
Rumah Tua
Kukenangmu Dorine …. sebab kau benar2 mencintai kampung halaman kita…… Selamat jalan dari Tante Lani
Sam Ratu Langie and Descendants
TONDANO ……. Oh! Tondano! (new)
Lani
Neglected Statue of SAM RATULANGIE in Central Jakarta
Please check this out. A sad story of my father’s statue at jalan Sam ratulangie 26-28 Jakarta Pusat.
Mohon diklik karena ini menyangkut nasib satu patung Alm. Ayah saya.
Majalah Forum edisi 41, 2001.
Visioner dari Masa Silam
Anton Bahtiar Rifa’i
Suatu hari pada tahun 1922. Soekarno sedang berjalan-jalan di Jalan Braga, Bandung. Di depan sebuah gedung, tiba-tiba pandangan matanya tertumpu pada papan nama bertuliskan Algemene Levensverzekering Maatschappij Indonesia. Yang membuat si Bung tertarik adalah penggunaan kata “Indonesia” yang kala itu tergolong langka. Maka, Soekarno pun mampir dan berkenalan dengan pemilik perusahaan asuransi di gedung itu, Gerungan Saul Samuel Jacob Sam. Lelaki yang akrab dipanggil Sam itu pun berkata, “Itulah ideku, yakni agar Tanah Air kita yang terdiri dari beribu-ribu pulau itu bersatu dan diberi satu nama. Namanya telah saya tetapkan bersama pemuda-pemudi kita yang berada di Eropa, yaitu Indonesia.” Memang, Sam adalah orang Indonesia pertama yang berani memperkenalkan nama Indonesia secara resmi di depan publik.
Pertemuan dengan Sam menyisakan kenangan berkesan di hati Soekarno. Setelah terpilih menjadi Presiden Republik Indonesia, dalam salah satu pidatonya Soekarno pernah menceritakan lagi pertemuan tersebut. Bahkan, Soekarno menyebut Sam sebagai gurunya di bidang politik. Sejarah pergerakan nasional yang tak menyebut peran G.S.S.J. Sam, ucapnya, adalah pincang dan tidak lengkap.
Ya, memang tak lengkap jika tak menyebut nama itu. Jauh hari sebelum kemerdekaan Indonesia diproklamasikan, Sam sudah menuliskan bahwa suatu hari Hindia akan menjadi bangsa merdeka. Sebab, sejarah tak pernah memperlihatkan adanya satu bangsa pun yang sepanjang masa dijajah. Sejak 1913, ia berusaha menyita perhatian Belanda dan Hindia agar menyiapkan sebuah perpisahan mutlak yang tak dapat ditawar-tawar. Dalam pikirannya, perpisahan itu sebaiknya diatur dalam bentuk perceraian yang penuh persahabatan, yang dikemas dalam bentuk pertukaran unsur-unsur budaya yang bermanfaat bagi kedua pihak.
Memang, pemikiran itu tergolong prematur. Daniel Dhakidae, dalam tulisannya “Gerungan Saul Samuel Jacob Sam, Pijar-pijar Bintang Kejora dari Timur” (Kompas, 1 Januari 2000), mengibaratkan perkataan Sam di tahun 1913 itu sama saja dengan mengucapkan bahwa Orde Baru akan hancur di tahun 1974. Artinya, benteng yang dihadapi terlalu keras. Namun, itu menunjukkan pemikiran Sam sangat visioner dan meneropong jauh ke depan.
Analisisnya dalam meneropong masa depan tergolong tajam. Lihat saja, ketika menyampaikan pidato di Amsterdam, Belanda, 22 Mei 1915, berjudul “Cita-cita Minahasa”, Sam membuat analisis tentang perkembangan negara imperialis. Perang Pasifik merupakan sesuatu yang telah dihitung Sam. “Kita jangan melihat keadaan di Indonesia saja. Di luar Indonesia ada kekuatan-kekuatan yang sewaktu-waktu membahayakan Tanah Air kita. Kejadian akhir-akhir ini menunjukkan bahwa salah satu negara di Asia Utara akan mempergunakan kesempatan dengan adanya kerusuhan-kerusuhan di Eropa untuk melebarkan daerahnya ke Indonesia. Perbuatan Jepang yang boleh dinilai sekehendak hati dapat dianggap sebagai jawaban atas ini,” katanya.
Pemikirannya tersebut menunjukkan keyakinan Sam bahwa suatu hari sejarah penjajahan di Indonesia akan berlanjut pada pendudukan Jepang. Benar saja, serangan Jepang atas Indonesia memang benar-benar terjadi pada 1942.
Dengan melihat kemampuan daya pikirnya, tak berlebihan jika sejumlah pakar menyebutnya sebagai salah seorang futurolog yang pernah dimiliki Indonesia. Seperti dituturkan Dhakidae, kebangkitan Islam pun sudah diprediksikan oleh Sam setelah melihat berbagai gejala dunia pada saat itu. Bagi Sam, kesadaran nasional hanya bisa bangkit bersama agama. Dalam hal ini, agama merupakan antitesis terhadap kenyataan politik dan ekonomi kolonial.
Pantaslah jika ia disebut sebagai pejuang yang lebih menekankan aspek intelektualitas. Lagi pula, ia bukanlah pejuang yang radikal. Lihat saja, ketika PKI dan PNI diporak-porandakan pada 1926 dan 1927, sikap Sam nyaris tak terdengar. Padahal, kedua peristiwa itu merupakan bentuk perlawanan terbesar atas pemerintah kolonial.
Bisa jadi, Sam memang menerjemahkan perubahan melalui polanya sendiri. Dan, ia telah banyak memberikan kontribusi bagi perubahan sosial. Pada saat menjabat Ketua Minahasa Raad (Dewan Minahasa) di Manado pada 1924 hingga 1927, misalnya, ia berhasil menghapuskan kerja rodi terhadap rakyat Minahasa. Selain itu, Sam berhasil membuka daerah baru melalui program transmigrasi lokal di Minahasa Selatan. Dengan demikian, terbukalah kesempatan bagi rakyat Minahasa untuk meningkatkan taraf hidup mereka.
Ia juga menaruh perhatian besar pada pendidikan. Ia mampu menggalang dana dari para dermawan melalui sebuah yayasan yang diketuainya sendiri. Yayasan tersebut didirikan untuk membantu pemuda-pemuda berbakat yang tak memiliki biaya dalam melanjutkan studi.
Semua cerita tentang Sam bermula dari Tondano, Minahasa, Sulawesi Utara. Di daerah itu, Sam dilahirkan pada 5 November 1890. Seperti para pejuang pergerakan nasional lainnya, ia berasal dari keluarga terpandang. Ayahnya, Jozias Sam, adalah Kepala Distrik Kasendukan. Kakak perempuan Sam, Kayes Rachel Wilhemina Maria, adalah wanita Indonesia pertama yang bisa memperoleh ijazah Kleinambtenaar Examen pada 1898.
Sebagai seorang aristokrat, saat berusia enam tahun ia bisa bersekolah di Europesche Lagere School (ELS). Kepala sekolahnya mengajarkan bahasa Belanda dengan sungguh-sungguh. Akibatnya, Sam lebih mahir berbahasa Belanda ketimbang kebanyakan orang-orang Belanda sendiri. Lulus dari ELS, ia melanjutkan ke Hoofdenschool, sekolah elite lokal bagi kalangan atas.
Beginilah watak orang cerdas, Sam merasa jengah terhadap mutu pendidikan di Hoofdenschool. Ia menganggap mutu sekolah itu sangat rendah sehingga ia merasa tak banyak memperoleh pengetahuan. Maklumlah, pelajaran di sana banyak yang sudah diketahuinya lewat buku-buku ayahnya. Sam pun mulai melirik Pulau Jawa karena seorang sepupunya ada yang belajar di Batavia, tepatnya di School tot Opleiding van Indische Artsen (STOVIA) atau sekolah kedokteran. Sejumlah tokoh, seperti Dr. Wahidin Sudirohusodo dan Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo pernah bersekolah di sana. Sam merasa tertarik terhadap sekolah itu setelah melakukan korespondensi dengan saudara sepupunya.
Tak dinyana, belakangan Sam mendapat beasiswa untuk bersekolah di sana. Maka, kesempatan tersebut tak disia-siakannya, walaupun ibunya merasa sedih atas kepergian anak bungsunya itu. Wajarlah, untuk ukuran orang Minahasa saat itu, Pulau Jawa adalah suatu tempat yang sangat jauh. “Sekarang pergilah, engkau. Tapi, janganlah kembali dengan kopor kosong,” kata ayahnya berpesan. Tekad Sam memang sudah bulat. “Saya akan belajar sungguh-sungguh. Dokter Jawa yang sudah tua di Tondano itu akan saya gantikan tugasnya,” ujarnya seolah untuk meneguhkan tekadnya.
Ternyata, STOVIA tak sebagus yang dibayangkannya. Karena merasa lebih berbakat di bidang teknik, akhirnya Sam memilih belajar di sekolah teknik Koningin Wilhelmina School yang juga berada di Jakarta. Selesai belajar di sini, pada 1908 Sam bekerja di bagian teknik mesin pada proyek pembangunan kereta api di Priangan Selatan.
Di sinilah ia mulai merasa kecewa atas perlakuan tidak adil terhadap kaum pribumi. Misalnya, ia memperoleh gaji lebih kecil ketimbang teman-temannya yang Indo-Belanda. Ia mendapat penginapan di perkampungan, sedangkan teman-temannya menginap di hotel. Pengalaman itu membuatnya bertekad menuntut ilmu setinggi-tingginya.
Maka, pada usia 22 tahun, ia berangkat ke Belanda untuk kembali bersekolah. Yang menjadi pilihannya adalah sekolah guru Middelbere Acte en Paedagogiek yang diselesaikannya pada 1913. Setelah itu, ia melanjutkan studi sebagai mahasiswa jurusan ilmu pasti di Vrije Universiteit Amsterdam. Sayang, saat hendak mengikuti ujian pada 1915, Sam tidak diperkenankan. Alasannya, ia tidak memiliki ijazah hoogere burger school (HBS) ataupun algemeene middelbare school (AMS), yaitu ijazah sekolah menengah umum. Namun, Sam tak terlalu berkecil hati. Oleh Mr. Abenden, seorang Belanda yang dijuluki “sahabat Hindia”, ia disarankan melanjutkan kuliah di Universitas Zurich, Swiss. Saran itu pun dituruti Sam. Dalam waktu empat tahun, tepatnya pada 1919, Sam berhasil menyelesaikan kuliah di Universitas Zurich dan menyandang gelar doktor untuk bidang ilmu pasti dan ilmu alam.
Yang pasti, selama belajar di Eropa, Sam giat sebagai aktivis di Indische Vereniging yang kelak menjadi Perhimpunan Indonesia. Bahkan, ia sempat menjadi ketua organisasi itu pada 1914. “Marilah kita menganggap ini suatu tugas suci bahwa kita mempunyai satu pikiran mengenai hari kemudian Indonesia, di mana kita semua harus mengambil bagian. Perbedaan pendapat di antara kita tentunya tidak mungkin kita hindarkan. Tapi, tujuan kita sama, yaitu mempertinggi derajat Indonesia. Kita masing-masing menjadi pejuang untuk tujuan kita itu,” demikian dikatakan Sam dalam pidatonya saat terpilih menjadi ketua.
Selain aktif di organisasi, ia juga rajin menulis di sejumlah surat kabar dan majalah, seperti Koloniale Tijdschrift, De Stuw, Onze Kolonien, dan Indische Gids. Malah, di harian Rotterdamsche Handelsblad, surat kabar yang berpengaruh di Belanda kala itu, ia menjadi pembantu tetap. Salah satu tulisan Sam yang tergolong cemerlang ada dalam buku kecil Serikat Islam yang diterbitkan dalam serial Onze Kolonien di Belanda pada 1913.
Di situ, Sam memaparkan bahwa Serikat Islam merupakan sebuah keharusan sejarah. Terutama bila dikaitkan dengan perlakuan terhadap pribumi. Serikat Islam merupakan wujud solidaritas pribumi atas perlakuan orang Eropa yang di luar batas. Perlakuan itu menyakitkan bagi rasa keadilan. Menyedihkan dan merendahkan bila seseorang menyaksikan bagaimana pengawas Eropa, opzichter, yang hanya karena sebuah kesalahan kecil akan menyiksa dan mencaci seorang pribumi. Mengenai kegelisahan Sam itu, Dhakidae mengatakan, “Bisa diduga, dari sinilah rasa harga diri sebagai pribumi dan rasa kebangsaan itu mulai bersemi dalam diri dan pengalaman pribadi Sam.”
Toh, penghinaan dari orang-orang Belanda tetap mendera Sam. Itu dirasakannya ketika ia, sepulang dari Eropa, mengajar ilmu pasti dan ilmu alam di sekolah teknik Prinses Juliana School (setingkat STM) di Yogyakarta, yang muridnya sebagian besar adalah orang Belanda. Sam harus melihat kenyataan tentang orang-orang Belanda yang berpikiran kolot. Mereka merasa tidak ikhlas jika anak-anaknya diajar oleh orang Indonesia. Sam tetap dipandang sebagai inlander, sebutan yang tidak mengenakkan kala itu. Bisa jadi, faktor itulah yang menyebabkan waktu mengajarnya sangat singkat: hanya tiga tahun.
Kecewa di Yogyakarta, Sam hijrah ke Bandung untuk mendirikan Maskapai Asuransi Indonesia atau Algemene Levensverzekering Maatschappij Indonesia. Seperti telah disebutkan, penggunaan nama “Indonesia” itu sempat membuat Soekarno terkesan. Toh, menggeluti bisnis asuransi tak memberikan kepuasan baginya. Berbagai kekecewaan itu menggiringnya kembali ke Manado. Di sinilah ia terpilih sebagai Ketua Minahasa Raad. Sebenarnya, Sam tidak disukai pemerintah kolonial untuk menduduki jabatan itu. Namun, apa daya, sebagian besar rakyat di sana memang memilihnya.
Sebagai penganut politik “ko”, pada 1930 ia menjadi anggota Volksraad. Di dewan itu, bersama Husni Thamrin dan Soetardjo Kartohadikoesoemo, Sam ikut meminta agar Indonesia menjadi suatu negara sendiri sebagai dominion Belanda. Namun, karena Indonesia dianggap belum matang, Belanda menolak keinginan itu. “Tiga serangkai ini tak lain dari serigala nasionalis yang berbulu domba bagi Belanda. Pada dasarnya mereka bermental ‘non-ko’ yang diselundupkan dalam kaum ‘ko’ dalam Volksraad,” kata Dhakidae.
Lidah memang tajam. Dan, lama-lama ucapan-ucapan Sam di Volksraad membuat Belanda gerah. Akhirnya, dilakukanlah rekayasa “menjebak” Sam dalam sebuah skandal keuangan. Tudingan tidak jujur diarahkan kepadanya dalam laporan perjalanan dinas anggota Volksraad, yang mengakibatkan Belanda dirugikan sebesar 100 gulden.
Berbagai surat kabar nasionalis menentang “jebakan” itu. Mereka menganggap hal itu hanya tipu daya pemerintah kolonial. Masuk akal. Seperti dikatakan Tjaja Timoer, jika nafsunya kepada uang memang seburuk itu, maka ia dengan mudah menjual tenaganya kepada kaum kapitalis. Namun, sikap protes mereka itu tak berarti apa-apa. Sebab, setelah menjalani proses hukum di kejaksaan kolonial, Sam divonis empat bulan penjara, serta diskors dari Volksraad. “Sam akhirnya menjadi korban Belanda dan ‘pers putih’, pers kolonial Belanda,” begitu tulis Dhakidae.
Selanjutnya, Sam menjalani masa tahanan di Sukamiskin, Bandung, pada 1936. Toh, justru karena dipenjara itulah ia memiliki kesempatan untuk merenung dan menulis buku keduanya tentang masalah Indonesia di Pasifik. Yang menjadi pokok perhatian dalam tulisannya itu adalah Jepang. “Saya pikir bukan tanpa sengaja ia memilih Jepang. Dengan jitu ia mencatat perkembangan ekonomi Jepang dan peran Jepang dalam ekonomi Hindia Belanda,” kata Dhakidae.
Di mata Dhakidae, Sam memiliki kekaguman pada Jepang. “Ia yakin pada demokrasi. Namun, demokrasi dalam pandangannya adalah de nationale demokratie, mungkin dengan nuansa yang sangat lain,” kata Dhakidae. Dan, itu pula yang diyakini Dhakidae sebagai alasan yang membuat Sam tidak ragu-ragu menjadi penasihat Jepang untuk Minseibu, pemerintah Angkatan Laut Jepang yang berkuasa di Indonesia Timur. Sjahrir pun menganggap Sam tak jauh berbeda dengan Soekarno dan Hatta, “Yang pernah membudak pada fasis kolonial Belanda atau fasis militer Jepang.”
Yang pasti, masih banyak momen-momen penting yang dialami Sam. Saat menjabat Gubernur Sulawesi, 1946, Sam ditangkap Belanda dan dipenjarakan di Makassar dan Serui, Papua Barat. Di sana pula ia sempat mensponsori pendirian Partai Kemerdekaan Irian. Setelah dibebaskan dari tahanan pada 1948, Sam kembali aktif di dunia pergerakan dan sempat menjadi penasihat pemerintahan Soekarno-Hatta di Yogyakarta. Saat Istana Yogyakarta diserang Belanda pada Desember 1948, Sam ikut tertangkap. Namun, ia tak sempat dibuang karena keburu sakit-sakitan. Sam pun wafat pada 30 Juni 1949. Sebelum meninggal dunia, Sam sempat berkata kepada anak-anaknya, “Orang akan mengatakan, kami mengenal baik ayahmu.” Ya, kami mengenal baik.
Anton Bahtiar Rifa’i
POST SKRIPTUM
oleh Editor Lani Ratulangi lani.ratulangi@gmail.com atau lanirat@yahoo.com
Kini , dibulan Oktober 2022 maka saa berkesempaan memenuhi persaratan ang ternyata diminta ole WordPpress lalu saya ingin mempublikasikannya.
LIFE GOES ON – AND WE PASS THROUGH – TAMBAJONG/TAMBAYONG & LEFRANDT, GERUNGAN & RATULANGIE CLAN
Ini adalah video yang bagus mengenai pendahulu2 keluarga kami, yakni Keluarga Tambajong (Tambayong) & Lefrandt juga Gerungan & Ratulangie….
This is a nice video about our family’s predecessors based on pictures from family albums and media.
The video was made by Rano Sugandi
Disalin dari: “DR.G.S.S.J. RATU LANGIE & YAYASAN KRIS” oleh Dinas Museum dan Sejarah Daerah Khusus Ibukota Jakarta, 1978
Sejak Teks Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia dibacakan oleh Bung Karno dan Bung Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945, sebagai realisasi daripada kemerdekaan tersebut maka pada tanggal 5 Oktober 1945 Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dibentuk, hal ini merupakan langkah pertama bagi pengisian kemerdekaan dengan membentuk suatu alat kekuasaan yang terorganisir. Segenap rakyat di seluruh Nusantara tua-muda, laki-perempuan mengangkat senjata rela berkorban baik harta maupun nyawa untuk membela nusa dan hangsa.
Disamping Tentara resmi yang terbentuk dalam organisasi Tentara Keamanan Rakyat, terdapat pula berbagai macam organisasi-organisasi lain seperti Barisan Pelopor, Barisan Benteng Indonesia, Laskar Hisbullah, Barisan Rakyat Indonesia, Angkatan Pemuda Indonesia, Angkatan Pemuda Indonesia Sulawesi, Gabungan Pemuda Indonesia Sulawesi dan lain-lain.
Para pemimpin Angkatan Pemuda Indonesia Sulawesi (APIS) dan Gabungan Pemuda Indonesia Sulawesi (GAPIS) mengadakan perundingan, yang kemudian diperoleh kesepakatan bahwa organisasi APIS dan GAPIS bersepakat untuk meleburkan diri kedalam satu wadah, yang akhirya pada tanggal 10 Oktober 1945 terbentuklah satu badan baru secara resmi dengan nama Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS), dengan formasi pimpinan sebagai berikut:
Ketua : A.R.S.D. Ratu Langie
Wakil Ketua : Baharuddin
Sekretaris I : Kahar Muzakar
Sekretaris II : J. W. Waworuntu
Bendahara I : S. A. Pakasi
Bendahara II : H. M. Idrus
Pembantu Umum : M. Idris, Mahmud
Pembantu Bidang : Frans Panelewen
Penerangan Program Perjuangan sebagai berikut :
1. Berusaha tetap memelihara perjuangan dengan sistem perlawanan rakyat total, serta selalu kerjasama bahu membahu dengan badan-badan perjuangan lainnya : Koordinator : Daan Mogot, Kepala Pasukan : J. Rapar
2. Mengirimkan utusan ke daerah-daerah pedalaman untuk membentuk cabang-cabang KRIS, serta menampung keluarga-keluarga Minahasa
3. Sekolah Rakyat PEKASE dilanjutkan dengan nama baru yaitu Sekolah KRIS. Mengingat keadaan di Jakarta sering terjadi pertempuran-pertempuran, para guru diwajibkan mengantar jemput murid-murid Sekolah KRIS.
4. Disamping itu, juga Sekolah KRIS dijadikan markas KRIS cabang Jakarta Raya yang bertugas mengatur strategi perjuangan para pemuda KRIS
5. Menjalankan usaha-usaha sosial, antara lain menangani para pengungsi akibat peperangan
6. Mengobarkan peperangan diseluruh wilayah Jakarta dengan taktik “Hadang-Tempur-Rampas”.
Para Pemuda KRIS di Jakarta mengadakan perlawanan dalam bentuk pertempuran-pertempuran yang terdiri dari kelompok-kelompok kecil terdiri dari 3 sampai dengan 5 orang. Dengan keberanian yang luar biasa mereka mengadakan serangan dari berbagai penjuru kota Jakarta seperti daerah Senen, Keramat, Cikini, Jatinegara, Petojo hingga Tanjung Priok secara serentak tanpa memperdulikan siapa komandan mereka, bertempur dengan hasil yang gilang gemilang.
Kelompok-kelompok kecil seperti Kelompok Lukas Palar, Jopi Pesak, Endi Ruminggit, Piet Sumilat, Piet Sibih, Alex Pangemanan dan lainnya, mereka bertempur dengan gayanya masing masing. Mereka inilah yang membawa harum nama KRIS dimata masyarakat, tanpa adanya hasil daripada perjuangan kelompok-kelompok kecil ini, kiranya KRIS tidak akan mungkin menjadi faktor yang menentukan langkah-langkah perjuangan dalam arti perjuangan kemerdekaan Rakyat Indonesia kita ini.
Selain perjuangan-perjuangan fisik yang telah disebutkan diatas, KRIS cabang Jakarta Juga memikul beban tugas untuk mengadakan infiltrasi ke dalam tubuh pasukan KNIL, guna mencari kontak dengan daerah-daerah Sulawesi yang masih di bawah kekuasaan KNIL. Untuk merealisasi tugas tersebut pimpinan KRIS menempuh dua jalan yakni : pertama : mengadakan infiltrasi langsung ke dalam tubuh KNIL untuk merongrong kekuatan militer Belanda; kedua, mengurus dan membentuk barisan-barisan rakyat yang berjuang di daerah kekuasaan KNIL.
Dengan kedua cara ini perjuangan KRIS sangat berhasil, hal ini terbukti dengan terjadinya pernberontakan di Manado yang terkenal dengan peristiwa 14 Februari 1946. Sabotase-sabotase yang terjadi di dalam markas Belanda seperti di Makassar, Jayapura dan Kupang. Terorganisirnya gerakan pasukan gerilya di Sulawesi Selatan dibawah pimpinan Nan Pondaag, bekas ketua KRIS cabang Jakarta yang dikirim ke Makassar.
Organisasi tersebut ialah Kesatuan Gerilya Sulawesi Selatan (KGSS). Demikianlah salah satu sumbangsih para Pemuda Indonesia tergabung dalam organisasi KRIS, yang lahir dalam kancah Revolusi rakyat Indonesia, dengan konsep perjuangan Nasional sendiri, tanpa menuntut balas jasa ataupun penghargaan, itulah salah satu sumbangan daripada para Pemuda Sulawesi bagi tuntutan perjuangan kemerdekaan Bangsa dan Negara Indonesia.
Diatas telah dibicarakan secara singkat tentang perjuangan fisik para pemuda KRIS dalam perjuangan bersenjata, berupa pertempuran-pertempuran melawan pemerintah kolonial Belanda, yang ingin tetap menjadikan negara kita sebagai negara jajahannya, dimana dapat diperlakukan bagaimana saja sesuai dengan keinginan dan kemauan mereka secara semena-mena.
Jadi ternyata kemudian bahwa dipandung perlu agar KRIS juga berjuang di lapangan pendidikan, setelah perjuangan senjata berakhir. Dalam fasa peralihan maka para pemuda memerlukan ilmu pengetahuan yang merupakan syarat mutlak untuk terjun ke dalam masyarakat sebagai pengganti generasi tua. Untuk itu harus dimiliki bekal ilmu pengetahuan yang cukup sebagai senjata perjuangan agar dapat mengisi kemerdekaan itu.
Dalam rangka upaya Untuk mewujudkan hal tersebut maka perlu suatu sarana untuk memajukan pendidikan. Maka pemimpin-pemimpin KRIS yang bermarkas di Jalan Asam Baru No. 26 (sekarang Jalan Dr. Ratu Langie No. 26) pada tanggal 15 Januari 1946 membuka Sekolah Rakyat KRIS, mula-mula sekolah di buka di jalan Mampang, kemudian pada bulan Mei 1945 pindah ke Jalan Asam Baru No. 26 Jakarta.
Sekolah Rakyat KRIS dibuka untuk segenap lapisan masyarakat. Murid-murid diterima tanpa memandang suku ataupun agama, sekolah terbuka bagi siapa saja yang ingin belajar disitu. . Ketika Belanda melancarkan Agresi Militer ke I pada bulan Juli 1947, secara paksa sekolah-sekolah Pemerintah Republik Indonesia di Jakarta dirampas oleh Belanda (NICA), disebabkan kebanyakan guru serta para orang tua murid menolak untuk menjadi pegawai Belanda (NICA), juga para muridnya pun tidak mau lagi masuk sekolah pemerintah akan tetapi memilih sekolah swasta seperti : Taman Siswa, Muhammadiyah, Perguruan Rakyat, Perguruan Sinar Baru, Perguruan KRIS, dan lain-lain yang waktu itu tergabung dalam badan Koordinasi Perguruan Nasional, yang diketuai oleh M. Said dari Perguruan Taman Siswa.
Pada waktu Belanda menjalankan kembali Agresi Militer ke II pada bulan Desember 1948, seluruh pimpinan Pengurus KRIS antara lain : H. A. Pandelaki, A. J. Supit, A.Z. Abidin, W.H.M. Kaunang di tangkap oleh Belanda karena dianggap orang-orang republik, dengan adanya kejadian itu, menjadikan Perguruan KRIS bertambah teguh baik semangat maupun pendiriannya, untuk mengikuti jejak langkah Pemerintah Republik Indonesia.
Untuk mencapai stabilitas dan penyelenggaraan yang sebaik-baiknya, yang sesuai dengan ketentuan Hukum dan Undang-Undang, maka pada tanggal 28 Januari 1949, Perguruan KRIS diberi status hukum, dengan diresmikan sebagai satu yayasan yakni “Yayasan Perguruan KRIS” (Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi) dengan akte Notaris R. Kardiman No. 47 tahun 1949.
AKTIVITAS GEDUNG YAYASAN PERGURUAN KRIS
Jalan Dr. Sam Ratu Langie No. 26, Jakarta
Apabila kita berbicara mengenai peranan dan perjuangan para Pemuda KRIS, sebagai salah satu sumbangannya untuk tercapainya kemerdekaan Negara Republik Indonesia kita ini, kita tidak akan terlepas dari pada sebuah gedung yang terletak di Jalan Dr. Sam Ratu Langie No. 26 Jakarta (dulu Jalan asam Baru 26), yang merupakan pusat kegiatan politik perlawanan rakyat serta usaha-usaha sosial dan pendidikan pada masa sebelum dan sesudah Prokarnasi 17 Agustus 1945.
Sejak zaman Pendudukan Tentara Jepang sampai pada masa revolusi fisik, berbagai macam kegiatan, baik politik maupun sosial, telah dipikirkan digerakkan dan dikendalikan dari gedung Jalan Dr. Sam Ratu Langie No. 26 ini, yang hingga saat ini ditempati “Yayasan Perguruan KRIS” yang menjalankan kegiatan dalam bidang pendidikan yang meliputi SD, SMP, SMA dan AMI/ASMI.
Pada zaman pendudukan tentara Jepang, Gedung Sekolah Yayasan Perguruan KRIS dipergunakan sebagai tempat kantor Badan amal PEKASE (Penolong Kaum Selebes) dalam kegiatan sosialnya menampung keluarga-keluarga Pelaut, Pelajar / Mahasiswa yang tidak mendapat lagi kiriman biaya dan orang tuanya akibat keadaan perang, keluarga-kelaurga ex KNIL yang ditawan Jepang dan lam-lain.
Selain menangani kegiatan sosial dan pendidikan Kantor PEKASE di Jalan Dr. Ratu Langie, juga merupakan tempat pertemuan para pemuda Sulawesi ex anggota MAESA yang kegiatannya dibekukan oleh Tentara Jepang. Kontak hubungan tetap berjalan antara Pemuda MAESA dengan para mahasiswa Ika Dai Gakku, hal mana membuka kesempatan untuk berdiskusi tentang situasi politik, yang menjurus pada persiapan dan peranan pemuda untuk masa depan bangsa dan tanah air Indonesia. Para pemuda segera membuat rencana penyusunan kekuatan masa untuk mempersiapkan diri dan menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi.
Setelah tersiar kabar bahwa Tentara Jepang telah menyerah kalah kepada Tentara Sekutu, terjadi saat-saat yang menentukan, Bung Karno dan Bung Hatta di bawa ke Rengasdengklok, sekembalinya dari Rengasdengklok yang kemudian pada tanggal 17 Agustus 1945 jam 10.00 pagi Bung Karno dan Bung Hatta atas nama Bangsa Indonesia membacakan teks Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, dimuka eksponen Pemuda dan masyarakat lainnya, saat itu semakin bergelora tekad perjoangan untuk membela dan mernpertahankan Kemerdekaan Bangsa dan Tanah Air Indonesia.
Sejak Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, segera dibentuk organisasi Angkatan Muda Sulawesi (AMS) di bawah pimpinan Gajus Gagola, mereka mengadakan aksi pencoretan seperti pada tembok-tembok, kereta api dan lain-lain, hal ini dimaksudkan untuk membangkitkan semangat oang dan seluruh pemuda beserta rakyatnya.
Usia AMS tidak lama, ketika Barisan Keamanan Rakyat (BKR) terbentuk, AMS bergabung ke dalam BKR ini, dalam wadah organisasi inilah para pemuda AMS bertemu dengan para pemuda Rapar yang sejak lama telah dibina sebagai pasukan tempur istimewa dibawah bimbingan politis dari Mr. Ahmad Subardjo, Mr. A.A. Maramis dan Dr. G.S.S.J. Ratu Langie.
Perjuangan para pemuda beserta rakyat bergerak sangat cepat, komando pemuda berkumandang secara revolusioner dari markasnya di Menteng Raya 31. Serentak pula kelompok pemuda Sulawesi menggabungkan diri dengan para pemuda Menteng Raya 31, yang tergabung dalam satu wadah organisasi Angkatan Pemuda Indoensia (API), sehubungan dengan itu para pemuda Sulawesi pun membentuk organisasi di bawah koordinator API dengan nama Angkatan Pemuda Indonesia Sulawesi (APIS) dengan markasnya di Jalan : Dr. Sam Ratu Langie No 2, namun demikian APIS ini di dalam segala aktivitas perjuangannya bergerak searah dan satu tujuan dengan formasi perjuangan API Menteng Raya 31, APIS selalu memelihara persatuan dan kesatuan antara pemuda-pemuda Indonesia yang berjuang untuk melenyapkan segala bentuk penjajahan atas dasar perjuangan nasional seutuhnya.
DAFTAR BACAAN
1. Auwjong Peng Koen, Perang Dunia II Bagian Perang Eropah, Skamiddya Jakarta 1962
2. Auwjong Peng Koen, Perang Pasifik 1945-1959, Cetakan II, Keng Po,Jakarta 1956
3. Arcundatha Soetejo, Sejarah Perjuangan Pemuda Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta 1965
4. Badan Kontak Wanita KRIS Jakarta, Indonesia Merdeka Sekedar Sumbangsih Kami, Cetakan I, BKW KRIS Jakarta, 1977.
5. Hatta Muhammad, Sekitar Proklamasi 17 Agustus 1945, Tinta Mas, Jakarta, 1969.
6. Indonesia Departemen Penerangan, 40.000. Korban Sulawesi, Depen RI, Jakarta 1949.
7. Kem-pen RI, Lukisan Revolusi Rakyat Indonesia 1945-1949, Kem-pen RI, Yogyakarta 1949
8. Nasution A.H., Sejarah Perjuangan Nasional Indonesia Bidang Bersenjata, Mega Bookstore, Jakarta 1966.
9. Oesman Raliby, Documenta Histroica, Bulan Bintang, Jakarta 1953
10. Pondaag W.S.T. Pahlawan Kemerdekaan Nasional Mahaputera Dr. G.S.S.J. Ratu Langie, Yayasan Penerbitan GSSJ Ratu Langie, Surabaya, 1966.
11. Pringgodigdo A.K., Sejarah Pergerakan Rakyat Indonesia, Pustaka Rakyat, Jakarta 19493
12. Ratu Langie, Peninjauan, Surat Kabar Mingguan, tahun I, Batavia C, Januari 1934.
13. Ratu Langie, GSSJ, Indonesia in den Pacific. Kern Problemen van Den Aziatischen Pacific, Soekaboemische, Suel pers d’rukkerij, 1937.
14. Raliby Oesman, Sejarah Hari Pahlawan, cetakan III, Bulan Bintang, Jakarta 1952.
15. Suherly Tanu, Sejarah Perang Kemerdekaan Indonesia, Pusat Sejarah ABRI, Jakarta 1971.
16. Sitorus I.M., Sejarah Pergerakan Kebangsaan Indonesia, Cetakan II, Pustaka Rakyat, Jakarta 1951.
17. Watuseke, F.S., Sejarah Minahasa, Menado, 1962.
18. Wowor, B., 14 Februari 1946 di Menado dalam rangka revolusi Kemerdekaan Bangsa Indonesia, Japen Propinsi Sulawesi Utara, Manado 1972
19. Brochure Yayasan Perguruan KRIS Jakarta. 20. Wawancara dengan Ibu : Ratu Langie Tambajong .
Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangi
Pijar-pijar Bintang Kejora dari Timur
Daniel Dhakidae
Ratulangi dan nasionalisme
Ratulangi lahir sebagai putra bungsu dari kalangan aristokrat Minahasa, seorang kepala distrik Kasendukan, tanggal 5 November 1890. Sebagai seorang aristokrat dia boleh masuk Europesche Lagere School, ELS. Setelah menamatkan sekolah dasar itu dia masuk Hoofdenschool, sebuah sekolah elite lokal untuk pendidikan kaum ambtenaar, terbatas hanya untuk kalangan atas.
Dia tidak puas dengan sekolah itu. Dia ingin pindah dari sana untuk mengejar cita-cita besar dan terutama karena cerita-cerita besar tentang STOVIA, School tot Opleiding van Indische Artsen, yang mendidik dokter-dokter Jawa di Batavia. Ketika ada tawaran beasiswa dari STOVIA, Ratulangi mendaftar dan memenangkan beasiswa. Itulah saat untuk pertama kalinya dia meninggalkan tanah kelahirannya Minahasa menuju Jawa berbekal pesan standar seorang ayah luar Jawa: “…janganlah kembali dengan koper kosong”. Pada tahun keberangkatannya itu, tahun 1904, usianya sangat muda, 14 tahun.
Sekolah dokter Jawa ternyata tidak memenuhi harapannya dan bertentangan dengan minatnya. Dia pindah ke sekolah teknik Koningin Wilhelmina School di Batavia. Setelah tamat sekolah teknik itu untuk seberapa waktu dia bekerja pada Jawatan Kereta Api Lin Barat, yang meliputi jalur Priangan Selatan hingga Maos di Cilacap.
Dalam umur 22 tahun dia bertolak ke Belanda dan di sana dia mengambil kuliah tahun 1913-1915, dan dia mendapatkan ijazah guru Middelbare Onderwijs Akte di bidang Wiskunde en Paedagogiek yang memberikannya wewenang mengajar sekolah menengah di bidang ilmu pasti dan alam. Sambil kuliah dia juga menjadi aktivis dan menjadi ketua Indische Vereniging, yang kelak menjadi Perhimpunan Indonesia.
Dia juga tidak puas dengan ijasah itu dan ingin melanjutkan studinya ke S-3. Namun, middelbare onderwijs akte, ijazah guru sekolah menengah, tidak cukup untuk mengambil S-3 di Belanda. Oleh karena itu atas saran Mr Abendanon, mantan menteri pendidikan di Hindia Belanda, dia meninggalkan Belanda ke Zurich, Swiss, dan di sana menyelesaikan studi di bidang ilmu pasti dan alam.
Ketika dia menyelesaikan studinya dan menggondol doktor dalam bidang ilmu pasti dan alam dalam umur 29 tahun, dia menjadi orang pribumi pertama di Hindia Belanda dengan ijazah tertinggi di bidang itu.
Namun, seperti dilihat nanti studinya di bidang matematika dan fisika itu tidak mengantarnya menjadi seorang fisikawan di laboratorium atau seorang profesor di kursinya di universitas. Dia menjalani sesuatu yang sama sekali lain dari yang dimaksudkannya dalam seluruh jajaran studinya sejak Hoofdenscholen di Minahasa sampai Universitas Zurich di Swiss.
Tidak banyak catatan yang memungkinkan kita menunjukkan suatu pengalaman pribadinya dalam membangkitkan semangat nasionalisme yang begitu tinggi sejak umur mudanya. Satu-satunya jejak yang bisa diperoleh adalah dalam buku kecil Serikat Islam yang ditulis dan terbit dalam serial Onze Kolonien di Belanda, tahun 1913, ketika umurnya 23 tahun.
Di sana dia katakan bahwa Serikat Islam adalah keharusan sejarah terutama bila diperhatikan bagaimana seorang pribumi diperlakukan. Serikat Islam adalah tanda solidaritas pribumi terutama terhadap perlakuan orang Eropa di luar batas. Perlakuan itu menyakitkan bagi rasa keadilan. Menyedihkan dan merendahkan bila seorang menyaksikan bagaimana pengawas Eropa, opzichter, yang hanya karena kesalahan kecil saja menyiksa seorang pribumi sambil diumpat dalam caci-maki, met een “rammeling”, karena menurut perhitungannya sang pribumi tidak akan membela dirinya dan tidak akan ada orang yang mendengar tentang itu.
Dalam catatan kaki dia tambahkan sedikit tentang dirinya: Ik heb zelve menige “ranselpartij” door een Europeeschen opzichte bijgewoond”, saya sendiri beberapa kali dihajar dalam acara nista seperti itu. Sungguh ironis, apa yang dikatakan Ratulangi sungguh bertolak-belakang dengan dan malah menjadi ejekan terhadap logo pencetak dan penerbit buku tersebut di atas, Hollander-Drukkerij, yang menganut semboyan humanitas durat, kemanusiaan itu langgeng, yang terpampang jelas bersanding dengan judul bukunya.
Bisa diduga di sinilah rasa harga diri sebagai pribumi dan rasa kebangsaan itu mulai bersemi di dalam diri dan pengalaman pribadi Ratulangi muda di Bandung. Namun, buku yang ditulis di Amsterdam itu jauh-jauh dari buku luapan amarah. Suatu analisis tajam dan lebih merupakan kritik keras ke segala jurusan, kepada Pemerintah Belanda di Belanda, pemerintah Hindia Belanda di Batavia, kepada Gubernur Jenderal Idenburg pribadi, kepada Zending di Hindia Belanda, dan juga kepada Serikat Islam itu sendiri.
Semuanya bertolak dari satu titik kenyataan baru Hindia Belanda yaitu telah tumbuh stadium baru kemasyarakatan yang bertingkat-tingkat: kesadaran pribadi seorang Jawa, kesadaran masyarakat pribumi, menuju aksi nasional yang dasyat, een krachtige nationale actie.
Kehidupan pribumi sedang dan sudah memasuki suatu zaman baru. Sudah lewat masanya ketika seorang pribumi menghormati hukum semata-mata karena itulah hukum, betapa pun kejamnya hukum tersebut, dura lex, sed lex. Pemerintah di Hindia Belanda keliru karena menjalankan suatu politik di mana agama begitu berpadu dengan politik. Kristenisasi versi Gubernur Jenderal Idenburg memang merangsang didirikannya Serikat Islam itu. Karena itu SI, tidak lain dari “Salahnya Idenburg”. Di pihak lain Serikat Islam (1911) tidak bisa dilihat terlepas dari Boedi Oetomo(1908) dan Indische Partij (1912). Antara ketiganya ada suatu hubungan sebab dan akibat, een oorzakelijk verband.
Justru dengan pengetahuannya seperti itu, ada suatu garis pembedaan yang ditariknya sendiri dengan tajam. Dia tidak terlalu menekankan bewoestzijn, yang lebih mencerminkan suatu status kesadaran, statik sifatnya, tetapi proses menjadi sadarnya suatu komunitas politik, de bewustwording masyarakat nasional.
Namun, di pihak lain, betapa pun sentral peran agama dalam kasus Serikat Islam kesadaran nasional itu-demikian Ratulangi- tidak diperoleh door den godsdienst, tidak melalui agama per se. Yang berada pada tempat pertama adalah kesadaran nasional, dan tidak terbalik. Baginya kesadaran nasional itu hanya bisa lahir met religie, bersama agama, yaitu ketika agama itu menjadi anti-tesis terhadap suatu kenyataan ekonomi dan politik kolonial.
Ratulangi dan kemerdekaan
Sam Ratulangi menulis bahwa Hindia sudah pasti pada satu saat menjadi bangsa merdeka (een zelfstandig volksbestaan). Semuanya mungkin berdasarkan truisme bahwa sejarah tidak pernah menunjukkan adanya satu bangsa pun, yang sepanjang masa dijajah. Oleh karena itu sudah sejak tahun 1913 dia mencoba menarik perhatian Belanda dan Hindia untuk mempersiapkan suatu perpisahan yang tidak dapat ditawar dan tak terelakkan itu (de onvermiddelijke scheiding).
Perpisahan yang tak terhindarkan itu sebaiknya diatur menjadi suatu perceraian penuh persahabatan (een vriendschappelijke scheiding), dalam bentuk pertukaran unsur-unsur budaya yang membawa manfaat bagi dua belah pihak, yang sudah berabad-abad dipersatukan oleh sejarah satu sama lain.
Bagi Belanda semuanya hanya teriakan seorang nabi cilik setengah matang di padang gurun. Mengatakan itu pada tahun 1913 sama saja dengan mengatakan pada tahun 1974-dengan perbandingan rentang waktu sejajar antara masa Politik Etis penjajah Belanda sampai Indonesia merdeka dan Orde Baru-bahwa Orde Baru akan hancur. Bagi Belanda suatu yang mustahil, di satu sisi. Namun bagi kaum pergerakan, begitu memukau, di sisi lain.
Ketika Mohammad Hatta di depan pengadilan di Den Haag pada tahun 1921 mengatakan dalam pledoinya bahwa masalah kemerdekaan Indonesia bukan een probleem van ja of neen, maar een probleem van vroeger of later, bukan soal ya atau tidak akan tetapi soal lebih dini atau terlambat, maka itu lebih menjadi gema dari apa yang sudah dikatakan Sam Ratulangi delapan tahun terdahulu.
Setelah kembali dari Belanda dia mengajar kira-kira tiga tahun di Yogyakarta. Dengan ijazah yang sangat tinggi itu kehadirannya sendiri di Yogyakarta dibenci oleh kalangan Belanda yang sama sekali tidak suka melihat anak-anak Belanda diajar oleh seorang pribumi meski dengan kaliber Ratulangi. Mungkin itulah yang menjelaskan mengapa masa mengajar itu begitu singkat. Sesudah itu dia ke Bandung dan mendirikan suatu usaha dagang Maskapai Asuransi Indonesia dengan berani memakai nama Indonesia untuk suatu badan bisnis. Namun, bekerja di bidang bisnis tidak terlalu menarik perhatiannya.
Semuanya membawa Ratulangi kembali ke Manado dan di sana dia dipilih menjadi ketua Minahasa Raad, Dewan Minahasa, 1924, suatu dewan perwakilan di tingkat kabupaten. Itulah yang menjadi awal dari perjalanan panjang karier politik Ratulangi. Banyak yang dia kerjakan dengan posisinya itu.
Berkat usahanya heerendienst, kerja rodi, dihapus di tanah Minahasa. Dia membuka wilayah transmigrasi lokal, mendirikan semacam koperasi penanaman kelapa, mendirikan yayasan untuk mereka yang berbakat namun kekurangan dana untuk belajar. Dia juga mendirikan partai Persatuan Minahasa. Sebagai seorang yang berminat besar dan banyak dia juga mendirikan organisasi buruh laut.
Apa yang dia kerjakan di Hindia Belanda lebih merupakan kelanjutan pandangannya di Belanda. Dengan buku kecilnya Sam Ratulangi membuka suatu dimensi lain dalam politik Indonesia. Dia mungkin tidak percaya pada model kekerasan bentuk-bentuk revolusioner lainnya. Namun, harus membuka jenis hubungan kedua bangsa atas cara lain. Suatu bentuk hubungan baru harus dirumuskan kembali antara Indonesia dan Belanda khususnya, dan politik Indonesia di dalam lingkungan ekonomi-politik internasional masa kini pada umumnya.
Di sini bisa dipahami mengapa Sam Ratunglangi tidak pernah memilih suatu politik radikal. Bahkan ketika PKI diganyang tahun 1926 dan PNI dirangsek tahun 1927, Ratulangi sedang memimpin partai lokal di Minahasa. Hampir tidak terdengar apa pendiriannya, di mana posisinya tentang peristiwa menggemparkan, perlawanan terbesar terhadap pemerintah kolonial. Dia memilih politik “ko” dengan menjadi anggota Volksraad pada tahun 1930.
Di dalam dewan inilah bergabung dengan tiga orang yang membuat kepala kolonial berputar tujuh keliling yaitu Sam Ratulangi, Husni Thamrin, dan Soetardjo Kartohadikusumo. Di dalam dewan ini pula kesadaran tentang dan terutama keterlibatannya dengan masalah-masalah internasional terpupuk. Dia sudah mampu berbicara tentang Perang Pasifik jauh-jauh hari sebelum perang meletus yang juga menjadi perhatian bersama dengan Husni Thamrin.
Dalam perjalanan waktu, tiga serangkai ini tidak lain dari serigala nasionalis yang berbulu domba bagi Belanda karena mereka pada dasarnya bermental “non-ko” yang “diselundupkan” ke dalam kaum “ko” di dalam Volksraad. Dia tetap konsisten bahwa kepastian tentang kemerdekaan Indonesia harus dikerjakan dengan cara-cara yang konsisten pula. Oleh karena itu dia juga mendukung “Petisi Soetardjo” yang meminta Indonesia berparlemen, dan Indonesia menjadi suatu negara sendiri dalam dominio dengan Belanda. Semuanya ditolak Belanda dengan alasan Indonesia belum matang untuk itu.
Ratulangi dan Indonesia di Pasifik
Dalam posisinya di dalam nationale fractie dalam Dewan Rakjat mereka mendapat pertentangan keras dari kaum Belanda yang disebutnya sebagai kaum “sana”. Namun, lidah keras Ratulangi membuat Belanda tidak tahan dan Ratulangi dijebak dalam suatu skandal keuangan. Dalam suatu laporan perjalanan dinas sebagai anggota Volksraad, Ratulangi dianggap tidak jujur dalam memberikan laporan perjalanan, reisdeclaratie, sehingga Belanda dirugikan sebanyak f 100.00, seratus gulden.
Tuduhan tersebut yang diproses secara hukum di kejaksaan kolonial, langsung saja ditolak surat kabar-surat kabar nasionalis sebagai tidak masuk akal, suatu jerat tipu-muslihat Belanda. Seorang dengan kaliber Ratulangi, demikian kata Tjaja Timoer, kalau nafsunya pada uang memang seburuk itu maka dia dengan mudah menjual tenaganya kepada kaum kapitalis yang akan “menghasilkan uang dan untung lebih besar daripada pekerjaan di kalangan politik nasional”. Hanya, katanya, apakah masyarakat kita akan melepaskan tenaga sepenting itu dari kalangannya?
Ratulangi akhirnya menjadi korban Belanda dan “pers putih”, pers kolonial Belanda, dan diadili dan divonis empat bulan penjara dan diskors dari Volksraad selama tiga tahun. Hukum penjara dijalankan di Sukamiskin, Bandung tahun 1936. Namun, waktu itu digunakan dengan efektif untuk merenung dan menulis buku keduanya dengan suatu wawasan luar biasa tentang masalah Indonesia di Pasifik.
Tentang karyanya sendiri, Ratulangi mengatakan dia tidak ingin terjebak dalam sensasi sesaat tentang Pasifik yang kini sudah menyebarkan pandangan penuh panik. Oleh karena itu buku ini semata-mata dimaksudkan sebagai suatu studi untuk membuat perhitungan tentang posisi Indonesia di Pasifik. Seluruh visi yang secara empiris menjadi dasar tesis Sam Ratulangi adalah Jepang.
Saya pikir bukan tanpa sengaja dia memilih Jepang. Dengan jitu dia mencatat perkembangan ekonomi Jepang dan peran Jepang dalam ekonomi Hindia Belanda. Dengan jitu pula kesimpulan itu diambil dari performa ekonomi Jepang masa malaise. Semakin dunia dilanda oleh resesi tahun 1929 semakin tinggi nilai ekspor Jepang ke Hindia Belanda. Oleh karena itu dia melihat Jepang sebagai kekuatan besar yang sedang menghalau Barat.
Pertanyaan yang menarik perhatian adalah apa pandangan Ratulangi tentang pedudukan Jepang atas Indonesia? Hampir tidak ada dokumen yang memungkinkan saya menarik kesimpulan bahwa dia termasuk ke dalam kelompok anti-fasisme yang dipelopori oleh Amir Sjariffuddin. Akan tetapi dalam hal ini boleh dibilang Sam Ratulangi ambivalen. Semangat nasionalismenya sangat tinggi dan itu terbungkus pula oleh gairah etno-nasionalismenya yang tidak kurang besarnya. Namun, bersama semuanya harapannya pada regionalisme juga sangat kuat. Kepercayaan pada kebangkitan Timur (het gloren van den Nieuwen Dag in het Oosten) menggelora di dalam dirinya dan di sana Jepang adalah motor.
Mungkin inilah yang membangun simpatinya yang sangat besar pula pada Jepang. Dia yakin pada demokrasi namun demokrasi dalam pandangannya adalah de nationale demokratie, mungkin dengan nuansa yang sangat lain. Mungkin itu yang menjelaskan mengapa dia tidak ragu-ragu menjadi penasihat Jepang, Minseibu, pemerintah Angkatan Laut Jepang yang berkuasa di Indonesia Timur. Inilah jenis koperasi dengan Jepang yang tidak jauh berbeda dari pilihan Soekarno dan Hatta. Mungkin di mata Sjahrir, Ratulangi tidak ada bedanya dengan Soekarno dan Hatta dan para pemimpin lain “…yang pernah membudak kepada … fasis kolonial Belanda atau fasis militer Jepang” (Sjahrir, Perjuangan Kita).
Dengan dua penjajah utama Indonesia pada dasarnya dia “bersahabat” meski dengan daya kritis yang sangat tinggi. Dia menawarkan persahabatan kepada Belanda. Namun, Belanda menolak dua-dua dimensi “tawaran” Ratulangi yang pada dasarnya satu tawaran damai, een vriendschappelijke schijding, berpisah secara bersahabat. Memang sekali lagi Belanda yang kembali bersama Sekutu menangkap Ratulangi tahun 1946-pada waktu itu dia menjadi Gubernur Sulawesi, 1945-1946. Dia dipenjarakan Netherlands Indies Civil Administration, NICA, pemerintahan sipil Hindia Belanda, dari 1946-1948, yang dijalankannya di Makassar dan di Serui, tanah Papua Barat. Di sana dia mensponsori didirikannya Partai Kemerdekaan Irian.
Dia dibebaskan dari tahanan oleh tentara Sekutu yang ke Papua untuk mencari sisa-sisa tentara Sekutu yang ditawan Jepang dan diterbangkan ke Yogyakarta, tanggal 5 April 1948. Di sana dia bergabung dengan kaum pergerakan dan diangkat menjadi penasihat pemerintah Soekarno-Hatta di Yogyakarta. Dia berusaha mempersatukan kaum republiken dan kaum federalis dengan suatu seruan yang disponsorinya (November 1948). Dia berwibawa di dua kubu.
Ketika Belanda menyerang Istana Yogyakarta bulan Desember 1948, Ratulangi ikut tertangkap, namun tidak sempat dibuang karena dia jatuh sakit dan akhirnya meninggal tanggal 30 Juni 1949 karena serangan jantung di tengah keluarganya di Jakarta. Dikuburkan sementara di Jakarta, namun, kemudian dengan kapal laut dibawa ke Manado dan dia dikuburkan di sana dalam peristirahatan terakhir di tanah nenek-moyangnya. Seluruh karier politik pergerakan Doktor Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangi seperti menjalani de-crescendo, tajam-menukik ketika semuanya ditutup oleh kematiannya yang begitu prosaik.
Beberapa catatan penutup
Kalau seorang berada di pusat Kota Manado, mata dengan mudah terpancang pada satu-satunya patung. Di sana berdiri seorang berpakaian serba putih, menebarkan pandangan ke seantero kota. Aura profesorial jauh lebih mengemuka daripada wajah politikal. Manado dengan demikian ingin mengambil dan memberikan kesan tentang Doktor Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangi sebagai seorang pendidik. Kesan itu tentu saja tidak keliru, apalagi ketika semua itu melembaga dalam Universitas Sam Ratulangi.
Bagi masyarakat lokal, pujaan terhadap Ratulangi mendekati kultus. Tanpa cacat! Ketika berangkat ke pelabuhan menuju Jawa dia diarak dalam iring-iringan pedati ke pelabuhan Manado, yang disebut “dofoma” untuk mendoakan dan memberikan berkat baginya-acara ini masih dilaksanakan di Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) untuk memperingati kematiannya setiap tahun.
Dia dianggap perumus filosofi lokal, “Sitou Timou Tumou Tou”, (manusia hidup untuk memanusiakan manusia, Prof Inkiriwang) tentang humanisme inklusif yang bertolak dari pengenalan diri sendiri-semacam nosce te ipsum, dalam filosofi helleno-kristiani-agar bisa mengenal orang lain, demikian pun didiklah dirimu sendiri agar bisa mendidik orang lain.
Dalam politik nasional, secara umum dia adalah seorang aristokrat dengan wajah halus humane, dengan kadar populisme tinggi. Dia terdidik sebagai ahli matematika dan fisika; namun, seorang politikus ulung. Dia menekuni sesuatu yang “bukan bidangnya” dan dengan itu menjadi seorang ahli ilmu ekonomi-politik tangguh.
Dalam dunia intelektual dan akademik, dia meninggalkan dua karya seminal, karya bermutu tinggi yang menjadi sumber inspirasi bagi karya-karya berikutnya. Karya pertama, Serikat Islam, yang ditulisnya di Belanda pada usia muda, 23 tahun, yang hampir tidak pernah disinggung orang. Sedangkan karya kedua Indonesia in den Pacific, yang ditulisnya di penjara Sukamiskin, sudah menjadi mitos. Karya ini pun mengalami nasib semua karya pengandung mitos-lebih sering menjadi buah-bibir daripada dibaca. Di sana Ratulangi menunjukkan ketajaman analisis dan pandangannya menunjukkan kemampuan prediktif tingkat tinggi. Kalau Orde Baru sedikit memiliki kesadaran historis, maka APEC 1996 seharusnya dibuka bukan di Bogor akan tetapi di Bandung untuk menghormati Samuel Ratulangi yang membuka wawasan Asia Pasifik dengan buku yang ditulisnya di penjara Sukamiskin.
Pada dasarnya dua karya di atas sama visionernya. Dalam karya pertama, dia mengatakan pada tahun 1913 bahwa perkembangan pergerakan, meski baru berada pada tahap awal, sebegitu rupa sehingga persoalannya bukan Hindia matang atau tidak matang untuk memerintah dirinya sendiri, tetapi semata-mata soal hak Hindia untuk memerintah dirinya sendiri. Oleh karena itu tidak ada tugas lain dari Belanda daripada menyiapkan dan mendidik Hindia untuk merdeka.
Dalam karya kedua, seperempat abad berselang, logika yang sama berbicara pula. Perkembangan dunia berjalan sebegitu rupa sehingga Barat memberikan tempat kepada Timur. Barat tidak bisa tidak harus memberikan tempat kepada Jepang dan Amerika Serikat dan Lautan Teduh berubah menjadi lautan dunia, wereldzee, dengan posisi sama pentingnya dengan lautan Atlantik sebelumnya. Indonesia berdiri di tengah-tengah kekuatan-kekuatan baru itu dengan kekuatannya sendiri dalam bidang ekonomi.
Solusi yang ditawarkan Ratulangi pada dasarnya sama. Pada yang pertama ditawarkannya suatu pertukaran unsur-unsur budaya yang menguntungkan dua belah pihak; sedangkan dalam yang kedua mempertahankan keserasian antara Timur dan Barat. Dia menekankan pertukaran budaya, bukan konfrontasi dan harmoni kekuatan, bukan konflik.
Dengan semuanya itu, dia lebih menunjukkan dirinya sebagai seorang pasifis dengan kemampuan clairvoyance menakjubkan, dan kesabaran seorang revolusioner. Kesabarannya bertolak dari kemampuan intelektualnya yang bersinar laksana pijar-pijar bintang kejora di pagi nan kelam dengan daya pandang tajam menembus zaman, jauh-jauh di depannya.
(*)Daniel Dhakidae, Kepala Litbang Kompas (2000).

Peta kecil Eropa Asia
Pada peta kecil diatas kita dapat melihat betapa besar jarak antara Manado, Jawa dan Amsterdam.
Perjalanan Batavia-Amsterdam di awal abad yang lalu memakan waktu kurang lebih satu bulan, yakni sekitar 3-4 minggu per kapal dari Batavia sampai Genoa, Italia, lalu dua-tiga hari per kereta api dari Genoa ke Amsterdam.
Walaupun demikian banyak pemuda dan pemudi dari “Nederlandsch Indie” yang memimpikan kemungkinan dapat melakukan perjalanan ini dengan maksud khususnya untuk menimba ilmu dinegeri jiran.

Sam Ratu Langie (kanan) dengan saudara-saudara sepupunya (1905)
Dibulan Nopember 1912 nenek saya:Augustina RATU LANGIE – GERUNGAN yang adalah ibunda dari Sam Ratu Langie meninggal di Tondano, sedangkan suaminya telah wafat beberapa tahun sebelumnya.
Sam dan kedua kakak perempuannya: Kayes dan Wulan lalu membagi peninggalan kepemilikan pasangan Ratulangie-Gerungan dan membuat satu laporan dari pewarisan ini. Dokumen ini kemudian menjadi bahan rujukan penting pada penyusunan daftar kepemilikan yang dibuat oleh Sam beberapa bulan sebelum ia meninggal ditahun 1949, yakni sewaktu ia ditahan oleh rejim pendudukan Belanda.
Dalam pembagian yang dilaksanakan antara lain ada satu kintal berupa rumah di Kampung Pondol kini berada di pusat kota dan merupakan gereja di Jalan Sam Ratulangi, Manado diwarisi oleh Wulan dan Sam.
Rumah ini dijual dan hasilnya digunakan untuk pendidikan lanjutan bagi keduanya. Wulan belajar menjadi guru di Jawa dan Sam ingin berangkat ke negeri Belanda
Pada seri halaman web ini dan yang berikutnya saya mencoba menuturkan perihal informasi yang saya temukan di berbagai dokumen dan buku mengenai masa Sam berada di Eropa. (Lihat referensi dibawah).
Maka dibulan Mei atau Juni (??) 1914 Sam berangkat dari Manado ke Amsterdam.Menurut buku yang ditulis oleh Taulu perjalanan Sam adalah bersama satu keluarga Belanda yang tadinya memiliki percetakan di Manado dan pada waktu itu akan pulang kenegaranya.
Beberapa waktu setelah tiba di negeri Belanda maka Sam sadar bahwa ia perlu meningkatkan sumber finansialnya dengan segera bekerja. Menurut satu sumber yang belum terkonfirmasi Sam mula-mula bekerja selama beberapa bulan disalah satu pelabuhan di Belanda.
Namun karena Sam adalah seorang pemuda yang cerdas maka ia segera menyesuaikan dirinya dengan baik dengan situasi setempat. Dan ia juga menyadari bahwa bakatnya sebagai pengarang dapat membantunya dalam pencarian nafkah untuk dapat membiayai suatu kehidupan yang sederhana.
Ia teringat bahwa di sekolah di Tondano maupun di Batavia ia selalu meraih angka-angka tinggi untuk mata pelajaran Bahasa Belanda. Karena itu kini ia berupaya dan dapat sukses dalam penulisan naskah-naskah mengenai “Nederlandsch Indie”, nama tanah airnya pada waktu itu.
Berbagai tulisan-tulisannya berhasil diterbitkan di surat kabar dan mingguan di Nederland.
Tercatat bahwa diakhir 1914 di majalah “Onze Kolonien” telah dimuat satu tulisan dari tangan Sam yang berjudul “Serikat Islam” . Dalam uraian ini ia mengkritik pemerintah (Hindia) Belanda dan pers Eropa yang tidak mengerti keadaan sebenarnya dari pertumbuhan Serikat Islam di Jawa. Pertumbuhan ini menurut hematnya adalah ekspresi yang tulus dari perasaan rakyat di Jawa dan bukan sebagaimana secara diskriminatif digambarkan oleh pers Belanda sebagai satu organisasi yang berbahaya dan perlu dilarang. Kesalah fahaman ini telah mengakibatkan satu kesenjangan antara rakyat dan pemerintah kolonial.
Ia sangat memuji pergerakan “Boedi Oetomo” dan pemimpin-pemimpinnya seperti Tjipto Mangunkusumo dan Soewardi yang dinilainya adalah orang-orang dengan kepribadian tinggi. Pada penutup uraiannya ia berkata:
“De geschiedenis kan geen enkel volk aanwijzen dat eeuwig overheerscht is. Moge dan de onvermijdelijke scheiding een vriendschappelijke zijn, opdat hierna toch steeds de weldadige wisselwerking van cultuurelementen blijven bestaan tusschen Indie en Nederland, die zooveel eeuwen door de historie met elkander vereenigt zijn geweest”
Dalam bahasa Indonesia:
“Sejarah tidak dapat memperlihatkan adanya satupun diantara bangsa-bangsa terjajah yang mengalami penjajahan untuk selama-lamanya. Semoga perpisahan (antara Indie dan Nederland) yang memang tidak akan dapat dielakkan akan berlangsung dalam persahabatan, karena sesudahnya diharapkan dapat ada hubungan timbal-balik yang berguna dari unsur-unsur budaya antara Indie dan Nederland yang telah mengalami kebersamaan dalam sejarahnya selama berabad-abad. ‘
Tulisan ini mencengangkan publik Nederland ditahun 1914 karena seorang dari Minahasa yakni suatu daerah yang pada waktu itu terkadang dijuluki Propinsi ke-12 (Twaalfde Provincie) dari Nederland, dan nota bene berpenduduk mayoritas Kristen itu dapat menulis suatu analisa yang cermat mengenai satu perkembangan keadaan di pulau Jawa. Juga pandangannya yang jauh kedepan mengenai “perpisahan” antara Indie dan Nederland, kata-kata mana tak lain berarti kemerdekaan Indonesia, yang jelas kurang berkenan ditelinga penjajah.
Akibat dari kegiatan tulis-menulis ini adalah bahwa ia mulai terkenal dikalangan para pemerhati “Indie” ini dan sering kali diundang untuk memberikan ceramah mengenai aneka topik tentang negerinya. Ia juga mulai berkenalan dengan baik dengan pemuda-pemuda Indonesia lainnya yang pada waktu itu mulai datang untuk belajar di Holland.

Sam juga sering menghadiri pertemuan-pertemuan yang diselenggarakan oleh “Indische Vereeniging” . Perhimpunan ini didirikan oleh mahasiswa dan pelajar dari “Indie” namun acara-acara dan aktivitas lainnya kemudian juga dikunjungi oleh para senior-senior berbangsa Belanda yang kebanyakannya adalah pensiunan. Mereka ini setelah selesai tugas mereka di Indie kembali ke tanah airnya akan tetapi tetap menaruh perhatian terhadap hal-ihwal negeri tropis yang menjadi tempat berdiam mereka selama bertahun-tahun.
Penting diketahui bahwa dengan semakin banyaknya hadirnya putera-puteri dari Indie “Indische Vereeniging” ini kemudian (ditahun 1928) menjadi “Perhimpoenan Indonesia”.
Sewaktu membaca buku “In het Land der Overheerschers” (“Di Negari Penjajah”) maka kesan saya adalah bahwa pada awalnya para pengunjung yang pribumi ke Holland adalah para pangeran-pangeran dan bangsawan dari Jawa Tengah yang lazimnya hanya tinggal untuk waktu yang singkat di Holland. Namun ada juga para pekerja atau pembantu rumah tangga yang diajak oleh majikannya sewaktu yang terakhir ini pulang setelah selesai melaksanakan tugasnya di Indie.
Akan tetapi pada awal dari abad ke 20 semakin banyak pemuda-pemudi terpelajar mulai berdatangan dari negeri kita ke negeri Belanda. Kedatangan pemuda-pemudi ini tentunya adalah dalam rangka menuntut ilmu. Seiring dengan hasrat mereka untuk menimba ilmu timbul pula keinginan untuk dapat memperbaiki keadaan sosial ditanah air. Hal ini disebabkan oleh karena setelah beberapa waktu di Nederland terasa oleh mereka betapa tertekan sebenarnya bangsa terjajah dinegeri sendiri. Di Nederland mereka berdiri setaraf dengan orang-orang Belanda pada hal dinegeri sendiri mereka selalu harus tunduk dan berada dalam status yang lebih rendah dari pada penguasa kolonial.
Dibawah ini saya akan menuturkan perihal informasi yang antara lain saya temukan disuatu berkas dokumen yang saya peroleh dari “Nationaal Archief”, den Haag, Holland, mengenai masa Sam berada di Eropa.
Menimba ilmu untuk menjadi guru matematika
Pada halaman-halaman web saya yang terdahulu saya menulis mengenai pengalaman-pengalaman ayah saya setelah tiba di Nederland. Mungkin oleh karena tekanan ekonomi Sam mulai menulis artikel-artikel mengenai daerahnya dan juga mengenai tanah airnya pada umumnya, yang dimasa itu masih dinamakan “Nederlandsch Indie”. Tulisan-tulisannya sempat dimuat diberbagai media cetak.
Topik-topik yang sering ia pilih adalah yang mengenai hal-hal di kampung halamannya: Minahasa. Berkaitan dengan kegiatan ini maka Sam mulai terkenal bagi para pemerhati “Nederlandsch Indie”. Orang-orang ini adalah terutama para pensiunan yang kembali ke Holland setelah melaksanakan tugas kolonialnya di Indie.
Namun bukan saja orang-orang yang cukup tua ini yang tergolong pembaca yang setia dari tulisan Sam, akan tetapi juga pemuda-pemuda yang brilyan yang datang untuk belajar di Nederland tertarik untuk membacanya.

Sesungguhnya cita-cita Sam adalah untuk dapat menjadi guru matematika agar dapat turut mencerdaskan bangsa dengan menjadi pengajar bagi putera-puteri bangsanya.Oleh karena itu ia mendaftarkan dirinya pada sekolah guru matematika dari Universitas Amsterdam (UVA), yang waktu itu belum lama sebelumnya didirikan oleh Prof. Dr. Korteweg dan asistennya Dr. de Vries. Lembaga ini sampai kinipun masih ada dan bernama: “Korteweg de Vries Instituut voor Wiskunde (KdVIW)” dan merupakan bagian dari Faculteit der Natuurwetenschappen, Wiskunde en Informatica” dari Universiteit van Amsterdam.
Memang masa itu (akhir abad ke 19) ilmu alam klasik sedang berada pada puncak pertumbuhannya, khususnya di Eropa. Dan agaknya Sam terpukau akan peran matematika dalam mendasari ilmu alam ini dan juga ilmu-ilmu fisika terapan yang semakin berkembang.
Demikianlah maka setelah dua tahun Sam menempuh ujian untuk memperoleh Sertipikat K I dan berhasil. Adapun pemegang ijazah ini mendapat kewenangan untuk menjadi guru ilmu matematika pada sekolah lajutan.
Namun hal ini dialam kolonial TIDAK mungkin karena Sam Ratulangie adalah INLANDER dan bukan berkebangsaan Belanda. (Perlu diketahui bahwa “inlander” adalah sebutan penghinaan bagi orang pribumi di “Nederlandsch Indie” pada masa itu.) Hal ini dialami oleh Sam sebagaimana diuraikan dibawah ini.
Ditahun 1916 Sam mengajukan satu permohonan kepada Menteri Urusan Jajahan agar dapat diangkat menjadi guru matematika di sekolah menengah atau sekolah teknik yang sesuai di Indie. Hal ini adalah sesuai dengan cita-citanya seperti yang tersebut diatas. Permohonan ini oleh Menteri diteruskan ke Nederlandsch Indie melalui Gouverneur Generaal van Nederlandsch Indie (yakni pejabat tertinggi dari pemerintahan penjajah) dan Sam menunggu jawaban atas surat lamarannya ini.
Sambil menunggu ia mencoba memperoleh pekerjaan pada kementerian urusan Jajahan. Ia diterima dan ditempatkan dibagian statistik dari kementerian ini.
Karena kinerja Sam pada jabatan ini bagus, atasannya mempertimbangkan untuk mengusulkan Sam sebagai pimpinan pada pendirian “Pensioen Fonds” (Jawatan Dana Pensiun) yang pada masa itu sedang dipersiapkan dan akan ditempatkan dikota Bandung.
Namun ini jelas hanyalah harapan belaka, dan seperti disebut diatas, Sam tetap berpegang pada cita-citanya untuk menjadi guru matematika dinegeri di tanah airnya dan menunggukan jawaban atas surat permohonannya. Bagi Sam memang cukup jelas bahwa pemerintah di Nederland tidak berwenang untuk menentukan secara langsung penempatan pejabat-pejabat di Indie.
Dalam pada itu Sam telah bertemu dengan seorang gadis Belanda bernama Emilie Suzanne Houtman kelahiran Batavia, 12 Agustus 1890. Iapun menikah dengannya pada tanggal 21 Oktober 1915 di Amsterdam. Suzanne waktu itu telah lulus menjadi dokter dan sedang mengerjakan disertasinya di Utrecht. Rupa-rupanya ia adalah seorang yang menaruh perhatian pula akan perkembangan-perkembangan politis di Indie. Ia juga berpartisipasi secara aktip pada kegiatan-kegiatan Indische Vereniging di Holland.
Kembali kepada surat balasan GG yang ditunggu-tunggu dan diharapkan oleh Sam dan isterinya memang tiba akan tetapi tidak memberikan jawaban positip . Mula-mula disebutkan bahwa pemilikan Ijazah K I tidak merupakan bukti langsung bahwa ybs. berkemampuan untuk mengajar, lalu kemudian diberitakan bahwa kalaupun ada mungkin ia dapat diterima menjadi guru pada kelas 3 dari suatu Sekolah Dasar Cina-Belanda (“Hollandsch-Chinese Lagere School”) berarti satu Sekolah DASAR dan bukan sekolah MENENGAH.
Kembali pula Sam harus merasakan satu penghinaan rasial seperti yang pernah dialaminya sewaktu ia pada umur 18 tahun akan memulai pekerjaannya sebagai teknisi pada Jawatan Kereta Api (“Staats Spoorwegen”) di Jawa Barat. Namun pengalaman-pengalaman ini tidak mematahkan semangat Sam karena ia mengerti bahwa perlakuan semacam ini adalah akibat dari sistim kolonial dimana penduduknya dianggap manusia kelas dua jika dibandingkan terhadap manusia penjajah dan hal ini tak tergantung dari pada status intelektualnya.
Kasus Ratu Langie yang tidak dapat diberikan posisi sesuai dengan kwalifikasinya sempat sampai masuk dan dibahas di “Tweede Kamer” (DPR Belanda). Oleh beberapa Anggauta DPR diajukan pertanyaan kepada Menteri Urusan Jajahan mengapa bisa sampai ada pemuda terdidik sekalipun tidak dapat memperoleh pekerjaan ditanah airnya sendiri. Jawaban yang diberikan oleh menteri adalah bahwa (seperti disebut diatas) tidak ada bukti bahwa Ratu Langie itu mampu mengajar dan olehnya ditambahkan bahwa itu hanya dapat dibuktikan bila ia memiliki ijazah Ilmu Keguruan (“Paedagogiek”).
Karena keinginan Sam begitu besar untuk dapat mengajar di tanah airnya, maka segera setelah ia mendengar jawaban Menteri Urusan Jajahan atas pertanyaan mengenai kasusnya, ia segera mempersiapakan diri dan mendaftarkan namanya untuk menempuh ujian Ilmu Keguruan tersebut. Dan dalam jangka waktu 4 (empat) hari ia mempersiapkan diri untuk melaksanakan ujian tertulis dimana ia berhasil lulus. Untuk ujian lisan ia perlu mengambil les privat selama dua bulan, sambil bekerja sekalipun ia mempersiapkan dirinya. Ternyata kali ini juga ia berhasil lulus.
Keberhasilan ini segera dilaporkan olehnya kepada Menteri Urusan Jajahan yang meneruskannya ke Nederlandsch Indie, namun berbulan-bulan ia menunggukan jawabannya yang tak kunjung-kunjung tiba.
Suze menulis surat terbuka yang diterbitkan diharian “Bataviaasch Handelsblad” tanggal 10 September 1917 berjudul “De Kortzichtigheid van de Regering” (Pemerintah yang tidak mempunyai visi) dalam mana pada intinya menilik pada “kasus Ratu Langie” ia mengatakan bahwa “Ethische Politiek in Indie” (politik etis di Indie) yang katanya ditempuh di Indie hanya merupakan lipservice saja dan sama sekali tidak diimplementasikan. Ia juga memberitakan bahwa kini ybs. telah berangkat ke Zuerich (Swis) untuk melaksanakan disertasinya dalam Ilmu Matematika di jurusan Filsafat Alam dari Universitas Zurich, ketimbang menunggu-nunggu pada hasil keputusan sesuatu pemerintahan yang tidak berkenan pada dirinya.
Belajar dan membina persahabatan internasional.

Sebenarnya keinginan Sam adalah untuk meneruskan pelajarannya pada Prof. Dr. Korteweg dari Universiteit van Amsterdam. Kepribadian,jiwa kepeloporan, pandangan dan pesona professor ini agaknya cocok dengan jiwa Sam. Jiwa pembaharu yang membutuhkan suatu keyakinan yang tentunya juga ditopang oleh penguasaan keahlian dibidangnya seperti iyang dimiliki oleh Prof. Korteweg seakan-akan mejadi inspirasi bagi Sam.
Sam ingin melaksanakan disertasi dibidang matematika di lembaga ini dan kepada Prof. Korteweg ia telah meminta tugas ataupun tema untuk ini. Prosedur administratip pun dimulai dengan mengajukan permohonan kepada pihak universitas. Namun nama Ratu Langie telah mulai mendengung diarena politik Belanda berkaitan dengan tulisan-tulisannya di berbagai media dan juga terkait interpelasi di Tweede Kamer mengenai tidak diperolehnya bidang pekerjaan bagi Sam di Nederlandsch Indie.
Walaupun didukung oleh Prof. Korteweg permohonan Sam ditolak oleh Dewan Universitas. Alasan yang diajukan oleh Dewan adalah karena Sam tidak memiliki Ijazah Hogere Burgerschool (HBS), Lyceum ataupun Gymnasium hal mana (katanya) dipersyaratkan untuk dapat diizinkan menempuh ujian doktor. Sam “hanya” memiliki ijazah Sekolah Teknik, dan ternyata ijazah K 1-nya sama sekali tidak dipertimbangkan. Pada hal ada satu kasus pendahulu (preseden) mengenai seorang yang berkebangsaan India yang pernah berhasil mengerjakan dan lulus pada ujian doktor di UVA walaupun tidak memiliki ijazah HBS, Lyceum atau Gymnasium.
Ternyata bahwa alasan sebenarnya dari penolakan adalah karena Sam Ratulangie telah di “black list” kan berhubug dengan ucapannya pada suatu Seminar yang bertemakan : “Kolonialisme, Berkat atau Kejahatan?” diselenggarakan oleh mahasiswa2 . Menjelang akhir seminar ini dimana pengurus ingin merumuskan “hasil” seminar Sam Ratulangie berdiri dan dengan suara yang lantang berkata “Kolonialisme adalah satu KEJAHATAN ! Kejahatan terbesar terhadap KEMANUSIAAN!” Kejadian ini telah dilaporkan kepada pihak Universitas dan memberikan akibat yang cukup perih untuk Sam.
Berkat hubungan baik yang diperoleh Sam melalui Indische Vereeniging, dimana ia pernah menjadi ketua selama satu periode (1915-1916) maka Sam mempunyai banyak kenalan orang Belanda (senior) antara lain seorang yang bernama Mr.J.H.Abendanon . Adapun Mr. Abendanon ini adalah pensiunan Direktur Pendidikan dan Kebudayaan (Departement Onderwijs en Eeredienst) di Batavia dan merupakan sosok pemerhati putra-putri bumi putera yang berbakat.
Isteri Mr. Abendanon adalah kawan pena dari R.A. Kartini yang mana surat-suratnya kemudian diterbitkan dalam satu buku: “Door Duisternis tot Licht” (Dari gelap terbitlah terang).
Sam memohon nasihat kepada Mr. Abendanon dan beliau mengusulkan agar Sam berupaya meneruskan studinya ke Negeri Swis, misalnya di Universitas Zuerich. Hal ini dilaksanakan oleh Sam, dan dengan membawa Ijazah serta surat rekomendasi dari Prof. Korteweg mendaftarkan dirinya pada Natur-Philosophischen Fakultaet Universitas Zuerich. Ia berhasil diterima untuk meneruskan studi doktoralnya.
Untuk membiayai kehidupannya di Swis Sam harus banyak menulis dan juga memberi ceramah. Ia sempat ditugaskan sebagai wartawan oleh suatu media cetak dari Nederland untuk mengcover satu Konperensi Internasional di Wina.
Di celah-celah pembahasan resmi konperensi itu di Press-room ada pula diselenggarakan satu pertandingan tidak resmi, dimana antara para wartawan yang hadir ditandingkan kemampuan penguasaan berbagai bahasa. Yang menguasai paling banyak bahasa ternyata adalah kakak kandung dari R.A. Kartini, bernama R. Sosrokartono yang diutus dari Amerika Serikat dimana ia sedang bekerja sebagai wartawan. Beliau ini menguasai lebih dari duapuluh macam bahasa sedangkan pemenang yang kedua adalah Sam yang mampu berbahasa Belanda, Jerman, Inggeris, Perancis, Melayu dan Tondano.
Pada waktu itu negeri Swis banyak dikunjungi pemuda-pemudi dari berbagai negara. Hal ini disebabkan oleh karena Swis adalah negara yang netral dalam Perang Dunia ke I yang waktu itu sedang melanda di
Eropa. Universitas-universitas Swis Juga menarik bagi para pemuda dari Asia untuk belajar. Sam yang bersifat mudah bergaul banyak mendapat kawan dari berbagai negara. Konon sebagai rekan Sam tercatatJawaharlal Nehru, pejoang kemerdekaan India. Bersama kawan-kawannya mereka bersefaham untuk mendirikan satu asosiasi: “Association d’Etudiantes Asiatique” (Asosiasi Mahasiswa Asia), dan Sam dipilih untuk menjadi Ketua yang pertama asosiasi ini.
Dalam pada itu di Holland, khususnya di Ministerie van Kolonien (Kementerian Urusan Jajahan) masih terus diproses permohonan Ratu Langie untuk memperoleh pekerjaan sebagai guru matematik di Indie.
Dalam kumpulan dokumen-dokumen dari Nationaal Archief ada laporan dari satu rapat pada sekretariat kementerian tersebut dimana dinyatakan bahwa Menteri ingin mengetahui APA yang sebenarnya sedang diperbuat Ratu Langie itu di Swis.
Kebetulan Menteri mengenal Rektor dari Universitas Zuerich yang bernama Prof. Dr. C. Schroeter. Menteri pernah bertemu dengan profesor ini sewaktu berkunjung ke Suriname. Iapun melayangkan surat kepada profesor tersebut dalam mana ia memohon kiranya dapat diberikan informasi secara konfidensial perihal seorang mahasiswa yang bernama Ratu Langie yang katanya membuat disertasinya dalam ilmu matematika.
Ternyata Rektor menjawab atas permintaan ini dalam dua surat: dalam surat pertama (23 Oktober 1917) rektor mengatakan bahwa ia telah mengecheck pada pengajar ilmu matematika : Prof. Dr. Fueter, yang mengatakan bahwa memang ada mahasiswa yang bernama Ratu Langie sedang rajin mengerjakan disertasinya dan akan selesai dalam beberapa waktu lagi. Dalam surat yang kedua (15 Desember 1917) beliau mengucapkan terima-kasih atas kiriman majalah-majalah (mungkin khusus mengenai Suriname) dan juga memberi kabar bahwa beliau telah sempat menghadiri satu seminar yang diselenggarakan oleh Persatuan Mahasiswa Belanda di Zuerich, bernama “Hollandia”. Pada acara ini Sam Ratu Langie menjadi penceramah dan ia membahas perihal “Volksbewegung” (Pergerakan Nasional) di negerinya: Ned. Indie. Prof. Schroeter menilai presentasi ini sangat menarik dan komentarnya adalah bahwa materi disajikan dengan sangat objektip dan “loyaal” (Editor: Mungkin dimaksudkan disini adalah “setia kepada Kerajaan Belanda”). Rektor menyatakan bahwa pada umumnya ia mendapat kesan yang sangat baik dari pemuda itu.
Memang pada waktu itu sekalipun, Sam sudah tahu bahwa ia harus berhati-hati dalam tutur kata, agar tidak diberikan predikat “opruier” (penghasut). Namun karena ia memiliki perbendaharaan kata yang cukup luas ia berhasil menjaga keselamatan dirinya, dan tidak pernah mendapat kesulitan dengan pihak berwajib selama di Eropa.
Selain dari pada upaya untuk mengetahui tindak-tanduk Ratu Langie di Swis melalui para pengajar, menteri juga merasa perlu mengetahui mengenai persyaratan dan peraturan yang berlaku untuk dapat melaksanakan “doktorarbeit” (karya doktor) pada universitas di negeri Swis. Informasi ini diperolehnya dari tangan Mr. Abendanon. Dibulan Maret 1918 Mr. Abendanon menyampaikan dua surat kecil yang dalam bahasa Belanda disebut “kattebelletje” yang mana mencantum nama pengirim dipojok kiri atas.

Gambar 1.
Dalam surat yang pertama ia memberitahukan bahwa judul thesis yang sedang dilaksanakan oleh Sam adalah: “Lineare Kegelschnitten (Systemen/Geweben) in vollstaendigen Ebenen und ihre raumliche analogen.”. Diberitahukan juga bahwa topik ini termasuk bidang “Synthetische Geometrie” dimana ahli-ahli khusus bidang ini yang ada di Nederland adalah: Dr. Hendrik de Vries, Amsterdam (Editor: murid dari Prof. Korteweg, Amsterdam), Dr. Jan de Vries dari Utrecht dan Prof. Dr. Schuh dari Delft. Selain dari pada itu sebagai lampiran beliau sampaikan sebuah booklet berjudul “Reglement ueber die Erteilung der Doktorwuerde an der mathematisch-naturwissenschaftlichen Abteilung der philosophischen Fakultaet der Universitaet Bern” yang dititipkan oleh Sam Ratu Langie kepadanya. (Sebagaimana diketahui: Bern adalah satu kota di Swis yang berdekatan dengan Zurich.)

Gambar 2.
Dalam surat kedua (Lihat Gambar 2) tercantum nama-nama 6 (enam) Orang Belanda yang lulus Doktor di Universitas Swis dan mendapat kedudukan yang cukup tinggi di Ned. Indie yakni: Dr. Bernard, Kepala dari “Stasiun” teh (Bogor), Dr. …. (?) Kepala dari …..”Stasiun” garam(?), Dr. Visser (?), Kepala dari “Stasiun” tembakau (Medan), Dr. Schmidt, Kepala dari “Stasiun” gula (Pasuruan), Dr. Nieuwenhuis, Pejabat Pemerintah (Kolonial) di Batavia dan Dr. Burger, Pejabat pada Departemen Pertanian. Data-data ini disampaikan oleh Mr. Abendanon kepada Kementerian Urusan Jajahan dari dan atas permintaan Sam Ratu Langie.Dari isi kedua kattebelletje ini kita dapat simpulkan bahwa hubungan Mr. Abendanon dengan Sam Ratu Langie adalah sangat dekat dan bagaikan hubungan seorang “mentor” terhadap anak didiknya.
Menteri Urusan Jajahan, Gubernur Jenderal dan Sam Ratu Langie
Membaca dokumen-dokumen dari Nationaal Archief sangat mengasyikkan. Pertama-tama perlu dikagumi ketekunan dalam berarsip dimana semua dokumen yang saya dapatkan tertata rapih. Kemungkinan besar selama bertahun-tahun disimpan dengan baik dan belakangan ini mungkin dalam bentuk microfiche.
Adapun dokumen-dokumen yang saya peroleh kebanyakannya berupa draft (konsep) surat (karena pada masa itu belum ada mesin fotokopy) dan juga ada beberapa laporan intern dan beberapa surat masuk. Sebagaimana biasa, draft ini disusun oleh Sekretaris. Pada dokumen-dokumen yang saya temukan draft setiap halaman dibagi dua. Paruh halaman sebelah kanan dipakai untuk menulis draftnya.Paruh halaman sebelah kiri dipakai untuk koreksi yang dirasakan perlu ditulis oleh pejabat yang berwenang, dalam hal ini Menteri Urusan Jajahan waktu itu. Kesemuanya ditulis tangan dengan tulisan zaman dulu yang dalam bahasa Belanda disebut “schoonschrift” (tulisan indah).Cara menulis ini saya masih sempat pelajari, yakni dengan irama “dun-dik” (tipis-tebal). Namun jikalau yang harus ditulis berjumlah besar maka tulisan sang sekretaris sudah tidak begitu “schoon” lagi, bahkan sulit bagi saya untuk membacanya.
Perlu diingat bahwa waktu itu belum semua instansi yang mampu membeli mesin tik, sedangkan seperti diesebut diatas mesin fotokopy belum ada sama sekali. Jadi kebanyakan dokumen yang saya peroleh berupa “surat keluar” hanya draft-nya saja, sedangkan asli dari surat keluar tidak ada. Hal ini walau bagaimanapun memberikan satu “insight” juga mengenai nuansa-nuansa yang (mungkin) ada dalam pemikiran pejabat kolonial terkait. Disamping ini perlu juga diingat bahwa bahasa Belanda seratus tahun lalu (sangat) berbeda dengan yang digunakan sekarang. Apalagi bahasa resmi yang wajib digunakan dalam surat/dokumen dulu terkadang sangat sulit dikomprehensikan oleh saya.
Misalnya antara lain terdapat satu DRAFT untuk surat dari Menteri Urusan Jajahan masa itu (1917 – 1919) kepada Gouverneur Generaal (masa itu). Surat ini dikirim tanggal 16 Maret 1918 dimana satu potongan dari draftnya adalah seperti tertera pada Gambar 3. Didalamnya tertera bahwa setelah uraian panjang lebar mengenai temuan-temuan yang diperoleh dalam rangka penelitian (lihat Website terdahulu) yang telah dilaksanakan oleh Menteri mengenai “de zaak Ratu Langie” (Kasus Ratu Langie) ia menulis (lihat koreksi diparuh kiridibawah ini):

Gambar 3.
“…… en alsdan dient mijns inziens, …. ter voorkoming van den indruk, dat de Regering het ondernemen van hoogere studien door Inlanders onwelwillend gezind is, over formeele bedenkingen tegen de plaatsing van den heer Ratu Langi in Landsdienst, zoveel mogelijk te worden heen gestapt. Gaarne zou ik dan ook van U.E. vernemen of na kennisneming van het voorstaande, nog bepaald overwegende bezwaren tegen de uitzending van den heer Ratu Langie blijven bestaan, zoo niet dan stel ik mij voor hem na zijn promotie daarvoor uit te zenden.”
” ….. dan menurut pendapat saya, …. untuk menghindari kesan bahwa Pemerintah tidak menyukai upaya para “Inlander”, untuk menuntut ilmu pendidikan tinggi, kiranya keragu-raguan formal mengenai penempatan tuan Ratu Langi sedapat mungkin dapat teratasi. Karena itu saya akan sangat menghargai untuk dapat mengetahui apakah dari pihak Yang Terhormat Tuan (Gubernur Jenderal) masih ada keberatan-keberatan tentang pengiriman Ratu Langie, dan jika tidak maka saya mengusulkan untuk mengirimnya setelah ia menyelesaikan promosinya.”
Jawaban atas usul ini disusun oleh Gouverneur Generaal dalam satu telegram yang dikirim dari “Weltevreden”(Jakarta, Menteng) tanggal 19 Nopember 1918 dan diterima di ‘s Gravenhage (den Haag) pada tanggal 29 Nopember 1918.Telegram adalah sebagai balasan dari surat tanggal 13 Maret 1918 (!!!) dan pada intinya menyampaikan bahwa Gubernur Jenderal setuju dengan usul Menteri.
INTRIK BUSUK dari PENJAJAH, yakni dalam berkas yang saya terima ada satu surat penting dari Dr.G.S.S.J. Ratu Langie yang semestinya melampirkan pula SALINAN Ijazah DOKTOR ILMU PASTI dan ALAM (FILSAFAT) (Promosi) sesuai yang disebut pada surat pengantarnya namun yang tiba ditangan saya HANYA surat pengantar, sedangkan Lampirannya yang berupa SALINAN IJAZAH telah LENYAP yang menurut dugaan saya dihilangkan oleh tangan2 kotor penjajah sewaktu ada yang mulai menyebarkan kabar yang mendiskreditkan nama Sam Ratlangie karena kegiatan politiknya.
Didalam berkas saya ada kopy dari 9 (sebilan) surat dari Sam Ratu Langie kesemuanya diarahkan kepada Y.M. Menteri Urusan Jajahan. Surat yang ke enam tertanggal 2 Januari 1919 saya scan dan hasilnya adalah seperti dibawah ini. Surat inilah yang paling penting yang menyatakan ada Lampiran Salinan Ijazah yang sudah dilihat dab sicocokkan oleh Yang Mulia Tuan Sekretaris Menteri : (“Ik heb de eer hierbij tevens over te leggen een afschrift van mijn doctors diploma waarvan het origineel onder de ogen van Zijne Hoogheid den Heer Secretaris Generaal is geweest”)

Gambar 4.
Sambil tersenyum aya buka kembali berkas yang dikirm tanggal 2 Nopember 2005, dari Nationaal Archief Nederland.
Jadi setelah menempuh ujian dan lulus (17 Desember 1918) Sam mengajukan lamaran kepada Menteri Jajahan di Nederland pada tanggal 2 Januari 1919. Permohonan lamaran ini dijawab oleh Gouverneur Generaal van Nederlands Indie dengan wajar (jadi ini membuktikan pada waktu itu rupa2nya SALINAN IJAZAH Sam masih ADA di berkas terkait) pada tanggal 24 Januari 1919 dan pada 25 Januari 1919 Sam dapat menerima fl 500,- untuk uang perjalanan dan tiket berangkat bagi Sam dan istrinya ke Nederlands Indie.
Dokumen-dokumen selanjutnya adalah dokumen2 dukungan untuk persetujuan Menteri Urusan Jajahan agar dapatk mengangkat Dr. G.S.S.J. Ratu Langie untuk ditempatkan di Indie sebagai guru ilmu pasti pada salah satu sekolah menengah, sedang isterinya diangkat sebagai pejabat kesehatan. Masing-masing dengan gaji bulanan yang cukup besar sehingga memberikan kesempatan kepada kedua-duanya untuk hidup layak bagaikan layaknya orang kolonial di Nederlandsch Indie. Semua terdokumentasi dengan cermat oleh petugas2 baik di Ned. Indie maupun di kantor Minister van Kolonien di Nederland. Saya miliki kopy dari seluruh proses adminstratip pengangkatan suami istri sampai dengan keberangkatannya ke Ned. Indie untuk kedua2bya dipekerjakan selaku pegawai di Yogyakarta. Tersebut pula bahwa “bezoldigingen” atau gaji suami istri ini bersama2 cukup besar sehingga mereka dapat hidup wajar selaku akademisi dan mendiami rumah di daerah utama di kota itu.
Namun secara kekeluargaan dan sosial mereka ternyata terisolasi dari kelompok pembesar2 kolonial dengan gaya hidup yang meremehkan INLANDER (kata yang berkonotasi negatip untuk pribumi) sedangkan Suze sebenarnya tergolong kelompok itu. Hal ini tentunya akhirnya menyebabkan kecemburuan sosial (social jealousy) pada kelompok TOTOK dan INDO BELANDA yang kemudian menyebarkan isu tentang Sam RatuLangie yang tertuang dalam satu laporan yang saya sempat baca sendiri di ANRI mengenai satu laporan “ANONIM” tentang……… (Itupundibuku ANRI di KOSONGKAN) Walaupun sya anggap hal ini sepele karena serba tidak jelas namun ini merupakan tanda bahwa ada “arus bawah” (undercurrent) dikelompok sosial Belanda/Indo Belanda yang kurang/tidak menyukai kepada pasangan ini.
Karena adanya beberapa aksi teror oleh seorang wartawan di Java Bode maka ternyata jabatan ini oleh Sam Ratu Langie hanya diemban selama 2 tahun lebih. Alasan untuk berhenti dari jabatan yang telah diperjuangkannya selama bertahun-tahun dengan begitu gigih belum saya temukan, akan tetapi satu kemungkinan adalah bahwa ia jenuh dengan hidup bagaikan “zwarte Hollander” (Belanda Hitam). Pergaulan dengan berbagai Ondernemings Directeuren (Direktur-direktur Perkebunan) dan orang-orang Bule sejenisnya sesuai dengan “rang en stand” (pangkat dan tingkat hidup) pegawai negeri Belanda. Rekreasi di “Societeit” yang hanya teruntuk bagi orang kulit putih yang arogan dan melihat rendah pada “inlander” yang patutnya (menurut mereka), hanya cocok sebagai jongos dan babu saja. (Mengenai episode Jogya itu, kini, ditahun 2009 telah berhasil saya peroleh beberapa dokumen dari Arsip Nasional Republik Indonesia , sehingga dimasa mendatang dapat saya susun hasil evaluasi dari dokumen2 itu).
Dalam satu kesempatan Sam Ratu Langie turut serta dalam satu Seminar mengenai Ilmu Pasti di Bandung dan menyampaikan satu kertas kerja yang berkenaan dengan Euclides. Mungkin disana pula ia bertemu dengan rekan-rekan seperjuangan dulu di Nederland dan atas dasar pertemuan ini ia memutuskan untuk mengakhiri masaa kerja sebagai pegawai negeri Nederlandsch Indie dan mulai bekerja sebagai swasta dan pindah ke Bandung. Ia mendirikan perusahaan asuransi yang dinamakannya “Assurantie Maatschappij Indonesia”.
Papan nama yang terpampang didepan kantor domana tercantum: “Indonesia”menarik perhatian dari seorang mahasiswa Technische Hoogeschool yang kebetulan liwat dengan bersepeda. Mahasiswa itu masuk dan bertemu dengan pemilik Assurantie Maatschappij ini. Ternyata mahasiswa tersebut adalah Soekarno, bakal Presiden Pertama Republik Indonesia.
Meninjau kembali sambil menulis ini, hanyalah dua pertanyaan yang timbul pada benak saya pertanyaan pertama adalah: “Mengapakah mesti begitu sulit untuk Ayah saya agar ia dapat mengajar kepada anak-anak bangsanya sesuai dengan haknya dan keahliannya?” Jawaban akan pertanyaan ini bagi kita telah tahu dan tak perlu dikemukakan disini lagi. Jawabannya adalah sama dengan jawaban pada pertanyaan:
“Mengapakah Ayahanda dari Sam Ratu Langie yakni Jozias Ratu Langie (Kakek saya) setelah selesai dengan studinya menjadi guru di negeri Belanda ditahun 1887 – 1889 tidak diizinkan meneruskan pendidikan untuk menjadi pendeta karena ditolak oleh Pemerintah (kolonial) Nederlandsch Indie?”
Sedangkan pertanyaan kedua adalah: “Mengapakah setelah lebih dari 50 tahun ayah saya meninggal masih ada pihak2 tertentu yang merasa perlu untuk menjelekkan namanya dengan melancarkan berbagai isyu?” Bahkan sekarang juga masih ada dilaksanakan “penelitian” yang bertujuan dijadikan isyu baru untuk mendiskreditkan Alm. Ayah saya.Pertanyaan kedua ini tidak terjawab semudah pertanyaan pertama, namun kita simak sendiri-sendiri saja.

Diundang ke istana Negara Presiden Soekarno setelah bebas dari pembuangan dari Serui pada 22 Maret 1948.
First uploaded at geocities April 28th 2007, for wordpress blog: 22 September 2009 by DR. M. Sugandi-Ratulangi
CURRICULUM VITAE
Dr. Matulanda SUGANDI – RATULANGI (Mrs)
Director (retired) S & A PETROKIMIA & New Energy
Sugandi & Associates Petrochemical Consultants
Jalan Niaga Hijau I/No 10. Pondok Indah, Jakarta Selatan
Phone : (+62) 8111809137
e-mail : lani.ratulangi@gmail.com, lanirat@yahoo.com
1960 Diplom-Chemiker, Techn. Hochschule Aachen, West-Germany and 1971 Doktor der Naturwissenschaften from the University of Hamburg, Germany
1960 – 1962 Professional at RAYON PROJECT of the Department for Basic Industry and Mining of the Republic of Indonesia in Jakarta
1962 – 1965 Lecturer the Faculty for Mathematics and Natural Sciences of the University of Indonesia, later appointed as Head of the Chemical Department
1965 Joined family to West Germany because husband had an assignment as supervisor for shipbuilding in Bremen
1966 – 1967 Joined KRUPP-Mess und Analysentechnik in Bremen (Massspectrometry-Application Laboratory), West Germany
1967 – 1970 Dissertation at the Institute for Organic Chemistry of University of Hamburg, West Germany
1971 Doktor der Naturwissenschaften from the University of Hamburg, Germany
1972 – 1989 Joined PERTAMINA (Indonesian state Oil & Gas Company) and participated at the planning and construction of the PETROCHEMICAL TECHNICAL SERVICE CENTRE in Jakarta. In 1982 becoming Head of this centre until retirement
Training courses attended whilst at PERTAMINA :
1972 Operation Training at TECHNICAL SERVICE LABORATORY of SHOWA YUKA, Tokyo, Japan ; SALES SERVICE LABORATORY of PHILLIPS PETROLEUM, Bartlesville, Oklahoma, USA
1974 Managers Teachers Course, PERTAMINA, Jakarta
1975 UNIDO Plastics Technology Course, Vienna, Austria
1976 Marketing Management Appreciation Course, LPPM, Jakarta
1980 Advanced Polymer Physical Analysis Techniques Course, PHILLIPS PETROLEUM, Bartlesville, Oklahoma, USA
1980 Analysis of Plastics Course, WATER ASSCN., Jakarta
1981 Cost-Effectiveness Course, THE UNIVERSITY OF CONNECTICUT / PERTAMINA, Jakarta
1981 4 weeks course : Export Industry Development and Trade Promotion at the WORLD TRADE INSTITUTE, New York, USA
1981 Efficient Reading Course, CALDERONS READING WORKSHOP, PERTAMINA, Jakarta
1982 THE ARTHUR D.LITTLE INTERN. INC. SEMINAR FOR TOP MANAGEMENT: The Petrochemical Industry, Bali, Indonesia
1983 Top Executive Program for the Indonesian Oil Industry, Advanced Management Seminar on Energy. PERTAMINA & UNION TEXAS PETROLEUM, Surabaya
1983 The Fifth Indonesian Top Executive Course for Oil & Gas Management (SUSPI MIGAS V), LEMHANNAS & PERTAMINA, Jakarta
1983 – 1988 Attended many Conferences & Technical Meetings on Oil/Gas & Petrochemical matters in USA, EUROPE, JAPAN and ASEAN countries. Presented several papers on local and regional Symposia on Petrochemical & Polymers. Executed Markets Studies for Polypropylene, Terephtalic Acid and Methanol. Participated at market development for these commodities. Cooperated at the development for industrial standards for several petrochemicals and plastics products in Indonesia
1989 – now Since January 1989 retired from PERTAMINA; then active as Petroleum/Petrochemicals consultant. Became Director of S & A PETROKIMIA, an Indonesian consulting firm in the field of petrochemicals & plastics
February – August 1989 Produced a market research study for a joint – venture company intending to produce LLDPE and HDPE (gas-phase process) in Indonesia
3rd October 1989 Organised the 1st Indonesian Petrochemical Business Conference, Theme :PETROCHEMICAL BUSINESS OPPORTUNITIES IN INDONESIA, with 150 Attendants from the government as well as private sector
October 1990 Elected as IIIrd Chairman of the Federation of Indonesian Plastics Industry Associations (FIPLASIN), with the responsibility for Technological and Training activities of the Federation
30th October 1990 organised the 2nd Indonesian Petrochemical Business Conference, Theme : INDONESIA’S INTERMEDIATE PETROCHEMICAL INDUSTRY IN THE 90’S, again with 150 Attendants
21 January 1991 invited to present a paper at the 1st International Conference on Frontiers of Polymer Research, New Delhi. India
20-25 January 1991, New Delhi, India. Title of paper : The State of Polymer Research in Indonesia
14 – 19 April 1991 invited by UNIDO to participate and present a country paper at the International Conference on Plastics Waste Recycling Technology at Shanghai, PRC. Title of paper : Recycling of Plastics Wastes in Indonesia. This conference was organised by UNIDO and the Government of the Peoples Republic of China, c.q. the Shanghai Resource Recycling & Utilization Company
21 June 1991 presented an invited paper titled : Business Oppor-tunity and Developments in the Plastics Industry in Indonesia, at the IInd International Conference on Plastics and Rubber Process-ing ’91 in Singapore
16 August 1991 presented an invited paper titled : Recent Developments in the Plastics Industry in Indonesia at the International Symposium on Materials, Machineries and Technologies for the Plastics Industry in Kuala Lumpur, Malaysia
17 October 1991 organized the 1st Indonesian Plastics Technology Conference : S & A PETROKIMIA in cooperation with FIPLASIN (Federation of Indonesian Plastics Industry Associations)
18 – 19 December 1991 participated as observer at the 21st ASEAN – CIC (Chemical Industry Club) Board of Directors Meeting in Chiang Mai, Thailand
17 – 19 February 1992 participated at the Asia-Pacific Conference on the chemical industry, sponsored by Chemical Week, in Hong Kong
22 – 25 June 1992 participated as observer at the Regional Consultation on the Petrochemical Industry in the Arab Countries in Innsbruck, Austria, by invitation of UNIDO
7 August 1992 appointed as Member of the Steering Committee for “Second International Conference and Exhibition on Frontiers of Polymers and Advanced Materials”, to be held at Jakarta on 10 – 15 January 1993, by the Chairman of the Indonesian Institute of Sciences, Prof. Dr. Samaun Samadikun.
19 August 1992 appointed as Resource Person to the Team for Planning of a Coordinated Research Programme on Polymers and Materials, by the Chairman of the Indonesian Institute of Sciences, Prof. Dr. Samaun Samadikun
12 October 1992 organized the 2nd Indonesian Plastics Technology Conference : S & A PETROKIMIA in cooperation with FIPLASIN (Federation of Indonesian Plastics Industry Associations) Theme : TECHNOLOGIES TO MEET DEMAND
8 – 10 January 1993 organised a Polymer Training Workshop at Jakarta which was held in conjunction with the Second International Conference on Frontiers of Polymer and Advanced Materials, 10 – 15 January 1993
10 – 15 January 1993 participated as Member of the Steering Committee for the Second International Conference on Frontiers of Polymer and Advanced Materials, held at Jakarta and presented a paper at this conference
23 – 25 February 1993 participated by invitation of UNIDO at the : GLOBAL PREPARATORY MEETING for the CONSULTATION MEETING on DOWMSTREAM PETROCHEMICAL INDUSTRIES, Vadodara, Gujarat, India, whilst submitting an invited paper on ASEAN Countries.
23 – 25 May 1993, participated as consultant to the AIFTA (Indonesian Association for Thermosetting Adhesives) at the 1993 ASIAN METHANOL CONFERENCE, Singapore
24 August 1994 organized the Workshop on Plastics Waste Recycling in Indonesia in Jakarta in cooperation with PKK (Women’s Organization), IPI (Indonesian Scavengers Organization) and AIDUPI (Indonesia’s Plastics Recycling Association)
8 April 1994 presented an invited Paper titled : Indonesia’s Plastics Fabrication Industry, Prospects for Growth, Opportunities and Constraints at the Regional Seminar on Asian Petrochemicals and Downstream Fabrication, Opportunities in Malaysia, Thailand and Indonesia, held at Langkawi Island, Malaysia on 7 – 8 April 1994
6 – 7 October 1994 participated at the Asia Pacific Specialty Chemicals Market ’94 Conference in Singapore
3 November 1994 presented an invited paper : “The ASEAN Petrochemical Industries” at the 20th ASEAN Chemical Industries Club Board of Directors’ Meeting & Conference at Jakarta, Indonesia
December 1994, appointed as Chairperson of the Organizing Committee for the 1st Indonesian Polymer Symposium & Congress of the Indonesian Association for Polymers to be held in July 1995 at Jakarta
29 December 1994 inaugurated as member of the Group for Industrialization of the Dewan Riset Nasional, DRN (National Research Council) for the term of 1994 – 1999.
10 – 11 July 1995 organized the 1st Indonesian Polymer Symposium, Congress and Exhibition of the Indonesian Association for Polymers on which occasion she was chosen by acclamation to become the Chairperson of the Himpunan Polimer Indonesia for the term 1995 – 1998.
20 – 21 November 1995 organised the 3rd Indonesian Petrochemical Business Conference, Theme : INDONESIAN CONFERENCE on AROMATICS with close to 100 participants
28 March 1996 to respond to an invitation by the Ministry for Industry & Trade, Directorate General for Metal, Machinery & Chemical Industry she presented a paper on the status of imports of chemicals to Indonesia. at the Co-ordination Meeting between Government and the Associations.
26 – 27 June 1996 organised the 4th Indonesian Petrochemical Business Conference, Theme : INDONESIAN CONFERENCE on NATURAL GAS for PETROCHEMICALS; participants 125 delegates, Keynote Address was by Professor Dr. Subroto.
10 – 12 September 1996 attended the 13th ISEI Congress (Indonesian Economists Association) in Medan to function as Co-referent by invitation of the Organizing Committee to comment on a Presentation on the Petrochemical Industry in Indonesia by an Indonesian Consultant.
3 – 4 October 1996 attended the Intensive Short Course : Metallocenes by : the Catalysts Goup, held at Singapore.
4 – 8 November 1996 inaugurated the opening and closing of the International Workshop on Green Polymers organized by the Indonesian Polymer Association in cooperation with the Japan External Trade Organization (JETRO) in Bandung.
20 – 21 November 1996 attended Chem Systems’ Sixteenth Annual Souteast Asian Seminar : “Regional Dynamics and Competitiveness in the Petrochemical Industry” at Singapore.
21 – 24 November 1996 attended the 26th ASEAN Chemical Industries Club Board of Directors’ Meeting & Conference at Chiangrai, Thailand to chair the Petrochemical Manufacturers Product Group Meeting.
27 – 28 November 1996 attended the Chemical Industry Business Forum at Bandung , to report about the 26th ASEAN Chemical Industries Club Board of Directors’ Meeting at Changrai, Thailand.
19 December 1996 upon invitation of the Indonesian Gas Association (IGA) presented a paper : “Optimizing Indonesia’s Natural Gas Utilization, Opportunities in the Petrochemical Sector”
23 January 1997 presented an invited paper : “Engineering Thermoplastics in Indonesia” at the Conference on Engineering Thermoplastics in Asia, 23 – 24 January 1997 at Singapore
17 March 1997 to respond to an invitation by the Ministry for Industry & Trade, Directorate General for Metal, Machinery & Chemical Industry functioned as Co-referent at the Co-ordination Meeting between Government and the Associations.
March 1997 established the Yayasan Petrokimia & Perplastikan (YPP) (Foundation for Petrochemicals & Plastics) which main activities are in education & training for personnel in the petrochemical & plastics sector.
20 – 22 March 1997 attended the Indonesian Gas Association (IGA) Domestic Gas Forum held at Surabaya.
20 – 22 March 1997 The YPP organized the first course for industry : “Additives for plastics” (8 participants of 3 companies)
17 – 18 June 1997 : Successfully organized the 5th Indonesian Petrochemical Business Conference on The Asia Pacific Petrochemical Industry Into the Next Millennium at Jakarta 1997, with about 100 participants. The distinguished speakers were from various countries of the Asia Pacific region
4 – 5 July 1997 The YPP organized the second course for industry : In House training for a woven bag industry (15 participants)
31 Juli 1997 Inaugurated as Vice Chairperson of the Indonesian Chemical Industry Cub (ICIC) for the term of 1997 – 2000.
19 September 1997 attended the Willem Prins Lecture Series by Prof. Dr. Ir. L. C. E. Struik : “Polymers, Importance and Technical-Scientific Challenges” Ai the Department of Chemistry, Technical University Delft, Netherlands.
22 – 23 September 1997 attended the : “20th Hamburger Makromolekulares Symposium” held at Hamburg, Germany
1 – 2 October 1997 organized the Conference on Engineering Plastics for Automotive, Electro/Electronic & other Applications in Jakarta in co-operation with Bayer of Singapore participants 80 persons.
20 – 24 October 1997 participated by presenting an invited poster “Polymer R&D in Indonesia” at the ” 6th SPSJ International Polymer Conference” held at Kusatsu, Japan organized by the Society for Polymer Science, Japan and attended the South / East Asia Polymer Scientists Meeting (SEAPSM) on 22 October 1997 at the same place.
26 – 30 October 1997 participated at the ” 5th Pacific Polymer Conference” held at Kyongju, S. Korea, and attended the Pacific Polymer Federation (PPF) Council Meeting on 27 October 1997 at the same place.
5 – 7 November 1997 participated at the 27th ASEAN CHEMICAL INDUSTRY CLUB Meeting held in Manila, Philippines.
9 November 1997 participated at the 18th INDONESIAN GAS ASSOCIATION General Meeting held in Jakarta.
20 – 22 March 1998 The YPP organized the third course for industry : “Injection Molding Technology” (11 participants of 6 companies)
12 – 14 March 1998 The YPP organized the course for industry : “Compounding Technology” (6 participants of 2 companies)
14 September 1998 presented an invited lecture at the Polymer Chemistry Training, held at Palembang from 14 – 18 September 1998, as a cooperation between : The Faculty for Mathematics and Natural Sciences of the Sriwijaya University in Palembang, South Sumatra and the Japan Industrial Cooperation Agency (?).
19 October 1999 presented an invited paper “Perkembangan Industri Petrokimia berbasis Bahan Baku Lokal” (The Development of a Petrochemical Industry based on Domestic Raw Materials”) at the Meeting on Science and Technology of Materials 1999, organized by the National Nuclear Energy Institute at Serpong, Jakarta.
10 November 1999 participated as Moderator at the All Indonesian Chemical Technology Students Meeting (Musyawarah Nasional (HIMATEK)at the tripartit discussion : “Industry-Government and University” in Jakarta.
24 – 25 November 1999 participated at the 29th ASEAN CHEMICAL INDUSTRY CLUB Meeting held in Bali, Indonesia and was nominated as Moderator for Country Report Session.
November 2000 – July 2001 participated as resource person to a team which provided the Ministry of Industry and Trade with a study: “Policy Recommendation for Indonesia’s Petrochemical Industry”
20 – 21 March 2001 Invited to present a paper titled “Consulting the Polymer Industry in Indonesia” at the Symposium on Polymer Technology organized by the Sentra Teknologi Polimer at Serpong, Tangerang, West Java.
August 2002, Chairperson of the “INDONESIA in the PACIFIC FOUNDATION” active in the Minahasa, North Sulawesi, Eastern Indonesia.
January 2003, Vice Chairperson of the Advisory Board to the KERUKUNAN KELUARGA KAWANUA, which is an organization dedicated to social activities among families originated from the Minahasa (North Celebes Area)
August 26th, 2003, National Symposium on Natural Gas for Industry,Theme: NATIONAL POLICY on NATURAL GAS to ASSURE the SUSTAINABILITY and DEVELOPMENT of the NATURAL GAS BASED INDUSTRY, Chairperson at the Panel Discussion I, Natural Gas Policies in MALAYSIA and the P.R. of CHINA.
2004 onwards studying the RENEWABLE (GREEN) ENERGY RESOURCES. In the Indonesian language the BBN (Bahan Bakar Nabati)
2017 onwards OBSERVING World happenings from my safe haven.
Dibawah ini adalah kolase foto saat Alm. Agy Supit, Alm. Peter Supit, saya dan kawan-kawan ke Danau Masarang ditahun 1992

Kunjungan ini telah lama kami rencanakan sebab dalam satu surat yang ditulis Ayah saya lima bulan sebelum beliau meninggal ditahun 1949 tertera antara lain bahwa diantara peninggalan yang beliau (bersama kakaknya Ibu Kajes Supit-Ratulangie) warisi dari Ibu beliau ada :
…………… sebagian dari kebun-kebun di gunung Masarang jang bagian saja (Dr. Ratu-Langie) menurut persetudjuan jang diambil tahun 1935 di Tondano ……. Luasnja bagian saja (Dr. Ratu-Langie) ini adalah kira-kira 50 bahu, dalam mana termasuk pesisir danau Masarang (meeroever van het Masarang meertje). Hal ini djuga perlu diperhatikan. Keterangan diatas ini dibuat saja sementara ditahan oleh Belanda di Djakarta, Prapattan 52, sebagai persediaan supaja diketahui isteriku dan anak2ku.
Djakarta, 8 Pebruari 1949
Dr.G.S.S.J. Ratu-Langie
Jadi kami berangkat dari Tondano naik kendaraan umum yang kami carter pulang-pergi ke desa Masarang lalu kemudian bersama dengan teman2 yang tahu jalannya kami berjalan meliwati kebun kopi yang DAHULU juga milik Alm. JACOB GERUNGAN . Dibawah ini peta yang kami gunakan dan perhatikan tanda ++++++ yakni track yang kami tempuh ditahun 1992.


Ini adalah Alva Supit (yang sekarang sudah jadi dokter medis) berdiri di “pesisir” Danau Masarang.

Foto diatas adalah waktu kami duduk ditepi danau Masarang (“het Masarang Meertje”) dalam surat Ayah saya.

Kami sering-sering beristirahat karena jalanan cukup terjal.

Foto diatas diambil pada posisi dimana pemandangan sangat indah yakni kearah Tomohon.

Hari mulai malam dan kami masih harus menempuh beberapa Kilometer. Namun sewaktu tiba didesa Masarang kami diterima dengan jagung muda rebus, MMMMM!.


Foto memperlihatkan keluarga yang menerima kami yang cukup lelah. Mereka adalah keturunan dari pekerja asal pulau Jawa yang dulu menanam kopi disini.
TERIKA KASIH kepada keluarga itu (walaupun mungkin agak terlambat!)
Uploaded to the internet: 8th November2003, by Matulanda Sugandi-Ratulangi