara orang-orang yang lari itu tampak seorang ibu yang hanya mengenakan pakaian dalam. Rupanya dialah yang telah di jarah habis-habisan itu. Di antara mereka hanya terdapat seorang laki-laki tua, Oom Umboh, selain wanita dan anak-anak kecil. Frits Runtunuwu segera turun memanggil mereka. Mendengar suara yang dikenal, satu persatu mereka keluar dari tempat per­sembunyian. Tidak terlalu lama semua sudah kumpul kembali menden­gar maksud para pemuda itu. Frits menjelaskan, bahwa mereka datang untuk mengungsikan ibu-ibu itu ke kota . Rencana itu lang­sung di sambut dengan secara berebutan menaiki mobil. Pemuda-pemuda tak dapat menghalangi mereka. Maka kepada yang masih tertinggal, para pemuda berjanji akan segera kembali menjemput mereka.
Setelah angkutan pertama itu tiba di Jalan Lembang, ibu Margo Mamuaya me…….

Lody F Paat
@ Hari Kawilarang: “Partisipasi Orang Minahasa Dalam Kancah Revolusi di Jawa”.

Pada tahun sekitar 1978, kalau tidak salah ingat, dalam suatu diskusi di IKIP Jakarta, Rawamangun, saya mendengar Bung Tomo mengungkapkan bahwa pada peristiwa 10 November 1945 para pemuda dari Minahasa dan Ambon berjuang di barisan depan. Sayang, cerita seperti ini tidak ada di buku sejarah nasional kita. Saya hanya dicekoki dengan cerita bahwa orang Minahasa kaki tangan belanda.

Namun, setelah saya mendengar ‘cerita’ Bung Tomo, pengetahuan sejarah saya tentang orang Minahasa berubah….

Saya pikir kita harus menceritakan kembali tentang peran orang Minahasa dalam kemerdekaan RI. Misalnya, cerita tentang PeKaSe dan KRIS.
10 hours ago

Harry Kawilarang
Bung Lody, yang ngana baca dari qta pe tulisan ini adalah cuplikan dari naskah buku “MengIndonesiakan Indonesia: Dan Partisipasi Orang Minahasa Memperjuangkan Kemerdekaan Indonesia.” Direncanakan akan terdiri dari 5 jild karena kalo biking satu talalu tabal (+/-2.200 halaman). Pokoknya dia pe isi sekitar 80% yang nyanda ada di text-book sejarah … See MoreIndonesia,. Karena text-book yang ngoni dapa cuma kepentingan rezim Soekarno maupun Soeharto yang melakukan “brain-washing” dengan tujuan Supremasi Jawanisasi, Mayoritas dan Sektarianisme. Qta juga mengangkat sejarah dari berbagai daerah en melihat Indonesia dari perspektif Minahasa.
2 hours ago ·

Lani Ratulangi
Bung Harry! Saya begitu asyik membaca ceritera Anda (seperti “live” nonton Video ) tiba2 koq berenti di: “… me” saya pikir ini pasti ada gangguan mo ada iklan lagi….
Kalo beking buku vor orang jaman sekarang jangan komang tabal2 deng berjilid2 ….. torang nembole bili so talalu mahal… deng vor anak2 muda jaman skarang lei, dorang nda ada waktu untuk duduk tenang2 membaca… mereka lebih perlu dan penting buat mereka adalah mengunjungi cafe atau “hang out” di mall …..
about an hour ago

————————————

Harry Kawilarang
Tante Lani, memang keliatang bagitu. Maar torang so nembole anggap enteng kemampuan anak muda masa datang. After all deng buku tipis, so paling gampang orang ba copy. Skarang ini, justru so tabobale. So, never under-estimate th coming generation.
Have a nice weekend,
HK

Lani Ratulangi
Thanks, Har. So butul jo ngana dalam hal ini. Diskusi ini tidak boleh berhenti disini saja. Dan saya merasa perlu menambahkan bahwa saya TIDAK PERNAH bersekolah di Sekolah KRIS tetapi diseberangnya yakni waktu itu Sekolah Kristen yang dipimpin oleh Ibu Kalangi….(Coba lihat sekolah itu sekarang… alangkah beda dengan gedung sekolah KRIS). Perlu … See Morejuga saya tambahkan bahwa saya tidak berkepentingan dengan APA saja yang akan dibikin disana tetapi jangan ditelantarlkan begitu, dongk! Saya diajar bahwa jika kita mengkerirtik sesuatu berikanlah juga usulan perbaikan …. Jadi sekali lagi saya sama sekali tidak ada PROYEK atau kepentingan apa disana, Bung Har. Dorang mo beking apa jo disana terserah mereka, asal beking “netjes” (istilah Belanda} dan rawat kasiang itu Papa pe patung…..
Tunggu jo kita pe video ada beking kalamarin dulu nanti sore kita upload ke FB ….
about a minute ago

Harry Kawilarang
OK tante Lani, cuma mau kase tahu, sekolah diseberang yang merupakan bagian dari PSKD ternyata juga prosesnya nyanda bagus. Seluruh sekolah eks peninggalan Belanda di Jakarta si manfaatkan oleh Siagian untuk menguasainya dengan menggunakan legitimasi DGI (skrg PGI) dan seluruhnya diluasai oleh dinasti Siagian.
So Long,
HK
11 hours ago

Lody F Paat
@ Harrry: Saya setuju dengan Bung. Buku tebal dan berjilid-jilid tidak perlu menjadi hambatan. Terpenting, orang Minahasa, turunan Minahasa campuran (spt, Minahasa+ Batak, Jawa+Minahasa) dapa baca sejarah dari perspektif orang Minahasa.
LIBERTE.
11 hours ago

Lani Ratulangi
Saya kira saya tidak perlu menggubriskan dorang (PSKD) pe urusan akan tetapi skolah KRIS membawa nama SAM RATULANGIE walaupun kini HANYA di patung dan kebetulan namaku juga Ratulangi….. Jadi aku peduli….
11 minutes ago

Lani Ratulangi
@Budi Lengkoan, mohon izin penggunaan foto untuk video.
6 minutes ago

Tujuh Pendekar Wanita yang Berprestasi di Dunia pada 2011

Tujuh Pendekar Wanita Yang Berprestasi di Dunia pada 2011
Oleh:Harry Kawilarang 8:33am Jan 2, 2012

Pada tahun 12011 lalu, terdapat 7 wanita yang menonjol sebagai pendekar karena prestasi mereka. Para “Magnificent Seven” ini berperan mengatasi kemelut ekonomi akibat krisis keuangan dunia, memperjuangkan perdamaian dan demokrasi dengan prinsip yang kukuh dan moralitas tinggi.

Angela Merkel
Angela Merkel, Kanselir Jerman, memimpin negeri yang berada di urutan keempat sebagai Negara Gross Domestic Product (GDP) keempat terbesar di dunia patut meraih penghargaan sebagai wanita yang berprestasi tahun 2011. Ketika Uni Eropa menghadapi krisis hutang, Kanselir Angela Merkel menjadi pemimpin de facto Zone Europe. Karena keampuhan ekonomi Jerman dibawah kepemimpinannya, sehingga para pemuka Uni-Eropa tak dapat membuat keputusan apapun tanpa dukungannya.
Harian Prancis, Le Monde dalam angketnya di Prancis, sekitar 60% dari publik menempatkan Angela Merkel sebagai pemimpin paling sukses, karena dapat mencegah dan mengantisipasi krisis keuangan yang jauh lebih baik ketimbang Presiden mereka, Nicolas Sarkozy yang meraih 33%.
Pada 2011, beberapa negara yang tergabung dalam Uni Eropa mengalami krisis akibat ambur-adulnya pengelolaan lembaga-lembaga keuangan mereka hingga dilanda hutang tinggi, dan meroketnya tingkat pinjaman. Merkel dihadapkan dengan tantangan perimbangan dengan membatasi pengadaan pemberian dana pinjaman untuk menyelamatkan posisi perekonomian di dalam negerinya . Untuk mengatasinya, ia membuat kebijakan ketat hingga masyarakat Jerman tidak mudah berfoya dalam menghamburkan uang mereka untuk mencegah terjadinya pinjaman darurat (bailout). Kebijakan ini berhasil, hingga Angela Merkel menganjurkan negara-negara anggota Uni Eropa untuk memperbaiki dan mendisiplinkan fiscal mereka agar tidak mengalami krisis ekonomi seperti yang sudah terjadi di Italia dan Yunani. Bila saja terapan yang disebut Eurozone berhasil diatasi, Merkel dapat menjadi pahlawan karena jasanya menyelamatkan Uni Eropa dari kemelut krisis keuangan.

Aung San Suu Kyi
Sebutan pendekar yang kedua, jatuh pada Aung San Suu Kyi, pemuka Hak Azasi Manusia dari Myanmar. Ia menjadi tahanan baik penjara maupun tahanan rumah sebanyak 15 kali dalam 21 tahun, karena sikapnya yang menentang arus politik rezim, yang baru pada tahun 12011 penguasa Myanmar membebaskan dirinya dan mengakui partai Liga Demokrasi Nasional (NLD, National League for Democracy) sebagai partai politik yang sah dan dapat mengikuti pemilihan umum.
Suu Kyi mengatakan bahwa ia terinspirasi melakukan aksi damai tanpa kekerasan dari mendiang Martin Luther King Jr dari AS dan Mahatma Gandhi, yang merupakan dua pemuka lambang non-kekerasan di dunia internasional. Selama masa tahanannya, ia berhasil menerapkan reformasi demokrasi damai dalam aksi tuntutannya pemilihan umum yang bebas di Myanmar. Ia mendirikan partai NLD pada 1988, dan pada 1990 partainya memenangkan Pemilu, tetapi penguasa junta militer menghalanginya untuk memimpin Myanmar. Pada 1991, ia meraih hadiah nobel untuk perdamaian, tetapi ia tetap di tahan oleh penguasa militer. Walau begitu, Suu Kyi tetap menjabat sebagai Sekretaris-Jendral partai. Kendati NLD lama dibekukan, tetapi hidup kembali pada November 2010 sekalipun tidak diperkenankan ikut Pemilu. Pihak penguasa untuk pertama kali menyelenggarakan Pemilu setelah 20 tahun dan memberi izin NLD untuk ikut serta. Inipun terjadi setelah penguasa mendapat tekanan bertubi-tubi dari dunia internasional, termasuk organisasi regional ASEAN. Perubahan di Myanmar untuk terbuka menerapkan demokrasi tak terlepas dari perjuangan Aung San Suu Kyi yang gigih, ulet dan tegar walau dengan penuh pengorbanan. Namun pada akhirnya berhasil. Sungguh merupakan prestasi yang luar biasa yang dilakukan wanita Asia ini.

Dilma Rousseff, Presiden Brazil
Kendati di masa kecil ia bermimpi ingin menjadi prajurit pemadam kebakaran, ataupun seorang artis sirkus. Ternyata ia menjadi Presiden wanita pertama Brasil, yang termasuk diantara negeri-negeri terpadat di dunia (juga merupakan kekuatan ekonomi masa datang). Suatu kenyataan yang tidak pernah dibayangkan seorang gadis kecil di masa lalu.
Dimulai dengan karier sebaga pegawai negeri biasa yang tak pernah bekerja di lingkaran kantor kepresidenan, Dilma Rouseff di kukuhkan menjadi Presiden pada Januari 2011. Pada tahun pertama sebagai kepala negara, ia pecat lima anggota cabinet dan puluhan pejabat lainnya karena terbukti terlibat korupsi. Ia mendukung dan berperan langsung di sector pebankan, pertambangan minyak dan enerji lainnya. Karena keberhasilannya memperbaiki perekonomian Brazil hingga namanya melambung naik hingga 72% di bulan Desember 2011. Sekarang ini Brazil merupakan negara yang paling berpengaruh di Amerika-Selatan, negeri demokrasi terbesar di dunia (dengan populasi sekitar 200 jiwa) dan sebagai salah satu kekuatan ekonomi yang disegani di dunia berkat kepemimpinan Dilma Rouseff.

Christin Lagarde, Direktur Dana Moneter Internasional (IMF)
Christina Lagarde memimpin lembaga keuangan internasional ini sejak Juli 2011 sebagai wanita pertama. I a mempromosikan kerja-sama internasional untuk menstabilkan spasar bursa keuangan. Jebolan sarjana hokum ini adalah mantan Menteri Keuangan Prancis. Ia meraih posisi kepemimpinan IMF menggantikan Dominique Strauss-Kahn yang di copot karena dituduh terlibat dalam skandal seks ketika berkunjung ke AS. Sebagai pimpinan IMF di masa krisis Eurozone sudah melihat cara penyaluran milyaran mata-uang Euro dalam pengadaan pinjaman darurat yang ambur-adul di beberapa negeri Erop lingkungan Uni –Eropa karena terancam bangkrut. Langsung saja ia melakukan perombakan reformasi dengan menerapkan restrukturisasi system hutang terhadap berbagai perbankan di Eropa.
Christin Lagarde sangat vokal dan sering mengecam penyebab terjadinya krisis moneter pada 2008, yang terlalu di dominasi oleh kaum Adam, yang selama ini menempatkan diri sebagai yang “paling sok tau,” ternyata menjadi perusak industry perbankan.

Ellen Johnson Sirleaf, Leymah Gbowee, and Tawakkul Karman
Pada tahun 2011, terdapat 3 wanita yang meraih hadiah nobel karena prestasi mereka memperjuangkan perdamaian dan demokrasi. Mereka itu adalah Presiden Ellen Johnson Sirleaf dari Liberia, Tawakkul Karaman, aktivis dari Yemen, dan aktivis perempuan Leymah Gbowee yang juga dari Liberia. Tawakkul Karaman yang berusia 32 tahun adalah wanita Arab pertama dan jya merupakan yang termuda dalam sejarah peraih hadiah nobel perdamaian.
“Kita tidak pernah akan dapat meraih demokrasi dan perdaiaman bila wanita tidak memperoleh hak yang sama dengan pria untuk mengembangkan pembangunan masyarakat yang harus memiliki derajat yang sama,” tulis pihak panitya pemenang hadiah nobel . Selama ini mayoritas penerima hadiah nobel yang sudah berusia 110 tahun adalah kaum pria. Tetapi kali ini pilihan jatuh pada tiga wanita yang meraih 1,5 Juta dollar yang memperjuangkan perdamaian dan demokrasi di dunia. “Jadi tepat juga kiasan Cina yang mengatakan, ‘Wanita itu menguasai lebih dari planit bumi ‘ ini” ujar Thorbjoern Jagland, selaku pimpinan Komisi Nobel Norwegia kepada ketiga wanita pemenang hadiah nobel.

TERIMA KASIH kepada Bung HARRY KAWILARANG***

CICIT OPA TUA SAM RATULANGIE menulis ……..

Taksonomi Mahasiswa: Classis baru

by Alva Supit on Thursday, October 6, 2011 at 12:18pm

Setelah lebih dari 1 semester mengajar—atau lebih tepatnya, bergaul dengan—mahasiswa Biologi, gw berkesimpulan bahwa mereka patut digolongkan dalam sebuah classis tersendiri.

‘Emang kenapa?’ gitu mungkin kamu mikir.

Karena, menurut gw, sosok-sosok makhluk imut dan norak itu, yang gw temuin tiap hari di kampus, memiliki karakteristik yang khas. Unik, berbeda dengan kingdom animalia lain pada umumnya. Meskipun mereka masih memiliki karakteristik chordata (bertulang belakang, tubuh simetris bilateral, punya celah nasofaring yang berbentuk hidung), mereka memiliki taxa yang spesial dan hierarki yang terdiferensiasi dalam pandangan gw.

Ciri-ciri spesifik classis mahasiswa:

Karena merupakan makhluk bipedal,  mereka suka lari-lari nggak karuan. Kejar-kejaran sambil tertawa kayak mak lampir. Mereka suka manggil-manggil gw, “Mener,” dan waktu gw balik nanya, “Kenapa?” mereka malah nyengir dan bilang: “cuman miskol!”

Awalnya gw mikir: “Dasar sarap.” Tapi gw mulai menikmati dinamika mereka.

Mereka memiliki tingkah laku yang spesifik dalam social networking: suka nge-add dosen di FB tapi malah nyesel, karna takut berkomentar yang macem-macem, jangan-jangan nanti nilainya dipotong ama dosen ybs.

Mereka memiliki satu identitas dan rasa kebersamaan yang tinggi sebagai satu classis. Terutama kalo lagi UJIAN.

Mereka memiliki motivasi yang gede untuk dapet IP tinggi pada minggu-minggu pertama dan 2 minggu terakhir pada setiap semester. In between? Ah, biasa jo dang kwa toh?

Mereka punya pola makan sendiri.  Nasi campur ayam pada tanggal 1-10 tiap bulannya, dan supermi campur nasi tanggal 25-30 bulan yang berjalan.

Mereka memiliki sistem respirasi yang unik: WiFi adalah nafasku.

Mereka memiliki sistem indera yang kompleks. Mereka dapat memprediksi dengan tepat apakah dosen sedang bad mood atau tidak.

Mereka memiliki sistem ekskresi yang juga berfungsi sebagai alat komunikasi. Mereka selalu merasa ingin pipis kalo kuliah mulai membosankan. (Temen-temen dosen, sadarilah: kalo mahasiswa udah pada minta ijin, itu tandanya mereka BOSAN).

Prestasi belajar mereka sangat tergantung dari sistem kardiovaskular mereka. Kalo lagi broken heart, prestasi menurun, suka duduk di sudut, tatapan kosong, mulut komat-kamit, sambil tangan menggenggam HP erat-erat. Rupanya baru diputusin pacar via SMS. Kalo udah gini, gw sebagai dosen harus cepet-cepet menutup sesi perkuliahan dan memulai sesi konseling.

Mereka memiliki kehidupan lain di malam hari. Meskipun tergolong makhluk diurnal, beberapa ordo juga hidup pada malam hari. Mereka suka ngumpul-ngumpul di teritori tertentu sambil meminum senyawa etanol dan mempererat persahabatan dengan cara mereka sendiri.

Semua kisah ini berawal di Februari 2011. Gw pertama kali menginjakkan kaki di Fakultas MIPA Unima. Kesan pertama: angker dan berdebu. Tapi kesan angker itu langsung hilang setelah gw ketemu sama Opa Sarinusi, satpam tertua di Unima. Dengan hangatnya, beliau menyambut gw dengan tulus. Setulus merpati. Caelah.

Kalo kesan berdebunya? Loe jawab aja sendiri.

Nah, setelah sungkeman dengan pembesar-pembesar fakultas, akhirnya gw diijinkan untuk memulai tugas mulia—yang gak akan gw sesali sampai selamanya: mengajar.

“Perkenalkan, nama saya Alva. Dokter Alva,” ujar gw garing dengan suara yang hampir gak kedengaran.

Mata anak-anak menatap gw tajam. Entah apakah mereka juga gugup kayak gw, ataukah mereka pengen mengguna-gunai gw, gw gak tau. Pokoknya, sesi pertama gw sebagai dosen gw lalui dengan susah payah kayak tante muda yang pengen melahirkan anak pertamanya.

Siapa menyangka, itu akan menjadi awal dari petualangan gw mengarungi dunia akademik bersama dengan teman baru gw: classis Mahasiswa.

Nah, kembali ke taksonomi mahasiswa tadi. Di pandangan gw, classis mahasiswa dapat dibagi atas beberapa ordo, yaitu:

1.       Ordo konservatif.

Mereka suka dapet nilai bagus. Ciri-cirinya: suka bangun pagi, datang di kampus sebelum dosen tiba, selalu bikin tugas—meskipun cuman nyalin dari temen kos atau copy-paste dari Wikipedia. Pokoknya, semua tugas akademik lancar-lancar aja deh. Mereka yang paling sering protes kalo dosen mau mindahin jam kuliah. Mereka juga yang paling sering meneror dosen kalo dapet nilai C. Mereka suka membentuk kelompok belajar—skalian beking gohu, makang-makang, jalan-jalan, chatting bareng, dll.

Ordo ini terbagi atas beberapa genus.

a.       Konservatif sayap kanan (mengandalkan Tuhan, baca doa 20x sehari, nggak mau nyontek saat ujian, menjaga jarak dengan dosen agar nilainya tetap objektif).

b.      Konservatif sayap kiri. Ini cuman istilah buatan gw aja. Mereka ingin mencapai nilai yang sempurna, gak peduli mo nyontek kek, mo nyogok dosen, mengantar upeti, bahkan merelakan kehormatannya (halah!) demi nilai tinggi, mereka tetap mau.

c.       Konservatif animisme. Mereka suka menyantet dosen yang pelit nilai sebagai perwujudan rasa balas dendam. Untunglah ordo ini sudah punah 15 abad lalu.

2.       Ordo idealis.

Ordo ini ditandai dengan keinginan yang menggebu-gebu untuk mencapai suatu tujuan yang bahkan nggak terpikirkan oleh dosen. Misalnya: pengen jadi pemenang nobel, pengen menyelamatkan paus biru dari kepunahan, pengen menghentikan global warming. Ordo ini, meskipun nggak harus menonjol di kampus, tapi memiliki potensi yang amat besar untuk menjadi pemimpin di masa depan.

3.       Ordo melambai.

Beberapa persen dari populasi mahasiswa termasuk dalam ordo ini. Mereka adalah makhluk-makhluk pinter yang suka membawa textbook yang tebalnya kayak ban radial, mondar-mandir lab-jurusan-fakultas dengan gaya melambai yang khas. Meskipun sering dikata-katain sama ordo lainnya, ordo melambai terbukti paling cepat menyelesaikan beban kredit yang dikontraknya. Berbeda dengan anggapan orang, menurut gw, they are true gentlemen, actually!

4.       Ordo garis keras.

Mereka sering duduk di bagian belakang kelas. Mereka sering dikeluarkan di tengah semester karena gak mencapai 80% syarat kehadiran. Sebagian dari ordo ini merupakan makhluk nokturnal (hidup pada malam hari) dan  keluar pada siang hari hanya untuk mencari makan. Mereka mengkonsumsi sejenis etanol untuk bertahan hidup. Mereka memiliki cara tersendiri untuk bertahan hidup (persahabatan), memiliki musik mereka sendiri (metal-scream-rock), gaya mereka sendiri (emo-punk).  Yang menjadi kekuatan mereka adalah persahabatan yang kental dan cinta yang ekstra dari Tuhan. Sungguhan lho! Karena sesungguhnya ordo inilah yang paling dirindukan Tuhan.  #tuhantidakmarah

5.       Ordo nekad.

Mereka adalah ordo yang nggak segan-segan mencegat gw di jalan, menanyakan nilai ujian tadi siang, meminta nomer HP gw lalu mengirimkan SMS-SMS rayuan, menunjukkan sikap ganjen yang berlebihan kalo gw dicuekin dan kegembiraan yang abnormal begitu tahu permohonan nilai A-nya dikabulkan.

6.       Ordo jenius.

Mereka adalah ordo yang membuat gw panik di tengah-tengah sesi belajar-mengajar karena mengeluarkan pertanyaan-pertanyaan yang rumit. Beberapa dosen akan berdiplomasi, “Oke, itu jadi tugas kalian buat minggu depan.”  Ada juga dosen yang berusaha menjawab dengan segala kemampuan yang dimilikinya, meskipun nantinya malah memunculkan teori baru yang aneh bin ajaib.

Sebagai dosen baru, gw merasa harus jujur dengan keterbatasan gw. Mahasiswa sekarang emang pinter-pinter. #Untungsoadawifi. Dosen pun goes OL.

7.       Ordo beriman.

Ordo ini percaya ama semua yang gw katakan. Meskipun gw udah menyesatkan mereka dengan sengaja, mereka tetap aja percaya ama gw. Sebagai dosen, gw merasa perlu untuk mengubah sistem pendidikan di Indonesia supaya mahasiswa menjadi lebih kritis dan berani mengkoreksi dosen kalo menurut mereka ada yang nggak logis.

8.       Ordo coy-coy. 

Mereka adalah ordo yang fleksibel, suka mendekatkan diri ama gw (yang kebetulan juga suka mendekatkan diri ama mereka), yang nggak segan-segan buat menepuk bahu gw sambil minta kopian film dari laptop gw. Kalo gw punya rokok, pasti udah dimintain. Untung gw cuman punya spidol. Sisi positif ordo ini, menurut prediksi gw, bakal lulus seleksi alam sampe di tingkat nasional. Loe tafsirin sendiri deh apa artinya.

9.       Ordo underground.

Ordo ini jarang sekali terlihat di kampus. Mereka hanya mengontrak sekitar 6 SKS, itupun jarang masuk. Kalo mereka nggak berubah, maka ordo ini dipastikan akan punah dalam 2 tahun.

10.   Yang terakhir: Ordo kurang kerjaan.

 Mereka adalah mahasiswa yang, meskipun udah tau banyak tugas yang harus dicatat, tetep aja bela-belain membaca notes nggak bermutu ini sampe abis.

Kamu masuk di ordo mana?  Gw gak peduli. Tiap ordo punya caranya masing-masing untuk menikmati perkuliahan.

Karena sebagai dosen, gw menaruh harapan yang tidak terbatas terhadap semua mahasiswa gw. Mahasiswa, yang gw yakin, suatu saat nanti, akan menjadi pemimpin di marketplace loe masing-masing.

Mahasiswa, yang suatu hari nanti, akan menggantikan posisi gw, mengajar classis mahasiswa generasi berikutnya yang terus berevolusi entah sampai kapan.

Salinglah menjaga, friends. Kalo ada temen di ordo kamu yang udah mulai menghilang dari peredaran, dekatilah dia, rangkul dia lagi, bisikkan perkataan positif ke jiwanya. Pastikan nggak ada satupun yang terhilang dari angkatan kalian sampai di ujung toga wisuda. Dan gw, meskipun dari jauh, akan dengan bangga tersenyum dan berkata pada diri gw sendiri: “LIHAT TUH! Itu mahasiswa loe!”

Gw menaruh HARAPAN YANG TIDAK TERBATAS di atas pundak loe. Inget itu.

Tetaplah kejar cita-citamu.  Gw janji, gw akan bantu loe sekuat tenaga.

GBU…

MARIA CATHARINA JOSEPHINA RATULANGIE TAMBAJONG

ANALISA SOSOK

MARIA CATHARINA JOSEPHINA RATULANGIE TAMBAJONG

Merpati Jinak yang mengangkasa laksana Garuda Perkasa

Oleh : Dr. W.M.Ratulangie-Sudjoko ( Uki Ratulangie)

Catatan susulan : Adikku Uki Ratulangie telah meninggal tgl 15 Maret 2020 May she REST IN PEACE. Amen. Lani Ratulangi.

 

Ibu M.C.J. RATULANGIE-TAMBAJONG

Ibu M.C.J. RATULANGIE-TAMBAJONG

Panggilan kawan-kawan adalah MARIETJE. Panggilan sayang adalah TJENNY, hanya bagi keluarga yang terdekat saja, seperti suami, anak-anak dari suami (perkawinan pertama) dan saudara-saudaranya (10 orang), yang memanggilnya dengan nama itu. Marietje adalah anak nomer 7 dari 11 bersaudara dan anak perempuan yang ke-3 dari 4 orang anak perempuan.

Ayah dan Ibu Marietj
Ayah dan Ibu Marietje

Bapaknya adalah Hukum Besar Tombasian, dan pada waktu itu merupakan pejabat yang termasuk tinggi, mungkin eselon kedua setelah kontrolir Belanda. Minahasa bagian selatan sebelum PD II termasuk daerah yang kaya, yaitu sumber  Kopra. Bapaknya yang bernama Jan Nicholaas Tambajong, telah berusaha sekuatnya memberikan pendidikan yang setinggi-tingginya kepada semua anaknya. Untuk itu diperlukan biaya yang sangat besar, sehingga beliau memang sering terjerat dalam hutang.Semua kakak dan adik laki-laki diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk pergi ke Jawa dan Batavia untuk menuntut ilmu lebih jauh agar dapat bekerja dan memang semua kakak lelakinya mendapat pekerjaan sebagai Pegawai Negeri Pemerintah Belanda.

Sebagian kakak-beradik TAMBAJONG
Sebagian kakak-beradik TAMBAJONG

Dari anak-anak perempuan, hanyalah Marietje sendiri yang pada usia 15 tahun dikirim ke Batavia untuk belajar menjadi guru. Dua kakak perempuan yang lain, yaitu anak nomer 2 dan nomer 4, setelah selesai MULO langsung menikah. Sedang adik perempuan nomer  11 dan dalam urutan adalah anak yang bungsu, tidak mendapat kesempatan lagi karena pecah Perang Dunia ke II.

Keluarga BesarTAMBAJONG-LEFRANDT di Amurang
Keluarga BesarTAMBAJONG-LEFRANDT di Amurang

 

The four TAMBAJONG sisters
The four TAMBAJONG sisters or: THE FOUR SWANS of AMURANG

 

Tjennie merangkul keponakannya (Willy Pesik) dirumah mereka
Tjennie merangkul keponakannya (Willy Pesik) dirumah mereka

 

TJENNIE
TJENNIE

 

Tjennie 18 tahun lulus jadi guru
Tjennie 18 tahun lulus jadi guru

Rupanya Marietje termasuk cerdas. Sesekali ia menceritakan bahwa sebetulnya ia ingin menjadi Dokter dan sekolah di Stovia, tetapi tidak jadi. Mungkin biaya tak mencukupi. Seorang teman semasanya yang jadi dokter adalah Ny. Marie Thomas yang menjadi dokter wanita pertama di Indonesia.

Tjennie dimuka rmah di Amurang
Tjennie dimuka rmah di Amurang

Dari keluarga yang besar, dengan semua kakak-kakak bekerja dan seorang kakak perempuan menjadi Istri dokter yang pada masa tersebut sangat terpandang, dapat dibayangkan  bahwa Marietje besar dalam lingkungan manja yang berkecukupan dan dilindungi.

Tjennie bersama kakak dan anak2 kakaknya dimuka rumah di Amurang
Tjennie bersama kakak dan anak2 kakaknya dimuka rumah di Amurang

 

Tjennie bersama adiknya dan kakaknya dihalaman rumah Amurang
Tjennie bersama adiknya dan kakaknya dihalaman rumah Amurang

 

Tjennie bersama adiknya Alex di Amurang
Tjennie bersama adiknya Alex di Amurang

 

Tjennie bersama kakaknya dan keempat keponakannya: Fransje, Willy, Etty dan Leny
Tjennie bersama kakaknya dan keempat keponakannya: Fransje, Willy, Etty dan Leny

 

Tjennie bersama tamu keluarga dirumah di Manado
Tjennie bersama tamu keluarga dirumah di Manado

Akan tetapi ……………………….. Jodoh ditentukan oleh Tuhan dan Marietje memilih menikah dengan Sam Ratulangie seorang duda dengan 2 anak. Sam Ratulangie, yang kaya akan cita-cita tetapi miskin dalam harta.

Foto keluarga bersama kedua kakak beserta suami yang telah mapan
Foto keluarga bersama kedua kakak beserta suami yang telah mapan

Konon ceriteranya, dilingkungan keluarga timbullah pro dan kontra terhadap pasangan ini. Namun karena Sam Ratulangie cukup dihormati oleh masyarakat Minahasa, maka pernikahan ini direstui. Marietje membuktikan bahwa ia konsekwen dan bertanggung jawab atas pilihannya.

Tjennie bersama suaminya bertamu ke kawannya di Manado
Tjennie bersama suaminya bertamu ke kawannya di Manado

Marietje langsung sempat merasa kapahitan menikah dengan orang pergerakan, yang tidak mempunyai pendapatan tetap, karena kegiatan-kegiatan politiknya. Pada permulaan pernikahannya, mereka harus tinggal di rumah kecil di Pengalengan di peristirahatan seorang kawan, karena tidak sanggup membiayai rumah di kota.

Di Pengalengan
Di Pengalengan

Anak pertama lahir di Pengalengan. Kehidupannya menjadi berubah sesudah Sam Ratulangie diangkat menjadi anggota Volksraad pada akhir tahun 1927 dan mereka mampu menyewa rumah di Jakarta sampai berhenti di tahun 1937.

Tjennie istri anggauta Volksraad
Tjennie istri anggauta Volksraad

 

1930 Kakak beradik TAMBAJONG dirumah Dr. Pesik di Purwakarta
1930 Kakak beradik TAMBAJONG dirumah Dr. Pesik di Purwakarta

Pada tahun 1938 ketika anak yang ke-3 lahir, keluarga Sam Ratulangie kembali terpaksa tinggal dirumah kakaknya di Bandung. Baru setelah majalah Nationale Commentaren yang dikeluarkan suaminya beredar, maka keluarga Sam Ratulangie dapat menyewa rumah lagi di Bandung, bahkan dapat kembali ke Jakarta. Jadi berlainan sekali kehidupannya dengan kehidupan keluarga kakaknya yang telah mapan. Namun keadaan yang tak menentu tersebut kadang diatas dan kadang dibawah merupakan bekal untuk hidup dijaman Jepang, revolusi dan kemudian sebagai seorang janda yang harus membesarkan anak-anaknya. Pecahlah Perang Dunia II dan Belanda kalah sama Jepang. Tentara KNIL (Koninklijk Nederlands Indische Leger) yang banyak diantaranya adalah suku Minahasa mundur ke Australia dan meninggalkan keluarga2 mereka di Batavia tanpa ada yang mengurusnya. Isteri dan anak2 serdadu KNIL yang tinggal di 10e Bataljon (sekarang komplek Rumah Sakit ABRI di Senen, Jakarta) datang kerumah Sam Ratulangie dan meminta pertolongan karena tentara Jepang mengusr mereka dari tangsi yang didiami oleh mereka. Kebetulan rumah keluarga Ratulangie tidak terlalu jauh dari daerah Senen yakni yang sekarang Kramat 5 (?) . Apa yang terjadi kemudian merupakan ceritera tersendiri yang dapat dilaporkan kemudian.  Dibawah ini ada kopyan dari “Otobiografi” “Pemerintah Hindia Belanda mempunyai tentara terdiri atas serdadu bangsa kita: KNIL. Karena penjajah berniat mengirim serdadu – serdadu ini keseluruh Indonesia untuk membela kepentingan penjajah, maka isteri dan keluarga mereka di tampung di Tanjung Oost dan Tanjung West, yang terletak di selatan kota Jakarta. Waktu tentara Jepang mendarat, dan suasana menjadi panik penuh frustasi orang – orang mulai keluar dan merampok harta benda siapa saja. Di kamp – kamp Tanjung Oost dan West, wanita – wanita ini dirampok dan mereka lari ke Jakarta, kerumah kami dan memohon bantuan dan pertolongan suami saya. Halaman rumah kami dibanjiri wanita – wanita kebanyakan sambil menggendong atau mendukung anaknya yang sedang menangis karena kehausan dan kelaparan. Suami saya tidak dapat berbuat apa selain menemui pimpinan tentara Jepang di Jakarta untuk melaporkan kejadian ini. Berkatalah ia : “Saya melaporkan sesuatu hal kepada tuan – tuan : Pemerintah Belanda telah menampung para isteri dari serdadu – serdadunya yang berkebangsaan Indonesia di beberapa tempat di Indonesia. Setelah tentara Jepang mendarat mereka dirampok dan melarikan diri kerumah saya dan ratusan manusia memenuhi pekarangangan saya. Tuan-Tuan dapat memrbuat dua hal : Pertama: Tuan-Tuan dapat menyuruh mereka berdiri di depan Tuan-Tuan dan menembak mereka dengan satu atau dua buah mitralyir serentak Tuan-Tuan memusnahkan jiwa mereka, atau Tuan-Tuan dapat memberi mereka makan. Pimpinan tentara Jepang walaupun dalam keadaan perang saraf yang ke dua, memutuskan untuk memberi mereka 2 (?) gram beras seorang dan 20 sen untuk lauk pauk per hari.” Maka disinilah kemampuan berorganisasi dari Marietje diuji. Dengan dana tsb. diatas ia mengatur bahwa dengan bantuan para pemuda pelajar asal Sulawesi yang memang tak dapat bersekolah karena sekolah menengah dan tinggi tertutup sebab guru2nya (yang kebanyakan berbangsa Belanda) dimasukkan ke kamp atau diinterir. Pemuda2 ini dengan naik sepeda membeli beras, gula untuk dibagikan (BUKAN dijual) kepada istri2 KNIL yang dengan demikian tidak perlu kelaparan. (Catatan EDITOR: Ada sedikit perbedaan antara isi bagian naskah yang disalin diatas dengan fakta sebagaimana dilaporkan oleh editor. Hal ini dapat diluruskan jikalau naskah Harry Kawilarang perihal perampokan di Tanjung Oost dan Tanjung West dapat kami temukan kembali)

Tandjoeng Oost tempat penampungan istri2 KNIL
Tandjoeng Oost tempat penampungan istri2 KNIL

Pelajaran organisasi diperoleh langsung dari praktek sewaktu Sam Ratulangie dan kawan-kawan mengambil prakarsantuk melindungi para istri KNIL asal Minahasa yang ditinggal suaminya karena ditawan Jepang. PKC (Penolong Kaum Celebes) ini mengumpulkan, melindungi (terhadap Jepang) dan memelihara serta akhirnya memulangkan para istri kembali ke Minahasa.

Istri2 KNIL menghibur Pengurus Penolong Kaum Selebes
Istri2 KNIL menghibur Pengurus Penolong Kaum Selebes

Keluarga Sam Ratulangie pindah ke Makassar pada tahun 1943. Marietje lekas menyesuaikan diri dengan kehidupan jaman perang. Kehidupan kota Makassar adalah kehidupan yang baru dengan gaya hidup baru Marietje aktif mendampingi suami yang hidup bermasyarakat dan menjadi salah satu pemimpin pilitik. Dijaman perang revolusi sebagai istri Gubernur Pertama Sulawesi. Marietje cepat menyesuaikan diri dalam peran istri tokoh nasionalis dan mau tidak mau harus menjadi tauladan dan pimpinan para wanita. Beliau cepat mengambil keputusan untuk mengganti busana harian gaun menjadi busana kain dan kebaya serta memakai konde (waktu itu belum ada konde tempel). Marietje tidak canggung memakai kain dan kebaya, karena Ibunya sendiri sahari-hari mamakai sarong dan kebaya. Pada masa gadisnya di Amurang, ia sering mamakai sarong dan kebaya. Dan cara berbusana itu dipakai sampai akhir hayatnya pada umur 83 tahun. Segera setelah proklamasi maka para Ibu Republikein di Makassar merasa terpanggil untuk mendirikan dapur umum yang mulanya dimaksud untuk menolong orang Romusha namun kemudian berubah menjadi dapur umum untk para pejuang yang masuk-keluar kota. Marietje bersama Ibu-ibu lain lalu mendirikan Sekolah Menengah dan Perguruan Nasional untuk anak-anak kaum Republikein dan mempekerjakan pemuda-pemudi sebagai guru. Sebagai istri Gubernur, Marietje memahami benar dilemma yang dihadapi suaminya. Pada satu pihak adalah desakan Pemuda yang bersemboyan “Hidup atau Mati”, agar Gubernur menjadi militant dan pada pihak yang lain ia mengerti benar pemikiran suaminya dan para pemimpin Republikein akan bahaya konfrontasi terbuka dengan NICA tanpa memiliki senjata yang memadai. Di ruang tamu, Marietje menemani suaminya untuk ramah tapi tegar untuk tidak tunduk kepada kaum Belanda dan Inggris yang mendesak suaminya agar bekerja sama, namun di pekarangan belakang, ia juga meladeni dan menyebarkan tuntutan para Pemuda agar Gubernur dan para pemimpin mengangkat senjata. ”Merdeka atau Mati” adalah slogan Pemuda yang tidak memperhitungkan arti kehancuran yang ditinggalkan apabila kaum Republikein dilibas dengan kekuatan senjata. Situasi sangat meruncing pada waktu itu, sehingga Marietje harus tabah menghadapi bebagai keadaan. Suatu malam, suaminya bersama Bapak Saelan menyamar sebagai pedagang buah lengkap dengan mamakai sarung dan berjalan keliling kota karena diancam akan diculik oleh Pemuda. Akhirnya, suaminya beserta semua pimpinan Republikein dipenjarakan oleh Belanda. Dan setelah beberapa bulan diasingkan ke Serui, Papua. Pengasingan suami dan kawan-kawan ke Serui, Papua dihadapi dengan tabah, tanpa memperlihatkan rasa takut yang biasa tampak pada wanita dan dengan demikian telah membawa suasana tenang pada Ibu-ibu dan keluarga yang ikut diasingkan. Sejak menjemput suami dan kawan-kawan pada dini hari didepan penjara, sambil mendengar dengungan Lagu Indonesia Raya yang dinyanyikan seluruh penghuni penjara, melepaskan pimpinan mereka yang dibawa entah kemana, kemudian naik pesawat Catalina didapan pantai Makassar yang pada waktu itu dipenuhi oleh kawan-kawan dan masyarakat Makassar, Marietje tetap tegar. Jelas sikap tenang dari keluarga dan bukan sedih dan panik, sangat mendorong moral Sam Ratulangie dan kawan-kawan yang tidak yahu mau dibawa kemana, hanya melihat bahwa kapal terbang menuju ke timur kearah Matahari terbit dan akhirnya tiba di Serui, Papua. Tidak ada kesedihan dan penyesalan pada Bapak-bapak tersebut yang telah membawa anak istrinya jauh dari sanak saudara. Malah mereka menggunakan waktu dengan baik, dengan bercocok tanam mengisi waktu senggang disamping menyebarluaskan pengaruh dan faham Indonesia merdeka. Demikian juga para istri yang membantu mendirikan perkumpulan IBUNDA IRIAN dengan tujuan meningkatkan ketrampilan wanita Papua. Marietje dan Ibu-ibu lain memimpin peringatan Hari Kartini 21 April 1947 dan 21 April 1948 di Serui. Kabar baik datang ketika dalam perundingan antara Indonesia dan Belanda diatas kapal Renville diputuskan bahwa semua tahanan revolusi harus dibebaskan.

Keluarga2 ex buangan dari Serui tiba di Tanjung Periuk
Keluarga2 ex buangan dari Serui tiba di Tanjung Periuk

Sekembalinya di Jogya beliau tidak sempat mengembangkan dirinya, karena tak lama kemudian berlangsunglah penyerbuan tentara Belanda dibawah Jenderal Spoor ke Jogya. Ppada Malam Natal 1948 suaminya ditangkap lagi. Suaminya kali ini tIdak dimasukkan penjara  akan tetapi dikumpulkan dengan para pemimpin Republik lainnya di Istana Presiden (Istana Hamengku Buwono ke-9) di Jogya. Sekalipun di satu istana kesehatan suaminya semakin memburuk. Pada waktu Belanda merasakan perlu bahwa tahanan2 ini perlu dipindahkan ke satu tempat di Sumatera, maka sebagian tahanan ditranspor melalui Jakarta dan di tempatkan sementara di pos polisi di mana sekarang dibangun Hotel Aryaduta. Marietje pun  mengikuti suami yang ditahan di Jakarta dan bersama anaknya menumpang dikediaman seorang kawan suaminya yakni Ir. Rasad di Taman Menteng. Oleh karena Belanda mendapat kesan bahwa suaminya sudah dalam kondisi kesehatan yang sangat buruk ia dilepaskan dengan alasan “tahanan rumah”. Sekalipun dalam kondisi yang sangat berat Marietje merasa terdorong untuk menjadi pimpinan wanita Republikein. Iapun menjadi Ketua peringatan Hari Kartini 21 April 1949 di Jakarta yang waktu itu masih dikuasai oleh NICA.

Sam Ratulangie wafat 30 Juni 1949 di Jakarta dan dimakamkan di Tondano
Sam Ratulangie wafat 30 Juni 1949 di Jakarta dan dimakamkan di Tondano

Sesudah DR.Sam Ratulangie meninggal pada 30 Juni 1949, Marietje manghadapi masa yang berat dalam kehidupannya, karena dalam keadaan damai bukan perang, beliau harus membesarkan 3 orang anak. Untunglah beliau ditawarkan bekerja di Markas Besar PMI pada bagian Logistik, dan berkutat dalam keseharian rutinitas sebagai seorang pegawai biasa. Bayangkanlah seorang istri mantan Gubernur  Sulawesi, seorang istri pemimpin bangsa dan anggota Volksraad yang terhormat, harus menjadi pegawai biasa demi menghidupi  anak-anaknya. Diperjuangkannya mati-matian, agar standar hidup tidak turun dan dengan tegak kepala dapat hidup diantara kawan-kawan dan keluarga besarnya.

Tjennie bersama anak-cucu dan keponakan2 di Jakarta (1979)
Tjennie bersama anak-cucu dan keponakan2 di Jakarta (1979)

Tinggi hati dalam pergaulan tetap dipertahankan, tetapi untuk menghidupi keluarga ia rela menjadi pegawai biasa. Juga setelah ia pension, maka dicoba mempertahankan dirinya dengan mengambil banyak anak kos dirumahnya dengan segala korban perasaan. Ia berhasil mendorong dan membuat anak-anaknya mandiri. Tantangan kehidupan telah menggemblengnya untuk mandiri dan merdeka sampai akhir hayatnya 10 Juni 1983. Perjalanan hidupnya ibarat tumbuh sebagai merpati jinak, dilindungi dan disayangi, namun setelah mengangkasa berubah menjadi garuda yang tegar untuk mempertahankan hidup keluarganya.

Oma Tjen diantara cucu2nya yang antaranya kini sudah mempunyai cucu sendiri

 

Oma Tjen diantara cucu2nya ( kira2 tahun 1973)
Oma Tjen diantara cucu2nya ( kira2 tahun 1973)

Itulah Marietje, salah satu dari sekian Pahlawan yang tidak dikenal, yang dengan caranya sendiri memberi sumbangsih dalam pembangunan Negara dan Bangsa.

Makam Marietje selaku VETERAN di pemakaman Keluarga Tambajong di Lopana, Amurang
Makam Marietje selaku VETERAN di pemakaman Keluarga Tambajong di Lopana, Amurang

Riwayat Hidup.

Nama                                MARIA CATHARINA JOSEPHINA RATULANGIE TAMBAJONG Tempat/Tanggal Lahir     Amurang, 2 Maret 1901 Wafat    Jakarta, 10 Juni 1983       Agama                               Kristen, Protestan                                                                         Nama Bapak                    JAN NICOLAAS TAMBAJONG                                                       Nama Ibu                         FRANCINA EVERDINA LEFRANDT                                         Kedudukan di Keluarga  Anak ke-7 dari 11 bersaudara                                                   Nama Suami                    DR.G.S.S.J. RATULANGIE                                                           Tempat/Tanggal MenikahBogor, 2 Juni 1928                                                                        Nama Anak                     1. Ny. MILLY RATULANGIE ICHWAN (almh)                                                                               2. Ny. LANI RATULANGIE SUGANDI                                                                                               3. Ny. UKI RATULANGIE SUDJOKO

Pendidikan 

EERSTE EUROPEESCHE LAGERE SCHOOL MANADO 1907-1913 MEER UITGEBREID LAGER ONDERWIJS (MULO) 1913-1916 CHRISTELIJKE SALEMBA KWEEKSCHOOL 1916-1918

Pekerjaan :

Guru pada HOLLANDSCH CHINESE SCHOOL di Manado 1918-1919 Guru pada TWEEDE EUROPESCHE LAGERE SCHOOL 1919-1920 di Manado Guru pada VIERDE EUROPESCHE LAGERE SCHOOL  JAKARTA 1920-1928 di Jakarta Pegawai Markas Besar Palang Merah Indonesia, Jln.Tanah Abang, Jkarta. 1949-1957

RIWAYAT  PARTISIPASI PERJUANGAN

Zaman penjajahan Belanda

Sebagai pemudi mengikuti persiapan SUMPAH PEMUDA oleh siswa STOVIA, Menikah dan mendampingi DR.RATULANGIE dalam perjuangan melawan Belanda.

Zaman panjajahan Jepang

Membantu DR.RATULANGIE menghimpun dan melindungi para istri KNIL keturunan Minahasa dan memulangkan ke Minahasa, Mendampingi suami sebagai pimpinan masyarakat di Makassar.

Zaman Revolusi Fisik (1945-1949)

MAKASSAR

Mendampingi suami sebagai Gubernur Sulawesi menghadapi NICA dikota, mendukung pemuda pejuang di pedalaman. Menyelenggarakan dapur umum untuk ROMUSHA dan pemuda pejuang yang keluar-masuk kota, mendirikan Sekolah Menengah Nasional & Perguruan Nasional bagi kaum REPUBLIKEIN, Memprakarsai peringatan hari KARTINI pertama 21 April 1946 di Makassar (aksi damai kaum REPUBLIKEIN)

SERUI (PAPUA)

Mengikuti pengasingan suami beserta 7 rekan pejuang ke Serui, membentuk Himpunan wanita IBUNDA IRIAN, Memprakarsai peringatan hari KARTINI pertama 21 April 1947 dan 1948 di Papua.

JOGYAKARTA

Mempersiapkan keluarga untuk berangkat ke Philipina, karena DR.RATULANGIE diangkat menjadi Duta Besar Philipina. Rencana berangkat 20 Desember 1948, tetapi agresi Belanda ke IInyang dimulai tanggal 19 Desember 1948 menjadi penghalang dan DR. RATULANGIE malah ditangkap oleh Belanda ditahan di istana dan kemudian dibawa ke Jakarta (lihat diatas).

JAKARTA

Bulan Februari 1949 Ibu Ratulangie dan kelurga pindah ke Jakarta mengikuti suami yang ditahan, Menjadi Ketua Panitia Hari KARTINI 21 April 1949 sesuai permintaan Ibu-ibu REPUBLIKEIN, peringatan ini yang pertama kali diadakan di Jakarta. Karena sakit, maka DR.RATULANGIE di perbolehkan kembali kerumah dan dirawat dirumah.Pada tanggal 30 Juni 1949, suaminya:  DR. RATULANGIE wafat di Jakarta.

 

Tahun 1949 – Akhir hayat.

Pegawai Markas Besar Palang Merah Indonesia. Kegiatan sosial  a.l. PIKAT di usia lanjut Menjadi Penasihat perkumpulan keluarga DOTU RATULANGIE. Menjadi Penasihat Organisasi wanita SAHATI.

Menerima Tanda Jasa a/n Suaminya
Menerima Tanda Jasa a/n Suaminya

Penghargaan yang diterimakan atas nama suami, sebagai istri, yang diberikan Pemerintah R.I. kepada DR. RATULANGIE sebagai berikut :

BINTANG GERILYA, 10 November 1958

SATYALENCANA PERINGATAN PERJOANGAN KEMERDEKAAN, 20 Mei 1961

SATYALENCANA PERINTIS PERGERAKAN KEMERDEKAAN, 17 Agustus 1965

PERNYATAAN PERINTIS PERS, 31 Maret 1973

Sumber materi dari tulisan beliau, kesaksian kerabat dan pengalaman penulis.

Terima kasih kepada Thomas Sigar untuk scanning foto2 yang diperolehnya dari album Oma-nya Ibu Lien Pesik-Tambajong.

Movie dibuat oleh puteraku RANO SUGANDI

Di Facebook ada teman bernama: Sabine Kowalzik yang termasuk grup khusus mengenai keturunan Eurasian dari Indonesia. Dia rupanya terkesan oleh foto2 keluarga kami khususnya dari pihak Alm. Ibu saya: TAMBAJONG. (Juga keluarga2 “Borgo” lain dari sekitar Amurang) Lalu olehnya dibuat video dan di-upload ke YouTube berjudul:

Silahkan simak videonya.
Belakangan Sabine mengirim message bahwa yang membuat movie itu adalah sebenarnya Rano Sugandi (sekarang di Toronto). Sabine hanya membantu meng-upload movie itu ke Facebook.
Demikianlah kekeliruan sudah saya perbaiki.