Iyo, Pak Guru Ganteng!” (sebuah Mitos yang Aneh :!) REBLOGGED from indonesiamengajar.org

 

 

MEI 31, 2013

Suatu sore di saat aku sedang beranjak untuk mandi di sumur. Kakak piara (baca: kakak angkat) memanggilku dengan penuh semangat. Dia sedang duduk-duduk di bale-bale depan rumah bersama Baskia—tetangga yang sekaligus masih saudara dekat kami.

Aku menghampiri mereka penuh keheranan dan menyimpan penasaran tinggi. Dengan masih memegang ember, handuk serta perlengkapan mandi lainnya, aku sempatkan mampir dulu ke bale-bale.

“Pak guru, beta kasih nama pak guru di Ratna pu anak dong.” Katanya dengan logat yang khas. Ratna juga saudara angkatku yang tinggal beda rumah dan baru saja melahirkan anak laki-laki lucu.

Aku tersenyum ditambah sedikit tertawa mendengar pernyataan itu. “Maksudnya, dong pu nama Fahmi?” Aku bertanya bermaksud menegaskan.

“Iyo, beta kasih nama Fahmi di anak laki-laki kecil itu. habis, pak guru su mau pergi tho, jadi biar sudah buat kenang-kenangan. Pak guru Fahmi pi jawa, baru Fahmi kecil tinggal di Urat.” Jelasnya.

Aku tertawa mendengar penjelasan itu. “Pak guru, dong mirip dengan pak guru, rambut lurus, kulitnya lai putih.” Tambahnya sebelum aku berkomentar.

“Ahh… kah?” Tanyaku heran.

“Iyo, dulu pas Ratna hamil pak guru jalan lewat di belakang dia.” Katanya.

Aduh, aku makin kebingungan, kenapa gara-gara aku lewat di belakang orang hamil, terus anaknya mirip denganku?

“Pak guru, disini, kalau ada orang hamil, orang lain tara boleh lewat di belakangnya, nanti anaknya tara mirip orang tuanya lai. Tapi mirip orang yang lewat itu.” Kakak piara memberikan penjelasannya.

“Iyo pak guru, besok-besok kalo saya hamil, saya minta pak guru lewat di belakang saya sudah, biar sa pu anak itu mirip pak guru!” Baskia menambahkan.

Aku tertawa, dan tak menyangka mendengar mitos itu.

“Ohhh, tarapapa tho, baik. Berarti kalo mirip saya itu gantteng!” candaku.

“Iyo pak guru ganteng. Sapa bilang pak guru tara ganteng.” Celetuk Baskia. Tawa kami semua pun pecah.

“Hahaaaeeee…” Tertawa khas mereka pun keluar. Aduh, ada-ada saja.

Jujur, ada sedikit kebanggaan dan merasa terhormat namaku dipakai oleh orang kampung. Itu artinya, aku akan selalu diingat bersamaan dengan tumbuh kembangnya si Fahmi kecil itu.

Terharu rasanya. Aku melangkah riang menuju sumur dengan mulut menyusun senyum. Angin semilir sore di kampung memang terasa menyejukkan. Mendadak aku jadi kepikiran, besok kalau aku punya anak mau dikasih nama siapa ya?? Begitu pikirku dalam hati. Hahaaaeee *prook!*

Gubernur Papua Minta Kewenangan Lebih (Reblogged from KOMPAS)

Rabu, 1 Mei 2013 | 20:17 WIB
Gubernur Papua Minta Kewenangan LebihPeta Papua

JAKARTA, KOMPAS.com –

Gubernur Papua, Lukas Enembe, meminta kewenangan lebih terkait penyelenggaraan otonomi khusus (otsus) Papua, guna membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat.
“Pelaksanaan otsus belum efektif. Oleh karena itu bagaimana memberi kewenangan lebih luas kepada Papua, semua kewenangan kecuali yang belum diatur dalam otsus,” kata Lukas, usai bertemu Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi di Jakarta, Rabu (1/5/2013).

Dia mengatakan, kewenangan lebih tersebut antara lain menyangkut mengenai keuangan dan regulasi daerah. Hal itu disebabkan oleh kondisi pembangunan di Papua, masih belum dapat mengejar daerah-daerah lain di Tanah Air.

“Kewenangan itu misalnya moneter, tapi selain itu kami juga akan minta menyangkut regulasi dan kewenangan keuangan kekhususan,” kata Lukas Enembe.

Menurut Lukas Enembe, ketertinggalan pembangunan di Papua merupakan tugas berat yang tidak dapat diselesaikan dalam kurun waktu belasan tahun, sehingga diperlukan penataan ulang.

“Memang sejarah Papua berbeda dengan provinsi lain, sehingga tidak bisa berharap perubahan yang cepat. Kita harus menata kembali, para kepala daerah di sana harus betul-betul kerja keras,” katanya.

Terkait dengan penggunaan anggaran daerah, kata Lukas Enembe, belum berjalan efektif dan efisien, sehingga pola pembagian anggaran akan diberikan lebih banyak kepada kabupaten-kota.

“Pola anggaran 80 persen untuk kabupaten-kota, karena mereka yang lebih tahu permasalahan di daerah, sedangkan 20 persen baru ke provinsi. Ini sudah mendapat dukungan dari Mendagri,” ujarnya.

Sementara itu, Mendagri Gamawan Fauzi mengatakan, pihaknya telah menerima 20 poin usul terkait perubahan Undang-undang Otsus Papua.

“Ada usul yang sedang didalami. Sekitar 20 poin usul tapi tidak semuanya menyangkut perubahan revisi itu,” kata Mendagri di kantornya, Rabu.

Sebelumnya, Senin (29/4/2013) lalu Lukas telah bertemu dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara, guna membahas mengenai perluasan otonomi khusus, yang disebut Otsus Plus.

Menurut Lukas, Presiden menekankan sejumlah program prioritas yang dapat menjawab persoalan Papua dalam Otsus Plus tersebut, namun bentuknya akan dirumuskan lebih jauh di bawah arahan Kementerian Dalam Negeri.

Lukas menambahkan bahwa pemerintah akan aktif berkomunikasi dengan para pemangku kepentingan, dan pihak-pihak yang bertentangan untuk menysukseskan itu.

“Kami canangkan untuk evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan otsus, termasuk perbaikan otsus,” ujarnya.

Sumber : 

ANTARA

Editor : 

Agus Mulyadi

Perbaikan Regulasi Sekaligus Pelaksanaan Otsus Papua (REBLOGGED from KOMPAS)

Perbaikan Regulasi Sekaligus Pelaksanaan Otsus Papua

KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO
Penulis : Nina Susilo | Sabtu, 4 Mei 2013 | 10:30 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Pembenahan pelaksanaan otonomi khusus Papua bisa dilakukan sekaligus perbaikan regulasi. Namun, pengawasan perlu diperkuat.

Pembenahan regulasi dirasa perlu karena ada beberapa yang dirasa tidak pas dan tidak membawa manfaat. Salah satunya adalah pilkada langsung yang tidak tepat untuk masyarakat Papua dengan suku-suku yang sangat kuat

Hal ini disampaikan Direktur Jenderal Otonomi Daerah Kementerian Dalam Negeri Djohermansyah Djohan, Jumat (3/5) di Jakarta.

Pembenahan regulasi dirasa perlu karena ada beberapa yang dirasa tidak pas dan tidak membawa manfaat. Salah satunya adalah pilkada langsung yang tidak tepat untuk masyarakat Papua dengan suku-suku yang sangat kuat.

Namun, substansi usulan Papua dan Papua Barat terkait otonomi khusus plus akan dibahas bersama tim pemerintah pusat Juni mendatang. Demikian pula mekanisme pengawasan yang diperlukan.

Sejauh ini, Gubernur Papua Lukas Enembe sudah meminta perbaikan kebijakan untuk Papua kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Beberapa permintaan terkait program prioritas seperti infrastruktur jalan, rumah sakit, permukiman, serta penyelenggaraan Pekan Olah Raga Nasional di Papua pada 2020.

Kewenangan-kewenangan tambahan seperti yang ditangani balai-balai besar wilayah sungai, balai besar pelaksanaan jalan, serta unit pelaksana tugas pertanian dan kehutanan diharap bisa dialihkan kepada Pemerintah Provinsi. Demikian pula penyelesaian Trans Papua diharap dipercepat. Selain itu, Pemprov Papua menginginkan tambahan alokasi pembangunan infrastruktur otonomi khusus.

Selain itu, dana otsus yang selama ini 60 persen di provinsi dan 40 persen di kabupaten/kota akan diubah. Sebanyak 80 persen dana otsus akan dialokasikan ke kabupaten/kota yang dinilai lebih mengerti kebutuhan masyarakat dan wilayahnya.

Namun, diharapkan tidak ada pembatasan pemberian dana otsus yang berasal dari dana bagi hasil. Namun, jumlah bagi hasilnya diturunkan menjadi 50:50 antara pemerintah pusat dan pemprov di Tanah Papua. Dalam UU 21/2001 terkait Otonomi Khusus Papua, pemberian dana otsus hanya selama 25 tahun.

Editor :
Robert Adhi Ksp

REBLOGGED from SUARA PEMBARUAN: Kenapa Pusat Takut Berdialog Dengan Rakyat Papua?

50 Tahun Papua Masuk NKRI

Senin, 29 April 2013 | 9:06

Stop kekerasan di Papua [google]
Stop kekerasan di Papua [google]

Lima puluh tahun Papua bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Lima puluh tahun pula rakyat Papua terus menderita.

Berbagai kebijakan pusat tidak sampai ke daerah, hanya dinikmati segelintir elite Jakarta dan Papua. Permintaan dialog pun tidak pernah ditanggapi pemerintah pusat.

“Kami tidak mengerti, kenapa pemerintah pusat takut melakukan dialog dengan rakyat Papua? Ada apa?” kata  Wakil Ketua DPRD Papua, Jimmy Demianus Ijie dalam diskusi di Press Room DPR RI, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Jimmy Demianus Ijie mengatakan,  masalah Papua harus diselesaikan dengan dialog. Tapi, yang menjadi pertanyaan selama ini kenapa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) belum pernah mau berdialog dengan rakyat Papua?

Padahal, melalui dialog itulah segala masalah bisa diselesaikan dengan baik. Dengan dialog, Presiden SBY juga bisa langsung mengonfirmasi ke warga Papua, apakah pembangunan yang direncanakan melalui otonomi khusus (Otsus) dengan anggaran puluhan triliun rupiah selama ini, sudah berjalan sesuai program pemerintah

“Jadi, Pak SBY tidak perlu khawatir mereka akan meminta merdeka, dan itu tak akan pernah terjadi. Kami setia pada NKRI,” tegas Jimmy.

Kini, 50 tahun Papua masuk NKRI. Rakyat  Papua pun minta pelurusan sejarah. Itu terpaksa dilakukan karena pusat tidak pernah mau berdialog dengan rakyat Papua.

Pelurusan sejarah Papua atau menurut bahasa UU No 21 Tahun 2001 tentang Otonomi  Khsusus (Otsus) Papua  Pasal 46 Ayat 2 adalah Klarifikasi Sejarah Papua, harus menjadi salah satu agenda penting yang akan disepakati dalam  penyelenggaraan Dialog Papua-Indonesia nantinya.

“Berkenaan dengan akan diselenggarakannya peringatan 50 tahun integrasi Papua ke NKRI pada 1 Mei 2013 mendatang, maka rakyat Papua akan mendesak Pemerintah Indonesia untuk duduk bersama secara damai dan bersahabat, saling terbuka dalam membicarakan soal pelurusan Sejarah Papua itu sendiri,” kata Yan Christian Warinussy, peraih pengharagaan internasional di bidang HAM “John Humphrey Freedom Award” tahun 2005  di Canada kepada SP, Senin (29/4) pagi.

Menurut Yan, mungkin sangat baik jika segera mulai dipikirkan tentang pentingnya membentuk Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR) sebagai langkah awal menurut amanat UU Otsus Papua untuk mewujudkan langkah Pelurusan Sejarah Papua itu sendiri.

“Dengan demikian, jika ada yang menyatakan bahwa tidak perlu melakukan pembicaraan tentang pelurusan sejarah Papua dalam konteks membangun kedamaian di Tanah Papua, maka sikap dan tindakan tersebut adalah inkonstitusional dan dapat dituntut secara hukum berdasarkan ketentuan Pasal 46 Ayat (2) Undang Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Propinsi Papua, sebagaimana diubah dalam Undang Undang Nomor 35 Tahun 2008,” kata ujarnya. 

Tiga Jalur Solusi

Yan lebih jauh mengatakan, penyelesaian  masalah Papua dapat ditempuh melalui  tiga jalur yaitu  politik melalui upaya diplomasi internasonal,  jalur rekonsiliasi melalui dialog atau perundingan damai, dan jalur hukum.

Jalur politik, kata dia, telah dilakukan sejak penyelenggaraan Kongres Papua II  pada 21 Mei  – 4 Juni 2000 ,dengan ditetapkannya agenda politik yang didahului dengan pembentukan Presidium Dewan Papua [PDP], sebagai penyelenggara mandat perjuangan politik rakyat Papua.

Selanjutnya jalur rekonsiliasi telah pula ditetapkan dengan menetapkan dialog damai dengan pemerintah Indonesia sebagai pilihan pertama dalam menjalani langkah penyelesaian persoalan Papua.

“Sedangkan jalur hukum dapat ditempuh dengan menggunakan hak-hak konstitusional Orang Asli Papua sebagai warga negara Indonesia (WNI) dengan mempersoalkan setiap aturan perundangan setingkat undang undang yang nyata-nyata bertentangan dengan Konsitusi Negara Republik Indonesia (UUD 1945) dan mengakibatkan Orang Asli Papua menjadi dirugikan secara hukum,”kata Yan.

Ketiga jalur tersebut sudah dan sedang berjalan saat ini, dimana upaya-upaya tersebut seharusnya dilihat sebagai langkah demokratis yang berdasar hukum, dan memenuhi prinsip dan standar hak asasi manusia yang berlaku secara universal. Sehingga dapat dijadikan sebagai instrumen di dalam penyelesaian masalah Papua dewasa ini.

Sementara itu,  tokoh masyarakat Jayapura George Awi, mengatakan, harusnya semua dapat duduk bersama berbicara untuk membangun Tanah Papua kedepan.

“Momentum 50 tahun harusnya semua introspeksi kedepan, jangan saling menyalahkan,” ujarnya.[154]

Kunjungan pertama saya ke India ditahun 1984 (My first visit to India in 1984)

Kunjungan pertama saya ke India ditahun 1984  (My first visit to India in 1984)

Kunjungan ini sebenarnya berkaitan dengan tugas saya di PERTAMINA yang pada waktu itu adalah turut membantu dalam persiapan PUSAT AROMATIK (Aromatic Center) yang akan berproduksi di Plaju untuk menghasilkan berbagai produk, antara lain produk petrokimia : PTA (singkatan dari Purified Terephtalic Acid). Bahan ini digunakan dalam skala yang cukup besar juga di Indonesia untuk menghasilkan serat Polyester (juga untuk bahan plastik Polyester).

This visit is actually within the framework of my job at PERTAMINA, which at that time was to assist in preparing the establishment of an AROMATIC CENTER that among others was to produce an petrochemical product PTA (acronym of PURIFIED TEREPHTALIC ACID). This substance is used on a large scale, also in Indonesia, in the production of Polyester Fibers (also for Polyester Plastics).

Karena bagi laboratorium yang saya pimpin bahan dasar PTA ini masih baru maka saya telah mengadakan pra studi tentang teknologi serat polyester bersama seluruh staf di Laboratorium  Tekstil di Bandung.Sebagaimana diketahui serat polyester dapat diproduksi dengan berbagai tingkat kehalusan dan juga dapat digunakan sebagai continuous filament ataupun staple fiber, baik secara tersendiri maupun dalam campuran (blend) dengan serat alam maupun sintetik lain. Karena itu saya melaksanakan “studi banding” ke laboratorium negara tetangga yang juga tropis dan yang terkenal mahir dalam teknologi pertekstilan. Laboratorium itu berada di Mumbai.

Since for the laboratory under my supervision the PTA basic material was still new, we arranged a pre study for the whole staff at the Textile Laboratory in Bandung. As is well known the Polyester Fiber can be produced in various  deniers and can be used as continuous filament as well as staple fiber, pure or blended with natural as well as other synthetic  fibers.  Therefore I made a comparison study visit to a laboratory in a neighboring country with tropical climate that  is well known in its level of expertise in textile technology. That laboratory is in Mumbai

Saya menginap disatu Hotel yang bagus : Hotel Oberoi (yang ternyata kemudian ditahun 2008 juga kena diteror), dan sedikit sight seeing kepasar dipusat kota untuk mencari sekedar suvenir handicraft India.  dan saya juga mengunjungi “Gate of India” yang didekatnya ada hotel prestisius (lupa namanya yang pada saat teror menjadi pusat kejahatan teroris dan hotel itu menderita kebakaran serius). Pada hari Minggu berikut saya mengunjung Elephanta Caves yang untuk melihatnya saya harus naik kapal kecil dulu. Setelah berlayar sekitar setengah jam kami sampai dan saya membuat beberapa foto yang (jelas) kurang berkwalitas jika dibandingkan dengan indahnya foto yang dapat terlihat di blog ini.

My room at Oberoi's
My room at Oberoi’s

View from the pool
View from the pool

Seems to be an island
Seems to be an island

View of pool and Mumbai
View of pool and Mumbai

I stayed at a beautiful hotel: Hotel Oberoi (that also cane under attack at the 2004 terror, and did a small trip of sightseeing to the local bazaar to look for a souvenir of the Indian handicraft. I also visited the ” Gate of India” and made a picture of the prestigious Hotel that also was a target of the 2004 terror at which it was seriously burnt). On the following I  made a trip to the Elephanta Caves, having to make small boat trip of about half an hour. I made some pictures which are (of course) not of professional quality or as those shown on this blog.

TAXIs in India (1984)
TAXIs in India (1984)

Gate of India
Gate of India

The TOP hotel in Mumbai
The TOP hotel in Mumbai: HOTEL TAJ MAHAL (Please click on picture to see WIKI info)

The Elephanta Island
The Elephanta Island

On the boat to Elephanta
On the boat to Elephanta

Climbing the steps to the caves
Climbing the steps to the caves

Main entrance of the cave
Main entrance of the cave

My picture of SHIWA
My picture of SHIWA

The TRIMURTI carving
The TRIMURTI carving

Another very dynamic carving
Another very dynamic carving

To another section of the cave
To another section of the cave

SHIWA and PARWATI
SHIWA and PARWATI

Karena waktu itu belum ada Notebook ataupun internet maka saya sama sekali kurang info pada saat berkunjung hanya bagi mata awam saya ada kesamaan yang amat sangat dengan situs Hindu di Jawa Tengah di Indonesia,yang berbeda adalah bahwa di tempat ini kebanyakan ukiran berdimensi gigantik dan mungkin lebih dinamis.

Because at that time (1984) I had no Notebook yet or no internet at all at was totally uninformed about the object I visited, only through my naked eye  the similarity with the Hindu sites at Central Java came very clear to me only that the sculptures at this site were of gigantic dimensions and to me give an impression of being more dynamic.  

Pada hari Senin berikutnya saya berkunjung ke Laboratorium tekstil dan antara lain melihat peralatan teknik spinning dan weaving kini dan dahulu. Demikianlah ceritera salah satu kunjungan dinas yang diboncengi sight-seeing.

Assuming to be properly dressed
Assuming to be properly dressed for a business visit.

The director of the Laboratory
The director of the Laboratory and her Assistant

Three Asian Ladies in Textile Science
Three Asian Ladies in Textile Science & Technology

On the following Monday I visited The Textile laboratory and saw the equipment for spinning and weaving in India now, but also before. This is a story of one of my overseas visit   that combines business with sight-seeing.

WAWANCARA

WAWANCARA

Sejak beberapa tahun saya mengunjungi beberapa tempat yang berupa pusat informasi, seperti misalnya  PERPUSTAKAAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA  dan juga ARSIP NASIONAL REPUBLIK INDONESIA  (ANRI),  yang kedua2nya berlokasi di Jakarta. Maksud kunjungan adalah untuk dapat memperoleh informasi2 tertentu yang saya butuhkan.

PERPUSTAKAAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA

PERPUSTAKAAN NASIONAL RI (TAMPAK DEPAN)
PERPUSTAKAAN NASIONAL RI (TAMPAK DEPAN)

PERPUSTAKAAN NASIONAL RI
PERPUSTAKAAN NASIONAL RI (Gedung Samping)

Pintu masuk Gedung (samping) PERPUSTAKAAN
Pintu masuk Gedung (samping) PERPUSTAKAAN.

Pajangan diatas pintu masuk gedung samping
Pajangan diatas pintu 

Panel dinding belakang resepsionis
Panel besar dinding belakang resepsionis

ARSIP NASIONAL REPUBLIK INDONESIA

Gerbang Halaman ANRI
Gerbang Halaman ANRI

Gedung ANRI
Gedung ANRI di Kemang

ANRI (Jalan Gajah Mada)
ANRI (Jalan Gajah Mada)

Buklet Petunjuk ANRI
Buklet Panduan ANRI

Karena sering  berkunjung  ke ANRI maka pada suatu hari oleh seorang petugas ANRI (Ibu Santi) saya  ditanyakan apakah saya bersedia satu saat di wawancara. Setelah saya menyatakan persetujuan saya, maka saya dikirimkan satu surat resmi dimana tercantum perihal apa wawancara tersebut dan juga urutan butir2 yang akan ditanyakan.

Pada hari dan jam yang ditentukan saya  diterima disuatu ruangan khusus berisi satu set sofa dan disamping ruangan itu, terpisah oleh satu kaca jendela yang cukup besar ada ruangan kecil dimana ada seorang operator dengan headphone duduk dimeja kerjanya.

Keadaan sangat nyaman dan menyenangkan karena juga tersedia secangkir teh dan beberapa snek dimeja, pokoknya seperti bertamu dan beramah tamah saja. Ibu Santi memberi petunjuk  bagaimana menggunakan mike dan mulailah beliau bercakap, seperti pada siaran TV saja (demi kelengkapan dokumentasi). Beliau menanyakan informasi dasar mengenai diri saya sebagai  informasi pembukaan lalu saya jawab seperlunya kemudian kita beralih ke topik utama yakni hal2 mengenai keluarga kami dan terutama perihal Alm. Ayah saya: DR. Gerungan Samuel Saul Jacob RATU LANGIE.

Pokoknya total jenderal obrolan kami memakan waktu 2 ½  jam, termasuk istirahat sekitar 10 menit. Dan semua rupanya terekam dengan  baik. Beberapa waktu kemudian atas permintaan saya aya dikirimkan copy dari pembicaraan  wawancara tersebut sebagai lampiran pada satu email dari Ibu Santi. Waktu say abaca dokumen itu saya tersenyum karena setiap kali saya berpikir sambil mengatakan   “-eh-“  itupun tertera dalam laporan wawancara itu juga. Nanti satu saat saya akan mengolah hasil wawancara itu sehingga berbentuk layak saji sebagai bahan posting di blog saya.

ALANGKAH BERBEDA cara pelaksanaan wawancara seperti itu dengan yang saya alami beberapa waktu yang lalu. Permintaan berwawancara diajukan melalui sms dan setelah tempat (dirumah kediaman saya di Jakarta) dan waktunya disepakati maka beberapa jam sebelumnya tiba2 ada sms bahwa ,maaf,  penanya ada keperluan kerumah sakit jadi ditunda sehari.   OK. Pada kesempatan pertemuan itu, saya menyesal bahwa  saya lupa menanyakan untuk maksud apa sebenarnya penanya ingin mewawancarai saya. Topiknya jelas yakni menganai Alm. Ayah saya.

Tetapi alangkah terkejutnya saya ketika penanya bertanya apakah Ayah dan Ibu saya menikah pada waktu kelahiran anak pertama (kakak saya lahir di Pengalengan satu desa di Jawa Barat). Karen syok maka saya menjawab dalam posisi defensive dan menjelaskan MENGAPA kelahiran itu berlangsung di sana dan bukan di Batavia. (Ayah saya anggauta Volksraad semenjak tahun 1927 dimana anggauta Volksraad mendapat honorarium berdasarkan rapat yang dihadirinya (berbeda dengan DPR sekarang) dan dana itu tidak mencukupi untuk menyewa rumah kediaman di Batavia. Baru waktu ada lowongan di College van Gedelegeerden dan Ayah  saya yang dipilih untu menjadi anggauta dari College yang anggun itu maka beliau mendapatkan gaji bulanan dan tidak perlu lagi berdomisili sementara di Pengalengan, akan tetapi dapat menyewa satu rumah besar, di Laan de Riemer,dekat Jalan Museum sekarang. Di rumah ini kemudian saya lahir.

Jika saya memikirkan kembali akan pertanyaan itu….. Alangkah KASARnya mengajukan pertanyaan begitu. Saya merasakan itu selaku satu pelecehan dan menurunkan derajat pandangannya terhadap seorang pemuka rakyat seperti Alm. Ayah saya. Semestina saya saat itu serta merta mengatakan kepadanya “Disitu pintunya…. Silahkan keluar!”.  Apalagi karena tidak lama kemudian penanya bertanya lagi: “ Karena puteri2nya (dimaksudkan:  saya dan kakak adik saya Milly dan Uky) menikah dengan orang NON Kristen, apakah ada pesan dari Bapak Sam Ratulangie mengenai hal itu?”  ….. MINTA AMPUNNNN!…. Bagaimana “mindset” yang dimiliki penanya sampai2 mengajukan pertanyaan seperti itu?  Saya sampai sekarang tidak mengerti. Waktu beberapa hari kemudian saya menceriterakan pertanyaan tersebut kepada menantu saya maka iapun menggeleng2 kepalanya sambil berkata “ Pertanyaan begitu sepertinya mengarah kepada SARA…..”

Semenjak pengalaman ini, yang berlangsung di awal bulan Pebruari baru2 saja, saya sangat berhati2 menanggapi permintaan untuk berwawancara. Sebenarnya semua yang saya ketahui sudah saya tuang dalam postingan di blog2 saya di WordPress dan Blogspot. Jika diperlukan informasi selanjutnya, silahkan riset sendiri ditempat2 yang saya sebut diawal tulisan ini. Apalagi melalui internet banyak dapat ditemukan tulisan2 Sam Ratulangie yand diterbitkan diberbagai majalah dan harian di negeri Belanda. Untuk melihat daftar karya2 tulis oleh dan mengenai Sam Ratulangie yang SUDAH diketemukan silahkan klik disini.

Kebanyakan dokumen2 seperti itu kini telah didigitalisasi sehingga dapat dijangkau dari semua pelosok  dunia. Tetapi tentunya, untuk itu diperlukan bantuan binaan dari tenaga 2 ahli yang bekerja ditempat2 yang tersebut diatas. Agar dapat memberikan pelayanan seperti itu para staf telah mendapat didikan khusus. Namun dalam hal mencari informasi mengenai Sam Ratulangie  juga  perlu kemampuan penguasaan Bahasa Belanda, khususnya bahasa yang digunakan sekitar 100 tahun lalu, yang agak berbeda dengan bahasa kolokial yang digunakan di negeri Belanda sekarang ini.

Ya ialah…… namanya juga RISET dan bukan obrolan untuk menyajikan skandal2 di kolom2 atau pojok2nya media seperti Pos Kota.