1946 Exile from Makassar to Serui.

Free Website Translator

In this little house our family stayed for 2 years
In this little house our family stayed for 2 years

On June, 17th 1946, by the – then trying to return – Dutch Colonial Regime, Dr. G. S. S. J. Ratulangi (or Ratu-Langie) and six other leaders from Makassar, were thrown into exile to Serui, Yapen – Waropen, Irian Jaya (at that time : “Netherlands’ Nieuw Guinea”)

The seven freedom fighters of Makassar (1945)
The seven freedom fighters of Makassar (1945)

From left to right :1. Lanto Daeng Pasewang, 2. I. P. L. Tobing, 3. Dr. G. S. S. J. Ratu-Langie, 4. Soewarno, 5. Josef Latumahina, 6. W. S. T. Pondaag, 7. H. I. A. Saleh Daeng Tompo

The objective of this page is: to collect and expose the notes on the period of exile in Serui, the effects it had on the historical development of the region. I recognize that the spirit of the Indonesian Unity was seeded then, and grew as a result of interaction of the exiled persons with the surrounding society.

Back to Makassar in 1946

The paragraphs below are from page 50 and 51 of the book “From the formation of the State of East Indonesia towards the Establishment of the United States of Indonesia” by Ide Anak Agung Gde Agung, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta 1996.

“…… The consequence of this decision (Editor: not to cooperate withe the CONICA) was that the Makassar CONICA , who held the opinion that Dr. Ratulangi’s and the People’s Security Center’s stance meant that the formation of a new “government” structure in South Sulawesi and the effort to “restore security and civil government” would be hampered, decided to arrest Dr. Ratulangi and several members of the People’s Security Center to be sent into exile.

Protest in Yogyakarta by young Sulawesians
Protest in Yogyakarta by young Sulawesians

On April 5 1946 Dr. Ratulangi was arrested by the CONICA, along with other members of the People’s Security Center, including Lanto Daeng Pasewang, Pondaag, Latumahina, Inchi Mohammad Saleh Daeng Tompo and Tobing. At first Dr. Ratulangi and his colleagues the Hoge Pad prison in Makassar, in Mid June they were flown in the plane Catalina to exile in Serui, Irian Jaya. The following month Dr. Ratulangi’s wife, the wives of the other prisoners and Major(Editor: ????) Soewarno were transported to Serui to be joined with the prisoners. Dr. Ratulangi and his colleagues were freed from their incarceration on March 23 1948, and were brought by the Dutch to Yogyakarta.

After the arrest of Dr. Ratulangie and his colleagues CONICA continued his endeavour to assemble a new “government structure” by working with Nadjamoeddin Daeng Malewa and his colleagues.
A number of rajas displayed a non-cooperative attitudes toward NICA after the arrest of Ratulangi including Andi Mappanyukki, Datu Suppa, and Andi Djema of Luwu, meanwhile in the interior, the pemudas were attempting to put pressure on NICA, like what happened in the interior of Luwu. NICA apparently was able to “control” the situation with the help of Dutch troops (Editor: Westerling ???), newly-arrived for the purpose of later replacing the Allied troops. On June 2, 1946, Andi Djema of Luwu was arrested by the Dutch because he was considered a Republican …… ”

Dari buku: “Kronik Revolusi Indonesia” Jilid II (1946), Pramoedya A. Toer, Koesalah S. Toer dan Ediati Kamil, KPG (Kepustakaan Populer Gramedia), 1999. :
Halaman 168:

1946 April 5, Gubernur Republik Indonesia untuk Sulawesi Dr. G.S.S.J. Ratulangie dan beberapa orang pemuda (Editor: mungkin maksudnya: pemuka) lainnya ditangkap oleh Belanda di Makasar. Berkenaan dengan hal itu Pemerintah Republik mengajukan protes kepada tentara Sekutu.

Halaman 237:

1946 Juni 17, Pemerintah di Jakarta memperoleh kabar bahwa militer Belanda telah mengasingkan Gubernur Sulawesi, Dr. Ratulangie dengan pembantunya kesebuah pulau tidak jauh (Editor: ???) dari Makasar. Menurut kabar itu, memang mereka tidak dapat dituntut dimuka pengadilan, tetapi merekapun tidak dapat dilepaskan begitu saja. Alasan pengasingan adalah pasal 20 S.O.B. (Staat van Oorlog en Beleg) atau Keadaan Perang. Pengasingan dilakukan untuk menjaga “Openbare Rust en Orde” (Ketenangan dan ketertiban umum)

Halaman 293, 294 dan 295

1946 Juli 17,

Konperensi Malino (Malino Conference), sebuah tempat peristirahatan dekat Makasar, diprakarsai dan dibuka resmi oleh Dr. H.J. van Mook dengan hadirnya wakil-wakil dari Indonesia Timur, Kalimantan, Bangka Biliton dll. daerah yang berada di bawah pendudukan Belanda. Dengan konferensi itu Van Mook hendak menunjukkan kepada dunia bahwa tidak seluruh dari 70 juta bangsa Indonesia berdiri belakang Soekarno dan Hatta. Dr. H.J. van Mook juga memberikan konferensi pers. Ia mengakui bahwa Gubernur Sulawesi Dr. Ratulangie memang benar sudah “dikirim” ke Serui di Utara Nieuw Guinea. Menurut pendapat Van Mook, “adalah lebih baik buat dia (Dr. Ratulangie) supaya jangan tinggal lebih lama di bilangan ini (Editor: Maksudnya Makassar)

See also the paper “Perjuangan ketujuh Tokoh Pergerakan Kebangsaan di Makassar dan Serui”, oleh Ir. Zainuddin Daeng Maupa (No. 3).

But….. we were all betrayed ….. by the greed and ignorance of the “new regimes” who destroyed the growing bond of a young nation and now it is clear that through the regimes of 32 years under Suharto and nearly 2 years under Habibie, the brotherhood among diverse ethnic groups and religions which characterises our country was severely damaged. However I am convinced that this will be overcome in due time, and history will see that the truth will be exposed (1998).

To date: September 2009, we are seeing  SLIGHT improvement in domestic affairs, although economic, environmental and other problems are still haunting.

Three pictures of friends:

Prof. Nelis Luhulima presenting his view on the book
Prof. Nelis Luhulima presenting his view on the book “Indonesia in the Pacific

Prof. Luhulima presenting his paper “Ekonomi Politik Asia Pasifik Pada Tahun 1937 dan Kecenderungannya di Abad XXI“(see No.4 on the list below), at the TAVERNA Kebagusan

Arrival at Serui airport with the son of S. Papare & his wife (1996)
Arrival at Serui airport with the son of S. Papare & his wife (1996)

Serui revisited after 50 years, with Corrie and (the late) Sam Papare

Serui Bay & Mawampi Island where I used to swim with my sister
Serui Bay & Mawampi Island where I used to swim with my sister

BEBERAPA WEBSITES TERKAIT (Related Websites):

1.I remember SSMS’96…, a farewell to Milly my beloved sister.
2.“Perkembangan Cita-cita dan Pemikiran Kesatuan Bangsa dan Negara:Dari Sumpah Pemuda melalui Konsep Negara Kepulauan ke Wawasan Nusantara”, oleh Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja Bagian ke-I dan Bagian ke-II
3.“Perjuangan ketujuh Tokoh Pergerakan Kebangsaan di Makassar dan Serui”, oleh Ir. Zainuddin Daeng Maupa
Pembahasan buku Dr. G.S.S.J. Ratu Langie: “Indonesia in den Pacific. Kernproblemen van den Aziatischen Pacific”, Sukabumi, 1 Juni 1937 4.“Ekonomi Politik Asia Pasifik Pada Tahun 1937 dan Kecenderungannya di Abad XXI”, oleh Prof. C. P. F. Luhulima
5.After 5 years I remember Our Preparations for a Seminar in 1996: “SSMS’96”
6.Irian (Papuan) Women’s Organization in 1946
7.Descendants of Sam Ratu Langie
8.In Davao city a statue of Dr. G.S.S.J. Ratu Langie was inaugurated on 17 April 2001.
9.A containership Sam Ratu Langie PB1600 was inaugurated on January 19th,2001 at Surabaya

The above mentioned will as time goes bye be republished (they previously were on geocities server, but due to its closure are to be moved)
First edition on the net : May, 13th 1998, Editor : Dr.M. Sugandi-Ratulangi

Maria Ratulangie-Tambajong

FWT Homepage Translator

My Story

(Ceriteraku)

 

Maria Ratulangie-Tambajong
Maria Ratulangie-Tambajong

  Autobiography in the Indonesian Language by

Mrs M.C.J. Ratulangie-Tambajong

My Roots and Young Years
My Husband
Our Efforts
The Storm of the Second World War
The Last Years

 

RIWAYAT HIDUP

Ibu M.C.J. Ratulangie-Tambajong

 (Otobiografi)

Janda dari Almarhum Dr. G. S. S. J. Ratulangie (Pahlawan Nasional)

Lihat juga: “ANALISA SOSOK Maria Catharina Josephina Ratulangie-Tambajong”

KELAHIRAN DAN KETURUNAN

Saya anak ke tujuh dan putri ketiga dari Bapak Jan Nicolaas Tambayong dan Ibu Fransina Everdina Lefrandt, dilahirkan pada tanggal 2 Maret tahun 1901. Ayah saya berpangkat Hukum Besar seperti dalam zaman penjajahan seorang Patih di pulau Jawa. Ayah saya ada keturunan dari Dotu – Dotu kami yang memerintah rakyatnya langsung dengan nama dulu “Kepala Balak”. Ayah adalah keturunan kelima, kakek ayah saya dalam abad ke 18 baru dinasranikan menganut Agama Kristen dengan nama “Yurian Benyamin”. Dalam zaman sebelum penjajahan mereka memerintah rakyatnya sebagai Raja – Raja. Baru dalam masa Hindia Belanda mereka dijadikan pegawai – pegawai dengan mendapat gaji.

Karena keturunan dan kedudukan orang tua kami maka kami diperbolehkan masuk sekolah Belanda, dan harus berbahasa Belanda dirumah, yang sangat saya sesalkan tidak dapat berbahasa daerah. Ditempat kediaman orang tua kami di Amurang tidak ada sekolah Belanda dan oleh karena itu harus “indekost” pada seorang Bibi dan Nenek di kota Menado.

Dalam waktu liburan besar kami dijemput oleh dua orang bapak yang sangat dipercayai oleh orang tua kami dan begitu pula kami diantar kembali untuk bersekolah lagi. Jarak yang harus kami tempuh adalah 60 Km, perjalanan ini kami tempuh dalam waktu 24 jam. Perjalanan kami dilakukan dengan “Sleeping Car” atau rodaper yang namanya sudah jelas kiranya, satu gerobak diatas dua buah roda dan ditarik oleh dua ekor sapi jantan. Karena perjalanan yang memakan waktu sangat lama maka kami dibeberapa tempat beristirahat dan pada waktu itu kami makan bekal kita dan sapi – sapi pun berkesempatan istirahat.

Setelah satu hari satu malam kami diperjalanan, baru kami tiba ditempat tujuan kami ditangan seorang Bibi dan Nenek yang berkewajiban mengasuh kami. Baru kira – kira di tahun sepuluhan (Red. 1910) seorang beruang mengimport sebuah mobil, dan tanah Minahasa membuka pintu lebar – lebar untuk memodernisasi dan memekanisasi alat – alat lalu lintasnya.

Ini kami kakak beradik depan rumah di Amurang
Ini kami kakak beradik depan rumah di Amurang

Foto kami tujuh dari sepuluh bersaudara, bersama keponakan

Pada suatu hari dalam keadaan sunyi dan sepi dikelas sekolah kami dikejutkan oleh satu bunyian yang sangat keras seperti lonceng besar, semua anak dan guru turun kepekarangan untuk menyaksikan sebuah benda besar diatas empat roda, penuh dengan kuningan melebur dengan megahnya dijalan yang sepi itu. Sekarang berpuluh – puluh Minibus dengan memasang kast tapenya memenuhi jalan ini. Waktu jarak Amurang – Menado yang dulu ditempuh dalam waktu 24 jam, sekarang oleh Minibus bisa dicapai dalam waktu 2 jam bolak – balik berapa kali penuh dengan penumpang dengan pakaian berwarna – warni up to date menurut mode yang mutakhir, dan dari sana dapat disaksikan pemandangan – pemandangan yang sangat indah.

MASA REMAJA

Setelah Sekolah Dasar Eerste Europeesche Lagere School telah saya lalui, dan setelah Kepala Sekolah saya memperbolehkan saya turut serta dalam ujian masuk sekolah lanjutan atau Hogere Burgerschool, dan setelah lulus diperbolehkan orang tua saya meneruskan pelajaran di Pulau Jawa atau Jakarta dimana abang saya sudah berada.

Marie pada HUT ke-20
Marie pada HUT ke-20

Mula – mula cita-cita saya adalah menjadi dokter, karena ini adalah suatu profesi untuk menolong sesama manusia. Tetapi pelajaran untuk menjadi dokter ini memakan waktu sepuluh tahun dan menurut faham saya adalah terlalu lama. Oleh sebab itu saya masuk sekolah lanjutan atau MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs), dan pada waktu itu saya mondok dengan kurang lebih lima puluh wanita dan gadis – gadis dari seluruh pelosok Indonesia, baik yang datang untuk bekerja ataupun untuk menambah pengetahuan mereka di satu asrama.

Maria Tambajong sebelum menikah
Maria Tambajong sebelum menikah

Foto saya didepan rumah di Amurang

Asrama ini bernama Vrouwenbond dan terletak dimuka Katedral. Disana pergaulan antara kami sangat mengesankan dan berada di bawah asuhan seorang perawat Belanda. Kami mendapat pendidikan jasmani rohani yang diperlukan untuk bekal hidup dikemudian hari. Sesudah mendapat ijazah MULO saya meneruskan pelajaran saya Christelijke Salemba School untuk menjadi guru.

Dalam waktu 2 tahun setelah mendapat ijazah dari Departement van Onderwijs en Eredienst saya ditempatkan di Hollands- Chinese School di Menado dan tahun berikutnya saya ditempatkan di Tweede Europeesche Lagere School. Baru dua tahun saya berada di daerah saya, saya sudah harus kembali ke Jakarta karena surat permohonan saya ke Dep. O & E untuk diizinkan mendapatkan Hoofdakte dikabulkan.

Suasana Batavia ditahun 20-an

Pada tahun duapuluhan, Belanda mendirikan sebuah sekolah untuk anak – anak bumiputera: sekolah dokter Jawa, yang kemudian diganti namanya School tot Opleiding van Inlandsche Artsen atau STOVIA. Sekolah yang juga berasrama ini dalam waktu bertahun – tahun berhasil mendidik beribu-ribu dokter. cendekiawan, yang terpencar diseluruh Tanah Air. Dalam sarana ini siswa – siswa hidup semula berkelompok menurut daerah atau wilayah darimana mereka berasal dan suatu muncullah kelompok – kelompok dengan nama Jong Celebes, Jong Java, Jong Sumatra, Jong Ambon, dsb. Siswa – siswa ini tidak ditagih uang sekolah atau uang asrama malahan mendapat uang saku dan uang makan yang sangat minim.

Beratus – ratus siswa datang dari berbagai suku dengan bermacam – macam adat istiadat dalam satu wadah. Demikianlah dengan adanya siswa – siswa yang tidak semua serba penurut, sedangkan guru – guru, yang juga datang dari atau berasal dari Belanda kemungkinan terjadinya kesalah-fahaman antar siswa atau antara siswa dan guru tak dapat dielakkan.

Disiplin dipegang teguh oleh guru – guru Belanda dan siapa tidak tahan disiplin sekeras itu harus “de laan uit” atau dikeluarkan. Yang sangat melukai siswa -siswa ini adalah perkataan ejekan “Inlander” yang dipergunakan penjajah untuk memaki – maki siapa saja yang tidak menuruti mereka.

Lambat laun rasa persaudaraan dibangkitkan dan pada tahun 1928 dicetuskan keinginan atau kehendak siswa – siswa ini dalam “SUMPAH PEMUDA” : SATU BANGSA, SATU BAHASA DAN, SATU TANAH AIR oleh Soetomo dan kawan – kawan. Perasaan ini dinyatakan dalam hati sanubari pemuda pemudi bangsa Indonesia, dan dengan demikian kita telah mempunyai satu front terhadap penjajah yang dalam tahun – tahun berikutnya diperkuat pula.

Seperti tertulis diatas maka setelah saya menjadi guru dua tahun di Tweede Europeesche Lagere School di Manado, saya mengirim sebuah request atau surat permohonan kepada Dep. O en E meminta dipindahkan ke suatu kota besar dimana saya mendapat kesempatan belajar untuk memperoleh ijazah “Hoofdakte” dan saya dipindahkan ke Vierde Lagere School di Ujung Surabaya untuk memberi pelajaran kepada anak-anak pelaut – pelaut Belanda.

Tak lama saya berada disekolah itu, dan dalam tahun yang bersejarah bagi pemuda pemudi Indonesia tahun 1928 saya mengambil keputusan meletakkan jabatan saya sebagai guru untuk memasuki “hidup baru”……..

Suami saya

Sam Ratulangie dan Marie
Sam Ratulangie dan Marie

Sampai pada saat itu hidup saya berjalan lancar dan mempunyai banyak kawan – kawan wanita dan pria, tetapi hidup saya kemudian diliputi awan – awan yang sifatnya tak jelas terlihat.

Suami saya adalah anak pria satu – satunya dari Bapak Josias Ratulangie dan Ibunya Agustina puteri dari Mayoor Gerungan. Bila seorang Hukum Besar berjasa maka ia memperoleh gelar Mayoor. Ayahnya: Jozias adalah seorang guru dengan kecakapan yang sangat tinggi. Adapun waktu itu pemerintah Hindia Belanda mengambil keputusan untuk memilih dari tiap – tiap pulau seorang guru yang terbaik untuk dikirim ke negeri Belanda untuk meneruskan pelajaran di negeri itu.

Josias Ratulangie terpilih selaku guru terbaik di Minahasa dan dikirim kenegeri Belanda. Setelah memperoleh Ijazah Hoofdakte beliau kembali ke tanah air, dan menjadi Kepala Sekolah dari Hoofdenschool, yakni sekolah untuk anak – anak bangsawan atau raja – raja yakni para kepala pemerintahan di Minahasa.

Masa kecil dan remajanya

Sam, nama kecil suami saya, adalah satu – satunya anak lelaki dan yang bungsu dikirim ke Pulau Jawa untuk meneruskan pelajarannya di kota Jakarta. Mula – mula cita – citanya juga ingin jadi dokter, akan tetapi niatnya ini berobah dan ia memilih memasuki sekolah Koningin Wilhelmina School (K. W. S.), satu sekolah teknik di Jakarta, dan ia masuk asrama “Beck Volten”. Akan tetapi Sam tidak kerasan tinggal dilingkungan yang baru ini.

Ia rindu kepada orang tuanya, kakak – kakaknya, dan terutama kepada kudanya. Kuda ini adalah satu hadiah dari ayahnya pada ulang tahun yang ke 13. Kuda ini harus ia asuh sendiri, memandikannya dikali, mencari rumput untuknya dan setiap ada waktu terluang ia menaiki punggung kuda kesayangannya dan dengan kecepatan yang tinggi ia meluncur dijalan-jalan kota Tondano ataupun disekeliling danau Tondano. Kerinduan ini membuatnya berupaya untuk pulang saja.

Sam bersama seorang sepupunya
Sam bersama seorang sepupunya

Bersama sepupunya sewaktu Sam sekolah di Minahasa

Untuk memperoleh bekal makan diperjalanan pulang yang di perlukan, tiap pagi ia sisihkan dan menyimpan satu potong roti kadet, dan sesudah ia merasa cukup mempunyai bekal ia menuruti niatnya. Ia tahu bahwa ia harus mengikuti rel kereta api yang akan membawanya ke Tanjung Priok dimana banyak berlabuh kapal – kapal yang salah satunya akan membawanya pulang kerumah. Tetapi apa yang terjadi ? Kereta api ke Priok harus melewati rumah pamannya, dan kebetulan Sam kepergok olehnya dan dipanggil kerumahnya dan harus ceritakan apa niatnya dan akhirnya ia dikembalikan ke asrama Beck en Volten.

Pada saat-saat itu rumah keluarga Ratulangie di Tondano berada dalam keadaan gawat karena surat dimana Sam menulis niatnya kepada Ibunya telah sampai ketangannya. Denan, seorang pemuda kuat dan kekar dikirim ke Jakarta untuk membawa kembali anak Sam, akan tetapi setelah Denan sampai di Jakarta, Sam sudah mulai kerasan sehingga Denan kembali dengan tangan hampa ke Tondano.

Merasakan Diskriminasi Ras

Setelah belajar tiga tahun di KWS., ia memperoleh Ijazah sebagai masinis dan ditempatkan pada pembuatan jalan kereta api dari Garut ke selatan melalui Rawah Lakbok ke Maos dan akhirnya ke Cilacap. Disinilah Sam merasakan diskriminasi ras oleh penjajah yang melukai perasaan orang Indonesia. Meskipun orang Indonesia nyatanya bekerja lebih baik, lebih pintar dari yang lain, maka seorang yang mempunyai nama yang berbunyi ke-Belanda-Belandaan akan dinilai lebih tinggi dari seorang Indonesia.

Ini dialami Sam juga dalam pekerjaannya. Seorang sekawan sebangku yang namanya ke Belandaan menerima gaji lebih besar dari Sam walaupun raut mukanya lebih hitam dari padanya dan tingkah lakunya kampungan. Sehingga yang satu dapat tinggal di hotel atau losmen dan Ratulangie tinggal di kampung pondok Bang Amat. Hal ini dirasakan betul – betul waktu ia terserang penyakit malaria tropika.

Waktu penyakitnya memuncak dan suhu panasnya naik sangat tinggi ia berjanji pada dirinya bahwa ia akan berusaha sekuat tenaga untuk menuntut ilmu dan pelajaran, tidak hanya setarap orang Belanda tetapi harus melebihinya. Kesempatan untuk bertindak datang juga.

Berangkat ke Eropa

Dari Tondano ia menerima kabar bahwa ibunya yang sangat dicintainya telah meninggal dunia, sedangkan ayahnya sudah mendahului ibunya. Ia berangkat ketempat kelahirannya Tondano. Harta kedua orang tuanya dibagi diantaranya dan kedua saudaranya perempuan yang lebih tua dan berangkatlah ia ke negeri Belanda dan kemudian ke Eropah dengan tujuan yang belum menentu.

Apa yang telah diperbuat dan diperolehnya saya kira sudah diketahui oleh umum ialah bahwa pada perang dunia ke satu, ia melamar sebagai wartawan dan berangkatlah ia ke medan peperangan hanya untuk menambah nafkah untuk hidup selanjutnya kelak. Setelah ia kembali ke negeri Swiss dengan tabah ia berupaya untuk memperoleh Ijazah sebagai Doktor dalam ilmu pasti dan alam.

Catatan: Ada Post tersendiri “Sam Ratu Langie belajar di Eropa”

Kembali di Tanah-air

Setelah kembali ketanah air, oleh pemerintah Hindia Belanda ia diangkat sebagai guru Algemene Middlebare School (AMS) di Yogyakarta. Hal ini membangkitkan amarah yang sangat dari orang Belanda. Tidak masuk diakal mereka bahwa anak-anak mereka akan mendapat pelajaran dari seorang “Inlander”.

Yang paling membencinya adalah Zentgraaf, pemimpin surat kabar Belanda “Het Niews van den Dag”. Setiap ada kesempatan olehnya dipakai untuk mengejek atau memaki – maki Ratulangie. Sehingga pada suatu hari Ratulangie naik pitam. Ia memasuki kantor Zentgraaf, mengunci pintunya, duduk berhadapan dengan Zentgraaf, menarik dari sakunya sebuah pistol, diletakkannya pistol itu diatas meja dan berkata kepada Zentgraaf, “Nah Zentgraaf, laksanakanlah kehendakmu”.

Setelah kejadian ini ia meletakkan jabatannya sebagai guru dan berangkatlah ia ke Bandung dimana beliau dirikan Maskapai Assuransi “Indonesia”.

Dua tahun kemudian ia kembali ke daerahnya Minahasa dimana ia bekerja sebagai sekretaris Minahasa Raad, atau Dewan Minahasa. Disini ia berupaya dan berhasil menghapuskan “Herendiensten”, atau kerja paksa tanpa upah, yang dikenakan terhadap setiap orang yang berdiam di Minahasa.

Suasana di Manado

Marie dan Sam di Manado
Marie dan Sam di Manado

Beliau juga yang mengurus dan mengantar para transmigran – transmigran dari daerah sekitar Danau Tondano ke Minahasa Selatan dan ke daerah Modoinding dan Dumoga dimana mereka cari kehidupan yang baru. Upaya ini juga berhasil dengan baik. Namun dimata penjajah yang mendapat nama baik bukan Ratulangie akan tetapi seorang asisten residen dan seorang controleur berbangsa Belanda.

PERIHAL “KOLONISASI” kedaerah Modoinding

Perjuangan kami

Dalam tahun 1927 Sam Ratulangi dipilih oleh rakyat Minahasa sebagai anggauta Volksraad,atau Dewan Perwakilan Rakyat se Indonesia bertempat di Batavia. Dalam Maiden Speech-nya ia mengemukakan pendapatnya mengenai kedudukan negara kita terhadap dunia internasional. Jawaban dari pemerintah Belanda adalah bahwa pidato Dr. Ratulangie berbau “Moskou” atau sindiran seakan-akan Dr. Ratulangie adalah seorang komunis yang sangat ditakuti oleh bangsa kita.

Ratulangi tidak terlepas dari pandangan tajam pers putih dan kaum Belanda, yang lagi-lagi dikepalai oleh Zentgraaf yang terkenal sebagai seorang Inlander Hater (pembenci inlander) yang dimaksud : pembenci bangsa Indonesia. Pada suatu hari muncullah dalam surat kabar iklan pernikahan kami. Pada keesokan hari terdapat dalam surat kabar Belanda berita : Dr. Ratulangi telah menikah dengan “een inlandsche vrouw” seperti terlebih dahulu sudah saya katakan maka perkataan si penjajah ini terhadap kita dianggap suatu penghinaan yang besar.

Mula – mula Dr. Ratulangie menikah dengan Ny. Dr. Suze Houtman seorang psychiater yang terkenal pada zaman itu. Mereka bercerai dan oleh pengadilan kedua orang anaknya Oddi dan Zus diserahkan asuhan dan pemeliharaannya dalam tangan ayah mereka dan dengan demikian setelah memasuki hidup baru saya telah dianugrahkan dua orang anak untuk dipelihara, yang masing-masing berumur hampir lima tahun dan empat tahun.

Pada suatu hari, pada saat tenang dan senang, berkatalah saya seperti berikut kepada suami saya “Saya harap engkau dapat memahami keadaan keluargamu saat ini. Saya boleh dikata hampir sepuluh tahun bekerja sebagai seorang guru dan pada saat ini setelah menikah dengan engkau saya juga serentak dianugrahkan dua orang anakmu. Bila dikemudian hari mereka menjadi orang terpandang dalam masyarakat maka orang akan berkata: sudah tentu inilah berkat ayah mereka, dan bila terjadi sebaliknya maka si ibu akan dicaci maki sebagai seorang ibu tiri yang jahat. Jadi engkaulah yang harus bertindak”.

Ia memang seorang suami yang bijaksana dan sangat mencintai istri dan anak – anaknya. Bila ia bepergian dan saya bersama anaknya sendirian tetap ia berpesan kepada saya : “Jagalah anak sebaik – baiknya”. Bila anak – anaknya menghendaki sesuatu dari padanya selamanya ia berkata : Tanyakan saja kepada Tjenny, karena ia menganggap seorang kakak mereka, dan dalam pendidikan anak – anak dan urusan rumah tangga sayalah mengambil keputusan terakhir setelah mempertimbangkan segala – galanya.

Volksraad

Waktu Dewan Volksraad di bentuk maka kepada anggauta – anggautanya dipersilahkan membuat kelompok – kelompok dan daftar urut dengan nama empat orang anggauta yang nantinya akan mewakili mereka yang telah kembali kedaerah masing – masing. Yang pertama didalam tiap – tiap daftar telah dipilih duduk dalam satu College van Gedelegeerden untuk periode yang pertama. Bila dari daftar ini yang pertama misalnya mengundurkan diri atau meninggal maka yang nomor dua akan menggantikannya. Begitu juga seterusnya, maka suami saya oleh kawan – kawannya ditempatkan pada nomor dua.

Oleh sebab anggauta pada nomor pertama oleh pemerintah segera diangkat sebagai Lid van Raad van Indie dan ia sebagai nomor dua akan menggantikannya. Suami saya telah meletakkan jabatannya sebagai sekretaris Minahasa Raad. Anggauta yang akan menggantikannya sebagai Lid van Raad van Indie berangkat kenegeri Belanda, tetapi tidak melepaskan keanggautaan College van Gedelegeerden.

Pengalengan

Dengan demikian maka kami dalam keadaan kesulitan keuangan karena dalam setahun Volksraad bersidang hanya selama empat bulan dengan mendapat uang sidang untuk tiap hari sidang 45 Gulden. Kami putuskan untuk pindah ke Pengalengan sebuah desa di Jawa Barat terletak diantara kebun teh dan karet. Disini suami saya dan saya bersama kedua anak mendiami sebuah pondok kecil. Kedua anak saya mendapat pelajaran dari saya dibawah pohon cemara dalam alam yang sejuk dan indah, sambil saya menunggu kelahiran bayi kami yang pertama.

Pada suatu hari kelihatan bahwa suami saya kelihatan tidak begitu segar. Iapun berkata: “Sebentar lagi saya akan ke Batavia, saya akan pergi kehotel Des Indes dimana saya akan bertemu dengan seorang Amerika, dan saya tidak tahu apa saya akan kembali atau tidak.” Saya telah mengetahui bahwa ia berada dalam suatu keadaan krisis. Berkatalah saya kepadanya “Bila kesulitan telah memuncak, maka pertolongan sudah dekat” “Ah,” jawabnya, “engkau dengan slogan-slogan Kristianimu …”

Setelah mendengar ucapan ini saya bangkit dari kursi dan memasuki kamar kami serta membuka lemari saya dan mengambil sesuatu benda dari sebuah kotak, sebuah kalung emas hadiah dari abang saya pada hari ulang tahun ke 18. Benda tersebut saya letakkan ditangannya dengan ucapan “Berbuatlah sekehendakmu dengan ini” dan berangkatlah ia dengan bus ke Bandung untuk meneruskan perjalanannya ke Jakarta.

Saya duduk sebentar termenung diatas kursi, fikiran-fikiran yang bukan-bukan melintasi otak saya. Saya ulurkan tangan kearah rak buku, mengambil sebuah buku…, dan setelah saya membuka – buka buku itu saya melihat secarik kertas kehijauan, sepuluh Gulden ……. Apakah itu bukan suatu keajaiban ? Saya hanya tahu bahwa Tuhan Yang Maha Esa telah mendengarkan permohonan saya, dan selama seminggu, saya dapat hidup bersama anak – anak saya.

Memang hanya Tuhan mengetahui hati sanubari saya. Saya juga tahu bahwa cobaan datang dari pada-Nya, untuk menguji kepercayaan saya. Tidak lama kemudian kami di beri tahu bahwa si Lid van Raad van Indie itu telah meletakkan jabatannya sebagai Lid van het College van Geldelegeerden, dan dengan demikian kami dapat kembali kekota yang lebih besar.

Setelah kami berpamitan kepada pak Camat dan pak Lurah Pengalengan yang telah banyak menolong kami, berangkatlah kami sebenarnya dengan tujuan ke Jakarta. Kami mampir juga di kota Surakarta dimana ada dua saudara saya, dan kami mengambil keputusan untuk tinggal beberapa hari di kota ini. Namun setahun kemudian baru kami meneruskan perjalanan ke Jakarta, setelah anak – anak sudah memasuki Sekolah Dasar Europeesche Lagere School setahun di kota itu.

Kembali di Batavia

Dalam tahun 1932 kami berada di kota Jakarta dimana anak kedua kami dilahirkan. Dengan kedua keluarga kawan – kawan terdekat yaitu keluarga Moh. Thamrin dan Soetardjo Hadikusumo kami bergaul kembali seperti sediakala.

Resepsi peresmian V.I.A.

Resepsi peresmian VIA di Hotel des Indes
Resepsi peresmian VIA di Hotel des Indes beserta isteri.
Kedatangan Presiden Filipina; depan kiri adalah M Hoesni Thamrin
Kedatangan Presiden Filipina; depan kiri adalah M Hoesni Thamrin

V.I.A mulai mencari hubungan dengan tokoh-tokoh di luar negeri. Maka diundanglah Presiden Quezon, yakni presiden yang pertama kali di undang ke Indonesia, yakni presiden dari negara tetangga kami Filipina Beliau menerima undangan ini dan beliau menjadi tamu agung anggauta – anggauta perkumpulan ini. The First Lady dari negara ini diundang pula oleh suatu panitia terdiri dari ibu – ibu bangsa Indonesia yang mana juga dipenuhi oleh beliau. Beliaupun diundang dalam suatu restaurant besar dan kepadanya diperlihatkan pelbagai tari-tarian dari beberapa daerah negara kita.

Semua kegiatan internasional ini tidak disukai oleh pihak penjajah. Dan penjajahpun tak berhenti sebelum berupaya dengan pelbagai akal-bulus membungkamkan dan mematikan pengaruh dan suara Ratulangie. Senjata akhirnya didapat oleh Belanda.

Dalam suatu reisdeclaratie yang yang dibuat oleh seorang pegawai dari bagian administrasi yang dipekerjakan pada Volksraad terdapat satu kekeliruan perhitungan dengan perbedaan dari f.100,- (seratus Gulden). Tanpa memeriksanya dengan teliti oleh suami saya ditandatangani deklarasi ini. Hal ini digunakan oleh Belanda sebagai alasan untuk menuduh Ratulangie melaksanakan penggelapan dan membawanya kepengadilan. Tindakan ini oleh seluruh masyarakat Indonesia dirasakan sebagai suatu hal yang dicari-cari oleh penjajah.

Pada suatu hari saya mohon izin suami saya untuk bertemu dengan pengacaranya di Bandung. Sewaktu saya menemui pengacara ini, ia baru kembali dari Jakarta, dan ia ceritakan kepada saya bahwa Ratulangie akan dihukum penjara selama empat bulan dan selama tiga tahun tidak diperbolehkan jadi anggauta Volksraad. Pada saat itu kita sudah pindah ke Sukabumi. Sekembali saya di Sukabumi saya ceritakan apa yang saya dengar dari seorang pengacara Belanda. Yang mengherankan adalah bahwa sebelum perkara ini diperiksa dan disidangkan, oleh pengadilan vonisnya sudah dijatuhkan. Saya menentramkan suami saya dengan ucapan- ucapan : soal ini saya pribadi tidak merasakan sebagai penghinaan dan segala- galanya ini kita akan dapat diatasi.

Keesokan harinya saya lanjutkan perjalanan saya ke Jakarta untuk menemui Mr. Spit, Lid van Raad van Indie. Beliau adalah seorang tokoh pihak Belanda, yang sering bertemu dengan suami saya dan saudara M. H. Thamrin untuk mengobrol di ruang Volksraad. Dari sebuah pesawat tilpun umum saya menilponnya dan mengatakan bahwa saya sangat ingin berbicara sejenak dengannya. Pada waktu yang telah ia tetapkan datanglah saya dirumahnya.

Setelah saya mengambil tempat dikursi saya ceritakan apa yang saya baru dengar dan bahwa kami akan mengambil pengacara dan tidak menunggu saja kami menunjuk seorang pengacara negeri yang sangat lihai. Ia kelihatan terkejut tetapi membentak saya dengan pelbagai perkataan-perkataan.

Jawaban saya kepadanya berbunyi :”Tuan Spit, ini adalah hak kami dan kami akan melihat dikemudian hari.”, dengan jawaban ini saya bangkit dari kursi, meminta diri dan meninggalkan rumahnya. Saya kembali ke Sukabumi dan menceritakannya kepada suami saya, siapa yang telah saya temui dan apa yang telah saya katakan kepadanya. Kami hanya menunggu kejadian-kejadian yang akan datang… . Pada saat itu suami saya sudah mulai mengarang bukunya berjudul “Indonesia in den Pacific”.

Mengenai jalannya sidang ini dan jalannya persoalan ini saya persilahkan membaca riwayat hidup suami saya yang diterbitkan oleh Dewan Pers di Departemen Penerangan. Vonis yang diputuskan sesuai dengan apa yang telah saya dengar. Suami saya menjalankan hukuman penjara di Sukabumi tetapi naskah bukunya sudah selesai dan saya hanya perlu mencari sebuah percetakan.

Saya beserta anak – anak saya mondok di Bandung di rumah abang saya. Percetakan yang bersedia mencetak buku suami saya, saya temui dan bersama seorang kawan yang setia Dr. P. L. Augustin yang selain itu menolong putri kami yang tertua dan yang bungsu, saya mengkoreksi buku “Indonesia in den Pacific, Indonesia in den Branding”.

Tepat pada saat suami saya keluar dari penjara, bukunya dapat terbit dan dikeluarkan dari percetakan dan mulai dijual dengan harga f 2.50 sejilid. Pada tanggal 1 Desember 1937 dummynummer dari majalah berbahasa Belanda yang suami saya terbitkan: Nationale Commentaren (NC), mulai melihat cahaya matahari.

Mulai tanggal 1 Januari 1938 NC yang hanya dikerjakan oleh kami berdua mulai diterbitkan teratur setiap minggu. Sebulan kemudian putri ketiga kami dilahirkan di kota Bandung, dalam suasana hangat kesibukan. Sebagai akibat dari bacaan-bacaan yang didalam majalah ini, pembaca meningkatkan rasa ke-Indonesia-an nya sekaligus meningkatkan rasa sadar diri.

Bangsa kita yang oleh si penjajah tiap – tiap kali dimaki – maki dengan sebutan – sebutan “Stomme Inlander” membaca di NC bahwa diantara si penjajah juga ada “Stomme Hollansche Inlanders”. Dengan demikian maka NC mulai mempunyai pengaruh dalam kalangan bangsa kita, beredar kepelosok tanah air dan jumlah langganan yang semakin menanjak.

Majalah ini baru dihentikan penerbitannya pada waktu Jepang telah menguasai seluruh tanah air kita dan pemerintah Hindia Belanda melarikan diri terbirit – birit sedangkan bangsa kita harus menunggu nasibnya sendiri.

ZAMAN PENDUDUKAN JEPANG

Pemerintah Hindia Belanda mempunyai tentara terdiri atas serdadu bangsa kita: KNIL. Karena penjajah berniat mengirim serdadu – serdadu ini keseluruh Indonesia untuk membela kepentingan penjajah, maka isteri dan keluarga mereka di tampung di Tanjung Oost dan Tanjung West, yang terletak di selatan kota Jakarta. Waktu tentara Jepang mendarat, dan suasana menjadi panik penuh frustasi orang – orang mulai keluar dan merampok harta benda siapa saja. Di kamp – kamp Tanjung Oost dan West, wanita – wanita ini dirampok dan mereka lari ke Jakarta, kerumah kami dan memohon bantuan dan pertolongan suami saya. Halaman rumah kami dibanjiri wanita – wanita kebanyakan sambil menggendong atau mendukung anaknya yang sedang menangis karena kehausan dan kelaparan.

Suami saya tidak dapat berbuat apa selain menemui pimpinan tentara Jepang di Jakarta untuk melaporkan kejadian ini. Berkatalah ia : “Saya melaporkan sesuatu hal kepada tuan – tuan : Pemerintah Belanda telah menampung para isteri dari serdadu – serdadunya yang berkebangsaan Indonesia di beberapa tempat di Indonesia. Setelah tentara Jepang mendarat mereka dirampok dan melarikan diri kerumah saya dan ratusan manusia memenuhi pekarangangan saya. Tuan-Tuan dapat memrbuat dua hal : Pertama: Tuan-Tuan dapat menyuruh mereka berdiri di depan Tuan-Tuan dan menembak mereka dengan satu atau dua buah mitralyir serentak Tuan-Tuan memusnahkan jiwa mereka, atau Tuan-Tuan dapat memberi mereka makan. Pimpinan tentara Jepang walaupun dalam keadaan perang saraf yang ke dua, memutuskan untuk memberi mereka 2 (?) gram beras seorang dan 20 sen untuk lauk pauk per hari.

Para Ibu-ibu menari “tarian Jepang” di Tanjung Oost

Di Tandjoeng Oost Ibu2 menari
Di Tandjoeng Oost Ibu2 menari “Jepang”

Hal ini kami terima dengan hati dan tangan terbuka. Semua korban – korban ini kami suruh kembali ketempat masing – masing, dua buah panitia dengan pembantu-pembantunya dibentuk dan mulailah kami bekerja sekuat tenaga kami. Karena terdapat pula banyak anak – anak yang harus disekolahkan, maka kami di kedua kamp itu membuka dua Sekolah Dasar komplit dengan guru – gurunya dan diterima pula anak – anak dari luar kamp. Dimana-mana dibuka kamp-kamp seperti itu dengan pemimpin-pemimpinnya dari suku-suku lain.

Seluruh anak2 sekolah, guru2 dan pengawas.
Seluruh anak2 sekolah, guru2 dan pengawas.

PINDAH KE MAKASAR

Pada tahun 1944 pemerintah Jepang memindahkan suami saya beserta keluarga ke Makassar untuk membantu penguasa armada laut Jepang yang menguasai seluruh pulau Sulawesi dan bagian timur Indonesia. Tak lama setelah tentara sekutu melepaskan bom atom di beberapa tempat di Jepang, Hiroshima dan Nagasaki, ternyata TENNO HEIKA menyerah tanpa syarat, Maka tentara sekutu hendak menguasai wilayah kita ini.

Di Makassar berdatanganlah tentara berbangsa Australia dan dibuntuti oleh orang – orang NICA, kembali hendak menguasai kita lagi.

Revolusi berkobar dimana-mana seperti kita semua ketahui. Di wilayah Sulawesi dimana suami saya oleh pemerintah Repunlik Indonesia diangkat menjadi Gubernur Sulawesi pertama, revolusi bergolak pula dan karena anak-anak Sulawesi bukan serdadu-serdadu dan tidak mempunyai senjata modern ia tidak dapat memproklamasikan secara terbuka kemerdekaan kita mengingat konsekwensinya bahwa pertempuran seluruh Sulawesi Selatan akan berkobar, dan ia memilih jalan perundingan walaupun kita semua ketahui, bahwa kita menghendaki kemerdekaan 100 %.

Para romusha mulai dikembalikan tanpa diberi makanan dan lain sebagainya. Kami membentuk satu panitia untuk mengatasi siatuasi ini. Perkumpulan wanita kami ini kami namakan “PERKUMPULAN PENOLONG SOSIAL”, dan karena kami tidak mempunyai uang maka pada tanggal 21 April 1946, hari lahir Ibu Kartini, kita peringati dengan mengadakan sebuah pameran dan bazaar yang membawa juga uang Nica sekedar untuk keperluan dapur umum yang kami sediakan untuk bekas romusha maupun penganggur lain yang makin hari makin meningkat.

Pada waktu itu keadaan Makassar makin hari makin gawat. Disana sini terjadi bentrokan – bentrokan, misalnya serdadu – serdadu NICA menembak orang – orang yang memakai lambang Merah Putih. Mereka datang ke suami saya untuk memberi laporan mengenai kejadian-kejadian seperti itu dan mereka harus ditenteramkan. Suasana demikian tak tertahan lagi oleh saya dan saya anjurkan suami saya untuk berlibur beberapa hari diluar kota Makassar. Kami berangkat ke Bone atau Watampone untuk beristirahat sejenak, tetapi juga dalam kota di pedalaman itu terasa suasana tegang.

Pada suatu malam terjadi suatu pembunuhan yang berlangsung boleh dikata dimuka hidung polisi sendiri, dibawah lampu yang besar dimuka satu gedung bioskop, dimana beberapa orang pemerintah dan orang – orang Australia dan NICA sedang asyik menonton film. Yang menjadi korban ialah seorang sopir yang pada pagi hari itu mengantarkan tamu NICA itu ke Bone. Dalam alam pikiran musuh kejadian ini dihubungkan dengan kehadiran kami di kota itu. Pada keesokan harinya suami saya dikembalikan ke Makassar dan juga kami menyusul.

DITANGKAP DAN DIBUANG

Sebagai hadiah natal tahun 1945, suami saya dan enam orang pembantu -pembantunya diangkat oleh polisi untuk kesekian kalinya dijebloskan dalam penjara. Dalam satu sel yang sempit ketujuh bapak – bapak ini yang terdiri atas Dr. Ratulangie, Bapak-Bapak Lanto Daeng Pasewang, Intje Saleh Daeng Tompo, Latumahina, Soewarno, P. L. Tobing, dan W. S. T. Pondaag beberapa bulan harus menginap di hotel Prodeo di Makassar sedang si penjajah harus memutar otak untuk mencari jalan untuk menyingkirkan mereka sejauh mungkin.

Pada suatu hari saya diundang datang ke kantor seorang Auditeur Militair (Jaksa Tentara) Belanda. Kepada saya ia katakan bahwa kami segera dapat dipersatukan dengan suami kami. Kami akan diantar kesuatu tempat dimana kami dapat bergerak bebas, tetapi kemana kami akan dibawa tidak ia sebutkan. Kami diperkenankan membawa kasur dan kelambu dan pembantu dan anak – anak dapat turut pula. Pada suatu saat lain disebutkan bahwa tempat itu terletak 17 jam dengan kapal terbang dari Makassar.

Sekembali dirumah saya mengambil sebuah peta dari lemaribuku dan sebuah mistar dan mengukur dimana mungkin kami akan ditempatkan. Salah satu tempat ialah Irian Barat dan sudah tentu ini tujuan si penjajah dan tempat yang mereka sediakan untuk kita ialah Boven Digoel. Tiada lain yang dapat kami buat selain menyerahkan diri kita kedalam tangan Tuhan Yang Maha Esa dan dengan sabar dan ketenangan hati menunggu nasib kami.

Pada suatu hari kami diberitahu oleh Auditeur Militair agar bersiap – siap untuk diberangkatkan ketempat yang direncanakan itu. Tetapi yang agak menenangkan hati saya adalah bahwa kami akan diperlakukan “naar rang en stand”, sesuai dengan kedudukan dan derajat kami.

Kami menunggu dan hari keberangkatan kami tiba juga. Tiga keluarga dari Sulawesi Selatan, keluarga Ratulangie, L. Daeng Pasewang dan Saleh Daeng Tompo yang oleh si penjajah dianggap paling berbahaya bagi Belanda, harus ditampung dulu dirumah kami dan bersama – sama kami akan diberangkatkan menuju tempat pembuangan kami.

NYANYIAN “INDONESIA RAYA” DARI DALAM PENJARA

Pada suatu hari pagi – pagi buta kami dijemput oleh beberapa mobil dan truk dibawa ke penjara dimana para suami kami akan dipersatukan dengan keluarga masing – masing. Kami menunggu dimuka penjara. Sekonyong-konyong kami mendengar lagu kebangsaan kita Indonesia Raya berkumandang diangkasa oleh ratusan tahanan politik yang berada dalam penjara. Suasana haru ini membuat bulu roma kami berdiri sejenak. Nyanyian kesayangan kita ini datang dari ribuan pemuda yang oleh si penjajah dalam tindakan membabi buta telah dijebloskan ketempat itu. Lagu ini dinyanyikan sebagai ucapan selamat jalan kepada pemimpin – pemimpin yang mereka cintai.

Menurut cerita seorang yang menyaksikan kejadian ini, setelah pintu sel dibuka ribuan pemuda berdiri berderet – deret di muka jendela berterali itu dengan air mata berlinang – linang menyanyikan lagu kebangsaan kita. Setelah para Bapak dari dalam penjara dinaikkan kedalam truk bersama kami maka bergeraklah iringan ini kearah pantai.

Sesampai ditepi laut kami melihat sebuah pesawat “Catalina” menantikan kedatangan kami. Sebuah motorboat telah siap mengantar kami ke kapal terbang. Dalam kami turun ke motorboot itu bagi saya tidak ada kesempatan memikir nasib kami pada keesokan harinya.

Semalam sebelum kita berangkat, 1 rantang telah saya penuhi dengan makanan dan beberapa botol air minum karena betul juga sangkaan saya tidak disediakan apa-apa untuk orang-orang yang harus dibuang.

Pada waktu hampir malam saya merasa pesawat menurun. Saya menoleh keluar melalui jendela, dari sana saya melihat rumah – rumah diatas air laut. Catalina sudah mendarat diatas air. Perahu-perahu dengan pengemudi wajah-wajah hitam dan berambut hitam keriting mendekati pesawat itu tak lama kami merasa tanah dibawah telapak kaki kami.

Kel. Ratulangie dan Bapak2 buangan lainnya tibu di Serui
Kel. Ratulangie dan Bapak2 buangan lainnya tibu di Serui

Keterangan:  Gambar oleh pelukis (…)berdasarkan keterangan penduduk Serui yang masih ada mengenai tibanya para “buangan” NICA di Serui. Menurut penduduk kami dikatakan adalah “OKNUM2 YANG BERBAHAYA”

Kami berjalan di satu kota kecil diantar menuju rumah HPB (Hoofd van Plaatselijk Bestuur) dan sesampainya disitu kami harus tinggal sejenak untuk mendengarkan nasehat-nasehat dari seorang Belanda yang masih muda yang mungkin mengira ia sedang bercakap-cakap dengan kawan-kawan sekuliahnya.

Rumah HPB Hoofd Plaatselijk Bestuur
Rumah HPB Hoofd Plaatselijk Bestuur

Sumber foto: KITLV

Beberapa hari kami tinggal bersama-sama kemudian tiap-tiap keluarga mendapat rumah, perabot rumah dari kayu yang ukurannya sangat besar……………….

MASA PEMBUANGAN

Pandangan kearah laut dari Serui
Pandangan kearah laut dari Serui dan Pulau MAWAMPI

Akhirnya kami mengetahui bahwa kami berada di kota Serui, terletak di pulau Yapen di teluk Geelvink di Nieuw Guinea (kemudian Irian Jaya). Kemudian kami diceriterakan bahwa sebelum kami tiba di Serui, HPB telah mengeluarkan pernyataan bahwa di kota ini akan datang tujuh oknum berbahaya. Penduduk tidak diperbolehkan bergaul dengan mereka, dan bagi pegawai – pegawai ini adalah satu larangan.

Tiap hari seorang dari Veld Politie dengan bedil dipunggung datang mengontrol kami. Ternyata bahwa antara anggauta Veld Politie ini banyak orang- orang yang berasal dari Sulawesi Utara, dan meskipun tidak mengenal kami pribadi, akan tetapi telah banyak juga dengar tentang kami. Dan kalau hari malam telah tiba maka diam-diam mereka muncul dari belakang dapur kadang-kadang dengan memegang sebuah baki ditutup dengan serbet putih yang menutupi sesuatu barang makanan, kuwe-kuwe atau buah-buahan. Pertolongan orang-orang ini sangat kami hargai.

Di kota ini dua kali seminggu diadakan pasar. Seorang mandor berbelanja untuk kami. Untuk tiga hari bagi sekeluarga yang terdiri atas lima orang kami menerima sepotong ikan kecil dan sebuntel besar daun kates ( daun papaya) yang sangat pahit. Ini adalah makanan kami untuk tiga hari. Semua ini sangat menjengkelkan saya dan pada suatu hari saya memohon suami saya untuk menghadap HPB.

Mula – mula ia menolak permintaan saya karena takut nanti si HPB., akan berlaku tidak sopan terhadap saya, namun akhirnya ia luluskan juga permintaan saya tetapi dengan didampingi oleh dua orang Bapak-bapak yang berbadan besar dan kekar. Pesan suami saya berbunyi : Bila HPB berani berlaku tidak sopan terhadap istri saya kamu harus bertindak.

Saya memulai percakapan saya dengan berkata: “Tuan mungkin tidak mengenal kami. Dapat dikatakan umur Tuan seumur anak kami. Auditeur Militair di Makassar telah menjanjikan kepada saya bahwa kami akan mendapat perlakuan “naar rang en stand”. “Apakah tuan mengira kami kambing yang mau makan daun kates sebanyak itu ?”. Ia berpikir sejenak lalu berkata bahwa untuk tiap – tiap anggauta keluarga ia akan mengeluarkan sebulan f. 50,-. Disamping itu kami akan menerima pembagian ransum seperti seorang pegawai.

Teluk Serui dengan satu pesawat Catalina
Teluk Serui dengan satu pesawat Catalina

Sumber foto: KITLV

Ternyata kemudian bahwa uang yang kami terima sebulan melebihi pengeluaran kami. Setiap tanggal 16 kami berkumpul untuk memperingati hari kami tiba di kota Serui ini. Penduduk yang haus akan kabar – kabar dari luar datang bertemu dengan Bapak-Bapak kami. Oleh Bapak-Bapak ini diberikan keterangan kepada mereka dan penerangan mengenai banyak hal. Ternyata orang-orang ini haus akan pendidikan dan pengetahuan ?

Sam Ratu Langie memberi penjelasan2
Sam Ratu Langie memberi penjelasan2

Keterangan: Ada Oom Silas Papare digambar juga

 

Sam Ratulangie sekeluarga bersama keluarga2 lain bercocok tanam
Sam Ratulangie sekeluarga bersama keluarga2 lain bercocok tanam

Keterangan: Untuk memberikan contoh kepada penduduk dan menghilangkan rasa rindu ke Makassar yang sedang bergolak

Kami berada di kota ini selama dua tahun dua bulan. Pada bulan Maret 1943, kami terima sebuah kawat mengenai kepulangan kami kedunia bebas dan merdeka. Bapak-Bapak akan diberangkatkan dengan pesawat terbang ke Surabaya, lalu melalui garis demarkasi akan langsung ke Yogyakarta. Sedangkan kami keluarga- keluarga mereka akan menyusul dengan kapal laut. Dalam perjalanan dengan kapal laut ini kami mendapat pelayanan yang sangat baik dari pimpinan sampai ke pelayan -pelayan yang sangat ramah, mermbuat perjalanan itu sangat menyenangkan.

MENUJU KEBEBASAN

Dari kapal ini waktu kami berada di lautan antara Ambon dan Makassar saya kirim permohonan kepada Leutenant Generaal Dr. van Mook, juga atas nama para istri Bapak-Bapak yang lain untuk mengizinkan kami singgah untuk beberapa waktu di kota Makassar untuk mengurus barang-barang kami yang waktu kami diberangkatkan ke pembuangan dengan tergesa-gesa kami tinggalkan begitu saja di Makassar ini.

Sesampai di kota Makassar dan kapal telah berlabuh, namun kami tidak diperbolehkan turun dari kapal oleh pemerintah NIT (Negara Indonesia Timur) dimana pada waktu itu yang menjadi presiden adalah Tjokorde Sukowati. Kami diharuskan menunggu keberangkatan ke Jakarta diatas kapal itu. Hal ini sudah tentu bertentangan dengan peraturan – peraturan dari kapal itu. Jikalau ini tak mungkin maka kami diharuskan tunggu saja disalah satu gudang hal mana sudah tentu kami protes.

Datanglah kawan-kawan lama kami : Bapak dan Ibu Saelan. Dari atas kapal saya memberitahukan kepada mereka bahwa kami tidak diperbolehkan turun ke darat. Bapak Saelan langsung menuju ke kantor Gubernur dimana ia mengeluarkan protes keras terhadap tindakan ini.

Ia menuntut agar kami diberi izin untuk turun atas tanggung jawab beliau sendiri. Ia kembali kekapal memberitahukan hal ini kepada kami, dan kami harus menandatangani suatu pernyataan yang antara lain berbunyi : Kami tidak diperbolehkan menyelenggarakan atau mengikuti rapat. Kami tidak boleh menyelenggarakan demonstrasi atau sejenisnya.

Hal-hal ini sudah tentu dengan senang hati kami tanda tangani. Saya dan anak bungsu saya menginap di rumah keluarga Saelan, keluarga yang telah lama kami kenal dan dari situ saya mengurus alat-alat rumah tangga kami yang saya tinggalkan begitu saja kepada beberapa keluarga. Saya mengumpulkan dan mengangkut barang-barang kami, dengan kendaraan truk, beca, dan sebagainya ke beberapa ruangan dari perkumpulan orang-orang Minahasa untuk menyimpan barang-barang kami. Saya sendiri mengangkat barang – barang ini dan membawa ke gedung Societeit dimana akan diadakan pelelangan dari barang – barang kami.

Ternyata bahwa tidak ada seorang kecuali keluarga Saelan yang berani mendekati kami. Barang-barang dilelang dengan hasil yang memuaskan. Sekarang kami mempunyai uang NICA yang sudah beredar di Indonesia. Hasil ini kami bawa dan menumpang satu kapal besar dari Java China Japan Lijn untuk meneruskan perjalanan kami ke Jakarta.

KELUARGA KAMI BERSATU KEMBALI

Sesampai di Tanjung Priok

Ketujuh keluarga yang diasingkan NICA kembali
Ketujuh keluarga yang diasingkan NICA kembali paling ujung kanan adala Lani Ratulangi

Di Tanjung Priok kami dijemput oleh suami saya dan tiga orang putri kami. Kebetulan suami saya berada di Jakarta karena beliau adalah anggauta delegasi Republik Indonesia, dalam perundingan-perundingan dengan Belanda.

Kami tak diperbolehkan tinggal di Jakarta terlalu lama dan harus meneruskan perjalanan ke Yogyakarta. Waktu kami tiba di Jogya tepat tanggal 17 Agustus 1948. Dari gedung-gedung dan rumah- rumah berkibar sang Merah Putih. Betapa lega hati saya berada dialam bebas yang merdeka ini, dimana dengan suara-suaran nyaring anak – anak dari kompleks dimana kami mondok menyanyikan lagu kebangsaan kita.

Ternyata kami sekeluarga akan dikirim oleh Republik Indonesia ke Pilipina untuk mencari hubungan dengan negara – negara tetangga itu. Kami hanya menunggu kesempatan pesawat terbang. Pada suatu hari kami mendengar suara kapal terbang diatas kepala saya. Saya menoleh keluar keatas dari kamar dan melihat sebuah kapal terbang melayang-layang diangkasa, saya belum lagi mengenal peasawat itu, sekonyong-konyong saya dengar suatu benda keras kira-kira 200 meter darimana saya berada jatuh ke tanah.

Nyatanya Belanda sudah mulai Aksi Kedua yang terkenal itu, semua orang menjadi panik dan tidak tahu apa yang hendak diperbuat, Semuanya kalang kabut, disana sini kami dengar letusan bom. Ada yang ingin menyingkir ketempat-tempat yang mereka perkirakan lebih aman. Suami saya menanyakan saya apa yang hendak kita perbuat.

Didalam hati saya, saya bersembahyang dan menyerahkan segala- galanya dalam tangan Tuhan. Kami tidak menyingkir, hanya diatas meja makan, kami tumpukkan sebanyak mungkin kasur – kasur. Bila kita dengar bunyian seperti air jatuh, atau air terjun, maka kami harus mencari perlindungan dibawah meja. Karena bunyi demikian menandakan adanya bom yang mendekati kami. Pintu dan jendela diseluruh rumah kami sudah tutup semua. Dengan sabar kami menunggu kejadian-kejadian selanjutnya.

Kira-kira jam 11 siang kami mendengar suara sepatu dan aba-aba dalam bahasa Belanda yang ditujukan kepada serdadu-serdadu mereka. Belanda telah menduduki ibu kota kita, dan dengan tenang kita menunggu apa yang akan terjadi atas diri kita. Pada suatu malam, kira-kira jam tujuh, anjing menggonggong dan selanjutnya terdengar suara memaki anjing itu dalam bahasa Belanda, pintu dibuka oleh seorang militer Belanda.

DITANGKAP LAGI

Ia memasuki ruang makan kami dan menanyakan dimana Dr. Ratulangie berada. Itulah saatnya bahwa suami saya, untuk kesekian kalinya, dibawa oleh Belanda. Untungnya kali ini tidak kepenjara, tetapi ke istana presiden dimana telah terkumpul juga kawan-kawan lain.

Setelah beberapa hari sebagian dari mereka dibawa ke Jakarta dan ditempatkan disuatu gedung di Jalan Prapatan. Presiden Soekarno, Bung Hatta dan beberapa anggauta – anggauta lain dari pemerintah Republik Indonesia, dibawa langsung ke Bangka. Bersama suami saya yang ada di tahanan Jalab Prapatan, diantaranya Bapak-bapak Setia Budi (atau Dr. Douwes Dekker), Adam Malik, Gondokusumo, Moh. Nasir. Mereka semua sedang menunggu nasib mereka yang berada di tangan penjajah Belanda.

Dengan mendekatinya tanggal 21 April 1949 maka kaum “Republikein” (para pendukung Republik Indonesia) diantaranya Ibu Erna Djajadiningrat, yang telah menampung ibu-ibu janda-janda yang ia beri pekerjaan untuk mencari nafkah, bermaksud memperingati hari kelahiran Ibu Kartini. Mereka meminta saya untuk memimpin perayaan itu. Saya menanyakan mereka mengapa justru saya. Jawaban ibu-ibu ialah karena pada tahun 1946 di Makassar kami telah memperingati untuk pertama kali sejak perang dunia kedua dan pendudukan Jepang Hari kelahiran Ibu Kartini, Pahlawan Nasional.

Saya menerima permintaan ibu-ibu ini. Pada suatu rapat, dimana kami membuat rencana acara dari perayaan itu disetujui bahwa akan diadakan resepsi di lokasi tempat renang Cikini yang sejak beberapa tahun tidak dipakai lagi yang disusul dengan suatu bazaar. Disamping itu akan diadakan pertunjukan di Gedung Komedi di Pasar Baru dan pelbagai acara lain.

Untuk penyelenggaran tersebut kami memerlukan izin. Beberapa ibu diutus untuk menemui Wali Kota yang pada waktu itu seorang berkebangsaan Belanda. Ternyata kami diperbolehkan memperingati dan merayakan hari lahirnya ibu Karini ini tetapi dengan syarat bahwa :

1. Kami tidak diperbolehkan menyanyikan lagu kebangsaan kita Indonesia Raya

2. Tidak diperbolehkan adanya kombinasi merah dan putih dalam satu karangan bunga, atau dekorasi apapun juga.

Bila larangan ini tidak diindahkan semua acara akan dihentikan dan akan dibubarkan. Sudah tentu kami terpaksa memegang teguh pada syarat-syarat ini. Perayaan peringatan ini berjalan lancar dan meriah. Pertunjukan di gedung komedi dimana diperlihatkan tari-tarian dari seluruh Indonesia mendapat sambutan yang sangat besar sehingga kami diminta untuk mengulangi pertunjukan ini untuk kedua kalinya.

KESEHATAN SUAMI SAYA SEMAKIN MENURUN

Karena kesehatan suami saya dalam tahanan Perapatan mulai terganggu, bahkan beliau mendapat suatu serangan jantung, maka ia diperbolehkan pulang dan dirawat dirumah. Dengan demikian beliau masih sempat menghadiri perayaan hari lahirnya Ibu Kartini.

Bila saya menanyakan kepadanya apakah kami masih akan mendapatkan kemerdekaan kita, maka senantiasa jawabannya berbunyi : “Tentu kita akan merdeka akan tetapi mungkin saya tak akan dapat menikmati hasil perjuangan kita.” Demikianlah yang telah dikatakannya kepada kami dan telah ditakdirkan oleh Tuhan Yang Maha Esa bahwa pada tanggal 30 Juni 1949 ia meninggalkan tidak hanya keluarganya tetapi juga bangsa dan negara yang sangat ia cintai untuk selamanya.

Jenazah Sam Ratu Langie di Tondano
Jenazah Sam Ratu Langie di Tondano

Harry Kawilarang mengenai SAM RATULANGIE (1999)

Keterangan pendahuluan: Pada 26 Juli 1999 di Pineleng Minahasa diselenggarakan “SARASEHAN KELUARGA”  dalam rangka memperingati 50 tahun wafatnya SAM RATU LANGIE. Salah seorang diantara para pemrasaran adalah Bapak Harry Kawilarang, dan berikut naskah yang disampaikan.

Tabea, atas permintaan tamang-tamang, kita diminta untuk lebih menyebar-luaskan artikel ini yang katanya sangat berguna voor torang samua.
Tulisan ini kita ada sampaikan di seminar Memperingati 50 Tahun Wafatnya Dr.GSSJ Ratulangie pada 27 Juni 1999. Tetapi masih cukup relevan untuk diketahui. Selamat babaca.
Harry Kawilarang

Harry Kawilarang (1999)

Harry Kawilarang (1999)

SAM RATULANGIE DI MATA WARTAWAN
Oleh : Harry Kawilarang

De kracht van de Indonesische (pers) ligt in de bewustheid, dat men het op den duur moet winnen, zooals men nu reed voet voor voet terrein heft gewonnen. De ontwikkelingslijn van de Indonesische pers toont een voortdurende opgaande tendenz.

Er kan eens een blaadje over den kop gaan, maar de Indonesische pers in zijn geheel neemt in omvang steeds toe. De qualiteit toont een voortdurende perfectie, en wat belangrijkste is, de zelfstandige meening-vorming accentueert zich met den dag. – GSSJ Ratulangie

Istilah publisis pada buku kamus, Random House Unabridged Dictionary mengandung tiga pengertian. Yang pertama, konsultan penerbit media pers atau hubungan masyarakat ; yang kedua, ahli pengamat kemasyarakatan atau politik; dan yang ketiga ahli memahami masalah masyarakat ataupun masalah internasional.

Istilah ini memang tidak pernah terdengar, apalagi sebagai gelar. Tetapi menjadi obrolan kami dengan Profesor S. I. Puradisastera di bulan Juni 1985 ketika membahas isi buku Dr. GSSJ Ratulangie, “Indonesia in den Pacific”, yang diterjemahkannya dari bahasa Belanda ke bahasa Indonesia. “Saya kagum pada Ratulangie. Sebenarnya ia patut memperoleh gelar publisis ulung yang pernah dimiliki bangsa Indonesia”, ujar ilmuwan sejarah ini. Puradisastra mendefinisikan publisis sebagai jurnalis yang sudah memperoleh tingkat kesempurnaan dalam dunia jurnalistik yang tersimpul pada buku karya Oom Sam Ratulangie.

Penyajian analitis faktual dan kontekstual yang dilakukannya biasanya dilengkapi referensi nara sumber untuk memahami latar belakang permasalahan. Pembaca digiringnya menatap ke arah masa depan (futurologi). Penyajian cukup singkat. Namun bila diuraikan lebih mendalam, maka tulisannya akan menjadi buku tebal hingga terungkap posisi letak geo-strategis Indonesia dalam percaturan politik, ekonomi dan keamanan dunia.
Seorang penulis tak terlepas dari proses gemar menulis dan membaca mengikuti setiap situasi perkembangan menjadi syarat mutlah seorang wartawan untuk meningkat menjadi analis.

Proses ini dikembangkan Oom Sam ketika mendirikan dan mengelola mingguan politik, Nationale Commentaren. Oom Sam Ratulangie mengikuti, mempelajari dan menganalisa setiap perkembangan dan peristiwa dari Samudra Atlantik hingga Pasifik yang berdampak terhadap Indonesia.  Sebagai hasilnya, muncul karya buku tulisannya, Indonesia in den Pacific.
Pemikiran Oom Sam Ratulangie di tahun 1930-an mengenai Pasifik baru menjadi trend sekitar 50 tahun kemudian oleh kalangan praktisi negeri- negeri lain.

Misalnya saja, buku Megatrends Asia tulisan John  Naisbitt. The Rise and Fall of the Great Powers atau Preparing for the Twentieth Century karya Paul Kennedy, Peace and War : A Theory of international Relations karya Raymond Aaron, Complexity, Global Politics, and National Security tulisan Thomas J. Czerwinski dll. Kesemuanya ditulis tahun 1980’an, dan mereka semua menyadari prospek dan peranan Pasifik di dunia internasional pada abad XXI.  Dilihat dari riwayat perjalanan hidup Oom Sam Ratulangie, tidak ada bayangan bahwa ia memiliki kekuatan “pena” dengan kapasitas sebagai publisis, dan prestasi mengelola mingguan politik, Nationale Commentaren. Praktek sebagai sarjana matematika yang diraih di Zurich juga tidak menonjol. Oom Sam terkesan penuh percaya diri dalam melakukan kegiatan disesuaikan dengan tuntutan zaman, yakni memperjuangkan nasionalisme kemerdekaan berbangsa. Trend dunia di awal abad ke-20 diwarnai oleh demam kebangkitan Nasionalisme sebagai dampak dari kolonialisme memperluas wilayah di Asia dan Afrika bagi kepentingan roda industri akibat Revolusi Industri di Eropa dan Amerika Utara di pertengahan Abad ke 19. Nasionalisme diawali dengan penyatuan Jerman dengan Kanselir Otto von Bismarck tahun 1871 mengubah wajah dunia terbagi oleh petak-petak politik wilayah kedaulatan negara-bangsa (nation-state).
Kebangkitan nasionalisme di Eropa menjalar ke Asia terutama di kalangan pelajar pribumi yang mengikuti pendidikan di berbagai perguruan tinggi di Eropa awal abad ke-XX. Dengan pengetahuan yang diperoleh, mereka mengembangkan nasionalisme dengan mewujudkan nilai-nilai solidaritas kebersamaan di kalangan pelajar pribumi dan disatukan oleh nasionalisme sekuler yang saling berbagi rasa dan menyatu memperjuangkan kemerdekaan bagi penghuni nusantara. Dari solidaritas kebangkitan nasionalisme terbentuk
identitas nama sebagai legitimasi bangsa, yakni Indonesia.
J. Ingleson dalam tulisannya pada majalah Perhimpunan Indonesia, edisi keenam mengemukakan bahwa ide dari nama ini dikaitkan dengan sebutan indologi, fakultas ilmu – ilmu sosial jurusan Hindia-Belanda di Universitas Leiden, oleh pelajar pribumi yang belajar di negeri Belanda yang lahir di bulan November 1917. Sebutan itu berawal dari kelompok studi peminat masalah Hindia-Belanda (yang ketika diketuai oleh Humbertus J. van Mook). Kemudian berkembang menjadi organisasi pelajar dengan nama Perhimpunan Pelajar
Indonesia
(waktu itu Indonesich Verbond van Studeerenden). Istilah Indonesia sebagai nama suatu bangsa di Hindia-Timur (waktu itu) diresmikan pada Kongres PPI bulan April 1918 di Belanda. Sam Ratulangie turut memperkenalkan dan mengkampanyekan sebutan ini ketika mendirikan perusahaan Asuransi Indonesia pada tahun 1925 di Bandung. Sejak itupun nama Indonesia sebagai negeri kepulauan terbesar di dunia di kenal sebagai nama bangsa di dunia internasional.

Peranan Nationale Commentaren Memperjuangkan Kemerdekaan Mingguan Nationale Commentaren yang dikelola dan dipimpin oleh Oom Sam Ratulangie cukup populer dan menjadi bacaan utama bagi masyarakat cendikiawan pribumi di tahun 1930-an.

Terbitan perdana Nationale Commentaren muncul pada Desember 1937 saat rezim kolonial Hindia-Belanda (waktu itu) giat melakukan aksi represif terhadap barisan nasionalis kemerdekaan.Mingguan politik ini diterbitkan di Bandung dan beredar luas di Batavia (kini Jakarta) di dukung para pemuka intelektual, politisi dan praktisi nasionalis pribumi, seperti Muhammad Husni Thamrin, Wiwoho Poerbohadidjojo, Dr. Philip Laoh, Dr. Soeratmo, Soetardjo Kartohadikoesoemo dll., dan beredar diberbagai kota di nusantara. Sasaran utama dari Nationale Commentaren untuk melepaskan pribumi dari rasa “minder” dari tekanan supremasi “Pax Neerlandica” kolonialisme rezim Hindia Belanda di Indonesia.
Penyajian analisis dalam persepsi politik “pribumi” yang diekspresikan pada Nationale Commentaren berbahasa Belanda, di sajikan dengan pola jurnalistik modern. Bentuk format dnegan rancangan design selera gaya majalah dengan rancangan design  selera gaya majalah serius Eropa berpenampilan prestisius berhasil mengimbangi bahkan berkompetisi dengan media-media bahasa Belanda seperti: Java Bode, Locomotief, Niewsgier, dll.  Daya tarik dari isi Nationale Commentaren adalah pembahasannya terhadap berbagai peristiwa internasional dalam persepsi pribumi yang berdampak terhadap kehidupan masyarakat kepulauan Zamrut Khatulistiwa. Tulisan-tulisan dalam media ini berhasil meraih readership tidak hanya dari kalangan pejabat pemerintah (kolonial), tetapi juga politisi di negeri Belanda. Bahkan isyu yang dilontarkan media ini ditanggapi serius oleh kalangan pengulas dan praktisi Eropa dan menghiasi Nationale Commentaren. Hal ini terungkap pada buku, “H. J. van Mook and Indonesian Independence,” tulisan Yong Mun Cheong, ilmuwan Singapura. Banyak dari pemikiran Oom Sam Ratulangie tentang masa depan Indonesia di ikuti Hubertus “Harry” Johannes van Mook, yang ketika itu menjabat Letnan Gubernur pemerintahan Hindia Belanda pada 1930-an, mengikuti peristiwa dan perkembangan dunia yang berdampak terhadap Indonesia melalui analisa mingguan Nationale Commentaren. Sumbangan tulisan ilmuwan dan praktisi dari Eropa pada Nationale Commentaren turut menyemarakkan proses transformasi pengetahuan dan pendidikan bagi kemajuan kalangan intelektual dan praktisi pribumi.   Ulasan Nationale Commentaren pada waktu itu sudah menyentuh perkembangan dunia internasional dan memperingatkan ancaman Perang Dunia II akan terjadi dan bakal melanda Pasifik.

Tetapi persepsi pribumi di abaikan oleh arogansi supremasi kulit putih. Pada akhirnya arogansi itu harus dibayar mahal, hingga Belanda harus angkat kaki di Hindia Belanda oleh dorongan kebangkitan nasionalisme Asia sejak 1940-an yang di ikuti pula dengan Deklarasi “Four Freedoms” oleh Presiden Franklin D. Roosevelt, yang memperjuangkan penghapusan kolonialisme di muka bumi (yang menjadi dasar PBB), hingga tidak mungkin dapat dihadang.
Nationale Commentarenn berfungsi meningkatkan pendidikan politik hak kemerdekaan dan menyadarkan ambtenaar pegawai negeri pribumi melepaskan diri dari tekanan supremasi kulit putih yang lama mendominasi pemerintahan kolonial. Masyarakat pribumi digiring berpikiran modern, intelektual dan berwawasan luas memperjuangkan azasi persamaan hak. Juga menjadi medium konsolidasi membangkitkan nasionalisme dikalangan cendikiawan memperjuangkan nasionalisme itu –khususnya “cubitan” pada kolom catatan pinggir (block-notes) di halaman depan yang sangat menggigit pihak rezim (kolonial)– membuat media ini menjadi sorotan tajam badan sensor pemerintah kolonial. Tetapi Nationale Commentaren dapat berkelit dengan menggunakan kekuatan argumentasi intelektual hingga berhasil menangkal berbagai tuduhan
pemerintah kolonial hingga terhindar dari pembreidelan.  Nationale Commentaren turut memperkaya khazanah jurnalistik dan membangkitkan media-media pribumi yang menggunakan bahasa Indonesia dan meningkatkan mutu jurnalistik serta memasyarakatkan budaya membaca bagipenduduk pribumi. Juga membantu memotivasi media – media pribumi seperti: Pemandangan, Bintang – Timur, Warta Celebes, Sin Po, Pewarta Deli dll., lebih banyak melayani penduduk desa dan daerah luar kota.  Mulanya media – media pribumi bahasa Indonesia tidak populer di kota-kota besar, dan banyak di antara kalangan cendikiawan dan “ambtenaar” pribumi di berbagai departemen ataupun cendikiawan pribumi diperguruan tinggi yang hanya menguasai bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar akademis, bahasa resmi ataupun bahasa pergaulan sehari-hari. Media media pribumi mempunyai peranan penting dalam meningkatkan proses kesadaran berpolitik bagi masyarakat luas pada tahun 1930-an. Juga tercipta solidaritas kerja sama antara Nationale Commentaren dengan media-media bahasa Indonesia yang saling membantu untuk meningkatkan jurnalistik modern, membentuk pendapat dan opini masyarakat pribumi.

Sumber – sumber berita dan perkembangan dunia yang diperoleh Nationale Commentaren ditransformasikan dan digunakan berbagai media pribumi bahasa Indonesia.
Tingkat pengetahuan jurnalistik dan mempromosi media pribumi bahasa Indonesia juga dikembangkan oleh Nationale Commentaren. Banyak diantara jurnalis yang mengelola media bahasa Indonesia seperti Parada Harahap, Mr.Sumanang, Djamaloedin (Adi Negoro), H.A.M.K. Amaroelah (HAMKA), Soeroto, M.Soetardjo, L. Datoek Toemanggoeng, M.M. Daroesman dll., menyumbangkan tulisan mereka dan dimuat oleh mingguan Nationale Commentaren, sekaligus mengangkat tingkat intelektualitas pribumi. Budaya menulis berkembang, terutama di kalangan cendikiawan pribumi dalam menyampaikan pandangan dan opini mengenai kebebasan intelektual.   Mingguan ini memprofilkan pemuka – pemuka nasionalis pada ruang “Makers der Geschiedenis van Indonesia” (para pelaku Sejarah Indonesia) ataupun “De leiders van Indonesia” (pemimpin-pemimpin Indonesia) menjadi daya tarik tidak hanya bagi masyarakat pribumi, tetapi juga kalangan ilmuwan sosial Eropa yang ingin mendalami masalah Indonesia.

Di lain pihak, sebagian besar wartawan “kulit putih” yang mengelola media-media bahasa Belanda tidak menguasai ataupun berbicara bahasa Indonesia. Pers bahasa Belanda tidak dapat memahami pandangan masyarakat pribumi.  Sebaliknya, banyak diantara pers pribumi menguasai selain bahasa Belanda, juga berbagai bahasa asing lainnya yang diperoleh dari pendidikan formal di masa pemerintahan kolonial Hindia – Belanda.  Faktor-faktor ini telah menempatkan posisi Nationale Commentaren sebagai penghubung antara masyarakat kota dengan masyarakat daerah melalui media dan wartawan pribumi. Pada Nationale Commentaren, edisi no. 7 terbitan 19 Februari 1938 Oom Sam Ratulangie mengemukakan :
“De kracht van de Indonesische (pers) light in de bewustheid, dat men het op den duur moet winnen, zooals men nu reeds voet voor voet terrein heft gewonnen. De ontwikkelingslijn van de Indonesische pers toont een
voortdurende opgaande tendenz. Er kan eens een blaadje over den kop gaan, maar de Indonesische pers in zijn geheel neemt in omvang steeds toe. De kwaliteit toont een voortdurende perfectie, en wat belangrijkste is, de zelfstandige meeningvorming accentueert zich men den dag”

(Kekuatan dari pers Indonesia erletak dalam kesadaran bahwa pada akhirnya pihaknya harus menang, seperti kenyataan bahwa sekarang ini, tahap demi tahap pers sudah memperoleh kemajuan. Garis perkembangan pers Indonesia menunjukkan tendensi naik terus.Memang, ada kalanya sebuah surat kabar (pribumi) gulung tikar, tetapi secara keseluruhan, pers Indonesia semakin besar. Mutunya menunjukkan kesempurnaan yang tetap, dan yang paling penting, pembentukan pendapat yang independen semakin tampak dengan jelas, dari hari ke hari)

Korban Vandalisme
Nationale Commentaren tutup usia pada 11 Maret 1942 akibat Perang Asia-Timur Raya dan Jawa diduduki oleh invasi militer Jepang yang sekaligus mengakhiri kolonialisme Hindia-Belanda. Peninggalan Sam Ratulangie mengembangkan pendidikan nasionalisme dan intelektualisme di masa pra kemerdekaan terkubur dan hanya berbau nostalgia. Pengabdian Oom Sam dalam dunia pers sekarang ini tidak menonjol hingga tidak banyak diketahui. Tidak banyak, terutama di kalangan generasi (yang lahir diatas 1940’an) mengetahui peran mingguan Nationale Commentaren membangkitkan pendidikan nasionalisme kemerdekaan di kalangan cendekiawan pribumi dan mengembangkan intelektualisme Indonesia antara 1937-1942. Pengabdian Oom Sam menumbuhkan masyarakat intelektual Indonesia melalui mingguan yang dipimpinnya hanya menjadi cerita lisan dari orang-orang tua yang hidup di masa itu. Tidak terlihat adanya usaha berbagai lembaga resmi dan yang berwenang untuk menggalinya hingga terkubur begitu saja. Banyak peristiwa penting yang turut menumbuhkan proses bangsa Indonesia tidak menghiasi sejarah terutama pers nasional hingga tidak diketahui generasi “Baby Boomer” (lahir diatas 1940-an). Yang di tonjolkan hanyalah pengembangan nasionalisme berbangsa oleh kaum chauvinisme radikal yang berlebihan dan sangat vandalistik dengan melarang berbicara dan membaca bahasa Belanda ataupun membakar buku-buku pengetahuan mengenai Indonesia berbahasa Belanda yang terjadi di awal 1950-an. Hal berdampak buruk bagi masyarakat Indonesia sendiri, karena melalui bahasa Belanda menjadi jembatan bagi kalangan pelajar dan mahasiswa “pribumi” hingga akhir 1930’an di kenal “multi-linguist,” karena selain mahir bahasa Belanda, juga Inggris, Prancis, Jerman, Latin dll. Bahkan “orang Indonesia” pernah disegani oleh bangsa-bangsa sekelilingnya, yang hanya menguasai satu bahasa. Bahasa Belanda yang diperoleh pribumi sama sekali tidak gratis dan pendidikan harus pula dibayar mahal di masa kolonial untuk meningkatkan pendidikan berpengetahuan dan memperluas masyarakat intelektual. Kekayaan penguasaan bahasa justeru sangat menguntungkan di masa memperjuangkan nasionalisme, yaitu menghantam kolonialisme dengan menggunakan hukum dan bahasa kolonial oleh cendikiawan Indonesia di masa lalu.

Sebaliknya, sistem pendidikan yang ditebali oleh chauvinisme serba radikal dan ekstrim yang menitikberatkan pada politik sentimen emosional, justeru telah merugikan pendidikan, karena membendung perluasan wawasan dan menekan kreativitas pembangunan bangsa. Di masa lalu, sebagian besar dari masyarakat intelektual Indonesia rata-rata menguasai berbagai bahasa asing (misalnyabahasa Jerman, Prancis, Latin, Inggris dll.) yang diawali dengan bahasa Belanda sebagai dasar.

Dengan menguasai banyak bahasa asing, orang dapat memperluas pengetahuan dan wawasan. Pengetahuan ini tergambar pula dalam penyajian mingguan Nationale Commentaren.  Dengan menguasai berbagai bahasa banyak diantara pemuka-pemuka kemerdekaan mengharumkan martabat Indonesia di berbagai forum dunia karena dapat berkomunikasi dengan berbagai bahasa asing sebagai modal utama. Contohnya, perjuangan diplomasi kemerdekaan Indonesia oleh Sultan Syahril, Haji Agus Salim, Nicodemus Palar diberbagai forum internasional berhasil karena fasih berbagai bahasa asing hingga mudah berkomunikasi dengan dunia luar, hingga Indonesia meraih simpati dunia internasional dan mendukung kemerdekaan bangsa ini. Mendiang Presiden Soekarno dikagumi dunia ketika berpidato tanpa teks dalam bahasa Inggris dicampur dengan berbagai istilah bahasa Prancis dan Latin dengan fasih di forum Perserikatan Bangsa-Bangsa di pertengahan 1950’an.

Namun kesemuanya ini hanya kenangan nostalgia, dan Indonesia sekarang ini miskin berkomunikasi karena tidak banyak menguasai bahasa asing dan menjadi tertutup oleh bahasanya sendiri, akibat dari provokasi chauvistik sempit para penguasa rezim yang ditebali oleh penyakit sektarian dan sentimen premordialisme.
Sekarang ini ilmuwan sosial yang mendalami pengetahuan ataupun latar belakang sejarah tentang Indonesia harus melanjutkan kenegeri Belanda.  Disana mereka mendapatkan “harta karun” sejarah pengetahuan leluhurnya diberbagai perpustakaan yang tersimpan dan terawat rapih. Dari buku-buku berbahasa Belanda tentang Indonesia, banyak terungkap masa kebesaran dan kejayaan Indonesia di masa silam sebelum kolonialisme Eropa hasil penelitian arkeolog dan antropolog Eropa. Misalnya saja candi Borobudur yang lama terkubur oleh vandalisme ditemukan oleh arkeolog Belanda pada abad ke-19.

Kebesaran sejarah ternyata menjadi modal kebangkitan berbagai bangsa memperjuangkan jati diri dan  melakukan langkah-langkah kedepan agar penjajahan yang penuh kegelapan tidak terulang.
Yang dikhawatirkan, bila pendidikan masih ditutup oleh selimut chauvinisme supremasi ketertutupan dari birokrasi berwawasan sempit yang kian memiskinkan dan mengucilkan masyarakat untuk kemudian kembali menjadi kolonoalisme. Hal ini dikhawatirkan Oom Sam Ratulangie pada tulisannya: Rijk land, armvolk …..
Men vraagt zich dan af, hoe hen mogelijk is, dat in Indonesia, door God gebenetijd met een vruchtbaren bovengrond, een rijken ondergrond men
denke aan de petroleum en andere minerale schatten van dit land – als bij kan geen ander land ter wereld, visrijke zeeen en binnenwateren, en een mild tropisch klimaat, toch een arme bevolking woont”

(Negeri Kaya, penduduk miskin Siapapun akan heran, bagaimana mungkin, Indonesia yang oleh Tuhan diberikan tanah yang subur dan kekayaan di bawah tanah tambang minyak dan mineral lainnya yang tidak dimiliki negeri manapun di dunia, dan kaya dengan ikan di laut dan daratan, iklim tropis sepanjang masa, tetapi dihuni oleh penduduk yang masih saja miskin …. )
(Nationale Commentaren, edisi No. 2, 15 Januari 1938).

Penghapusan kekayaan sejarah bangsa yang menjadi korban distruksi vandalisme ternyata menjadi penyebab kemiskinan. Warisan kekayaan intelektual yang ditinggalkan Oom Sam Ratulangie dan pemuka – pemuka “pribumi” untuk memerangi kemiskinan tidak dimanfaatkan karena kendala bahasa akibat vandalisme. Hasil pemikiran intelektual pribumi, justru banyak dimanfaatkan dan menjadi modal bangsa – oleh bangsa-bangsa lain yang rajin mengumpulkan dokumentasi kepustkaan yang mengandung nilai sejarah untuk mengetahui lebih banyak tentang Indonesia.  Masa kepemimpinan dua rezim setelah pasca kemerdekaan mengalami pendangkalan intelektual. Itulah tantangan generasi kini menghadapi generasi mendatang yang terancam kolonialisme gaya baru bila masih saja tetap hanyut dengan supermasi ketertutupan menghadapi era globalisasi.***

Dari Kanan ke kiri: Harry K. Ir. Sugandi, M. Supit SH.
Dari Kanan ke kiri: Harry K. Ir. Sugandi, M. Supit SH.

KOMUNIKASI INTERNET SULUT-BOSAMI NET

Perihal  Jalan Sam Ratu Langi 26-28, Jakarta Pusat

I.
Re: [sulut-bosami] Fw: Jalan Sam Ratu Langi 26-28, Jakarta Pusat  Monday, March 30, 2009 9:59 PM

From: Bert Supit

To: sulut-bosami@yahoogroups.com

Wah Lani…, what you (or Tabloid Manado?) have just raised is really ‘appaling’. I knew from the history of our independence that the place mentioned was the centre of the perjuangan KRIS. This should indeed be sustained as a monument of the contribution of orang2 Sulawesi yang kebanyakan orang Minahasa to Indonesia’s independence.

Kita ada perhatikan dari dulu bahwa ironis sekali generasi sekarang hampir tidak menghargai lagi sejarah, dan hanya sibuk dengan segala macam ‘tetebengek’ globalisasi dll. Maaf….kita stou so talalu emosi…!!!

Sebab itu torang orang2 tua di Tomohon mulai kacili2 dengan mendirikan Perpustakaan Minahasa di Tomohon, supaya generasi skarang dan yad tidak lupa sejarah.

Lihat jo itu gedung ‘Minahasa Raad’. Kalau tidak diingatkan oleh seorang Prof. Bruno dari Jerman yang pernah kase kuliah di Unsrat waktu Hanny Waworoentoe masih rektor. Ia pernah bicara pa torang (beberapa orang), bahwa dia sedih melihat gedung bekas Minahasa Raad so jadi tampa yang kotor dan menyedihkan. Untung jo ada Hanny dan Adri Lapian dan torang dari MAM dapat membantu bekerja sama dengan Gubernur SHS yang sangat bersemangat untuk lestarikan ‘THE LANDMARK OF DEMOCRACY’ in Manado. Dan skarang tempat itu somo dikembalikan kepada identitasnya yang asli. Hidop….!!!

Kembali tentang lokasi di Jln Sam Ratulangi Jakarta, menurut kita KKK di Jakarta harus ambil inisiatif menjadikan lokasi itu juga sebagai landmark torang (your father’s generation) dari Sulawesi (Minahasa) – KRIS pe kontribusi kepada sejarah perjuangan Kemerdekaan Indonesia.  Jangan dibiarkan. Betul…bicara dengan Gubernur SHS dan Gubernur Jakarta. Tapi prakarsa dan usaha harus dari torang, termasuk SBNers terutama yang ada di Jakarta…OK? ??

Pakatuan Wo Pakalawiren. ..!!!

BAS

II.

Re: [sulut-bosami] Re: Fw: Jalan Sam Ratu Langi 26-28, Jakarta PusatTuesday, March 31, 2009 6:06 AM

From: Freddy Rampen

To: sulut-bosami@yahoogroups.com

Dear SBNs,

Para Penasehat, Moderators dan Senior2 di SBN yang berdomisili di Jakarta, kami menunggu ACTION dari Bpak2/Ibu2 sekalian.

Kumtua JK, dari Offshore bisa juga melakukan koordinasi. Saya yakin seluruh warga SBN dimanapun mereka berada mendukung gagasan ini. God Bless Us All.

Pakatuan Pakalawiren.

FR

III

From: Leonard Watung

To: sulut-bosami@ yahoogroups. com

Sent: Tuesday, March 31, 2009 10:08:27 AM

Subject: [sulut-bosami] Re: Fw: Jalan Sam Ratu Langi 26-28, Jakarta Pusat

Falk,

Menurut saya informasi dan himbauan ini harus direspons secara serius. Kalau benar saat ini sedang dirundingkan dengan pihak2 yang berminat untuk memanfaatkan maka status/progress konkritnya sangat perlu dikomunikasikan kepada semua pihak yang terkait.Hal ini menyangkut jatidiri SULUT-BOSAMI. Apakah ada kendala2 yang perlu dipecahkan bersama yang mungkin bisa dishare kenetters yang mungkin ada sumbangan pemikiran yang lebih konstructive. Pertanyaannya sekarang pelaksanaanya masuk sakala prioritas keberapa???

makase banyak,

leo

IV

Re: [sulut-bosami] Jln. Sam Ratu Langi 26-28, Jakarta PusatTuesday, March 31, 2009 10:22 PM

From:  Freddy Rampen

To: sulut-bosami@yahoogroups.com

Hallo Kumtua,

Itulah tugas dan tanggung jawab JK sebagai Kumtua. JK boleh himbau dan kontak setiap anggota dan simpatisan SBN untuk tumoyo!, dimanapun mereka berada. Biasanya yang aktif justru yang dukungan dananya tidak berlebihan. JK punya akses ke Pak Peter Sodakh misalnya? Pak Sander Batuna? Pak Anton Supit, adalah sebagian teman2 yang sukses di Jakarta; masih banyak yang lain. Om Adolf barangkali bisa approach ke BOSnya? Bung Frank Tanos, sumber informasi yang luar biasa; bisa kase perhatian ke Jln Sam Ratulangi 26-28?

Salam bae2

FR.

V

Re: [sulut-bosami] Jln. Sam Ratu Langi 26-28, Jakarta PusatWednesday, April 1, 2009 7:31 AM

From:   F. Tanos sulut-bosami@yahoogroups.com

Selamat Malam SBN,

Pak Freddy dan Ibu Lani Ratulangi,

Terima kasih atas informasinya. Tadi siang saya sudah melakukan inspeksi ke jl.Sam Ratulangi (ke Bangunan Sekolah Kris) dan sudah saya dokumentasikan melalui pengambilan foto2 dari semua sudut sampai atas. Mudah2 besok sudah saya tanyangkan gambar2 bangunan itu di milis SBN. Saran saya kita harus membentuk team pencarian dana melalui yayasan Kris agar lebih official. Demikian dulu berita dari saya.

Salam bae,

FT

To: sulut-bosami@yahoogroups.com
Wah Lani…, what you (or Tabloid Manado?) have just raised is really ‘appaling’. I knew from the history of our independence that the place mentioned was the centre of the perjuangan KRIS. This should indeed be sustained as a monument of the contribution of orang2 Sulawesi yang kebanyakan orang Minahasa to Indonesia’s independence.
Kita ada perhatikan dari dulu bahwa ironis sekali generasi sekarang hampir tidak menghargai lagi sejarah, dan hanya sibuk dengan segala macam ‘tetebengek’ globalisasi dll. Maaf….kita stou so talalu emosi…!!!
Sebab itu torang orang2 tua di Tomohon mulai kacili2 dengan mendirikan Perpustakaan Minahasa di Tomohon, supaya generasi skarang dan yad tidak lupa sejarah.
Lihat jo itu gedung ‘Minahasa Raad’. Kalau tidak diingatkan oleh seorang Prof. Bruno dari Jerman yang pernah kase kuliah di Unsrat waktu Hanny Waworoentoe masih rektor. Ia pernah bicara pa torang (beberapa orang), bahwa dia sedih melihat gedung bekas Minahasa Raad so jadi tampa yang kotor dan menyedihkan. Untung jo ada Hanny dan Adri Lapian dan torang dari MAM dapat membantu bekerja sama dengan Gubernur SHS yang sangat bersemangat untuk lestarikan ‘THE LANDMARK OF DEOCRACY’ in Manado. Dan skarang tempat itu somo dikembalikan kepada identitasnya yang asli. Hidop….!!!
Kembali tentang lokasi di Jln Sam Ratulangi Jakarta, menurut kita KKK di Jakarta harus ambil inisiatif menjadikan lokasi itu juga sebagai landmark torang (your father’s generation) dari Sulawesi (Minahasa) – KRIS pe kontribusi kepada sejarah perjuangan Kemerdekaan Indonesia.  Jangan dibiarkan. Betul…bicara dengan Gubernur SHS dan Gubernur Jakarta. Tapi prakarsa dan usaha harus dari torang, termasuk SBNers terutama yang ada di Jakarta…OK? ??
Pakatuan Wo Pakalawiren. ..!!!
BAS
Re: [sulut-bosami] Re: Fw: Jalan Sam Ratu Langi 26-28, Jakarta PusatTuesday, March 31, 2009 6:06 AM
From: “Freddy Rampen” <frampen@ymail.com>Add sender to Contacts
To: sulut-bosami@yahoogroups.com
Dear SBNs,
Para Penasehat, Moderators dan Senior2 di SBN yang berdomisili di Jakarta, kami menunggu ACTION dari Bpak2/Ibu2 sekalian.
Kumtua JK, dari Offshore bisa juga melakukan koordinasi. Saya yakin seluruh warga SBN dimanapun mereka berada mendukung gagasan ini. God Bless Us All.
Pakatuan Pakalawiren.
FR
From: watungleonard <watungleonard@ yahoo.com>
To: sulut-bosami@ yahoogroups. com
Sent: Tuesday, March 31, 2009 10:08:27 AM
Subject: [sulut-bosami] Re: Fw: Jalan Sam Ratu Langi 26-28, Jakarta Pusat
Falk,
Menurut saya informasi dan himbauan ini harus direspons secara serius. Kalau benar saat ini sedang dirundingkan dengan pihak2 yang berminat untuk memanfaatkan maka status/progress konkritnya sangat perlu dikomunikasikan kepada semua pihak yang terkait.Hal ini menyangkut jatidiri SULUT-BOSAMI. Apakah ada kendala2 yang perlu dipecahkan bersama yang mungkin bisa dishare kenetters yang mungkin ada sumbangan pemikiran yang lebih konstructive. Pertanyaannya sekarang pelaksanaanya masuk sakala prioritas keberapa???
makase banyak,
leo
Re: [sulut-bosami] Jln. Sam Ratu Langi 26-28, Jakarta PusatTuesday, March 31, 2009 10:22 PM
From: “Freddy Rampen” <frampen@ymail.com>Add sender to Contacts
To: sulut-bosami@yahoogroups.com
Hallo Kumtua,
Itulah tugas dan tanggung jawab JK sebagai Kumtua. JK boleh himbau dan kontak setiap anggota dan simpatisan SBN untuk tumoyo!, dimanapun mereka berada. Biasanya yang aktif justru yang dukungan dananya tidak berlebihan. JK punya akses ke Pak Peter Sodakh misalnya? Pak Sander Batuna? Pak Anton Supit, adalah sebagian teman2 yang sukses di Jakarta; masih banyak yang lain. Om Adolf barangkali bisa approach ke BOSnya? Bung Frank Tanos, sumber informasi yang luar biasa; bisa kase perhatian ke Jln Sam Ratulangi 26-28?
Salam bae2
FR.
Re: [sulut-bosami] Jln. Sam Ratu Langi 26-28, Jakarta PusatWednesday, April 1, 2009 7:31 AM
From: “ftanos@gmail.com” <ftanos@gmail.com>Add sender to Contacts
To: sulut-bosami@yahoogroups.com
Selamat Malam SBN,
Pak Freddy dan Ibu Lani Ratulangi,
Terima kasih atas informasinya. Tadi siang saya sudah melakukan inspeksi ke jl.Sam Ratulangi (ke Bangunan Sekolah Kris) dan sudah saya dokumentasikan melalui pengambilan foto2 dari semua sudut sampai atas. Mudah2 besok sudah saya tanyangkan gambar2 bangunan itu di milis SBN. Saran saya kita harus membentuk team pencarian dana melalui yayasan Kris agar lebih official. Demikian dulu berita dari saya.
Salam bae,Re: [sulut-bosami] Fw: Jalan Sam Ratu Langi 26-28, Jakarta PusatMonday, March 30, 2009 9:59 PM
From: “Bert Supit” <adriaansupit@yahoo.com>Add sender to Contacts
To: sulut-bosami@yahoogroups.com
Wah Lani…, what you (or Tabloid Manado?) have just raised is really ‘appaling’. I knew from the history of our independence that the place mentioned was the centre of the perjuangan KRIS. This should indeed be sustained as a monument of the contribution of orang2 Sulawesi yang kebanyakan orang Minahasa to Indonesia’s independence.
Kita ada perhatikan dari dulu bahwa ironis sekali generasi sekarang hampir tidak menghargai lagi sejarah, dan hanya sibuk dengan segala macam ‘tetebengek’ globalisasi dll. Maaf….kita stou so talalu emosi…!!!
Sebab itu torang orang2 tua di Tomohon mulai kacili2 dengan mendirikan Perpustakaan Minahasa di Tomohon, supaya generasi skarang dan yad tidak lupa sejarah.
Lihat jo itu gedung ‘Minahasa Raad’. Kalau tidak diingatkan oleh seorang Prof. Bruno dari Jerman yang pernah kase kuliah di Unsrat waktu Hanny Waworoentoe masih rektor. Ia pernah bicara pa torang (beberapa orang), bahwa dia sedih melihat gedung bekas Minahasa Raad so jadi tampa yang kotor dan menyedihkan. Untung jo ada Hanny dan Adri Lapian dan torang dari MAM dapat membantu bekerja sama dengan Gubernur SHS yang sangat bersemangat untuk lestarikan ‘THE LANDMARK OF DEOCRACY’ in Manado. Dan skarang tempat itu somo dikembalikan kepada identitasnya yang asli. Hidop….!!!
Kembali tentang lokasi di Jln Sam Ratulangi Jakarta, menurut kita KKK di Jakarta harus ambil inisiatif menjadikan lokasi itu juga sebagai landmark torang (your father’s generation) dari Sulawesi (Minahasa) – KRIS pe kontribusi kepada sejarah perjuangan Kemerdekaan Indonesia.  Jangan dibiarkan. Betul…bicara dengan Gubernur SHS dan Gubernur Jakarta. Tapi prakarsa dan usaha harus dari torang, termasuk SBNers terutama yang ada di Jakarta…OK? ??
Pakatuan Wo Pakalawiren. ..!!!
BAS
Re: [sulut-bosami] Re: Fw: Jalan Sam Ratu Langi 26-28, Jakarta PusatTuesday, March 31, 2009 6:06 AM
From: “Freddy Rampen” <frampen@ymail.com>Add sender to Contacts
To: sulut-bosami@yahoogroups.com
Dear SBNs,
Para Penasehat, Moderators dan Senior2 di SBN yang berdomisili di Jakarta, kami menunggu ACTION dari Bpak2/Ibu2 sekalian.
Kumtua JK, dari Offshore bisa juga melakukan koordinasi. Saya yakin seluruh warga SBN dimanapun mereka berada mendukung gagasan ini. God Bless Us All.
Pakatuan Pakalawiren.
FR
From: watungleonard <watungleonard@ yahoo.com>
To: sulut-bosami@ yahoogroups. com
Sent: Tuesday, March 31, 2009 10:08:27 AM
Subject: [sulut-bosami] Re: Fw: Jalan Sam Ratu Langi 26-28, Jakarta Pusat
Falk,
Menurut saya informasi dan himbauan ini harus direspons secara serius. Kalau benar saat ini sedang dirundingkan dengan pihak2 yang berminat untuk memanfaatkan maka status/progress konkritnya sangat perlu dikomunikasikan kepada semua pihak yang terkait.Hal ini menyangkut jatidiri SULUT-BOSAMI. Apakah ada kendala2 yang perlu dipecahkan bersama yang mungkin bisa dishare kenetters yang mungkin ada sumbangan pemikiran yang lebih konstructive. Pertanyaannya sekarang pelaksanaanya masuk sakala prioritas keberapa???
makase banyak,
leo
Re: [sulut-bosami] Jln. Sam Ratu Langi 26-28, Jakarta PusatTuesday, March 31, 2009 10:22 PM
From: “Freddy Rampen” <frampen@ymail.com>Add sender to Contacts
To: sulut-bosami@yahoogroups.com
Hallo Kumtua,
Itulah tugas dan tanggung jawab JK sebagai Kumtua. JK boleh himbau dan kontak setiap anggota dan simpatisan SBN untuk tumoyo!, dimanapun mereka berada. Biasanya yang aktif justru yang dukungan dananya tidak berlebihan. JK punya akses ke Pak Peter Sodakh misalnya? Pak Sander Batuna? Pak Anton Supit, adalah sebagian teman2 yang sukses di Jakarta; masih banyak yang lain. Om Adolf barangkali bisa approach ke BOSnya? Bung Frank Tanos, sumber informasi yang luar biasa; bisa kase perhatian ke Jln Sam Ratulangi 26-28?
Salam bae2
FR.
Re: [sulut-bosami] Jln. Sam Ratu Langi 26-28, Jakarta PusatWednesday, April 1, 2009 7:31 AM
From: “ftanos@gmail.com” <ftanos@gmail.com>Add sender to Contacts
To: sulut-bosami@yahoogroups.com
Selamat Malam SBN,
Pak Freddy dan Ibu Lani Ratulangi,
Terima kasih atas informasinya. Tadi siang saya sudah melakukan inspeksi ke jl.Sam Ratulangi (ke Bangunan Sekolah Kris) dan sudah saya dokumentasikan melalui pengambilan foto2 dari semua sudut sampai atas. Mudah2 besok sudah saya tanyangkan gambar2 bangunan itu di milis SBN. Saran saya kita harus membentuk team pencarian dana melalui yayasan Kris agar lebih official. Demikian dulu berita dari saya.
Salam bae,
FT

SERIKAT ISLAM

Karya tulis oleh G.S.S.J. Ratu Langie pada umur 23 tahun diterbitkan di Amsterdam(1913) dalam bahasa Belanda dan dialih- bahasakan oleh Dra. Puck Tilaar (2008)

                     Dalam bentuk booklet, klik pada alamat dibawah  ini :

SERIKAT ISLAM  (BOOKLET)

  3 halaman pertama “SERIKAT ISLAM”. edisi asli (1913) dalam bahasa Belanda. :

“Kita berdiri pada titik-balik sejarah Kolonial.  Jaman kini memprihatinkan.”

Dalam pidatonya yang diadakan pada audiensi 1 September y.b.I. sebagai jawaban Tuan JACOBS, penyambung-lidah kelompok ke-12 dan para ‘praticulieren’, Gubernur Jendral Idenburg mulai dengan kata-kata:

“Kekuatan-kekuatan terlelap bangun, keinginan-keinginan tersembunyi menjadi nyata. Dimana-mana ada penyadaran diri, dan akibatnya orang mempertanyakan buah-buah budaya Barat kita.”

Memang, orang hanya perlu membaca koran-koran Hindia, untuk mengakui dasar kata-kata ini : perserikatan-perserikatan muncul, benturan-benturan terjadi antara berbagai bangsa atau antara bagian-bagian masyarakat Hindia yang terpisah oleh hukum, dan akibatnya yang tak terelakkan, muncullah konflik-konflik antara rakyat dan penguasa.

Yang berada paling depan dalam “bangunnya kekuatan-kekuatan yang terlelap” itu pastilah organisasi Serikat Islam, baik oleh jumlah penganut yang diperolehnya, maupun oleh cakupan tujuan luas yang dikejarnya: yaitu perbaikan keadaan ekonomi masyarakat pribumi dan peningkatan hidup beragamanya. Namun orang terutama patut berhati-hati dalam menilai fakta-fakta berita yang membanjiri kita dari Hindia. Sulit mencatat dengan tepat kejadian-kejadian yang merugikan atau yang menguntungkan S.I., karena pers Eropa di Hindia tak mungkin tidak memihak sama sekali. Kepentingan pertamanya sedikit banyak adalah menentang aliran-aliran politik di dunia pribumi Hindia-Belanda; lewat sensor peraturan percetakan pers Hindia yang ketat, kebanyakan di antara mereka ini terbawa bersikap kurang lunak terhadap serikat-senikat politik di sana. Bukankah hal ini suatu kenyataan dalam perlawanan Partai Hindia; orang tak berhenti sebelum lembaga yang dianggap membahayakan Negara dan kekuatan Eropa itu dibinasakan. Seluruh pers Eropa mempersatukan diri demikian eratnya, sekalipun dalam keadaan lebih tenang mereka sering bertengkar, untuk mematikan Expres yang baru saja terbit di Bandung.

Hal ini tidak mengherankan kita, karena “pers agung” yang dikuasai orang Eropa (kecuali Bataviaasch Nieuwsblad), merasa kehilangan dasarnya karena propaganda I.P. melalui Expres. Sekalipun begitu, juga bagi pers Eropa, kebenaran tidak selalu dapat diingkari atau ditutupi dan fakta-faktanya memang terlalu jelas. Itu sebabnya kami sangat terkesan oleh pertentangan semu dari berita-berita yang dikandung koran-koran Hindia tentang gerakan-gerakan disana. Sekiranya kita mendalami hakekat masalahnya, dapatlah kita mengembalikan semuanya kepada satu sebab, yang saya sebut saja: jiwa baru, yang telah merasuki masyarakat Hindia, sebagai lawan dari mana yang begitu gemar digunakan jurnalistik Hindia sebagai sanggahan: jiwa DOUWES DEKKER. Sebab, bahwa di Hindia kita berurusan dengan jiwa rakyat, terbukti dan kejadian-kejadian dan juga kini disadari Pemerintah, sebagaimana ternyata dari kutipan kata-kata Gubernur Jenderal itu.

Lagipula, terlalu naif untuk mengira bahwa seorang saja mampu memasukkan ide-ide yang baru sama sekali, apabila massa itu sendiri tidak sudah memiliki suatu predisposisi untuk menerimanya.

Bila orang ingin rnenyanggah saya, bahwa ‘kekuatan kata-kata’ itu faktor besar, dan memperlihatkan kepadaku contoh-contoh dari sejarah purba dimana satu orang dapat menguasai kumpulan rakyat, dapatlah saya katakan bahwa tiada cara yang lebih sederhana daripada mengirim seorang orator ke Hindia untuk meyakinkan rakyat akan hal yang berlawanan dengan apa yang mereka pikirkan kini disana, – sebagaimana dapat kita tarik dari fakta-faktanya – untuk mencegah badai. Sengaja saya berhenti sejenak pada pembicaraan Indische Partij sebelumnya. Karena saya sendiri yakin bahwa serikat ini dan Serikat Islam dua organisasi yang tak mungkin terpisahkan satu dan yang lain. Antara kedua organisasi ini terdapat hubungan sebab akibat yang jelas terlihat jika dipandang lebih dalam. Keduanya itu hasil dari keadaan-keadaan yang sama; bahwa yang satu mengusung ‘islam” dalam benderanya hanyalah bukti, bahwa yang lain berpijak pada dasar-dasar yang lebih liberal. Namun satu di antara kedua organisasi ini adalah hasil dari yang lain kalau saja pemikiran ini tidak terlalu gila dan terlampau gegabah, saya akan memprotesnya.

Apa saja alasan-alasannya, yang membuat ide-ide baru itu muncul di segala lapisan masyarakat, sulit digambarkan secara singkat. Lagipula. apabila kita harus melacak semua faktor yang langsung dan tidak langsung telah mengarahkan jalannya keadaan, kita harus kembali ke jaman sejarah lampau, bahkan lebih jauh lagi sekiranya kita mengikuti rangkaian kejadian dan sebab-musababnya.

Cukuplah yang berikut ini. Ketika hubungannya terbina, ketika penduduk pribumi diposisikan secara kurang menguntungkan terhadap orang asing. ketika itu orang sudah dapat meramalkan, bahwa suatu saat cepat atau lambat, pada lanjutan perkembangan jiwa kaum pribumi, kerusuhan-kerusuhan sekarang ini akan menjadi kenyataan. Masyarakat pribumi kini tak dapat lagi bergerak dalam kerangka undang-undang yang usang; ia mengejar ruang gerak lebih luas, dan dalam keadaan berlanjut yang sangat lazim seperti ini tak bisa tidak ia akan berbenturan dengan lembaga-lembaga usang, dan kelompok-kelompok penduduk yang menikmati keuntungan lebih banyak, bila hubungan-hubungan seperti itu dipertahankan. Dan hal ini dapat kita lihat dalam halaman-halaman berikut ini: bahwa partai anti revolusioner di Hindia harus dicari di antara orang Eropa asli dan kaum bangsawan pribumi.

Marilah sekarang kita ikuti kejadian-kejadian yang pertama-tama mengungkapkan “keinginan-keinginan terselubung” itu, agar dengan memandang cetusan-cetusannya itu, kita dapat memperoleh gambaran tentang hakekatnya. Pertama kali orang menjadi agak sadar tentang hal ini ketika tujuh delapan tahun lalu oleh mahasiswa STOVIA (Sekolah Kedokteran di Weltevreden) ide-ide baru dilontarkan ke dunia, yang menemukan perwujudannya dalam “Boedi Oetomo” yang bagaikan sengatan listrik menyambar lapisan-lapisan atas masyarakat. Setelah dipandang penuh kecurigaan, gerakan ini melalui ketekunan para pendirinya segera memenangkan kepercayaan golongan Priyai dan Pemerintah. Bagaimanapun orang kemudian dalam perumusan tujuannya mengedepankan perbaikan ekonomi dan pendidikan, untuk menutup-nutupi hakekat Boedi Oetomo yang sebenarnya, kenyataannya tak teringkari: gerakan ini muncul dari kesadaran diri orang Jawa dan merupakan endapannya. Kehidupan Hindia telah memasuki era baru, dan sudah berlalu bahwa Ia menyerah kepada keadaan berdasarkan pikiran: dura lex, sed lex, bahwa rasa nasionalisme sudah berbicara, bahkan nasionalisme yang ketat, dapat kita simpulkan dan fakta bahwa hanyalah orang Jawa yang dapat memasuki organisasi ini sebagai anggota. Maka serikat itu dengan tepatnya menamakan diri “Jong Javanen Bond”. Harapan-harapan tinggi, yang dimiliki terhadap Boedi Oetomo, sedikit banyak meleset, ketika pejabat-pejabat tinggi pemerintah pribumi menduduki jabatan dalam Pemerintah pusat. Orang lalu mengkhawatirkan suatu tekanan dari atas, yaitu pengaruh Pemerintah, yang bekerja agresif terhadap kehidupan berserikat. Kekhawatiran tsb, ternyata bukannya tak ada dasarnya: di bawah pimpinan pengurus yang mundur tahun ini, organisasi ini hanya menjadi suatu bayangan lemah dari ide para pendirinya. Karena, di samping atau sebelum menjadi pengurus oraganisasi nasionalis ini mereka itu abdi Gubernemen. Dan bahwa antara Gubernemen dan B.Oe. tak selalu ada kedamaian merupakan suatu akibat tak terelakkan dari keadaannya. Orang dapat saja berdalih sebanyak-banyaknya, suatu organisasi seperti B.Oe. dalam keputusannya harus terarah menentang jiwa pemerintah yang ada.  Karena akhirnya syarat-syarat berdirinya yang pertama, justeru adalah kekosongan dalam kehidupan bersama, yang tidak dapat atau tidak rnau diisi Pemerintah. Apabila hubungan sosial sesuai dengan kehendak rakyat Hindia, organisasi seperti itu tak punya dasar, bahkan tidak pernah dilahirkan. Kedudukan hukum yang tak sama antara orang Eropa dan orang pribumi, yang sering tak rnenguntungkan yang disebut terakhir, merupakan batu sandungan pertama bagi banyak kaum pribumi yang sudah sadar akan pembedaan itu. Pada titik ini B.Oe. saja sudah berlawanan dengan Pemerintah, sekurang-kurangnya di masa itu. Masalah ini mungkin di masa depan tidak lagi memberi alasan untuk saling berbenturan, karena apabila kita menganggap ucapan dalam Pidato mahkota Hindia sebagai suatu janji, akan terjadi suatu awal dalam persamaan masalah hukum. Namun sekalipun hal ini dibereskan sepenuhnya, masih saja ada kasus-kasus yang menempatkan kepentingan Pemerintah jauh berseberangan dengan perjuangan B.Oe.

Namun, kekosongan ini mungkin juga terjadi oleh kekurangan intern, oleh kekurangan yang lekat pada masyarakat pribumi sendiri yang sebenarnya dapat saja ditiadakan. Hal ini dapat saya akui sepenuhnya, dan saya tahu juga bahwa B.Oe. sampai sekarang hanya bekerja ke arah itu, namun hal ini sama sekali tidak meniadakan kemungkinan tentang apa yang saya sebut di atas ini.

Orang juga menunjuk kepada kemungkinan, agar melalui penggabungan tsb., orang dapat melawan masuknya semakin jauh ke pedalaman orang Cina, yang menguasai perdagangan kecil dan industri kecil, dan dengan ketrampilan melebihi ketrampilan pekerja Jawa, hampir menggeser mereka dan pasar kerja, sehingga dengan demikian dapat menguasai perjuangan di bidang sosial ekonomi.

Namun, bagaimanakah semestinya sikap seorang pegawai pemerintah dalam hal ini? Bukankah ia berada antara dua titik api, apabila Ia mau mendengar suara hatinya?

Masalah nasional menuntut agar ia menjauhi kaum Cina sekuat tenaganya, namun sebagai abdi negara seharusnya Ia bersikap netral, karena sebagai warga masyarakat yang tertib dan jujur mereka mencari nafkahnya.

Bahwa pukulan politik akhirnya harus dijatuhkan, disadari oleh sejumlah orang. Saya ingat ump. bahwa dalam masa pendiriannya, orang penuh kekhawatiran rnenyelidiki kalau-kalau organisasinya berpolitik atau tidak. Orang begitu khawatir terhadap apa saja yang berbau politik, karena organisasi-organisasi politik itu dilarang.

Lama orang timbang-menimbang, ketika seorang muda Jawa naik panggung, lalu mengambil keputusan dengan kata-kata: “B.Oe. akan menjadi serikat sosial, tapi demi tercapainya tujuan, jika perlu akan menggunakan cara-cara politik.” Dengan demikian tercapailah perdamaian: jadi bukan oraganisasi politik!

Sampai sekarang memang, B.Oe. senantiasa bekerja di bidang sosial dengan mendirikan toko-toko koperasi, sekolah-sekolah, dst. Tapi kalau begitu, apakah aksi yang dilancarkan B.Oe. dapat dikembalikan kepada perjuangan kelas yang biasa? Pasti bukanlah dernikian, karena B.Oe. bukan organisasi dari suatu kelas kaum pribumi, melainkan mencakup keseluruhan kehidupan pribumi. Lagipula, dapatkah digambarkan dengan tajam pemisahannya: mana batas antara perjuangan kelas dan propaganda politik?

Terutama di Hindia dengan hubungan-hubungan yang aneh, dimana rendah dirinya orang pribumi dijunjung sebagai dalil tak terbantahkan, setiap langkah maju bagi kontingen pribumi, berarti mundurnya wibawa moral bangsa kulit putih; dan setiap perbaikan sosial orang pribumi, membuka perspektif dari konsekuensi politis.

Meskipun anggota-anggota B.Oe. semata-mata harus dicari di antara kaum terpelajar, program kerjanya seperti yang sudah kita lihat, menyebar ke seluruh rakyat; terutama diusahakan perlindungan terhadap mereka yang lemah morilnya dengan meningkatkan taraf moral rakyat. Namun dimana satu golongan rakyat itu memperkuat diri, di situ bagian-bagian lainnya harus dipersulit dalam pekeijaannya, sekalipun hanya dengan persaingan. Dan karena orang perorangan berkonsentrasi ke dalam satu badan, yang kriteria keanggotaannya adalah kebangsaan dan bukan kelas, dengan sendirinya aksi B.Oe. dibatasi dan dapatlah kita lihat dengan jelas, pertentangan antar suku. Demi rasa kemanusiaan, pemerintah harus menghadapinya dengan netral, mengapa begitu sulit keanggotaan pimpinan dari serikat yang nasionalis ini, dapat digabungkan dengan suatu jabatan dalam pemerintahan luar negeri. Dalam Bataviaasch Nieuwsblad, hal ini juga disadari DOUWES DEKKER, ketika itu redaktur surat kabar tsb., dan saya menemukan bagian kalimat berikut ini: “Kesalahan pertama yang dibuat perserikatan yang muda itu adalah memilih regent Karanganyar menjadi ketua.”

Penulis bukan menolaknya karena regent itu tidak siap untuk tugas tsb., sebaliknya pegawai Pemerintah tsb terkenal karena sifat-sifatnya yang baik sekali, dan berasal dari rakyat (ia sebelumnya guru), andaikan saja ia tidak memiliki prasangka-prasangka bangsawan kuno dan lebih memahami kebutuhan rakyat. Tetapi dalam prinsipnya penulis menentang masuknya pegawai tinggi pemerintah ke dalam B.Oe. Dalam hal ini ia tidak salah; karena betapa kemudian pegawai-pegawai Pemerintah yang lebih tinggi, meminta sampai memalukan pendapat residen yang bersangkutan dulu, sebelum mereka berurusan dengan B.Oe.; bagaimana kemudian ternyata “Regenten vereeniging” mengembangkan diri sebagai kelompok reaksioner dalam masyarakat pribumi.

Dan ini kembali dapat dijelaskan dengan baik; karena apabila ide baru ini diterima dimana-mana, tamatlah hak-hak istimewa kaum bangsawan; hilanglah rasa hormat yang hampir kekanak-kanakan, – yang dimiliki rakyat terhadap pemimpin-pemimpinnya, yang membuat mereka ini hidup cukup nyaman, – untuk diganti dengan rasa sederajat. Tidak mengherankan bahwa kaum bangsawan penuh keprihatinan memandang majunya proletariaat, perlahan tapi pasti.

Perjuangan ini sarna dengan yang diperlihatkan Eropa pada bangkitnya burgerij dalam abad pertengahan, bedanya rakyat di Hindia sering masih mendapat dukungan Pemerintah. Karena itu gerakan yang sedang mereorganisir diri di Jawa sedikit-banyak mendapat perlawanan dari anggota-anggota bangsawan, termasuk kaum berada.

Sesudah B.Oe., banyak perserikatan lokal didirikan, namun kebanyakan lebur ke dalam organisasi besar atau menjadi cabang-cabangnya.

Bersama semua tanda-tanda pertuasan kekuatan rakyat pribumi, tak bisa tidak, orang Indo-Eropa, si “Indo” terancam akan terjepit. Di satu pihak orang Eropa asli, di pihak lain orang pribumi, kedua kekuasaan itu dapat menjepitnya apabila ia sendiri tidak bertindak ekspansif pada waktunya, dan memasang kuda-kuda.

Sebagai pengimbang B.Oe, oleh kaum muda Indo-eropa didirikan “Bond van Jong indo’s”. Sayang, di bawah pimpinan yang sangat buruk. Serikat itu dipimpin orang-orang muda yang berdarah panas, yang dalam dokumen-dokumen propaganda lebih banyak mengumbar kata-kata bualan daripada memperlihatkan pemahaman dan sikap taktis. Temperamen blasteran mempermainkan serikat itu sehingga cepat mati akibat kehebihan vitalitas. Setelah diumumkan dengan hebohnya, 5 tahun lamanya orang tidak mendengar apa-apa lagi, sampai belum lama lalu muncul kembali, dalam bentuk Indische Partij yang dimurnikan dan dibersihkan. Azas-azas dan Bond van Jong Indo’s  dan dari Indische Partij berbeda; Yang pertama tidak mengijinkan keanggautaan  orang pribumi, yang disebut terakhir, mengijinkannya. Namun apa saja bukti akhirnya? Tidak lain dan penyesuaian diri yang terakhir ini terhadap situasi. atau lebih tepat dikatakan, mereka belajar dari praktek Indobond.

Azas penggabungan para Indo dilepaskan, dengan tepat, maka terwujudlah gagasan agung:  tak ada pembedaan dalam hal kebangsaan, tiada pembedaan antara kulit putih, cokelat dan kuning.

Apa pun yang dapat orang bebankan kepada lndische Partij, di atas segala tuduhan, tak terbantahkan oleh keluhuran hakekatnya, adalah prinsipnya yang patut diterirna demi peri kemanusiaan: yaitu kesatuan di Hindia.

Dalam rapat-rapat B.Oe. dan organisasi-organisasi kecil lainnya, gagasan tentang kebersamaan itu disebarkan di tengah rakyat Hindia, hal mana juga didorong pers pribumi. Yang ini (pers pribumi di Jawa) harus kita bagi dua: yang pentama dipimpin orang Jawa dan berorientasi Jawa; sedangkan yang kedua di bawah pimpinan orang Minahasa atau Ambon (seperti Khabar Perniagaan dan Warna Warta) dan digerakkan dengan modal Cina.

Dengan sendirinya, jenis koran terakhir ini tidak terlalu rajin ikutserta dalam membangun suku Jawa namun menyerahkan hal ini kepada yang pertama.

Suku Jawa dibangunkan; mereka didorong menjadi lebih ekonomis; penganiayaan orang pribumi oleh orang Eropa (yang sering terjadi oleh opzichter Eropa di perkebunan atau dalam karya-karya pemerintah) dikecam keras. Orang tidak segan-segan bersusah-.payah dan menempuh segala upaya. untuk membangun perasaan dalam diri orang pribumi bahwa ia lebih dan sekedar ‘kuda beban”. Yang turut-serta memajukan penyadaran diri ini adalah fakta bahwa sejumlah dokter pribumi di Eropa meraih gelar kedokteran Belanda, dan sehubungan dengan ini dapat dibaca dalam koran-koran pribumi, artikel-artikel dengan tendensi: lihatlah, kita juga bisa, bukan’. Siapa mis. tidak mengenal narna MAS ASMAOEN? Sangatlah menarik contoh berikut ini; Seorang wartawan lndo duduk dalam sebuah bendi ketika sang kusir mengejutkannya dengan kata-kata: “Toean, apakah Mas Asmaoen sudah doktor?” sang Indo tidak tahu siapa yang dimaksud.

Sebelumnya, seorang muda pribumi tidak berani bergerak di kalangan rekan-rekan Eropanya, takut akan perlakuan yang tidak begitu baik. Betapa beberapa tahun lalu kata Inlander diucapkan dengan penghinaan tak terbatas.. Dan masa itu masih tersisa ungkapan: “Sungguh inlands”.untuk segala hal yang buruk. Berbohong itu inlands, mencuri itu inlands, semua sifat jahat itu inlands, semua sifat baik itu Eropa, sekurang-kurangnya di Hindia. Betapa asing pun bunyinya untuk telinga  Eropa, hal ini memang benar. Dan atas azas inilah, dipandang-entengnya orang pribumi secara a priori itu, didasarkan ketentuan yang pada lembaga-lembaga Pemerintah disebut “cabang-cabang dinas”, – kaum pribumi mempunyai suatu traktemen yang kira-kira setengah dan yang dipunyai rekan Eropa sepekerjaannya dengan syarat-syarat yang sama. Yang saya maksudkan disini terutama Perkereta apian Negara, namun ada lebih banyak lagi, yang menjalankan sistem memalukan tentang ‘rate of wages’ yang ganda itu. Dapat dimengerti bahwa hal seperti itu mengakibatkan komplikasi yang paling gila; jika ump. seorang pribumi mendapat bawahan orang eropa yang lebih muda yang traktemennya dua kali sebanyak traktemen dirinya. Atas dasar apa dapat dibenarkan bahwa seorang dokter pribumi dalam dinas Gubernemen untuk perjalanannya mendapat ganti-rugi f. 2,- sehari. seorang klerk atau kondektur, kalau orang Eropa atau disamakan dengan orang Eropa, f.5,-?!.

Betapa rendahnya pendapatan para guru pribumi dibandingkan dengan klerk Eropa dsb., yang pada umumnya lebih rendah tingkat perkembangan moril dan intelektualnya. Keadaan semacam ini pasti tidak memupuk rasa puas di kalangan masyarakat pribumi yang intelektual pada umumnya. Orang jangan terkecoh oleh pikiran bahwa orang pribumi menyerah dalam hal ini dengan ketakwaan yang menjadi sifatnya, dan jangan lupa, bahwa orang pribumi intelektual ini dengan senangnya didengar oleh rakyat, oleh massa, yang merekam kata-kata mereka bagaikan ramalan-ramalan. Orang mesti mengamati kehidupan di desa dan kampung untuk dapat menyadari daya cakup para guru pribumi dan kaum terdidik Iainnya yang terpancar dari mereka terhadap rakyat. Ketika tinggal selama beberapa minggu di salah satu stasiun kecil di Perkereta-apian Priangan, saya melihat setiap malam bahwa ada heberapa orang pria dan desa mendatangi kepala stasiun untuk bercakap-cakap. Namun percakapannya terutama terdiri atas berbicaranya sang kepala stasiun tanpa hentinya dan yang lain hanya berkata “semoehoen” belaka. Dan pria ini masih berdiri di luar hubungan desa; ia bukan guru dan bukan kepala atau ‘adjie’. Betapa mudahnya ketidak-puasan ini beralih kepada rakyat. Dan kejadian-kejadian yang baru saja, mernbuktikan bahwa hal itu terjadi.

Orang dapat merasakan pada umumnya di dunia pribumi bahwa pertandingan dimulai dengan suatu rintangan disebabkan posisi kurang menguntungkan terhadap orang kulit putih. Kesadaran ini meresapi segala lapisan masyarakat dan mempersiapkan rakyat untuk kerjasama nasional Jawa.

Pada saat yang tepat diperdengarkanlah jeritan di Solo, panggilan untuk berhimpun dibawah bendera Serikat Dagang Islam. Penyebab langsung dilahirkannya serikat itu sudah diketahi: orang mau menjalin suatu ikatan melawan perdagangan kecil Cina. Kata Islam menarik dunia Islam, pada saat yang tepat ketika tersebar kerusuhan dan ketidak-puasan.

Namun kini terjadi suatu keanehan, suatu pertanyaan yang harus dijawab. Kebetulankah bahwa awal politik pengkristenan berlangsung pada saat yang sama dengan bersatunya unsur Islam, ataukah yang terakhir ini suatu akibat dari yang pertama? Dalam pendirian dan dalam propaganda tidak mungkin dapat kita temukan apa yang merujuk kepada agitasi melawan politik dari rejim sebelumnya, namun arus kuat para anggota untuk perserikatan ini pastilah juga suatu reaksi islam terhadap kecamuknya kristianisasi, yang mengancam juga daerah-daerah Islam, namun yang kini ditiadakan, demikian harapan kita. Bagaimana pengkristenan semacam itu mencapai justru hal sebaliknya dari yang dituju, terbukti dari kata-kata seorang Jawa yang berdiam di Nederland berikut ini: “Kami berterimakasih kepada IDENBURG atas pemerintahan kristennya, karena Ia telah membangunkan kami dan membuat kami merasa bahwa kami, orang Islam, bersatu.” Suatu permainan kata yang sama sekali tidak kosong, di Hindia dikenakan pada S.I. Nama ‘S.I.’ mestinya diartikan: “Salahnya Idenburg”.

Di salah satu tempat di Jawa, dengan lingkungan islam, didirikan sekolah kristen yang oleh Pemerintah disubsidi, d.k.l. ditunjang dengan pembayaran pajak juga oleh kaum islam. Ketika di tempat yang sama dimintakan subsidi untuk sekolah Islam, permohonan itu ditolak. Mestikah orang Jawa dengan ini tidak merasa, bahwa agamanya dianak-tirikan? Tiada yang lebih berbahaya dan ada menimang diri sendiri hingga tertidur dengan kata-kata Dr. FOKKER, lndolog Amsterdam: “Dimana-mana Islam menderita bangkroet” jadi di Hindia juga demikian. Tidak, Islam di Hindia tidak akan menderita bangkrut, Islam yang dengan kurang kekerasan tapi dengan perkembangan berangsur-angsur menapaki jalannya menuju lebih dari 30.000.000 penganutnya. (prof. SNOUCK HURORONJE, Nederland en de Islam). Dan hasil apa telah diberi karya zending sejak satu abad? Dalam 1814 oleh zendeling BRUECKNER dari Nederlandse Zendingsgenootschap disebarkan Perjanjian Baru dalam bahasa Jawa rendah dan bahasa Melayu sebanyak beberapa ribu, suatu bukti bahwa ketika itu Zending sudah bekerja keras. Dan hasilnya, bahwa jumlah orang pribumi kristen dalam tahun 1902 terdiri dari 19000 orang, termasuk tentara Ambon dan Manado (v. DEVENTER, Overzicht van den economischen toestand van de Inl. Bevolking op Java en Madoera). yaitu satu banding 500 orang Islam. Bukankah ini bukti suatu kekalahan dari zending? Dan bila kita mengikuti tanda-tanda jaman, maka urusan zending bahkan di Minahasa, bentengnya zending, tidak seberapa baik posisinya.

Orang Jawa itu, hakekatnya Budhis, animis? Mungkin saja, namun itu tidak diketahui mereka yang bersangkutan. Mereka yakin, bahwa mereka Muslim sejati. Mereka samasekali tidak menyadari bahwa seluruh kehidupan rohaninya lebih condong ke kerohanian Budhis daripada ke kerohanian Islam. Hal ini terbukti dari prakteknya: ziarah ke Mekah yang setiap tahun terlaksana oleh jutaan orang, sesungguhnya tidak akan tenjadi kalau bukan sentimen keagamaan membuat mereka demikian. Dan, kemana pun suatu pengelompokan terjadi dengan warna Islam, kesanalah mereka bergerak.

Itu sebabnya saya berkata, bahwa memperlakukan kekristenan lebih baik dari Islam merupakan suatu langkah kelewat berani pada papan percaturan politik. Dengan cara demikian. orang Islam akhirnya ditantang. yang akibatnya tidak menguntungkan.

Jumlah anggota di Solo dalam waktu singkat menanjak sedemikian rupa, sehingga Pemerintah demi kelancarannya rnenganggap penting untuk membubarkan serikat itu. Namun, dengan demikian jiwa rakyat tidak musnah dan di Surabaya muncul di bawah nama yang diubah; kata “dagang” dihilangkan dan serikat baru itu bernama Serikat Islam. Sekali menerima dorongan, gerakan itu berkembang, dan seperti dikatakan suatu koran Hindia: “Bagaikan monster berkepala banyak muncullah S.I. dimana-mana.”

Memang, bagaikan jamur muncullah cabang-cabang, kendati usaha-usaha Pemerintah untuk membinasakan akar-akarnya. Di Parungkuda, sebuah halte pada jalur kereta-api di Priangan, kereta-api kereta-api tak mampu memuat orang-orang yang mau ke Bogor untuk mendaftarkan diri di tempat yang ada cabang S.I.-nya. Bulan Juli y.l. jumlah anggotanya sudah melampaui 500.000 tersebar di seluruh Jawa, dan masih terus bertambah. Gerakan itu juga telah benpindah ke Sumatra, bagaimanapun di Palembang sudah berdiri sebuah cabang S.I. Apakah akan berkembang terus menyusuri pantai Timur Sumatra sampai ke Aceh yang penuh pergolakan, akan ditentukan masa depan. Hal ini bukan tidak mungkin: di antara  pengontrak-pengontrak Deli mudah sekali terdapat seorang penganut S.I. yang mau membuat propagnda untuk serikatnya.

Atas pertanyaan, apa hubungan antara Boedi Oetomo dan Serikat Islam, harus saya jawab kembali: hubungan sebab-akibat. Namun bukan hanya dalam sebab sebabnya, namun juga dalam akibat-akibatnya, dalam arah kerjanya ditemukan titik-titik persamaan antara kedua serikat ini; keduanya berjuang ke arah perbaikan sosial bagi orang pribumi pada umumnya, namun kalau B.Oe. mencakup sebagai anggotanya kelas-kelas terdidik (priayi, guru, pedagang), S.I. meliputi keseluruhan masyarakat pribumi. Jadi kita dapat memandang B.Oe. sebagai perintis. pembuka jalan bagi SI. dan sangatlah mungkin, saya hampir mau katakan: pastilah bahwa kedua serikat itu dalam waktu dekat akan saling lebur menjadi satu Bond Jawa-nasional (atau Hindia-nasional). B.Oe. otaknya, SI. daya rakyatnya, merupakan kombinasi yang sempurna. Bahwa hal ini juga disadari pemimpin-pemimpin gerakan Jawa, telah dibuktikan TJIPTO MANGOENKOESOEMO, yang dalam salah satu artikel-artikelnya memperjuangkan a.l.: (saya mengutip di luar kepala): :“Daripada memperlakukan organisasi rakyat yang muda itu (SI.) penuh kecurigaan, patutlah kita mencermati perkembangannya agar pada waktunya dapat membanting stir, apabila terancam penyelewengan.”

Lapisan-lapisan terdidik rupanya telah mendengarkan kata-kata ini, dan tidak hanya telah mengikuti S.I. dalam perkembangannya, tetapi ikutserta secara aktif, dan memasukinya sebagai anggota serikat. Bahkan bangsawan tertinggi pun memasuki serikat itu, dan kami temukan dalam S.I. suatu pertemuan yang menguntungkan dan bangsawan dan rakyat, sungguh suatu unicum dalam masyarakat Jawa dengan tradisinya yang bertahan benabad-abad lamanya hingga terbentuk hukum-hukum yang tak tergoyahkan. Putera mahkota Solo adalah pelindung serikat dan rupanya telah mendorong kaum bangsawan untuk mengenakan S.I. Apakah kerjasama kaum bangsawan pribumi dengan S.I. merupakan langkah tergesa-gesa, dan orang menyadari telah membuat tindakan berani dan telah menghancurkan diri sendiri apabila ternyata serikat ini memang akan sukses? Rupa-rupanya demikian. dan hanya dilihat dari sisi ini, dapat diterangkan bahwa Soesoehoenan dari Solo mengeluarkan suatu larangan bagi bawahannya untuk menjadi anggota S.I., padahal sebelumnya senikat sudah mengharapkan perkenanan tahta Solo.

Bagaimana pun juga, hal ini hanya membuktikan pendirian saya, bahwa setiap aliran baru dalam masyarakat Jawa akan menemukan perlawanan dari kaum bangsawan negeri itu, terutama sejauh gerakan ini memiliki karakter demagogis. yang rnenyebabkan hak-hak yang dinikmati kaum bangsawan berabad-abad lamanya harus dibinasakan. Kaum bangsawan akan senantiasa menjadi partai reaksioner apabila suatu waktu perang politik dan kelas pecah di Hindia, sekalipun ada juga partai-partai yang berhaluan lain; suatu pantulan sejati dan perjuangan di Eropa.

Sudah berkali-kali diajukan pertanyaan apakah S.I. suatu organisasi agama, dan oleh kebanyakan ini diingkari. Dalam salah satu pembicaraan malam harinya, Mr. DOUWES DEKKER yang sebenarnya tahu tentang keadaan Hindia, menyinggung masalah ini dalam arti tsb. Namun seperti kebanyakan orang, ia telah menempatkan dirinya sepihak, dengan menguji serikat ini dengan suatu esai umum tanpa memperhatikan keadaannya, Kita hanya perlu rneninjau situasinya selayang pandang untuk meyakini hal yang sebaliknya.

Rakyat Hindia-Belanda dapat kita bagi seperlunya ke dalam dua kelompok : Kaum muslimin sejumlah kira-kira 30.000.000 dan yang bukan Muslim (orang Kristen, orang kafir, orang Budhis, dsb.) kira-kira 7.000.000. S.I. bermaksud membawa kelompok pertama ke dalam satu badan; namun ungkapan kebersamaan semacam ini di kalangan rakyat islam, mau tak mau menumbuhkan perlawanan di kelompok-kelompok lain.

Ini sering kita lihat di Hindia; panggilan Jong-Java ke B.Oe. oleh orang lndo Eropa dijawab dengan pendirian Bond van Jong Indo yang sayangnya mati muda. Dari pihak rakyat Cina, kita lihat reaksi dalam serikat-serikat Cina. (saya tahu juga bahwa yang terakhir ini merupakan pantulan dari evolusi Cina sendiri), namun ini tidak meniadakan sebab-sebab di Hindia sendiri yang telah mendorongnya dan bahwa orang baru sesudah B.Oe. membuat propaganda yang kuat untuknya.

Juga suku-suku lain dan rakyat asli, tidak berdiam diri dan tergoncang oleh B.Oe, bersatu. orang Ambon, Minahasa, Melayu. Sepuluh tahun terakhir, di Hindia bergolaklah nafsu berserikat. Akhirnya kita menyaksikan bahwa pada waktu bersamaan bangkit Serikat Islam, lndische Partij (oleh inisiatif Hindia dan Indo) dan orang Minahasa yang berdiam di Batavia.

B.Oe. menetapkan sebagai syarat kepada anggotanya, kebangsaan Jawa; S.I. lebih jauh lagi menetapkan batas-batasnya lebih luas dan menuntut anggotanya harus Muslim. Dan sejauh S.I. benjuang untuk rakyat Muslim, sejauh itu ia segera berbenturan dengan yang bukan Muslim, yang kepentingannya kadang-kadang langsung bertolak-belakang dengan kepentingan yang disebut sebelumnya; maka situasi yang kita peroleh: Islam lawan bukan-Islam.

Lagipula, faktanya sudah mengandung antitesenya bahwa anggotanya hanyalah orang muslim belaka. “Orang tidak mengadakan propaganda,”
katanya. “Karena itu S.I. bukan perserikatan agama”. Memang sulit diadakan propaganda untuk Islam di tanah Islam; lalu apakah propaganda suatu conditio sine qua non untuk serikat agama? Bukankah masih ada cara-cara lain untuk mengungkapkan ciri keagamaan?

Hal ini dapat kita lihat dengan jelas: dimana serikat itu beragitasi keluar, oleh situasi luar biasa dan suasana kini di kalangan kaum pribumi, aksinya terarah melawan orang non-Islam.

Bagaimana suasananya dapat kita simpulkan dan berbagai benturan antara orang Eropa dan Cina di satu pihak dan kaum S.I. di pihak lain.

Lagipula, S.I. menganjurkan anggotanya untuk berpegang pada Kur’an.

Apabila S.I. berjuang secara sosial, mengapa tidak dikotbahkan boikot melawan benalu tengkulak-tengkulak Arab dan kaum kolportir. Rukankah putranya HADRAMAUTH sudah pasti penghisap darah besar bagi kehidupan hersarna pribumi, dan belum lagi disebut hakekat haji. Mengapa S.I. tidak berjuang rnematahkan pengaruh para haji ini? Pasti bukanlah derni kepentingan orang pribumi, individu-individu ini berkeliaran di desa-desa dan memiliki kehidupan yang enak bertumpu pada kepercayaan polos orang-orang desa itu? Tetapi memang sulit, karena kedua kategori ini Muslim juga dan perlu dilindungi oleh bendera S.I.

Bagaimanapun juga, hanya keadaan, – dari pihak-pihak yang bersangkutan yang satu Muslim dan yang lain tidak, – membuat kita tidak menolak kemungkinan bahwa dalam hal ini kita tetap berurusan dengan organisasi keagamaan.

Sekali lagi yang berikut ini: untuk memasuki organisasi. para calon harus mengangkat sumpah setia kepada Kur’an dan anggaran dasar organisasinya.

Sumpah ini tentu saja harus diangkat sesuai tuntutan dunia Muslim: di tangan seorang imam (rohaniwan).

Jadi sudah sulit sekali di Hindia memisahkan kerja sosial dan politik, dan kedua ini saling melebur satu ke dalam yang lain, sehingga tri-sila ini disempurnakan oleh fakta bahwa Kur’an tidak mengenal pemisahan antara agama dan politik.

Apabila orang Muslim ingin berpegang erat pada peraturan-peraturan Kur’an, maka setiap penganut agama lain adalah musuhnya. bahkan ia tak boleh mengakui raja yang bukan Muslim.

Dengan menerima nama Islam, para pendiri pasti harus bertanggung-jawab atas konsekuensi-konsekuensinya yang mengalir dan hal ini. Namun orang tidak boleh mengabaikan satu faktor besar: kesadaran diri masyarakat pribumi, dan dapat kita lihat juga dalam S.I. suatu gerakan nasional yang kuat; ini ungkapan suatu bangsa yang, setelah mencapai fase tertentu, ingin didengar apabila ada yang perlu diputuskan tentang dirinya.

Bukanlah tendensi nasional melalui agama kita temukan dalam S.I, melainkan rasa kebangsaan dengan agama. Inilah sebabnya saya berpendapat bahwa Serikat Islam dalam perkembangannya harus bersifat baik politik maupun agama: sekalipun para pemimpinnya memberi penjelasan yang lain, bagian terbesar para anggotanya memandang serikatnya bukan saja sebagai yang memperjuangkan kepentingan-kepentingan sosial, melainkan juga (dan terutama) sebagai yang bertendensi agama.

Saya tak berkata, bahwa S.I. itu salah satu cabang dan Gerakan Pan Muslim. bahkan mengejar tujuannya. Namun kemungkinannya bukan tidak ada, bahwa organisasi ini sesudah waktu tertentu akan mengejar cita-cita yang lebih jauh dan yang kini dimilikinya, dan akan memperoleh warna internasional. Karena. bahwa orang Muslim dan Hindia-Belanda memang terbuka untuk Pan Islamisme, sekali ia berkenalan dengan gerakan besar ini, dan bahwa ia telah ditaklukkan bagi keraaan Muslim yang akbar ini, kalau para promotor memalingkan pandangan mereka ke Hindia, – sudah ternyata dan suatu perkara hukum di Medan, dimana seorang Turki diadili, yang dengan alasan-alasan menyesatkan menarik uang dari kaum pribumi dengan menceriterakan bahwa Sultan Turki mengutusnya untuk mengabari kaum Muslim di Hindia-Belanda, agar dia membebaskan mereka dan beban Belanda, bila setiap orang membayarnya f.40,-. Banyak orang dengan cara itu tertipu, dan telah menyetor uangnya; dan deretan korban akan semakin panjang apabila Pemerintah tidak menemukan penipuan itu.

Adakah uang itu mengalir ke saku orang Turki itu, sekiranya orang tidak memilih di atas kekuasaan Belanda, kekuasaan sultan Turki? Hal ini telah terjadi pada orang Melayu, namun pada orang Jawa ini pun mungkin terjadi.

Selanjutnya saya tahu, dan raja-raja kerajaan Muslim kecil di Sulawesi Utara yang kebetulan pernah saya kenal, bahwa beberapa di antara mereka pernah berpikir (apakah sekarang masih demikian, saya tak tahu) untuk mengirim putera-putera mereka untuk pendidikan ke Turki, ke Istambul, karena pendidikan di hoofdenschool di Tondano menurut mereka tidak cukup dan karena pengaruh kristen terlalu mereka rasakan.

Menyangkut orang Jawa:, orang sebaiknya jangan merasa aman soal ini karena berpikir, bahwa ia sebenarnya bukan Muslim secara rohani, karena sekali lagi, orang Jawa tidak menyadari hal ini; Ia sendiri yakin bahwa ia Muslim sejati. Dan sekiranya ada yang meragukannya, para haji yang berkepentingan bahwa umatnya itu Muslim sejati, akan menjamin bahwa kekhawatiran ini tidak menjalar. Di kalangan keturunan orang buangan Jawa di Tondano, saya mengamati, bagaimana mereka menentang  terhadap kepala-kepala distrik (kristen), begitu patuhnya mereka terhadap seorang Said yang juga dikucilkan, yang baru datang.

Bila kita lebih jauh meneliti tindakan-tindakan S.I. maka kita melihat bahwa mereka pun di jantung masyarakat pribumi, berjuang melawan kekurangan-kekurangan rakyat.

Perjuangan ini tidaklah baru, karena beberapa tahun lalu oleh murid-murid Landbouw en Veeartsenschool di Bogor didirikan suatu perserikatan bertujuan memerangi kejahatan-kejahatan rakyat. Serikatnya menyandang nama 7 M yang adalah huruf-huruf pertama kata-kata maling, madat, main, minurn, modon, mangan. Namun sesudah pendiriannya serikat ini sedikit sekali kabarnya. Selain surnpah waktu masuk, para anggota harus berikrar memerangi berbagai kejahatan dalam diri sendiri maupun dalam diri orang lain. Bahwa S.I. kuat memegang ikrar ini, dan bahwa ia terpandang oleh anggotanya, dapat disimpulkan dari kejadian-kejadiannya. Menurut koran-koran Hindia, kabarnya di daerah-daerah yang sudah dimasuki S.I., pencurian dan perampokan berkurang dari sebelumnya. Dan dengan bantuan S.I. Pemerintah berhasil memberi penerangan tentang berbagai kejahatan yang dilakukan, hal mana tidak mungkin sebelumnya. Karena itu begitu berbahaya untuk begitu saja menerima semua kejahatan-kejahatan yang oleh koran-koran Hindia dikenakan kepada S.I., karena sebagaimana seorang di antara mereka harus mengakui: sebenarnya hubungan dengan kerusuhan-kerusuhan tidak dapat di buktikan samasekali bahwa S.I. yang melakukannya. Apa yang kita ketahui pasti, selalu bagus bunyinya. Tanpa segera mengingkari ungkapan ini harus juga kita akui bahwa, dimana S.I. langsung terlibat dalam pemberontakan, hal ini sering terpancing oleh kecurigaan yang dimiliki dan ditunjukkan Pemerintah dan penduduk Eropa terhadap SI. Dimana Pemerintah rnenyarnbutnya secara terbuka, kita lihat dia senantiasa bersedia bekerja-sama dengan baik. Ketika pemerintah rnemintanya, cabang S.I. di Batavia, telah menyerahkan brosur-brosur, yang oleh komite Bandung dikirim kepadanya untuk disebarkan. Betapa mudah cabangnya berpura-pura mengatakan bahwa brosur-brosur tsb. sudah tersebar.

Di Bandung, tempat S.I. tidak menemukan perlawanan dan pihak Pemerintah, Ia beragitasi dengan sukses terhadap kehidupan concubinaat wanita-wanita pribumi dengan orang Eropah.

Bahwa dogma-dogma agama harus digunakan (kabarnya Kur’an melarang untuk hidup seperti itu dengan orang Kristen), dapat dirnengerti. Bukankah harus ditemukan caranya untuk menyadarkan orang pribumi akan situasi yang tidak diinginkan seperti ini: tujuan menghalalkan cara.

Karena concubinaat di Hindia,-yang oleh sering terjadinya di kalangan orang Eropa yang tidak menikah – yang hampir menjadi suatu kebiasaan umum, telah kehilangan sengatnya. Betapa sedikitnya orang muda Eropa dan Indo-Eropa terutama di pedalaman, memiliki keteguhan moral yang mampu menolak kebiasaan bejad seperti ini.Untuk memperlihatkan kepada wanita pribumi kedudukannya yang miring sebagai concubine, orang terpaksa harus mengacu kepada ajaran agama, karena keberatan-keberatan etis oleh keadaan telah kehilangan segala daya meyakinkan.

Selanjutnya ini suatu bukti tambahan bahwa S.I. bukanlah tidak merniliki ciriciri agama, terutama bila kita melihat bahwa mis. di Priangan, menurut Pemimpin Redaksi Javabode kunjungan ke mesjid-mesjid sangat meningkat sesudah didirikannya S.I.

Apa yang paling utama terkesan di S.I. adalah solidaritas anggotanya; orang cenderung membandingkanya dengan suatu camora Italia, sekiranya ia tidak bekerja terbuka dan mengejar suatu tujuan luhur dan indah yang tak terbantahkan. Solidaritas semacam ini mungkin diperlihatkan kepada orang Eropa dengan cara tidak terlalu rnenyenangkan, namun tetap suatu bukti yang menggembirakan dari bangkitnya kemampuan beladiri orang pribumi menentang kekuasaan rohani Cina dan Eropa, dan sekaligus suatu jarninan, agar orang Eropah  kurangi agresifitas dalam pembasmian fisik kaum pribumi. Sangatlah menentang rasa keadilan. dan bila orang adalah pribumi, sengsara dan terhina, untuk melihat bagaimana mis. Opzichter Eropa dalam kesalahan sekecil apa pun menghukum seorang pekerja pribumi dengan ‘rammeling’ sambil menetahui bahwa dia tak akan membela diri 1), dan tak seorang pun akan mengetahuinya. Jika keadaan memuncak, bila orang akhirnya teah melukai orang pribumi dalam perasaannya yang terdalam, dan dia akhirnya mengambil pisau, maka dalam koran-koran disebut bahwa politik etislah yang menanggung segala kesalahan, dan lembaga penyelamat: arbeids inspectie yang masih belum cukup keras tindakannya, diserang.

Seringkali berita-berita dari Hindia sampai kepada kami tentang asisten-asisten yang diserang kuli-kuli di perkebunan-perkebunan. Namun secara mutlak dapat dipastikan bahwa selalu dalam berita itu muncul kalimat ini: “tuan H baru 2 minggu (atau dua bulan, sebulan, dsb.) di sini”. Jadi suatu pemberitahuan bahwa yang diserang itu bagaimana pun baru saja di Hindia. Bukankah segera muncul pertanyaan, dan bukankah pertanyaan itu wajar: “:Tidakkah mungkin, bahwa bukan nafsu membunuhnya orang Jawa, melainkan kasarnya orang kulit putih yang tidak mengenal adat setempat, penyebab pembunuhan itu?”

Mengapa opzichter Indo jarang berkonflik dengan pekerja-pekerjanya; ia pun tahu bahkan lebih tahu menguasai rakyatnya, dan juga keras? Tidakkah kejadian-kejadian di Hindia suatu petunjuk, untuk tidak lagi memandang Deli dsb. sebagai tempat pembuangan bagi tenaga-tenaga Belanda yang berlebihan atau tak terpakai? Di Hindia cukup banyak orang muda lndo-Eropa atau pribumi yang dapat rnengerjakan tugas seorang asisten perkebunan jauh lebih baik dan orang muda Belanda; mereka mengenal rakyat pribumi dan tahan terhadap iklirn Hindia. Maka orang tidak perlu lagi di Deli menantikan penuh kecemasan datangnya SI. Namun sayang, warna kulit dan kelahiran mereka biasanya suatu halangan tak teratasi untuk jabatan-jabatan tsb.

Pertanyaan apakah Serikat Islam suatu ungkapan kehendak rakyat dan memenuhi suatu kebutuhan yang dirasakan, sudah terjawab lewat fakta-faktanya. Di seluruh Jawa anggota-anggota telah melapor untuk S.I., baik orang Madura dan Sunda, yang hampir tidak ada persamaannya dalam sifat-sifat rakyatnya, dan yang rasa kepentingan bersamanya sampal sekarang masih terpendarn bahkan di bidang agama.

Namun kebersamaan ini dibangunkan pertama-tama oleh propaganda S.I. dan kedua oleh politik kristen yang terlalu kuat dan Pemerintah di tahun-tahun terakhir. Sebagai bukti untuk yang terakhir ini saya ingatkan, bagaimana sesudah “Zondagsrustcirculatie” di Hindia timbul suatu kemarahan baru yang tertekan di kalangan pegawai negeri Muslim, terutama di perkereta-apian: “Mengapa” tanya  mereka, “hari istirahat kami tidak dihormati, dan karni dipaksa merayakan hari Minggu bersama orang kristen.” Bahkan dalam koran melayu “Chabar Perniagaan” yang dimodali Cina: ketika itu, orang merujuk kepada sebuah artikel dan Peraturan Pemerintah yang menurutnya kepercayaan setiap orang harus dihormati Pemerintah.

Tindakan kristen melampaui batas apa saja dapat terjadi di Hindia, terbukti dan kejadian-kejadian berikut: “Seorang residen yang baru diangkat mengadakan perjalanan kelilingnya yang pertama di daerah kristen; secara kebetulan ia harus merayakan hari Minggu di tempat yang juga didiami orang Muslim, yang bahkan memiliki pemimpin rakyatnya (burgervader) sendiri. Sang residen pagi itu ingin ke gereja, kejadian besar itu diumumkan kepada para kepala-kepala daerah. Para kepala distrik lalu mengirim surat resmi kepada kepala-kepala desa agar masuk gereja berpakaian seragam. Kepala muslim kita pun berseragam lengkap, duduk mendengarkan penolong pendeta Minggu pagi itu.”

Bersamaan dengan rasa kebersamaan islam-jawa itu, masuk pula faham-faham antifeodal ke dalam rakyat Jawa. Tidak bisa tidak; saat bangkitanya proletariat. ide-ide barn ini harus memasuki rakyat: jiwa ini terungkap dalam S.I. sebagai kekuatan rakyat yang mendesak ke atas, yang jalannya masih dapat diubah pemimpin-pemimpinnya dalam hal-hal kecil, namun mengubahnya secara menyeluruh mereka tidak mampu.

Jika kita mengikuti laporan-laporan tentang penghitungan rakyat oleh S.I. di Kali-Wungu, kita semakin yakin, bahwa S.I. mengarah kepada demagogi. Sebagai pembicara terhormat rnuncullah tuan TJOKROAMINOTO, Redaktur koran S.I.: Oetoesan Hindia. yang ternyata seorang pembicara rakyat yang ulung, dan yang dalam pidatonya menyatakan dengan jelas warna demokratisnya S.I.

Dalam replik dan duplik antara dirinya dan seorang jaksa dari salah satu tempat di daerah itu, yang terakhir ini membela mati-matian lembaga-lembaga seusia berabad-abad melawan serangan-serangan yang semakin rnernenangkan demokrasi. yang menemukan wakil yang tiada tandingannya dalam tuan TJOKROAMINOTO. Bahwa para pemimpinnya sangat menyadari kekuatan yang mendukung mereka, dapat kita lihat dan kata-kata benikut dalam pidato tsb,: “Harapan kita bahwa otonitas yang sah membuat kita mengerti apabila terjadi kesalahan, sebab kita dengan senang hati akan rnenyesuaikan diri”.

Lewat surat terbuka dalam Oetoesan Hindia, redaksi berpaling kepada Pemerintah sambil mengungkapkan ketidakpuasannya tentang cara kerjanya pegawai Eropa (a.l. seorang asisten residen), dengan mengungkapkan harapan agar pemerintah memperingatkan pegawai-pegawai itu atas tidak pantasnya cara kerja mereka.

Betapa berwibawa gaya surat itu, nadanya begitu tegas sehingga kita dapat memandang dokumen itu sebagai koreksi terhadap kebijakan pemerintah. Sejauh ini untuk pertama kali, serikat pribumi berpaling dengan bertanya langsung kepada pejabat Pemerintah tertinggi,

Apa pula yang dapat dikatakan tentang seorang pemimpin cabang S.I. yang menolak seorang kontrolir B.B. untuk menyerahkan dua anggota S.I. yang sesudah rnernbunuh, lari menyembunyikan diri ke rumahnya, sebelum mengadakan pembelaan dengan komite sentral.

Sekali lagi, bukanlah maksud para pemimpin, bahwa S.I. melawan Pemerintah sekalipun dalam suatu tindakan yang cukup beralasan, namun yang disebut di atas ini rnenggambarkan makna, hakekat, yang dikenakan orang pniburni kepada serikatnya. terutama kepada pemimpinnya. Sidang yang dipilih rakyat pribumi dan yang lahir darinya yang sebagai pelindung berhadapan dengan gubernernen Belanda. ini salah satu contoh dan banyak lainnya.

Dan peraturan-peraturan pemerintah dalam bulan-bulan terakhir, amat sangat bersifat sedemikian, sehingga mengesankan bagi orang pribumi bahwa S.I. sepantasnyalah melawan pemerintah; mereka hanya memperlemah posisinya terhadap rakyat. Ketentuan-ketentuan seperti di Besuki mis, bahwa apabila empat anggota S.1. terlihat bersarna-sama mereka segera dapat ditangkap, tak dapat tidak membuat orang tertawa belaka.

Mengapa ketakutan itu, kecurigaan dari orang Eropa? Di Besuki perkebunan tebu telah memiliki senjata-senjata. Itukah suatu pengakuan, suatu pengakuan terpaksa bahwa apabila memang kemarahan rakyat meletus, para kepala perkebunanlah jatuh sebagai korban-korban pertama? Sekali lagi adakah ini suatu pengakuan terpaksa, dan kebenaran fakta-fakta yang ditulis dalam “Het Boek Van Siman, den Javaun”?

Nah, ubahlah keadaan kerja wong tani, maka tak akan ada lagi alasan bagi pemilik-pemilik pabrik gula dan petani tabak untuk membentengi diri dalam rumah-rumahnya. Namun bukan cuma swasta, pemerintah pun – yang (lihat pidato mahkota Gubernur Jenderal) tahu bahwa S.I. menguasai seluruh keadaan, – memperlihatkan kecurigaan dan kekhawatiran terhadap S.I. yang bekerja tak rnenguntungkan prestisenya. Ketika putera mahkota Solo naik kapal di Tanjung Priok untuk berlayar ke Eropa, wakil-wakil S.I. ingin menyapanya sebagai pelindung serikat, Namun dihalangi polisi. Mengapa rakyat harus dilarang menjalankan penghormatan spontan ini? Mengapa perbuatan picik terhadap suatu kenyataan sederhana, sehingga tindakan ini membawa kepada salah tafsir?

Dan masa meyakini pendapat ini meskipun salah, karena tuan TJOKROAMINOTO menganggap perlu mengatakan dalam pidato yang sudah sering disebut-sebut: “Sumpah yang kami minta sebagai syarat, hanyalah suatu janji kesetiaan terhadap statuta; tak ada yang dituntut menentang pemerintah. Ada yang mengatakan bahwa S.I. mernpunyai rahasia. Ah, ada saja rahasia-rahasia di luar organisasi. Kalau pimpinan merasa kekurangan tenaga untuk mempertahankan statuta, Si. akan minta bantuan pemerintah.” Apabila gambaran yang salah itu belum masuk, mengapa ahli pidato ini menekankan kesepakatan yang harus ada antara S.I. dan pemerintah? Jiwa serikat rupanya telah menyimpang jauh dari maksud para pendiri sehingga mereka rnenganggap perlu menguraikan pendirian mereka dalam suatu pernyataan hukum: mereka menjelaskan keyakinannya:

a. Bahwa sejarah  kelahiran Serikat Islam tidak ada hubungannya dengan apa yang berkali-kali dikemukakan dalam koran-koran Hindia. seakan-akan dari pihak pemerintah diadakan tekanan pada berpindahnya orang Muslim kepada agama Kristen;

b. bahwa mereka dalam lingkungannya tidak menemukan bahwa usaha-usaha yang dimaksud itu (jika ada) telah menyebabkan rasa tidak senang di kalangan pribumi.

c. bahwa kaum pribumi tidak dihalang-halangi dalam pelaksanaan kewajiban-kewajiban agama Muslimnya, dan secara hakiki juga tidak mau dihalangi, tetapi bahwa dapat dipastikan S.I. tidak didirikan sebagai pertahanan terhadap agama kristen atau terhadap agama-agama lain apa pun;

d. bahwa masalahnya lain samasekali, terutama untuk memperoleh hubungan-hubungan ekonomi yang lebih baik oleh kerjasama, sehingga orang Jawa, Madura, Sunda dan Melayu, masing-masing sesuai kemampuannya bekerjasama demi kemajuan yang dalam tahun-tahun larnpau di Hindia tak dapat diingkari, juga untuk menarik keuntungan daripadanya.

e. bahwa bangsa-bangsa di Timur di tahun-tahun terakhir dimana-mana telah maju, sehingga juga sebagian besar kaum pribumi di Jawa terbangun dan memahami bahwa hanya dengan kerja-sama (semua terikat oleh satu ikatan) dapat diharapkan hasil-hasil kemajuan;

f. bahwa serikat mengenakan nama Islam karena para pendiri mengerti, bahwa ini paling berkesan dan dengan dernikian mencapai ‘ikatan yang diperlukan” sementara selain kepentingan materiiil kaum pribumi (Muslim R.), serikat bertujuan meningkatkan kehidupan beragama di kalangan pribumi Muslim tanpa perlu bersikap bermusuhan.

Namun marilah kita tinjau lebih dekat pernyataan ini.

Dalam a dijelaskan bahwa sejarah kelahiran dsb. dsb. Betul, sebagaimana saya sudah kemukakan lebih dulu: bukan pendiriannya melainkan dibanjirinya serikat, harus dipandang sebagai reaksi atas semangat kepemerintahan.

Dalam b. orang berhati-hati dari menjelaskan bahwa mereka di lingkungannya tidak menemukan rasa tidak senang terhadap tekanan (jika memang ada) untuk membuat kaum pribumi beralih ke agama kristen. Bagaimana keadaan di luar lingkungan mereka, tidak disebut-sebut, Namun bila memang diadakan tekanan dalam hal itu. pastilah terdapat rasa tidak senang, hal mana memang sangat mudah difahami.

Dalam c. pernyataan yang pasti bahwa orang pribumi dalam menunaikan kewajiban-kewajiban agamanya tidak mau dihalangi, namun segera sesudahnya kepastian bahwa S.I. bukan pertahanan terhadap agama kristen.

Dalam d. juga upaya menenangkan dan pernyataan puas kepada pemerintah dengan mengernukakan kemakmuran rakyat dan diperkuat

dalam e. yang juga menyatakan bahwa karena kemakmuran inilah, timbul kebangkitannya.

Dalam f. suatu penjelasan tentang motif-motif mengapa kata Islam diambil, dan pengingkaran bahwa tujuan-tujuan keagamaan menjadi dasarnya; namun hal ini segera dibantah oleh pemberitahuan pada akhirnya: bahwa tujuan yang dikejarnya adalah peningkatan hidup keagamaan orang Muslim tanpa fanatisme terhadap yang beragama lain.

Namun dengan demikian pertanyaan tidak terjawab: apabila tujuan utama serikatnya adalah perbaikan hubungan-hubungan sosial, kepentingan materiil kaum pribumi, mengapa dibuat antitese dalam pernyataan iman, sehingga bagian besar dan penduduk asli diasingkan?

Bagaimana menafsirkan pernyataan ini? Dengan mengujinya pada kejadian-kejadian, saya beranggapan bahwa para penanda-tangan mempunyai berbagai motif.

Pertama, karena khawatir bahwa kendali penguasa atas kekuatan-kekuatan terpendam yang dibangunkannya, perlahan-lahan akan terlepas, mereka berkehendak dengan pernyataan otentik jelas-jelas membatasi tanggung-jawabnya, dan jelas tidak rnau dimintai pertanggung-jawabannya atas kejadian-kejadian yang tidak langsung mengalir dari tujuan-tujuan tertulisnya.

Kedua: Pemerintah kini ingin mereka ampuni atas tuduhan bahwa SI. oleh anutan politik pemerintah yang menyebabkan turunnya nilai rohani organisasi dengan berubahnya arah politik hal ini harus dicegah: di atas segalanya, di bawah kekuasaan klerikal kristen atau liberal, S.I. harus dapat mempertahankan dirinya sebagai perwujudan kehendak rakyat terlepas dan sernangat kepemerintahan.

Ketiga: memperlihatkan kepada kita S.I. dalam bentuknya yang paling murni, yaitu yang diterangi pencerahan cita-cita para pendiri. Namun, fakta-fakta jelas tampak bagi kita, dan realitas kita lihat menyimpang dan cita-citanya.

Akhirnya apa gunanya bagi kita maksud-maksud sejumlah pribadi, apabila massa lain pendapatnya? Dan, sebagaimana TJOKROAMINOTO sendiri akui dalam pidatonya bahvva para pemimpin tidak akan mampu mengarahkan serikat ke tujuan lain apabila dikehendakinya sendiri, demi pandangan yang benar, kita jangan terlalu memandang serius penjelasan sejumlah pemimpin. sekurang-kurangnya jangan memakai pernyataan ini sebagai suatu penilaian obyektif dan dengan demikian memandang lebih rendah gerakannya.

Karena dari pengakuan itu sendiri, dan pengakuan tentang ketidak-mampuan diri sendiri untuk menghalangi atau mernbalikkan kehendak rakyat, dapat ditarik kesimpulan, bahwa jiwa serikat tidak dapat dinilai menurut ide-ide sejumlah pemimpin, Namun menurut pengungkapan-pengungkapannya.

Masalah lain adalah pertanyaan: sejauh mana para pemimpin itu bersalah, bahwa mereka kini tidak lagi menguasai keseluruhan gerakan yang mereka awali itu, sehingga kadang-kadang para anggota telah kehilangan pandangan atas statuta, dan berbenturan dengan pemerintah.

Bila kita mengikuti kejadian-kejadiannya. kadang-kadang rupanya para pemimpin tidak bersalah; bahwa mereka sekurang-kurangnya baik dalam pidato maupun dalam tulisan mendesak para anggotanya agar menjaga ketenangan dan ketertihan dalam negeri, Namun sering tindakan gegabah para pegawai Pemerintah atau berpegangnya terlalu keras pada kebiasaan lama orang Eropa atau Cina, memancing perlawanan dari atau benturan dengan S.I.

Kita juga tidak boleh lupa, bahwa pers Hindia berdaya-upaya untuk menyoroti SI. secara negatif.

Bagaimana mis. tentang pembunuhan massal yang dalam bulan Agustus dilancarkan anggota S.I. di Batavia? Orang menjadi khawatir, dan Javabode dengan agitasi berlebihan, menulis tgl. 19 Agustus:

“Semangat kaum pribumi, dipanasi kegilaan agama, ingin mengungkapkan diri dalam menjalankan pembunuhan massal terhadap orang Eropa. Bedebah-bedebah yang berspekulasi atas fanatisme sesamanya, bersembunyi di balik S.I. itu ingin mengadakan pembunuhan-pembunuhan demi hasil jarahan. Para saudara harus didahulukan karena S.I. dan agama Kristen dan sesudah membicarakan ketentuan-ketentuan Pemerintah, disertai pernyataan bahwa sejumlah pasukan akan siap-siaga lengkap dengan senjata, menyusul pernyataan untuk menenagkan penduduk Batavia: “Jadi tidak ada alasan sedikit pun untuk khawatir, (sic.R). Orang jangan takut untuk kejadian yang akan datang. Bayangan-bayangan yang sudah terlontar sudah memancing ketetapan-ketetapan yang sangat ketat.”

Setelah begitu dihebohkan, sekurang-kurangnya dapat dinantikan adanya bentrokan-bentrokan antara militer dan S.I.

Namun, tak terjadi apa-apa, bahkan tak ditulis apa-apa lagi tentang hal itu. Seluruh ancaman ternyata khayalan belaka; orang berusaha mengumpulkan bahan untuk incrimineren S.I.

Tgl. 29 Maret y.l. oleh Pimpinan Pusat S.I. dalam suatu audiensi, diserahkan kepada Gubernur Jenderal statuta untuk rnemperoleh hak pendirian, yang ditolak Gubernur Jenderal. yang berpendapat bahwa sebelum diberi hak berdirinya. para pemimpin harus menunjukkan sungguh-sungguh mampu menguasai gerakannya.

Mungkin saja pendirian tentang hal ini yang diambil pemerintah dapat dibenarkan berdasarkan hukum-hukum yang ada, tetapi dan sudut-pandang taktik tidak demikian.

Berdasarkan kenyataan bahwa organisasi ini suatu ungkapan dan jiwa rakyat, mestinya mereka sambut secara terbuka. Tidaklah dapat diingkari, bahwa penolakan ini menimbulkan kekecewaan di antara para anggota, dan dilihat sebagai sikap bermusuhan terhadap setiap emansipasi rakyat pribumi.

Semoga pada permohonan berikut Pemerintah berubah pendapat, sebab pemberian hak berdiri akan membawa dua akibat langsung: 1.kewibawaan moril para pemimpin diperkuat, yang mernampukan mereka lebih kuat menuntut diturutinya  statuta; 2. pemerintah tidak menunjukkan sikap bermusuhan dan juga tidak takut terhadap kebangkitan rakyat pribumi.

Jalan tengah untuk memberi hak berdiri kepada organisasi-organisasi lokal dan tidak kepada satu organisasi besar menurut saya akan memperlemah posisi pemerintah.

Seperti halnya setiap gerakan di negara-negara lain akan muncul pribadi-pribadi yang menginginkan lebih cepat jalannya keadaan. Orang-orang yang jiwanya mendahului masanya, Namun tetap harus hadir untuk melempangkan jalan bagi massa, yang mengikutinya. Di antara pribadi-pribadi semacam itu saya masukkan orang-orang Jawa yang sudah banyak diperbincangkan seperti TJIPTO MANGOENKOESOEMO, dan R.M. SOEWARDI SOERJANINGRAT. Yang terakhir ini adalah Ketua S.I. di Bandung. Orang-orang terpandang dengan sikap kritis, memberontak terhadap pandangan-pandangan keliru dan hubungan-hubungan yang salah di negerinya.

Maka ketika pesta-pesta kemerdekaan Belanda dirayakan dengan begitu menyinggung perasaan orang pribumi, terbentuklah di Bandung suatu komite terdiri dari orang-orang pribumi yang menyebarkan brosur geincrimmeerde: “Jika saya orang Belanda….” Dapatlah dimengerti dan dimaafkan terhadap seorang anak bangsa yang tidak memiliki kemerdekaannya. Tulisan ini mestinya tidak boleh menjadi alasan bagi ditawannya kedua orang tsb. yang memiliki keberanian untuk berjuang demi cita-citanya. Lagipula dalam keseluruhan dokumen itu tak ada bekas ‘rassenhaat”. Justitie di Hindia yang mau memerangi ‘rassenhaatwekkende’ tulisan telah alpa dalam memusatkan perhatiannya terhadap artikel dalam Preangerbode: “Jika saya orang pribumi” Bodoh dan lebih menghina lagi dari lawannya, tulisan itu mencerminkan cara yang tak dapat dipercaya sebagaimana orang Eropa rata-rata yang oleh pengaruh panasnya matahari tropis bertindak terhadap rakyat pribumi.

Terpaku pada kewibawaan Barat di masa ini, baginya segala yang sifatnya Hindia, rendah dan ia lupa (bahkan tidak tahu samasekali) bahwa Timur juga memiliki budaya yang sangat dihargai orang-orang Barat terhormat dan termasyur.

Dalam pamflet: “Bila saya pribumi” satu penghinaan ditumpukkan atas yang Iainnya dan berakhir dengan: “Apabila saya orang pribumi … saya ingin menjadi orang Belanda.”

Perlakuan merendahkan yang sudah dikenakan pada orang pribumi, terlalu dikenal untuk dibicarakan lebih lanjut. Namun apabila seorang pribumi bereaksi mengamuk, ía disebut: “orang Jawa yang tidak matang, setengah masak” atau “anak tropen tanpa keseimbangan dalam pikiran dan perasaan”, sebagaimana dirumuskan redaksi Soerabaiasche Handeishlud.

Bagi saya lebih dapat dimengerti bahwa pengejaran itu dilembagakan karena jiwa lndische Partij berhembus dalam brosurnya. Kalau demikian, ini satu bukti lagi bahwa sekalipun resmi sudah dibubarkan., l.P. masib tetap ada. sekurang-kurangnya ikatan jiwa yang mengikat anggota-anggota partai sehingga pada suatu hari bangkit dalam bentuk yang lain.

Betapa kelirunya akibat hukuman itu, dapat kita baca dalam Expres. TJIPTO MANGOEN KOESOEMO menulis:

“Ada rangsangan untuk menantang penguasa (Pemerintah) yang mengerahkan tenaganya sedemikian rupa untuk mengecilkan kami. Semakin kuat aksinya, seimbang pula kekuatan kita.”

Naif tak bertanggungjawablah para penguasa di Nederland untuk memandang TJIPTO dan SOEWARDI terpisah sama sekali dari massa rakyat Jawa, sebagai dua “true ayes” yang pikiran-pikirannya terlalujauh terpisah dan orang Jawa biasa, untuk diperhitungkan. Hal ini juga dilihat sejumlah koran hindia; Locomotief a.l. berkata: “Setiap permainan pemberontakan hanya akan bermuara pada sejumlah salvo. Atau bila rnenghendaki basil paling baik, pada munculnya penguasa yang lain..” Kemungkinan ketiga tidak dibicarakannya: Bagaimana pun juga orang mengakui bahwa ide-ide TJIPTO dan SUWARDI, tersebar luas di berbagai kalangan. yang dapat menjadi alasan bagi suatu “permainan pemberontakan.”

Bukan, kita jangan melihat dalam kedua orang Jawa ini orang-orang sesat secara rohani di tengah hutan-rimba ide-ide Barat yang dimasuki berbagai orang Hindia yang bangkit, bukan, mereka adalah bentara-bentara yang diutus mendahului arak-arakan panjang yang akan datang. Apa tujuan akhirnya; kemana arah arakarakan itu? Menurut saya ini tidak bisa diragukan lagi. Mungkin tidak disadari, perjuangan S.I. akhirnya akan dibimbing menurut arahan yang dikehendaki TJIPTO dan SUWARDI, betapa menghancurkan pun pandangan pers dan masyarakat.

Dalam koran Locomotief kita membaca: “Sungguh amat sangat disayangkan karena ini sangat merugikan penduduk pribumi. ini ikut merugikan suatu serikat yang murni dan berguna.”

Bahwa kedua idealis, sebab memang demikianlah mereka, Iebih merugikan daripada menguntungkan diri mereka sendiri, sudah pasti. tetapi bahwa mereka telah merugikan kepentingan S.I. tidaklah jelas. Justeru oleh selingan yang kurang menyenangkan ini dalam kehidupan politik, mereka telah memberi pelajaran kepada pemimpin-pemimpin S.I. untuk berhati-hati. Bagaimana para pemimpin menanggapi isyarat ini baru kita tahu kemudian.

Namun bahwa evolusi S.I. kini sudah dibatasi, kenyataannya didiamkan. Saat-saat yang sulit akan dihadapi wakil-wakil penguasa Belanda di Hindia.: politik kolonial telah memasuki tahap yang baru. Di samping pandangan dan keinginannya, Pemerintah kini juga harus rnempertimbangkan pandangan rakyat Hindia, yang diwakili pimpinan S.I. Pada pandangan pertama kesannya situasi tidak sehat berupa “adanya negara dalam negara”, pada tiniauan selanjutnya sebenarnya ini langkah besar maju menuju “Parlemen Hindai”, jadi sangat rasional.

Pada akhir usahanya, saya tak dapat tidak memberi sekedar pandangan alas aliran-aliran pada urnumnya yang muncul di Hindia.

Kini bukan pertanyaan lagi apakah Hindia matang untuk pemerintahan sendiri, soalnya hanya apakah Hindia berhak atas pemerintahan sendiri. Dan jawabannya tak bisa tidak ya; juga politisi Belanda yang punya wibawa beranggapan, bahwa satu-satunya kewajiban yang dipikul Belanda adalah: mendidik Hindia untuk berdiri sendiri sebagai bangsa. Jadi sekiranya hak otonomi bagi Hindia suatu fakta yang tak terbantahkan maka haruslah diperjuangkan setiap upaya yang mendorong hal tsb.

Dan begitu “disayangkan” bahwa pemerintah bersikap sangat tidak bersahabat terhadap lndische Partij; ketika ungkapan partai itu penuh gejolak, mestinya diredakan; karena dengan pembubaran I.P. telah diadakan pemilihan di kalangan pribumi dan Indo terhadap pemerintah. Terutama yang terakhir ini, merasa dilupakan oleh tanah air. Siapa yang meragukannya, carilah saja suatu karya ilmiah tentang “Masalah Indo.”

Bila professor SNOUCK HURGRONJE dalam serangkaian ceramah membahas masalah Islam, pantaslah orang memberi lebih banyak perhatian terhadap soal yang sama pentingnya: masalah Indo. Praktek telah membuktikan bahwa hal ini patut diperhatikan, bahwa sang Indo tak mesti disisihkan bagaikan Jumlah yang boleh diabaikan dalam politik kolonial, dan bahwa dalam perlakuan keliru unsur Indo masih lebih berbahaya dan yang pribumi, karena sang Indo tidak memiliki kesabaran dan ketakwaan seperti yang dimiliki orang Jawa.

Dalam suatu artikel Gids berkatalah tuan VAN DEVENTER merujuk kepada masalah Islam: “Hendaknya Belanda diperingati dan bangun, sebelum terlambat”. Kata-kata ini ingin juga saya terapkan pada masalah Indo.

Bermimpi tentang suasana berpikir di Hindia kini, amat sangat optirnis. Telah muncul semangat ketidak-puasan orang tidak puas dengan ketertiban yang ada tidak puas dengan tanah air, dan :kerusuhan serta permainan revolusi merupakan pendahuluan dan hal-hal yang akan datang, kecuali tangan besi membanting stir dan mengarahkan kepal politik kolonial ke pelabuhan yang aman.

Karena, sekalipun tuan NOTOSOEROTO menulis dalam salah satu tulisannya bahwa nada dasar dan perasaan kaum pribumi di Nederland itu: ‘simpati terhadap Belanda dan orang Belanda”, apa artinyajumlah kecil itu ketimbang jutaan di Hindia sana.

Selama situasi disana tidak diperbaiki, bukan saja untuk sejumlah kaum intelektual namun bagi semua orang yang terlahir dalam perjuangan hidup dan menggulati prasangka dan posisi hukum yang tak menguntungkan, selama itu tetap ada ketidakpuasan.

Bukanlah di Belanda harus terlaksana perbaikan terhadap penyakitnya, bukan saja upaya melancarkan aliran orang Hindia ke Belanda yang akan membelokkan bahaya (sebelum tercapai Jumlah secukupnya disini, mungkin sudah terlambat), Namun di Hindia sendiri orang harus mulai dengan perubahan mendasar yang menuntut kepatutan.

Disana, bahan bakar harus dijauhi dan apinya; orang harus membasmi hal-hal yang bisa menjadi penyebab arak-arakan yang diumumkan dua bentara agar dapat lewat bagaikan mimpi buruk yang menakutkan bagi rakyat Hindia dan Belanda.

Bahwa kelak akan tiba waktunya bahwa Hindia berdiri sendiri sebagai bangsa, sudah pasti. Sejarah tak dapat membuktikan adanya satu bangsa pun yang dikuasai secara abadi.

Semoga perpisahan yang tak terelakkan itu bersahabat sifatnya, agar sesudahnya tetap berlangsungjalinan unsur-unsur budaya yang nyaman antara 1-lindia dan Belanda yang berabad-abad lamanya pernah dipersatukan oleh sejarah.

AMSTERDAM, November 1913.

 

Publications by / or referring to Dr.G.S.S.J. Ratu Langie

Patung Sam Ratu Langie di Tondano
Patung Sam Ratu Langie di Tondano
Last updated: 25 Agustus 2009

Publications by Dr. G.S.S.J. Ratu Langie

“SERIKAT ISLAM”, Gerungan S. S. J. Ratu-Langie, Amsterdam, November 1913 Baarn, Hollandia Drukkerij (1913), This document can be found at the Koninklijk Instituut voor Taal, Land en Volkenkunde (KITLV), Leiden, Netherland

Sebagian besar dari informasi dibawah ini  dikutip dari buku “Risalah Sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI)” yang berlangsung di tahun 1945,  Cetak Ulangan 1992, Lampiran B.

Naskah :

“Kurven-Systeme in Volstaendigen Figuren” Disertasi di Zuerich tahun 1918,

“De Meetkunde voor Euclides” buat Natuurwetenschappelijk Congres, Jakarta 1920 dan

“Een Methode voor het grafisch teekenen van 2e graadscurven” buat Natuurwetenschappelijk Congres, Bandung 1922.

berbagai  karangan-karangan lain dalam mingguan “Peninjauan” 1934 dan “Nationale Commentaren” antara 1938-1942.

“De Pacific” Verzameling Opstellen van : Dr. G. S. S. J. Ratulangie, Moh. Thamrin, M. Soetardjo (1937)

Dr. G.S.S.J. Ratu Langie “Indonesia in den Pacific – Kernproblemen van den Aziatischen Pacific” sebagai salah satu bahan pembanding utama, buku ini telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia,dan digunakan oleh banyak peneliti ataupun ahli strategi ekonomi dan militer.

Publikasi2 Dr.G.S.S.J.Ratu Langie temuan peneliti  M. H. Schouten:

1. “Minahasa and Bolaang Mongondow” (an annotated Bibliography) 1800 – 1942 KITLV – Bibliographical Series 10 – The Hague – Martinus Nijhoff 1981.

2 “De geringe toeneming der bevolking in de Minahasa” (TBB 46 (1914) : 237 – 238),

3″ De oorsprong van de naam Manado” (Indie GW 1 (1917 – 1918) : 122),

4 “Pandagian” (dalam majalah De Taak 5 (1921 – 1922) 215 : 687 – 688; 216 : 700; 217 : 711 – 712)

5 “Rondor Mamarimbing” (fragment van een sociale roman) dimuat dalam Nationale Commentaren 1 (1938) 41, IV : 806 – 808; 47 : 892; 48 : 907 – 908; 50 : 951 – 952, IV; 48 : 907 – 908; 50 : 951 – 952; 51 : 958 – 969. Mengutip Schouten : Extracts from an unfinished novel, giving impressions of conditions in Minahasa (1895 – 1905). Principal character is the young son of a district chief (majoor). Members and organization of an upper class extended family, angury using bird calls, school for sons of chiefs (hoofdenschool) at Tondano, simultaneous traditional and Christian beliefs and ideas. Suatu terjemahan juga terdapat dalam W.S.T. Pondaag, Pahlawan Nasional Mahaputra Dr. G.S.S.J. Ratu Langie. Surabaya 1966, P 191 – 211 with photographs.

6 “De Minahasa” Dalam majalah De Amsterdammer 2085 (1917) : 13 photographs. General description of the cultural characteristics of the Minahasan population : their proffesional and academic education and acceptance of the western way of life. Indiegenous culture has not disappeared at all, agliculture is becoming more popular again. .

7 “De vrouw in de Minahasa” dalam majalah De Indier 1 (1913 – 1914) 29; 30 : 243 – 246; 2 (1914 – 1915) 1 : 3 – 6; 2 : 11 – 14; 3 : 19 – 22; 4 : 27 – 30 Discussion of the traditionally high status of women in Minahasa. Life cycle, economic activities. Customs relating to marriage, bride price, mutual terms of address of husband and wife showing almost equal status. Role of women in myths and hystorical anecdotes, endurance and independence of Minahasan women. Educational oppertunities for girls, progress at school. Decline of handicraft performed by women.

8 “Het Onderwijs aan de Inlandsche meisjes in de Minahasa” (Pendidikan putri di Minahasa) dalam majalah Hidia Poetra 1 (1916) : 13 – 18. The status of women in relation to extensive educational oppertunities for girls in Minahasa. Educational institutions among them the Protestant girls’ school in Tomohon. Some girls become teachers or other occupations, the basic purpose is however to improve their role as wife and mother.

9 “De bezoldiging bij den Inlandschen bestuursdients in de Minahasa” (Gaji Pamong pradja di Minahasa). Finacial position of civil servants in Minahasa being worse then on Java Evidence is provided by comparative statistical data with Residency of Kediri. Lack of promotial opportunities, high cost of living, detrimental to civil servants. Author advocates better payment and also other opportunities in other parts of Sulawesi (or Indonesia)

10 “Onthulling” (Pengungkapan / Penjelasan). Dalam majalah De Taak 3 (1919 – 1920) 46 : 124 – 125. Discussions of a conflict between the district chief and a Dutch district officer, arising from their divergent opiniens on social cooperatives (mapalus) but most probably on the heerendiensten or kerja paksa.

11 “De Inlandsche Gemeente ordonantie voor de Minahasa” (Undang – undang Kotamadya atau pembentukan Kotamadya) Commentary on the draft Ordinance for Indigenous Communities before the People’s Council (Volksraad) concerning the administrative reform of Minahasa (1930). The criticism deals in particular with the new regulations for village admisnistration. The author argues that not the village but the “walak” is of foremeost importance as an administrative and judical unit. The view is supported by the nationalist organization “Persatuan Minahasa”,

12 “Het Minahassisch Ideaal” (Cita – cita Minahasa) Voordrachten en Mededeelingen (van de) Indische Vereeniging Vol. 9 and 10 Delf Meinema, 1914 – 1915. Vol 9 p. 31 – 45; Vol 10 p 53 – 56. Ceramah dan pengumuman dari Perkumpulan “Indische Vereeniging” – Lecture by the Minahasan president of the association of Students from the Indies in the Netherlands. Individual identity of Minahasans, determined by Christian religion and westerns education. Minahasan should play a role in bringing western civilization, education, religion, and medical care to other regions in Sulawesi. Comments were given by, C. Th. van Deventer, Surjoputro, Suardhy Suryaningrat (Ki Hadjar Dewantara).

13 “De Minahassers in de Indische Beweging”(Orang Minahasa dalam gerakan Nasional) karangan bersama F Laoh, KT 6 (1917) 1 : 467 – 478. Outline of the origin and working methods of the Christian Minahasan political associations, interrelationship with other political organizations. Perserikatan Guru – guru strongly opposing educational refeorm, Vereeniging Juliana is an association of the district chiefs. Studiefonds vereeniging Minahasa (Batavia) provides study oppernities and financial support for young people both within and outside of Minahasa. Perserikatan Minahasa has members everywhere in Indonesia. Foundation by soldiers. The PM and SM cooperate for the advancement of the peasant population and creation of indigenous small – scale trade and industry. It does not strive for political independence. Large scale migration to Java. Well educated Minahasan role as “civilizers” to other ethnic groups in Sulawesi. Finally the role of the Dutch Protestant missionaries is finished.

14 “Minahasa Perspectieven” dalam majalah De Taak 3 (1919 – 1920) 46 : 125 – 127. Political associations in Minahasa, which need to be based on the antithesis between the Dutch Government and the Indonesian people. The Perserikatan Minahasa Celebes, based on this principle, has the ideal of bringing western culture to other regions of Sulawesi. Ini mungkin merupakan semacam keunggulan atau relative advantage.

15 “De Agrarische Quaestie” (Masalah Hukum Agraria) juga dalam majalah De Taak 4 (1920 – 1921) 23 : 263 – 265. Review of A. I. Waworuntu (1920, see no 633 – De agrarische quaestie in de Minahasa. Une question brulante. Semarang, N. N. 1920 78 pp – the author (Waworuntu argues that landownership in Minahasa should be regulated in accordance with customary law, which states thatince cleared and cultivated, land remains in hte property of the first tiller and his inheritors) adding new dimensions to support his argument. Quotations from contracts between Minahasa and the VOC, at the end of the 17th century. The argument is that Minahasans lose their land by selling or renting due to emigration.

16 “De Kalakeran gronden in de Minahasa” (Tanah Kalakeran di Minahasa) dalam majalah De Stuw 1 (1930) 13 : 5 – 7 The rights on the kalakeran lands in Minahasa particularly within the urban area of Manado. These lands are supervised by the ancient walaks. In Manado these lands are enclaves within other walaks (now districts. But not always acknowledged by the governmen. Other problems due to recent reform in the territories of the districts.

Publications referring to Dr. G.S.S.J. Ratulangi

1 J. M. Otto “Een Minahasser in Bandung” – Indonesische oppositie in the koloniale gemeente dalam Excurises in Celebes, verhandelingen KITLV 147; 1991, terutama menggambarkan suatu debat dalam dewan kotamadya Bandung diantara tahun 1922 – 1924 untuk menentukan anggaran belanja kotamadya Bandung pada waktu itu. Dalam buku yang sama juga telah dimuat karangan P. J. Drooglever Vernandel versus Sahelangi : Match en Moraal in de Minahasa omstreeks 1890.

2 David Henley “Nationalism and Regionalism in Colonial Indonesia” : The Case of Minahasa karangan ini yang diterbitkan dalam majalah Indonesia No 57 dari Southeast Asia Program Publications, Cornell university New York, 3 Akhirnya mungkin juga saya ingin sumbangkan suatu makalah “Glimpses on early, late and post-colonial church missions in North Sulawesi Indonesia”

“Pahlawan Kemerdekaan Nasional Mahaputera Dr. G. S. S. J. Ratu-Langie, Riwajat Hidup dan Perdjoangannya”, oleh W.S.T. Pondaag, Penerbit :Jajasan Penerbitan Dr.G.S.S.J. Ratu-Langie, Surabaja (1996)

Pahlawan Nasional Dr.G.S.S.J Ratu Langie
Pahlawan Nasional Dr.G.S.S.J Ratu Langie

“Dr. G. S. S. J. Ratulangie dan Yayasan KRIS”, Penerbit : Dinas Museum dan Sejarah Daerah Khusus Ibukota Jakarta 1978

“Album 90 Pahlawan Nasional dan Sejarah Perjuangannya”, Penerbit : Bahtera Jaya

“Buren in De Koloniale Tijd” De Philippijnen onder Amerikaans Bewind en De Nederlandse, Indische en Indonesische Reacties Daarop 1898 – 1942 Karangan : N. A. Bootsma

“Le Pacifique ‘Nouveau Centre Du Monde’” Institut Du Pacifique Stratigies, Karangan / Penerbit : Berger – Levrault / Boreal Express

GEDUNG YAYASAN PERGURUAN KRIS yang terlantar

GEDUNG YAYASAN PERGURUAN KRIS

Jalan Sam Ratu Langie 26-28, Jakarta Pusat

Email dari Emlia Pangalila PhD

Tuesday, March 31, 2009 3:28 PM

Email dari Emilia Pangalila di Nederland kepada Lani Ratulangi di Indonesia berkaitan dengan tidak terawatnya gedung sekolah KRIS di  alamat tersebut (lihat foto dibawah ini dibuat tanggal 2 September 2008)

Atap genteng rubuh!!!

Kepada kalian,

Perumahan Perguruan KRIS adalah rumah bersejarah karena waktu Perang Dunia II ialah kedudukan Penolong Kaum Sulawesi, pusat pertolongan di selurh Jawa, untuk wanita-2 Minahassa yg terlantar karena suami-2 mereka di interneer oleh tentara Nippon karena mereka prajurit KNIL. Sesudahnya perang wanita-2 ke Minahassa dan menyebarkan disana kesedaran Kebangsaan Indonesia! Saya mengalami ini waktu tahun 1949 pada penguburan ayah di Minahassa. Ternyata bahwa wanita-2 itu telah menjadi batang pertahanan untuk Barisan Nasional di Minahassa. waktu prya-2 telah di penjarakan oleh pemerintah Belanda. Anak-2 remaja mereka pun berontak melawan tentara Belanda pada pebruari 1946, walaupun ayah-2 mereka berfihak KNIL kembali.

Untuk kersedaran Kebangsaan maka PeKaSe (Penolong Kaum Sulawesi) penting sekali, karena wanita-2 mengalami waktu Perang Dunia II bahwa hanyalah seperti bangsa merdeka kitorang dapat membela kepentingan kitorang!

Zus Pangalila-Ratulangie

Email dari  Lani Ratulangi kepada Emilia Pangalila dan segenap kawan2 dan saudara2 mengenai:

Mengenang Awal Jalan Sam Ratulangie 26, Jakarta Pusat

Date: Friday, April 3, 2009, 5:56 PM

Prolog

Email message yang saya peroleh dari kakak wanita saya yang tertua: Emilia Pangalila-Ratulangie beberapa hari lalu tiba2 membuka celah kenangan saya ke masa lalu … khususnya periode setelah pemerintah kolonial Belanda bertekuk lutut kepada tentara Jepang.

Saya ingat serdadu2 Jepang dengan topi (cap) mereka yang aneh, sebab dibagian belakangnya ada potongan2 kain terjahit pada topi mereka, katanya untuk melindung mereka agar terik panas matahari tidak mengenai tengkuk (bagian belakang leher) mereka.

Saya ingat juga sekali waktu saya naik kereta api bersama Ayah ke peristirahatan kami di Cimelati maka ada seorang prajurit memanggil saya dan memberikan jajanan kepada saya. Kata Ayah “Kasian… mereka ingat anak2 mereka yang harus mereka tinggalkan di Jepang.”

Hal lain yag saya teringat adalah bahwa saya kadang2 membantu ibu saya dengan mebuat kantong2 dari kertas coklat, yang kemudian diisi dengan beras atau dengan gula. Belakangan saya mengerti bahwa kegiatan mengepak beras dan gula pasir adalah dalam rangka satu kegiatan yang mungkin dapat disebut MAPALUS……

Foto bersama dibelakang rumah bersama Oom Wim Ratulangie

(senter por adalah aku dipangku sama Theo Dotulong)

Awal zaman Jepang.

Waktu perang dunia kedua meletus yang kemudian disusul dengan masuknya Jepang ke Nederlands Indie yakni tanah air kita yang waktu itu terjajah Belanda maka seluruh hubangan interinsular di Indonesia terhenti.

Anak2 sekolah  dan mahasiswa yang berasal dari Minahasa, Mongondow, Makassar dan sekitarnya yang sedang belajar di Batavia tidak lagi dapat menerima uang untuk bayar biaya sekolah ataupun biaya kost. Ya sekolah pun sebagian besarnya ditutup. Guru2 bangsa Belanda di”internir”, artinya dimasukkan ke “kamp”, daerah2 tertentu seperti misalny di Tjideng diperuntukkan bagi orang2 Belanda dan Indo Belanda. Kamp2 ini dikelilingi oleh pagar kawat berduri dan penghuninya tidak dapat bebas keluar dari kamp mereka.

Tentara Nederlands Indie waktu itu adalah Koninklijke Nederlands Indische Leger (KNIL). Antara mereka banyak dari suku Minahasa dan Ambon disamping suku2 Indonesia yang lain. Tentara ini harus mengikuti perintah dari atasan mereka dan banyak antara mereka ikut mengungsi bersama atasan ke Australia atau tempat2 lain sesuai perintah atasan.

Maka tinggallah keluarga2 dari KNIL ini yakni para ibu2 dan anak2nya sendiri dan tak tahu apa yang harus diperbuat oleh mereka. Yang saya tahu sebagian besar dari merekla tinggal di tangsi “Tiende Bat”  (Bataliun ke Sepuluh) didaerah didekat Pasar Senen dibelakan Jalan Perapatan.

Pada waktu itu keluarga kami mendiami satu rumah yang cukup besar di Kramatlaan No 10. Kalau saya ingat rumah itu saya merasa senang sekali karena baik rumah maupun pekarangannya luas: dibagian tengah adalah kamar2 keluarga kami, dibagian kanan rumah itu (dilihat dari arah kalau masuk) ada deretan kamar2 yang ditempati Tante Saar (adik ibu saya) dan  beberapa saudara2 sepupu laki2 saya masing2 sendiri atau berdua sekamar. Mereka bersekolah di sekolah menengah di Batavia.

Sedangkan dibagian kiri rumah itu adalah deretan kamar2 yang cukup besar yang digunakan sebagai ruangan kantor Ayah saya.  Maklumlah disana diterbitkan Majalah Mingguan “Nationale Commentaren” yang keseluruhannya:  disusun, ditata dan diterbitkan oleh Ayah saya sendiri dibantu oleh seorang saudara bernama Piet Pantouw. Juga ada beberapa pembantu2 rendahan sebagai “office boy”.

Saya ingat bahwa saya senang sekali bermain2 dikantor itu, yah seperti biasa seorang anak berumur 9 -10 tahun. Saya ingat juga bahwa pada hari2 tertentu setiap minggu, majalah2 sudah dipak rapih, sudah diberi tempelan alamat dan diantar dengan opelet ke Kantor Pos Pusat di JalanPos, dekat Pasar Baru. Terkadang saya boleh ikut naik opelet itu.

Halaman belakang yang luas sangat rindang dan pagarnya sampai ke dekatGereja Katolik dari perumahan Vincentius. Seringkali kudengar nyanyian merdu dari gereja itu dinyanyikan oleh paduan suara. (dan tidak menggunanakan pengeras suara … karena memang belum ada pengeras suara pada waktu itu).

Dibagian depan rumah, disebelah kanan, didepan kamar Tante Saar ada pohon Bunga Merak tempat saya biasa sandarkan sepeda saya untuk masuk rumah dari samping. Saya juga teringat akan tukang daging, langganan ibu saya untuk membeli keperluan daging untuk hidangan keluarga kami yang sebenarnya cukup besar itu yakni Ibu dan Ayah, kami sekeluarga berlima kakak-beradik, sepupu wabnita yang in de kost Guusta Lumanouw dan Inez Manaroinsong, sepupu laki2 ada 2 pula yakni Douwe Lumanouw dan Edin Rimbing. (Yang terakhir sebenarnya bukan sepupu benar akan tetapi sangat akrab pula dengan keluarga kami).

Yang di kiri bawah adalah saya
Yang di kiri bawah adalah saya

Keluarga kami sering dikunjungi aneka saudara lain dan juga sahabat2 Ayah, antara lain yang saya ingat adalah misalnya Tante Tine Waworoentoe, Oom Thamrin dan masih banyak orang lain.  Kalau saya bandingkan dengan Jakarta sebagaimana keadaannya sekarang …… Alangkah beda ….

Terkadang saya jalan2 (diantar pembantu) ke Jalan Kenari dimana Oom Thamrin berdiam, atau jalan2 dengan orang tua ke Jalan Raden Saleh kerumah Kel. Soetardjo dan makan bersama  keluarga itu. Yang aneh (!) adalah bahwa Ibu dan Bapak Soetardjo makan duduk disatu meja yang bulat dan yang tinggi seperti biasa sedangkan semua anak (mungkin ada 8 atau 9 orang) duduk lesehan sekeliling meja yang rendah …. Saya heran tetapi senang. Ayah dan Ibu saya tentunya duduk bersama Oom dan Tante Soetardjo dimeja yang bulat itu. Demikian nyaman hidup saya sebagai anak berumur 9-10 tahun, tidak sadar mengenai pergolakan penting yang sebenarnya berlangsung sekeliling saya.

Setelah Tentara Jepang masuk, maka satu kenangan yang relatip jelas bagi saya adalah bahwa tiba2 sekelompok Ibu2 Manado dengan anak2 besar dan kecil, ada yang digendong dalam selendang datang kerumah ingin menemui Ayah saya. Diantara mereka ada yang kelihatannya menangis….. Terus terang, saya tidak diberitahu apa yang telah terjadi tetapi saya harus mengerti sendiri bahwa rupanya mereka meminta tolong kepada Ayah saya.

Ternyata mereka adalah penghuni dari kampemen Tiende Bat dan katanya diusir oleh tentara Jepang karena perumahan itu mau digunakan oleh tentara Jepang.Sayapun tidak diberitahu apa yang berlangsung setelah itu namun bertahun tahun kemudian (tepatnya tahun 1949 waktu mengantar jenazah Ayah untuk dikuburkan di Tondano) saya lihat ditampilkan satu “sandiwara”  yang dimainkan oleh beberapa anak2 muda di Tondano. Dalam sandiwara itu ada diperihatkan satu  adegan yang meniru apa yang rupanya berlangsung di area Tiende Bat ditahun 1943 itu waktu  Jepang ingin menduduki tangsi tempat berdiam ratusan istri2 prajurit dan opsir KNIL.

Rupanya Ayah saya ikut dengan para ibu2 itu ke tangsi mereka dan berbicara dengan opsir (rendahan) yang memimpin tentara Jepang disana. Entah apa yang dikatakan oleh Ayah saya (mungkin sesuatu yang berkaitan dengan “Geneva Convention”) , pokoknya si Jepang marah dan menempeleng Ayah saya sampai Ayah saya terjatuh ketanah. Saya ternganga menlihat adegan itu dan menanyaka kepada kakak saya Zus (Emilia) yang 10 tahun lebih tua dari saya apakah benar ada kejadian semacam itu. Iapun mengiyakan pertanyaan saya.  Kakak saya kemudian berceritera bahawa Ayah saya lalu mengadukan keberatan Ayah saya atas kejadian pemukulan terhadapnya kepada pimpinan tertinggi tentara Jepang, entah siapa namanya, dan pumpinan ini kemudian memerintahkan kepada opsir rendahan itu untuk berkunjung  kerumah Ayah saya untuk meminta maaf.

Entah bagaimana jadinya tetapi akhirnya keluarga2 KNIL yang ditinggalkan oleh para ayah mereka dapat diberikan penampungan didua tempat agak diluar Batavia yakni di Tanjung Oost dan Tanjung West (Tanjung Timur dan Tanjung Barat) yang tidak jauh dari Batavia. Mereka mendiami bangsal2 yang cukup luas di lingkungan yang segar dan alam yang asri. Merekapun diberikan sekedar “subsidi” beberapa sen per keluarga untuk dapat memenuhi keperluan hidup mereka yang sederhana.

Menari tarian Jepang di Tanjung Oost
Menari tarian Jepang di Tanjung Oost

Rupanya pula adalah perjuangan Ayah dan Ibu saya bersama anak2 muda  baik pelajar maupun mahasiswa Manado dan daerah Sulawesi lainnya (yang terhambat pendidikannya) untuk mengatur secara bagus agar bahan pokok beras dan gula (mungkin juga minyak goreng) tersalur dengan baik kepada keluarga2 ini dengan dana “subsidi” tadi yang diperoleh setelah Ayah saya menghadap ke pimpinan tertinggi tentara Jepang itu. Ayah dan ibu saya juga mengatur agar anak2 keluarga KNIL diberikan pelajaran terus, dan yang mengajar adalah guru dan mahasiswa Manado yang pada saat itu “putus” sekolah.

Saya sering bermain2 di Tanjung Oost dan Tanjung West itu, dan bukan bermain saja akan tetapi ditugaskan untuk belajar bahasa Indonesia disana. Waktu itu saya hanya mampu berbicara Bahasa Belanda dan waktu saya dimasukkan kesekolah rakyat yang biasa saya tidak mau berangkat kesekolah. Bahkan setiap pagi saya menghilang karena bersembunyi dibawah tempat tidur dari salah satu anak2 kost. Keadaan ini dimengerti oleh orang tua saya dan saya disuruh ke Tanjung West dimana saya mendapat les Bahasa Indonesia (Melayu) oleh guru Oom Hendrik Suatan yang juga mengajar kepada anak2 KNIL.

Untuk membantu dalam administrasi maka Ibu saya mengajak saudara2nya (dan TIDAK ada korupsi). Yang saya ingat adalah Oom Jan Tambajong. Mungkin juga Bart Ratulangi membantu.

Bagi para pelajar Manado yang sudah lebih besar (mahasiswa) diatur agar mereka yang membeli beras dan bahan2 keperluan lain ditempat2 seperti Bekasi (lumbung beras) dan mereka mengangkut bahan2 ini dengan bersepeda. Alangkah indah kerjasama itu!  Kegiatan ini dikoordinasikan dalam satu organisasi yang dinamakan Penolong Kaum Selebes (PeKaSe) dan markasnya adalah di Nieuwe Tamarinde Laan No 26 jalan mana kemudian diberi nama Jalan Asem Baru.

Ditahun 1976 DKI menyetujui usulan dari beberap orang Manado (mungkin Oom Nyong Umbas dkk.) agar jalan tersebut diberikan nama Jalan Sam Ratulangie. Saya masih ingat Ibu saya mengirim guntingan koran tentang peristiwa ini kepada saya sewaktu saya sedang di Jerman. Adalah dugaan saya bahwa persetujuan untuk menganugerahkan nama Jalan tersebut didasarkan atas hasil kajian yang dibuat oleh Dinas Museum dan Sejarah Daerah Khusus Ibukota Jakarta ditahun 1978 yang laporannya berjudul: “SEJARAH SINGKAT DR. G.S.S.J.RATULANGIE & BERDIRINYA YAYASAN PERGURUAN KRIS” yang akan saya sampaikan dalam waktu dekat.

Epilog

Pada saat jenazah Ayah saya akan ditempatkan diperistirahatan sementara di Tanah Abang maka diadakan Ibadah (1949). Tanpa termasuk dalam rencana/acara maka tiba2 satu barisan perwira2 KNIL memasuki tempat upacara dan berbaris dengan rapih mengesankan. Mereka lalu memmberikan salam hormat kepada jenazah sebagai ucapan terima kasih atas jasa almarhum membantu memberikan perhatian kepada keluarga2 mereka sewaktu mereka terpaksa berpisah karena harus menunaikan tugas kemiliteran mereka.

Perwira2 KNIL menghormati Jenazah Sam Ratu Langie
Perwira2 KNIL menghormati Jenazah Sam Ratu Langie

Pineleng, April 2009.

Riwayat Hidup Dr. G.S.S.J. Ratu-Langie


(dari buku yang diterbitkan oleh Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta, 1978 berjudul: “Dr. G.S.S.J. Ratu Langie dan Yayasan KRIS” halaman 21 s/d 31, diedit untuk Homepage di Geocities, Januari 2001, diedit lagi 2 April 2010 untuk WordPress.
Jika Anda  berminat dapat pula Anda membacaca CERBERGAM jakni ceritera bergambar CERITERA SAM RATULANGIE,   silahkan klik ).

Nama : Gerungan Saul Samuel Jacob Ratu Langie

Lahir : 5 Nopember 1890 di Tondano, Sulawesi Utara

Meninggal : 30 Juni 1949 di Jakarta

Pendidikan :

Sekolah Dasar Belanda (Europesche Lagere School) di Tondano

Sekolah Menengah (Hoofdenschool) di Tondano

Sekolah Teknik (K.W.S.) bagian mesin di Jakarta (1904 – 1908)

Sam with nephew both aged 20

Sam (kanan) dan saudara sepupu pada umur 20 tahun

Mencapai Ijazah Guru dan Ijazah “Middelbare Acte Wiskunde en Paedagogiek di Amsterdam (1908 – 1913)

Universiteit Amsterdam (1913 – 1915)

Fac. v. Wiskunde & Informatika, Universiteit v Amsterdam
Fac. v. Wiskunde & Informatika, Universiteit v Amsterdam

Universiteit Zurich di Swiss (1915 – 1919)

Mencapai Doktor der Natur-Philosophie (Dr. Phil.)untuk Ilmu Pasti dan Ilmu Alam di Universitas Zurich (1919)

Universitaet Zuerich, Swis

Organisasi Politik :

Ketua “Indische Vereeniging” di Amsterdam (1914 – 1915) organisasi ini adalah organisasi mahasiswa – mahasiswa dan pihak-pihak lain yang menaruh perhatian terhadap “Nederlandsch Indie” di negeri Belanda. Organisasi ini kemudian menjadi “Perhimpunan Indonesia” dengan azas tujuan Kemerdekaan Bangsa Indonesia

Ketua “Association d’Etudiants Asiatique” di Zurich (1915 – 1916) dalam organisasi ini tergabung mahasiswa – mahasiswa dari Korea, Jepang, Muangthai, India, Indonesia dan lain – lain negara di Asia

Ketua Partai Politik “Persatuan Minahasa” yang menjadi anggota dari federasi “GAPI” yang bekerja erat dengan partai – partai politik nasional lainnya

Ketua “Vereeniging van Indonesische Academici” (V.I.A)yakni Persatuan para Akademisi Indonesia, yang bertujuan – mempersatukan sarjana – sarjana dan kaum cendekiawan dari negara – negara Asia Tenggara

Sekretaris “Dewan Minahasa” (1924 – 1928)

Sam Ratulangie menyampaikan Pidato Perdana di Volksraad
Sam Ratulangie menyampaikan Pidato Perdana di Volksraad

Anggota “Dewan Rakyat” (Volksraad en College van Gedelegerden) dengan pidato – pidatonya yang mengecam politik kolonial Pemerintah Belanda (1927 – 1937). Silahkan simak Terjemahan PIDATO PERDANA SAM RATU LANGIE (1927).

Anggota “Nationale Fractie” dari Dewan Rakyat yang menuntut penghapusan dari segala perbedaan politik, ekonomi, dan intelektuil

Anggota redaksi surat kabar mingguan “Peninjauan” (1934)

Anggota pengurus “GAPI” (Gabungan Politik Indonesia) dengan tujuan mempersatukan semua partai – partai politik Indonesia

Menulis buku “Indonesia in de Pacific” (1937) yang mengulas masalah – masalah politik di negara – negara Asia yang berbatasan dengan Samudera Pasifik

Direktur redaktur majalah politik “Nationale Commentaren” (1938 – 1942)

Pendiri / Ketua dari perkumpulan “Sumber Darah Rakyat” (SUDARA) (1944 – 1945)

Pemimpin missi Sulawesi yang berangkat dalam bulan Agustus 1945 ke Jakarta untuk turut menghadiri rapat-rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia yang sedang berlangsung di Jakarta serta juga untuk menghadiri pengesahan dan pengumuman UUD 1945 dan Pendirian Negara Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945

Sam Ratu Langie hadir pada upacara Proklamasi Kemerdekaan

Tanggal 22 Agustus 1945 diangkat menjadi Gubernur Selebes oleh Presiden Republik Indonesia Ir. Soekarno (1945 – 1946)

Terbaca pengangkatan Sam Ratu Langie sebagai Gubernur Sulawesi RI

Mengadakan Petisi kepada PBB yang ditandatangani oleh ratusan pemuka – pemuka rakyat Sulawesi Selatan untuk mempertahankan daerah Sulawesi sebagai bagian mutlak dari negara RI

Dipenjarakan di Makassar dan kemudian di internir di Serui, Yapen, Irian Barat (1946 – 1948)

Membentuk “Partai Kemerdekaan Irian” dari belakang layar yang diketuai oleh Silas Papare (1947)

Menjadi Penasehat Pemerintah RI dan anggota delegasi RI dalam perundingan dengan Pemerintah Belanda (1948 – 1949)

Organisasi Sosial / Ekonomi :

Guru S. T. M. di Yogyakarta (1919 – 1922)

Direktur Maskapai Asuransi “Indonesia” di Bandung (1922 – 1924)

Ketua Penasehat dari perkumpulan buruh “Vereeniging van Onder – Officieren B bij de K. P. M. (VOOB), suatu organisasi calon nakhoda – nakhoda berbangsa Indonesia yang bekerja pada Koninklijke Paketvaart Maatschappij (KPM)

Ketua Studiebeurs “Minahasa”

Pengurus “Persatuan Perkumpulan Radio Ketimuran”

Turut mendirikan “Serikat Penanaman Kelapa Indonesia” (1939)

Mendirikan organisasi “Ibunda Irian” di belakang layar

Setelah dibebaskan dari Serui, Dr. Ratu Langie dan kawan-kawannya oleh Belanda diwajibkan langsung ke Jogyakarta. Disana ia menjadi Penasehat Pemerintah RI dan Anggota Delegasi RI dalam perundingan dengan Pemerintah Belanda (1948 – 1949) Namun pada Aksi Militer Belanda ke II (Desember 1948) ia ditangkap lagi oleh Tentara Kolonial di rumah yang didiaminya di Jogya, tepat pada hari Natal 1948. Dan iapun bersama – sama dengan Presiden Soekarno cs diinternir dalam istana Presiden di Yogyakarta. Tak lama kemudian, pada tanggal 12 Januari 1949 ia dipindahkan oleh Pemerintah Belanda ke Jakarta untuk menunggukan pembuangannya lagi ke Bangka untuk bergabung kembali dengan rombongan Presiden Soekarno dipengasingan. Akan tetapi karena gangguan kesehatan ia tetap diizinkan dulu menunggu di ibukota.

Minggu-minggu terakhir hayatnya . . . .

Oleh karena Dr. Sam Ratu Langie mendapat serangan jantung, keberangkatan ke Bangka ditangguhkan. Untuk menunggu sembuhnya penyakit Dr. Sam Ratu Langie diizinkan berdiam bersama keluarganya di Jalan Asam Baru (kini Jalan Sam Ratulangi) No. 10 A. Sepuluh hari setelah dirumahkan maka Dr. Ratu Langie meninggal dunia di rumah tersebut pada tanggal 30 Juni 1949.

30 Juni 1949 Sam Ratu Langie meninggal dunia