disampaikan pada peringatan Sarasehan Syukuran Makassar Serui (SSMS96) di Ujung Pandang , 30 Juli 1996, dalam rangka mengenang 50 tahun pembuangan ketujuh tokoh pergerakan kebangsaan Makassar ke Serui, Yapen, Irian Jaya oleh penjajah Belanda
SEKAPUR SIRIH
oleh Editor: Dr. Matulanda SUGANDI-RATULANGI
Pada suatu saat beberapa tahun lalu (2011 barangkali) waktu kakak saya Emilia Augustina Pangalila-Ratulangie berkunjung ke Minahasa saya bertanya padanya satu hal yang sudah lama ingin saya tanyakan :
MENGAPA SEBENARNYA KELUARGA KAMI (kecuali Emilia Augustina Pangalila-Ratulangie} ditahun 1942 ramai2 berpindah ke Makassar?….. khan sudah enak2 di Jakarta tinggal dirumah besar di van Heutz Boulevard (sekarang Jl. Teuku Umar).
Lalu jawabnya sbb. : Semenjak awal pecah PD II maka Sam Ratulangie bersama sahabat paling kentanya yakni Oom Alex Maramis mengamati seluruh perkembangan mengenai pendudukan Indonesia oleh Tentara Jepang, diman ternyata tentara Jepang menggunakan pola pembagian area sbb.Bagian Barat Indonesia akan diduduki RIKUGUN (Angkatan Darat jepang) sedangkan Bagian Timur akan dikuasai KAIGUN (Angkatan Laut Jepang).
Sam dan Alex memproyeksi bagaimana akibat NANTI di masa depan dari pembagian ini.
Kata kakak saya mereka telah berfirasat bahwa kalau ini dibiarkan saja maka ujung2nya akan terjadi pembelahan Indonesia menjadiDUA.bagian yang bebas-lepas.
Adanya organisasi KRIS (Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi ) yang didirikan oleh kedua tokoh ini bersama-sama kemudian menyesuaikan strateginya dgn visi baru dengan kepimpinan sbb.
Misi kelompak yang ke TIMUR dipimpin Sam dkk, Sedang misi kelompok KRIS yang tinggal di BARAT tetap ditumbuh kenbangkan dpp Alex Maramis.
(Silahkan lihat didokumen2 KRIS tentang kedua “spiritual leaders” ini yang kedua2nya memang sangat HEBAT )
Dalam mengenang kembali peristiwa yang terjadi di Sulawesi Selatan dan Serui ± 50 tahun yang lalu, perkenankanlah kami untuk menjelaskan peranan ketujuh tokoh pergerakan / pemimpin itu di Makassar. Melalui sarasehan ini, kami mendekati latar belakang pergerakan di daerah ini, tanpa maksud meremehkan dan atau membesar – besarkan peran beliau – beliau. Kami mencoba mendekatinya melalui publikasi yang ada, apa yang kami dengar dan ataupun alami langsung, karena untuk bagian – bagian tertentu kami ikut turut berperan didalamnya melalui cara seobyektif mungkin. Selanjutnya atas kepercayaan dari keluarga penerus ketujuh tokoh ini dalam menyusun uraian ini pada tempatnya kami mengucapkan banyak terima kasih. Dan bila terdapat kekurangan didalamnya terbuka untuk dikoreksi.
PERANAN DR. G.S.S.J. RATULANGIE DKK DI MAKASSAR
Sejalan dengan kebijaksanaan pemerintah pendudukan Jepang (RIKU – GUN) di Jakarta, oleh pihak MINSEI-FU (KAI-GUN) di Makassar, sejak awal pendaratan tentara Jepang disini, telah merangkul Lanto Daeng Pasewang, H. Sewang Daeng Muntu, M. A. Pelupessy, Tio Heng Sui dan H. Nusu Daeng Mannangkasi sedangkan Nadjamuddin Daeng Malewa diangkat menjadi Walikota Makassar pada bulan Mei 1945, melalui wadah : SYUKAI-GIIN, merupakan Badan Penasehat Penguasa MINSEI-FU. Pada akhir tahun 1944, tiba dari Jakarta rombongan DR. Ratulangie, Pondaag dan Tobing, kemudian menyusul Mr. Tajuddin Noor dan Mr. A. Zainal Abidin.
Kehadiran beliau – beliau dimaksud untuk memperkuat barisan pro kemerdekaan segera beliau tiba di Makassar, maka wadah diatas berganti nama : SUMBER DARAH RAKYAT (SUDARA) dalam bahasa Jepang : KEN KOKU DOSIKAI. Wadah ini dipimpin oleh Lanto Daeng Pasewang, A. Mappanyukki dan Mr. Tajuddin Noor, sebagai akibat kekalahan demi kekalahan yang dialami pihak Jepang di kepulauan Solomon. Wadah ini berkembang pesat, meliputi seluruh potensi perjuangan di Sulawesi Selatan, serta merupakan mantel organisasi binaan tokoh – tokoh pemuda antara lain : A. Mattalatta, Saleh Lahode, Amiruddin Mukhlis, Manai Sophian Sunari, Sutan M. Yusuf SA, Man, Y. Siranamual, dll. Kunjungan Ir. Soekarno dan rombongan ke Makassar pada tanggal 28 April s/d 2 Mei 1945, merupakan suatu momentum sejarah karena lebih membangkitkan dan membakar semangat kemerdekaan, baik melalui pertemuan khusus dengan para tokoh masyarakat ataupun melalui rapat umum di lapangan Hasanuddin, dimana ribuan pemuda (pemudi) menghadiri pengibaran bendera “Merah – Putih”. Agaknya para tokoh – tokoh itu menerima isyarat kemerdekaan dari Bung Karno, karena peristiwa tanggal 30 April 1945 itu sangat penting bagi perjuangan selanjutnya di Sulawesi Selatan.
Dalam posisi Jepang yang makin terjepit oleh pihak sekutu, para pemuka masyarakat itu, yang tergabung dalam SUDARA, menyempurnakan struktur dan personalia di perluas dengan susunan sebagai berikut :
Ketua Kehormatan : Mappanyukki
Ketua Umum : DR. G.S.S.J. Ratulangie
Ketua Pusat : Lanto Daeng Pasewang
Kepala Bagian Umum : M. A. Pelupessi
Kepala Tata Usaha : A. N. Hajarati
Kepala Bag. Pendidikan : Abd. Wahab Tarru
Komando Pusat : G. R. Pantouw, H. M. Tahir, M. Suwang Dg. Muntu
Majelis Pendidikan Pusat : Najamuddin Daeng Malewa, Mr. S. Binol Maddusila Daeng Paraga
Pembentukan cabang awal di Pare – Pare yang diprakarsai oleh A. Abdullah Bau Massepe, yang diresmikan pada tanggal 30 Juni 1945 oleh Ketua Umum atas nama Ketua Kehormatan, kemudian diikuti Cabang Bosowa di Watampone oleh A. Pangeran Daeng Parani dan seterusnya meliputi seluruh Sulawesi Selatan. Pembinaan hadir diketuai oleh Mr. Tajuddin Noor di Watampone.
(Catatan : Keluarga Ratulangie mengungsi ke Watampone, ingat pembunuhan massal cendikiawan oleh Jepang di daerah tambang emas di Kab. Sambar (Kal-Bar). Mengenai bapak Suwarno adalah bekas Kepala Perguruan Taman Siswa yang didirikan pada tahun 1936 di Makassar sebagai orang Jawa yang berprinsip : “Sepih ing pamrih, rame ing gawe” Para pimpinan SUDARA sekaligus menjadi penggerak dan propagandis yang tekun dan ulet. Hubungan dengan tokoh – tokoh pemerintahan dijalin dengan baik antara lain Ince Saleh Daeng Tompo, Abd. Salam Daeng Masikki, Mangkulla Daeng Patompo, M. Yunus Daeng Mile (semuanya ex Bestuur Ambtenaar) demikian pula dengan para tokoh pemuda diatas. Pembentukan kekuatan mempunyai dua tujuan yang antagonistis, yaitu : bagi kepentingan Jepang, untuk perang semesta dan dipihak lain diarahkan untuk menuju kemerdekaan I ndonesia.
Sementara SUDARA melebarkan sayapnya dan membina kesadaran politik di kalangan rakyat, diterima surat undangan dari Badan Pekerja Untuk Persiapan Kemerdekaan (BPUPK) pada tanggal 7 Agustus 1945, untuk mengirim utusan yang paling terpercaya untuk menghadirinya dan disepakati secara bulat, yaitu : A. Mappanyukki, DR. G.S.S.J. Ratulangie dan A. Sultan Daeng Raja dan Sekr. Mr. A. Zainal Abidin. Andi Mappanyukki berhalangan hadir, karena puncak perayaan perkawinan puteri beliau mendapatkan A. Jemma (Datu Luwu) dan karenanya diwakili oleh A. Pangerang Daeng Parani. Mereka menuju ke Jakarta pada tanggal 10 Agustus 1945.
Karena alasan pembubaran BUPK oleh Pemerintah Jepang di Jakarta, maka pimpinan Nasional menggantikannya dengan nama : Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Atas restu Laksamana Maeda kelompok pemuda militan yang menerima inspirasi dari Bung Syahrir dan Tan Malaka mendesak pimpinan Nasional Soekarno – Hatta, yang mengetahui tentang Kapitulasi Jepang terhadap sekutu pada tanggal 14 Agustus 1945, agar beliau – beliau segera memprolamirkan Kemerdekaan Indonesia, yang dikenal dengan peristiwa Rengasdengklok.
Diskusi serius pada sidangPPKI di Pejambon
Para utusan setempat menghadiri Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Jalan Pengangsaan Timur oleh Soekarno – Hatta atas nama bangsa Indonesia dan selanjutnya menghadiri PPKI pada tanggal 18 – 19 Agustus 1945.
Selanjutnya rombongan DR. Ratulangie kembali pada tangga 24 Agustus 1945, dan pesawat yang ditumpanginya mendarat di Sapiria dekat kota Bulukumba. DR. Ratulangie dan Mr. Andi Zainal Abidin balik ke Makassar, A. Sultan Daeng Raja menetap di Bulukumba karena alasan sakit, sedangkan A. Pangerang Daeng Parani langsung menuju ke Watampone. Setibanya DR. Ratulangie di Makassar, langsung menginap di Hotel Empress bersama Mr. A. Zainal Abidin selama seminggu.
Selaku Gubernur Sulawesi, beliau menyadari sedalam – dalamnya, bahwa posisi beliau amat sulit. Bandingkan dengan Gubernur Maluku Mr. Latuharhary yang tidak pernah ke Ambon. Pada pertemuan tanggal 28 Agustus 1945 antara DR. Ratulangie dengan para tokoh SUDARA di Makassar, terdapat kekecewaan di kalangan tokoh pemuda dan kecaman tajam dan Najamuddin Daeng Malewa (akhir Desember 1945, telah hilang dari penganut republikein).
Pada akhir bulan itu juga, DR. Ratulangie selaku Gubernur Sulawesi menyusun aparat pemerintahannya sebagai berikut :
Gubernur : DR. G.S.S.J. Ratulangie
Sekretariat : Mr. A. Zainal Abidin
Wakil Sekretaris : F. Tobing
Biro Umum : Lanto Daeng Pasewang
Biro Ekonomi : Najamuddin Daeng Malewa dan Mr. Tajuddin Noor
Biro Pemuda : Siaranamual dan Saelan
Biro Penerangan : Manai Sophian
Pembantu-Pembantu : A. N. Hajarati, GR. Pantouw, Syam, Supardi, Pondaag Dr. Syafrie dan Saleh Lahade
Penyebaran berita proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia itu disebarkan secara formal, melalui Tim DR. Ratulangie menuju ke Utara sedangkan Tim Lanto Daeng Pasewang ke Selatan dan beliau bertemu di Kota Sengkang.
Dimaksudkan untuk menyusun kekuasaan dan menggalang persatuan dengan makin santernya berita pendaratan tentara sekutu di Sulawesi Selatan. DR. Ratulangie tetap mempertahankan pendiriannya untuk tetap menghindari perlawanan bersenjata dan menggantikannya dengan jalan diplomasi, berdasarkan suatu perhitungan yang matang (calculated risk).
Beliau menghargai sifat – sifat heroisme masyarakat Sulawesi Selatan (Bugis – Makassar), tetapi dalam memperhitungkan situasi dan kondisi yang ada, ialah : Maluku dikenal sebagai Propinsi XIII Minahasa ke XII dari Propinsi Nederland, belum lagi penduduk NTT yang mungkin simpati dengan pihak Belanda. Dasar pertimbangan ini dikemukakan kepada kami bertiga di Serui secara lisan, dalam menyusun konsep buku, “Indonesia diatas Papan Catur Politik Internasional”. (Kami akan membahas inti – intinya kelak.)
Jika di Sumatera dan Pulau Jawa terjadi benturan fisik / pertempuran bersenjata, melalui perampasan senjata oleh para pemuda – pemuda, hal semacam itu ingin dihindari oleh beliau karena akan membawa ekses dendam kesumat (haatzaai) antara suku bangsa di wilayah ini.
Buku Maulwi SaelanKritik pada Sam Ratulangie di Makasar 1945 dalam buku Maulwi Saelan.
Karenanya beliau tidak merestui permintaan para pemuda militan melalui SUDARA untuk melucuti persenjataan tentara Jepang. Berbeda dengan daerah lainnya dimana pada awalnya Proklamasi Kemerdekaan didukung oleh para raja – raja termasuk raja – raja lokal. Kami pernah memperoleh penjelasan dari Lanto Daeng Pasewang bahwa beliau mengadakan Sumpah Setia dengan Arumpone A. Mappanyukkimdan Datu Luwu A. Jemma, “siapa yang mengkhianati RI akan digantikan isterinya”, dalam bahasa Bugis.
Jika A. Ijo (yang kemudian diangkat menjadi Raja Gowa oleh NICA pada bulan Desember 1946), beliau mengatakan kepada kami, bahwa beliau didahului oleh Najamuddin Daeng Malewa menggarapnya. Patut dijelaskan, bahwa pelucutan senjata Jepang, terjadi juga di Luwu dan Kolaka.
GERAKAN SISWA – SISWA PERGURUAN NASIONAL
Gerakan Kelompok Siswa Perguruan Nasional di Makassar yang dijiwai oleh Perguruan Taman Siswa Perguruan Nasional didirikan oleh DR. Ratulangie dan Lanto Daeng Pasewang dan Suwarno. Dibawah prakarsa Abd. Rivai Paerai, yang mengadakan pertemuan dengan Sdr. Syamsul Ma’arif dan La Ode Hadi bertempat di rumah Lanto Daeng Pasewang (ex Maradekaya weg No. 28) ; mereka memutuskan bahwa saat penyerangan dilaksanakan pada tanggal 28 Oktober 1945, sesuai Hari Sumpah Pemuda pada jam 05.00 pagi. Sasaran penyerangan disusun sebagai berikut : 1. Kelompok Perguruan Nasional, dipimpin langsung oleh Abd. Rivai Paerai (alm.), menyerang Hotel Empress dimana CO – NICA Dr. Lion Cachet, berkantor dan menginap. Pangkalan penyerangan ditetapkan rumah Bapak Saelan (Tweede Zeestraat), memasuki sekolah Frater selanjutnya menuju sasaran : Kelompok ini akan dibantu oleh PEMUDA PATTUNUANG (lihat lampiran dalam bentuk skema).
2. Kelompok Perguruan ISLAM Datumuseng, menyerang kantor Polisi (ex kantor Gouverneur Grote Oost dan Min Seifu, Jepang) dengan dibantu oleh permuda dari kampung Baru. Dewasa ini menjadi kantor Walikota Kota Madya Ujung Pandang.
Catatan : Setelah Proklamasi kemerdekaan diproklamirkan dua perguruan dibuka di Makassar masing – masing Perguruan Nasional dan Perguruan Datu Museng yang dipelopori oleh H. Masyikur Daeng Tompo, H. Gazali Sackhlan, H. Darwis Zakaria, dan lain – lain ( lahir seminggu lebih dahulu dari Perguruan Nasional).
3. Kelompok Ka’ MINO, menyerang Radio dan dibantu oleh Pemuda Lariang Banggi. Ada dugaan dari kami bahwa gerakan tersebut direstui oleh Lanto Daeng Pasewang karena pada tanggal 27 Agustus 1945 pagi hari, kami diperintahkan untuk mengantar surat untuk Pajongan Daeng Ngalle (Karaeng Polongbangkeng) yang diterima oleh kurirnya di Palleko.
Kami berangkat naik sepeda bersama Rajadin Daeng Lau, agaknya direncanakan dan akan merupakan “terugval basis” bila gerakan ini dipukul mundur oleh pasukan Sekutu / NICA. Tepat pada jam 23.30 Sdr. Abd. Rivai Pae’rai menawarkan pengibaran bendera Merah Putih tepat pada jam 24.00 di depan hotel EMPRESS. Kami berdua yaitu Abd. Rachman Lanto (alm) melaksanakannya sesuai dengan perintah dan berjalan lancar tanpa gangguan apa – apa dari pihak Australia. Tetapi sial bagi kami, karena sekembalinya dari pelaksanaan tugas, Radjadin Daeng Lau, Abd. Latief Daeng Nyau dan kami sendiri ketiduran di garage Bapak Saelan mungkin karena kecapean melaksanakan tugas – tugas ke Palleko, ke Pattunuang dan pengibaran sangsaka Merah Putih.
Kurang lebih pada jam 02.30, kami bertiga meninggalkan rumah Bapak Saelan menuju sasaran, di Jalan Hasanuddin (sekarang) antara bioskop ISTANA dan GELAEL, kami terkepung oleh pasukan polisi yang dipimpin oleh Van der Pol. Yang membawa pistol Jepang adalah Rajadin Daeng Lau, pistol tersebut dilempar ke pinggir jalan dan diketemukan oleh mereka. Mereka akan mengikat kami, tetapi kami mengatakan tidak usah tuan, kami tidak akan lari, oleh der Pol mengatakan : “Engkau pemimpinnya, he ?”
Di Kantor Polisi (dewasa ini kantor Walikota UP), kami diinterogasir. Oleh Komisaris Polisi Koekrits diancam : “He Zainuddin engkau akan rata dengan tanah besok pagi”. Kami jawab “Terserah pada tuan – tuan.” Menjelang jam 05.00 pagi kami minta untuk shalat dan mereka mengizinkannya. Selesai shalat, kami lari meninggalkan dua teman kami itu dan kami ditembaki oleh mereka, Alhamdulillah kami selamat. Selamat karena tempat ini diserang oleh pemuda – pemuda kampung Beru dari arah Fort Rotterdam. Keduanya yang kami tinggalkan dimasukkan dalam kandang macan.
Sebahagian dari anggota penyerang Hotel Empress, menuju Polongbangkeng dan gugur sebagai kesuma bangsa antara lain : Emmy Saelan, Wolter Mongisidi, Koko Sam, Abdullah Saleh Tompo dan Moh. Noer Pabeta gugur kemudian pada serangan umum tanggal 1 Maret 1949 di Yogyakarta.Gerakan ini oleh pihak Belanda disebut Palagan I.
Seterusnya dimana – mana terjadi perlawanan fisik oleh para pemuda dan ataukan ekspedisi dari Pulau Jawa akibatnya timbul korban 40.000 jiwa. Akibat serangan umum itu, momentum perjuangan beralih keluar kota Makassar, ke pedalaman.
Secara politis kedudukan Gubernur Sulawesi DR. Ratulangie makin tersudut dan memindahkan pemerintahannya ke kota Watampone, melalui jaminan Arumpone A. Mappanyukki dan rakyatnya yang semula mendukung proklamasi RI. Tetapi pihak NICA mempraktekkan politik “bagi dan kuasai (verdeel en heers)” dengan cara membonceng pada pihak sekutu.
Pada bulan Nopember 1945, Gubernur Sulawesi membentuk badan perjuangan yang bercorak politik dengan nama PUSAT KESELAMATAN RAKYAT SULAWESI (PKRS) dengan susunan pengurus sebagai berikut :
Ketua : DR. G.S.S.J. Ratulangie (Gubernur Sulawesi)
Sekretaris : WST Pondaag
Bendahara : Suwarno
Wakil Ketua Komite Nasional Indonesia Selebes : Lanto Daeng Pasewang
Anggota – anggotanya :
1. H. Mansyur Daeng Tompo (Ketua Jamiah Islamiyah Selebes)
2. Inche Saleh Daeng Tompo (Wakil Golongan Pamong Raja)
3. J. Latumahina (Ketua Dewan Kristen Selebes)
4. Makki (Wakil Golongan Buruh)
5. H. Sewang Daeng Muntu (Ketua Muhammadiyah Cab. Sulawesi)
6. Sam (Kepala Bag. Pendidikan Pusat Keselamatan Rakyat)
Pada tanggal 21 Nopember 1945, Brigjen FO Chilton, mengeluarkan satu perintah kepada komandan bawahannya, bahwa NICA merupakan bahagian integral dari administrasi kemiliteran, dimana peraturan – peraturan dan perintah – perintahnya dilakukan atas kewenangan dari komando sekutu sewaktu setiap tindakan atas nama pemerintah RI dilarang.
Pada bulan Desember 1945 inisiatif sudah beralih ketangan NICA dan pada tanggal 18 Desember 1945, untuk pertama kalinya PKRS mengadakan perundingan dengan pihak CONICA. DR. Ratulangie cs tetap setia asas tujuan dan pendiriannya bersedia secara damai bekerjasama untuk pelaksanaan pembangunan demi kepentingan rakyat dan bangsa. DR. Ratulangie menyampaikan kepada DR. Lion Cachet mengenai asas dan pendirian PKRS sebagai berikut :
I. Pendirian Prinsipil Kami berdiri dibelakang RI sesuai UUD yang diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945, dimana Selebes merupakan bahagian yang tidak dapat dipisahkan
II. Pertimbangan – pertimbangan untuk berunding
1. Nasib dari Indonesia akan ditentukan oleh konperensi yang akan diadakan antara pemerintah Pusat RI dengan wakil – wakil Pemerintah Belanda dan pada akhirnya oleh konperensi internasional PBB
2. Tindakan – tindakan yang akan diambil dalam hubungannya dengan konprensi – konprensi tersebut kami serahkan kepada Pemerintah RI di Jakarta, kepada siapa kami memberikan kepercayaan sepenuhnya
3. Sikap kami dari semula sampai sekarang adalah untuk mewujudkan cita – cita kami dengan menghindarkan terjadinya tindakan – tindakan kekerasan
III. Petunjuk dalam perundingan
1. Mengusahakan agar perkembangan masyarakat dan ekonomi rakyat dapat berlangsung secara normal juga dalam masa peralihan ini pengertian bahwa kami menunggu adanya keputusan, keputusan mengenai nasib Indonesia.
2. Pertemuan kedua pada tanggal 20 Desember 1945 antara PKRS dan CONICA. DR. Ratulangie mengusulkan adanya Panitia Penghubung terdiri dari 3 orang yang disusun dengan pemufakatan raja – raja.
Pihak CONICA menyetujui pembentukan Panitia Penghubung, tetapi mereka telah mengangkat sebelumnya A. Ijo selaku Sombaya di Gowa dan Pabbenteng menjadi Arumpone. Arsiteknya ialah cendikiawan tokoh – tokoh politik Sonda,Daeng Mattayang, Najamuddin Daeng Malewa, Abdullah Daeng Mappuji, Baso Daeng Malewa, Abd. Rajab, Mr. S. Binol, Husein Puang Limboro, dll.
Pada tanggal 25 Pebruari 1946, CONICA telah berhasil membentuk Dewan Penasehat yang terdiri dari anggota – anggotanya antara lain : A. Pebbenteng, Laode Fahili, La Cibu, Najamuddin Daeng Malewa dan Sonda Daeng Mattayang.
SERUI
Pada tanggal 15 April – 17 Juni 1946 Gubernur Sulawesi DR. Ratulangie bersama 6 orang pembantu – pembantunya dipenjarakan di Hoge Pad Weg,
Penjara Makassar (1946)
dan selanjutnya dibuang / diinternir ke Serui (P. Yapen). Rombongan I diangkut dengan kapal terbang CATALINA, pada tanggal 18 Juni 1946, yang terdiri atas 3 keluarga yaitu keluarga DR. Ratulangie, Lanto Daeng Pasewang dan J. Latumahina. Keluarga lainnya tiba melalui kapal laut.
Scetch of the arrival of exiled persons (1946) at Serui
Tindakan pengasingan itu agaknya dimaksudkan untuk
a. mempercepat penyerahan kekuasaan dari pihak sekutu kepada NICA yang berlangsung pada tanggal 10 Juli 1946
b. mengadakan konferensi Malino pada tanggal 15 – 25 Juli 1946, sebagai embrio pembentukan NIT
c. Melalui NIT, merealisir NIGEO, yang telah direncanakan sejak Pemerintahan pelanan Nederland Indie ke Australia
Di Serui terdapat kesepakatan antara beliau – beliau untuk mendirikan Partai Kemerdekaan Indonesia Irian berpusat di Serui yang dilaksanakan pada akhir tahun 1946.
The 7 exiles and Oom Silas Papare
Para beliau mendekati Bapak Silas Papare seorang mantan anggota tentara Amerika Serikat dan bekerja sebagai manteri kesehatan di Serui. Peranan Bapak Latumahina cukup bersar, karena pada umumnya para anggota Zending di Irian sebagian besar berasal dari Maluku.
Dari kalangan pemuda yang mendukung ide antara lain Stefanus dan adiknya. Yang bersangkutan pernah ditahan pada kantor Polisi Serui bersama Sdr. Palangkey Daeng Lagu, karena mereka berdua mengunjungi (dataran Pulau Irian). Atas perjuangan DR. Ratulangie keduanya dibebaskan. Lain halnya Bapak Silas Papare dimana beliau ditangkap oleh pemerintah dan dibawa ke Hollandia untuk dipenjarakan.
Pengasingan ke Serui, memberi kesempatan kepada DR. Ratulangie untuk menyusun konsep buku “Indonesia diatas papan catur politik internasional” yang menurut beliau akan dipersembahkan kepada bangsa Indonesia.
Kami sempat menerimanya dari tangan pertama, karena pada suatu kesempatan kami mengancam beliau bahwa di Serui akan diadakan pemberontakan fisik dipimpin oleh kami. Kami akan membunuh Controleur den Hertog bersama isterinya, dikala beliau sedang berjalan – jalan sore hari di Serui. Alasan: kami telah mati . sebelum mati.
Beliau menanyakan kepada kami, darimana Nudin memperoleh senjata. Kami jawab, bahwa kami memperoleh dukungan dari polisi asal Minahasa dan Ambon. Yang kami takuti ialah apabila Oom Sam dan tante serta anggota lainnya akan dibunuh oleh pihak Belanda.
Spontan beliau menjawab itu rencana gila Nudin. Ngoni mau apa ? Kami menjawab : ajarlah kami Oom tentang politik. Ngoni atur waktu. Maka diadakanlah pendidikan oleh beliau 2 x seminggu.
Catatan : Buku tersebut tidak sempat dipubliser sampai beliau meninggal pada tahun 1949 di Jakarta. Mayat beliau disemayamkan di Tondano (Minahasa) tempat kelahirannya. Disini didirikan sebuah TAMAN dengan sebuah patung besar setengah badan. Untuk mengenal lebih mendalam, siapa DR. G.S.S.J. Ratulangie. Pada kesempatan yang baik ini, kami akan jelaskan sebagai berikut :
A. Beliau memulai pembahasannya tentang negara CHINA, sejak Zaman Keizer Ming, seterusnya ke Sun Yat Tsen dengan konsep San Min Chui-nya yang terkenal dan dilanjutkan ke Generalisme Chiang Kai Shek dengan konsep Kuo Mintang – nya. Beliau mengupas tentang famili Chung, yang oleh beliau dianggap komparador imprealisme Barat.
Beliau menjelaskan juga tentang Perang Boxer dimana pelabuhan Syang-Hai dipaksakan dibuka oleh Amerika Serikat melalui pengiriman kapal perang. Beliau menjelaskan juga mengenai perang Chiang melawan komunis Mao Tse Tung dan juga tentang perang Chiang melawan Jepang. Dari kupasan beliau diatas, beliau mengambil kesimpulan bahwa daratan China akan dikuasai oleh Mao Tse Tung.
B. Selanjutnya dikupas pula mengenai perang Jepang melawan Rusia pada tahun 1904 – 1905, yang dimenangkan oleh pihak Jepang. Kaitan dengan peristiwa ini, beliau mengarang buku tentang “Pacific in de branding”
C. Akibat perang dunia II, setelah kapitulasi pihak Jepang terhadap Sekutu, pada tanggal 14 Agustus 1945, beliau mengambil kesimpulan, bahwa Amerika Serikat akan membangun negeri Jepang, sebagai “anti pode” berkuasanya Mao Tse Tung di dataran China. Eropa Barat yang porak poranda akan dibangun oleh Pemerintah Amerika Serikat yang dikenal kemudian melalui “Marshall Plan”, menghadapi komunis Uni Sovyet.
D. Selanjutnya beliau mengupas tentang kedudukan Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaannya. Menurut beliau, bahwa Amerika Serikat memandang letak geografis Indonesia sangat strategis. Pihak Amerika sangat berkepentingan dan tidak menghendaki labilitas politik di Asia Tenggara menghadapi komunisme internasional. Kita ketahui bahwa di Indo – China pun sedang terjadi pemberontakan menghadapi pemerintah kolonial Perancis.
Beliau mengambil kesimpulan bahwa Pemerintah Belanda akan dipaksa oleh majikannya Pemerintah Amerika Serikat untuk berunding dengan pihak Republik Indonesia dan Indonesia akan keluar sebagai pemenang.
E. Selain itu, beliau mengupas tentang kemungkinan pecahnya Perang Dunia ke III. Bahwa dalam perut bumi di Asia Tengah tersimpan milyarden ton bensin dan minyak tanah. Dunia ini berputar dengan bensin dan minyak tanah. Siapa yang menguasai Asia Tengah dia akan menguasai dunia.
Mengenai latar belakang pergolakan diwilayah ini, beliau mengupas tentang peranan Ballfour, Singa padang pasir pada peristiwa Perang Dunia I, yang mengeluarkan “Ballfour Declaration”. Bahwa negara Mesir harus diisolir dari Turki. Untuk itu dibentuk “bufferstate”, meliputi negara Jordania di bawah protectoraat Inggeris, Libanon dibawah Perancis dan Palestina oleh keduanya. Oleh Pemerintah Inggeris diangkat ayah Raja Husein menjadi Raja.
Setelah Perang Dunia II usai, Zeonisme bangkit dan menggegar kekacauan di negara Palestina. Pada akhirnya mereka berhasil memojokkan kekuasaan Inggeris dan berdirilah negara Zeonist yaitu Israel. Selain itu beliau menjelaskan peranan Yahudi dalam perekonomian Amerika Serikat bahwa Wall Street dikuasia oleh orang Yahudi, demikian pula Bank of Swiss dan bahkan Bank of London. Bahwa orang Yahudi itu Keras Kepala, tercantum dalam Bybel Oom dan Alquran Nudin, katanya.
Dalam menutup karangan beliau itu, beliau mengambil “kesimpulan diatas kesimpulan” (conclusie boven conclusie) :
a. Bahwa komunis Mao Tse Tung akan menguasai dataran China
b. Negara Jepang akan dibangun kembali oleh Pemerintah Amerika Serikat sebagai Antipode diatas
c. Pihak Belanda akan dipaksa oleh majikannya Amerika Serikat untuk berunding dengan pihak Republik Indonesia, dan Indonesia akan keluar sebagai pemenang
d. Pecahnya Perang Dunia III, kemungkinan besar akan meletus di Asia Tengah. Semua perhitungan orang lain salah dan inilah yang benar.
Akibat Perjanjian Renville setelah Clash I, seluruh rombongan dikembalikan ke Yogyakarta (Ibukota RI).
Disini beliau menderita sakit dan dirawat di Jakarta. Sebelum itu, puteri – puteri beliau telah dikirim ke Jakarta untuk bersekolah.
Ujung Pandang, 30 Juli 1996
Ir. Zainuddin Daeng Maupa
DAFTAR PUSTAKA
1. Arus Revolusi di Sulawesi Selatan (Dewan Harian Daerah Angkatan 45 Prop. Sul – Sel Masa Bhakti 1985 – 1989)
2. Indonesia Diatas Papan Catur Politik Internasional oleh DR. G.S.S.J. Ratulangie (tidak sempat dipublikasikan)
*) Purnawirawan Sekretaris Jenderal Departemen Pertanian, Alamat sekarang : Ujung Pandang : Telepon : 0411 – 851265
Bapak DR.G.S.S.J. RATULANGI (Om Sam)di Madiun (Jawa Timur) bulan April 1948 (*)
Nara Sumber: F.J. Nelwan
Dalam rangka hari ulang tahun (HUT) yang pertama organisasi K.R.I.S. (Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi) oleh para pengurus dan anggauta direncanakan perayaan cukup meriah tetapi sederhana, yaitu rapat umum antara anggauta dan beberapa undangan dari organisasi perjuangan, yang tanggalnya sudah tidak kami ingat lagi, tapi +/- pada permulaan bulan April 1948 (antara 1 dan 10 April 1948).
Om SAM RATULANGIE
Susunan pengurus yang masih kami ingat ialah Bapak H.K. Nelwan sebagai Ketua dan dibantu oleh antara lain Bapak P. Tulandi sebagai Sekretaris dan Bapak D.J. Legoh serta beberapa orang lain juga kami sendiri waktu itu berumur +/- 17 tahun sebagai anak dari ketua pada waktu itu, ditugaskan sebagai pembantu pribadi, antara lain menghubungi para pengurus lainnya jika ada hal yang penting, yang tersebar dikota Madiun.
Kebetulan pada waktu itu diketahui bahwa pada +/- permulaan April 1948 Bapak Sam Ratulangi dan rombongan yang terdiri dari staf beliau selaku Gubernur Sulawesi yang beberapa waktu lalu ditawan Belanda (NICA) di Serui (Irian Barat) telah dilepaskan.
Tepat pada HUT K.R.I.S. cabang Madiun, rombongan Bapak Sam Ratulangi akan melalui Madiun untuk selanjutnya ke Yogyakarta dengan kereta api. Menurut kabar rombongan Om Sam akan disediakan gerbong khusus oleh pemerintah R.I. dari Modjokerto sampai Yogyakarta dikawal oleh pemuda K.R.I.S. Segera dihubungi semua pembesar pemerintah yang bersangkutan agar diperbolehkan diberi kesempatan kepada Om Sam dan rombongan mampir dikota Madiun untuk beberap jam turut merayakan HUT K.R.I.S. Cabang Madiun.
Peringatan HUT ke-2 KRIS
Setelah diperoleh persetujuan dat pembesar-pembesar dan lain-lain yang bersangkutan, maka diadakan persiapan-persiapan.
Pada hari itu kami menjemput rombongan Om Sam yang terdiri dari beberapa staf beliau antara lain Bapak Lanto Dg. Pasewang, Latumahina dan beberapa lagi yang kami tidak ingat namanya.
Kereta api tba +/- jam 10.00 pagi, rombongan dijemput dan langsung dibawa ketempat rapat umum di Gedung Pertemuan Umum, sebuah gedung bioskop kalau malam, untuk menghadiri rapat umum HUT K.R.I.S. Madiun.
Rapat berlangsung +/- 2 jam dimana Om Sam turut berbicara. Kami sendiri tidak mengikuti rapat dengan cermat karena kami ditugaskan mengawal diluar gedung.
Tujuh ex-buangan NICA di HUT KRIS
Setelah selesai pertemuan diadakan foto bersama foto bersama berganti-ganti, lalu berangkat menuju tempat istirahat rombongan untuk makan bersama dengan anggota dan ramah tamah yang jaraknya +/- 3 km dari tempat rapat umum, bertempat dirumah K.R.I.S. Cabang Madiun (Bapak H.K. Nelwan) yang berfungsi juga sebagai kantor. Dalam ramah tamah tersebut diberi kesempatan tatap muka satu sama lain bersama dengan pengurus khususnya antara Om Sam dan para kawanua.
Acara berlangsung sampai +/- jam 16.00 dan selanjutnya rombongan menuju stasiun kereta api dimana rombongan kereta api Om. Sam berangkat +/- pukul 17.00 menuju Yogyakarta.
Meneruskan perjalanan ke Jogya
Demikian sekelumit sejarah kunjungan Om Sam di Madiun.
Catatan: Ini adalah sekelumit sejarah hampir 50 tahun yang lalu, karenanya ada beberapa data yang tidak tepat lagi sesuai keadaansebenarnya pada waktu masih dalam ingatn kani sekarang ini pada tanggal 15 April 1996.
Manado, 15 April 1996
F.J. Nelwan
(*) Naskah ini kami dapat dari tangan Bpk. Nelwan di Jakarta pada tanggal 6/7/1996, Terima kasih Bapak Nelwan! Tuhan beserta Bapak!
Tulisan terakhir (yang tak terselesaikan) dari tangan
Dr. G.S.S.J. Ratu Langie (1949)
Pada kesempatan ini dirasakan perlu untuk memberikan beberapa keterangan sebagai pengantar jika membaca naskah berikut.
Diawal tahun 2004 saya merapihkan dokumen-dokumen dalam berkas peninggalan Ibu saya: Alm. Ibu M.C.J. Ratu Langie-Tambajong. Disana saya menemukan beberapa naskah tulisan Ayah saya: Alm. Dr. G.S.S.J. Ratu Langie; antara lain satu naskah yang tidak lengkap, d.p.l. tidak sempat dirampungkan oleh penulis. Judul yang tercantum diatasnya adalah “Indonesia dalam gelora internasional”.
Masa tahun 1948 dan 1949 bagi Ayah saya sangat turbulen; yakni beliau mengalami pembebasan dari pembuangan di Serui (Maret 1948) dan transportasi ke Jogya. Dalam perjalanan dengan kereta api dari Surabaya ke Jogya beliau beserta keenam rekan sebuangan sempat diterima oleh kalangan KRIS di Madiun yang pas kebetulan hari-hari itu memperingati HUT pertama. Setelah menghadiri perayaan perjalanan diteruskan ke Jogya. Di Jogya rombongan tujuh itu diterima oleh Presiden Pertama Republik Indonesia: Ir. Soekarno.
Namun dibulan Desember tahun itu juga beliau ditangkap lagi dan diinternir pula oleh Belanda yang menyerbu Jogya (Agresi kedua). Kali ini diinternir di Istana Presiden Jogya. Disini beliau bersama belasan pemimpin-pemimpin lainnya diharuskan menunggu transportasi ketempat buangan yang lain.
Ternyata diantara tahanan-tahanan ini ada beberapa, antara lain beliau, yang ditranspor via Jakarta. Kami anak-anak beserta ibu berkesempatan mengunjungi beliau setiap sore. Setelah beberapa waktu beliau dilepaskan karena kesehatannya semakin memburuk (Pebruari 1949) sedangkan tahanan yang lainnya diangkut ke Sumatra tempat buangan yang baru. Disaat-saat itulah beliau bermaksud menerbitkan sebuah buku dan beliau bersama dengan Bapak Tobing, rekan yang juga teman sepembuangan sedang mencari pendekatan kepada beberapa pihak untuk penerbitan buku ini.
Akan tetapi kelihatannya pengalaman-pengalaman dan penderitaan-penderitaan yang dialaminya dibulan-bulan terakhir tidak memungkinkan beliau untuk menyelesaikan karya tulis yang ini, hal mana saya sangat sesalkan karena justru Bab-bab yang seharusnya menyusul pasti akan menyajikan buah pikiran beliau yang dapat membantu kita KINI dalam upaya mencari satu visi yang jelas kemasa depan untuk Indonesia.
Adalah pendapat saya bahwa Bab-bab yang ada seakan-akan merupakan ancang-ancang yang dapat memberikan kesan bahwa pikiran Sam Ratu Langie ditahun 1949 itu sudah melayang jauh kedepan.
Demikianlah kiranya kata-kata yang perlu saya sampaikan untuk mengantarkan karya terakhir Ayah saya kepada Anda. Terima-kasih atas perhatian Anda
Tulisan terakhir yang tak terselesaikan, dari tangan Dr. G.S.S.J. Ratu Langie ditahun 1949
PENDAHULUAN(*)
I. Aliran Atas
Faham liberal mendjadi filsafat – dasar dari bentuk sosial – politik Eropah-Barat dan Amerika dalam abad XIX. Berdasarkan filsafat kesusilaan ini kemudian berkembang suatu susunan social- ekonomi jang berbentuk free – trade liberalism, ialah kebebasan dalam mentjari nafkah dan jang kemudian mendjelma dan mendjadi kapitalisme.
Dilihat dari sudut politiek maka kemungkinan berkembangnja faham kapitalis itu ditjiptakan oleh Revolusi Perantjis. Apakah kapitalis itu pada hakekatnya susunan sosial-ekonomis seperti yang dimaksudkan oleh para pemikir revolusioner dari abad ke 18 itu masih disangsikan dan pula bukan tempatnja disini mendahului hal itu. Tetapi suatu kenjataan ialah bahwa Revolusi Perantjis dengan akibatnja berupa perobahan-perobahan sosial dan politik diseluruh Eropah memungkinkan tumbuhnja faham kapitalis.
Untuk tumbuh ini dibutuhkan, pertama kemerdekaan politik dan sosial dari individu (seseorang) sebagai anggota dari masjarakat dan sjarat kedua, bahwa tiap anggota dari masjarakat mendapat kesempatan jang sama dan jang tidak dihalangi.
Kedua sjarat itu mendapat pengakuan dalam sembojan jang terkenal jaitu “liberté, egalité et fraternité” (kemerdekaan, persamaan dan persuadaraan) asal sadja dengan bidjaksana hal persaudaraan itu didiamkan.
Akan tetapi masih dibutuhkan sjarat jang ketiga, jaini : sjarat psychologis, jaitu sesuatu faham perseorangan jang berderadjat setinggi – tingginja..
Faktor psychologis ini pada saat itu memang terdapat pada bangsa – bangsa Eropah Barat dan jang dapat dilihat dengan njata sekali pada seni lukis dan kesusasteraan mereka, pada susunan sosial dan pada konstruksi (bentuk) politiek mereka, dengan singkat pada irama penghidupan mereka.
Faktor – faktor ini perseorang jang asli dari bangsa – bangsa Eropah Barat dan filsafat kesusilaan dari faham liberal, sepandjang masa seabad telah membentuk di Eropah Barat dan Amerika suatu susunan masjarakat. Dan karena permainan jang bebas dari gaja – gaja masjarakat maka terdjadilah pemusatan alat – alat penghasil, jang djatuh kedalam tangan beberapa golongan orang, golongan jang agak ketjil.
Baik sardjana – sardjana agama maupun filsuf – filsuf ilmu lain – lainnja dari berbagai – bagai bangsa dan intelek – intelek jang tertjakap dari ilmu alam memberikan tenaganja untuk kepentingan susunan itu, memperkembangkannja, menjempurnakannja dan mengonsolidernja hingga pada achir abad ke XIX, bentuk kapitalis itu di Eropah Barat dan Amerika berdiri dengan megahnja dipuntjak segala tjiptaan dan mendjadi darah daging dari tiap-tiap bangsa serta dapat menaklukkan bagian – bagian lain dari majapada ini.
Dengan tjara demikian maka unsur baru dibutuhkan pada sedjarah dunia, hingga kapital mendjadi imperialistis dan berhasrat berkuasa diluar tapal batas negara – negara masing – masing.
Kemadjuan dalam pengetahuan ilmu alam dan teknik mengakibatkan radius kekuasaan dari pusat kapitalis memandjang dan mendalam hingga pimpinan dari buana ini ditata menurut kaidah dari adjaran composia kapitalis.
Hasil-hasil dari pedalaman Afrika, baik dari Asia Sentral maupun dari pulau- pulau Melanesia di Pasifik diatur menurut pendapat dagang dari pusat-puat faham imperialis dunia jang kapitalis itu.
Pusat-pusat itu ialah negara-negara jang terletak disekitar panggul Samudra Atlantik disebelah Utara, ja’ni Eropah Barat dan Amerika Utara. Dari situlah berasal semua pimpinan untuk perekonomian dunia.
Karena kekuasaan modal dari negara- negara disekitar Samudra Atlantik itu maka pada achir abad jang lampau ia mendjadi lautan dunia dimana pada hakekatnja berlangsung perebutan untuk hegemoni dunia, ialah world hegemony atau kekuasaan tertinggi didunia.
Dan perkembangan dari perbandingan kekuasaan dibagian – bagian lainnja dari dunia hanjalah pantjaran dari apa jang terdjadi disekitar Samudra Atlantik atau apa jang ditentukan disana.
Mendahului pertimbangan – pertimbangan jang akan diuraikan selandjutnja maka mungkin ada manfaatnja sambil lalu memadjukan pertanjaan apakah Pactum Atlantica Utara, jang baru – baru ini (Maret 1949) ditandatangani di Washington oleh Amerika Serikat, Canada, Inggris, Perantjis dan negara – negara Benelux, apakah pactum itu barangkali dapat dilihat dari sudut sebagai tersebut diatas tadi ?
Dibawah ini kita akan mendapat kesempatan untuk mendalami hal tersebut.
Kembali lagi kepada themata (= soal) susunan dunia kapitalis maka dalam perpustakaan umumnya diakui bahwa puntjak dari perkembangan susunan kapitalis itu kira – kira djatuh pada achir abad jang lalu dan pada permulaan abad ini. Susunan tersebut sebagai dilukiskan tadi memperoleh intinja jang sosial -psychologis itu dari adjaran bahwa perkembangan tenaga dan daja itu harus bebas dan merdeka dan tak mendapat suatu rintanganpun djuga.
Oleh karena susunan itu muntjul beberapa orang jang sebenarnja tak sesuai lagi dengan zaman sekarang karena zaman mereka, zaman memuntjaknja perkembangan susunan dunia kapitalis sebagai diterangkan diatas tadi, telah lampau.
Orang – orang sebagai Rockefeller, Stinnes, Astor, Morgan, Rotschild, Krupp, Basil Zacharof, Lowenstein, Kreuger untuk zaman sekarang hampir – hampir meninggalkan hikajat – hikajat mereka sendiri – sendiri. Mereka ialah exponen dari susunan kapitalis. Pada kumpulan orang – orang itu dapat ditambahkan pemimpin – pemimpin “Mammouth concerns”: Mitsui, Mitsubishi dan Sumitomo di Djepun jang dahulu dan pemimpin industri badja Tata di India.
Kebanjakan dari orang – orang itu ialah laksana bintang kelarat jang tampak dilangit ekonomi dan kemudian setelah mati jang mena’djubkan dan tidak djarang setelah mati jang penuh romantik, lenjap dari muka bumi ini dengan tidak meninggalkan suatu bekaspun.
Tapi ada djuga diantara mereka itu, jang mendjadi pembentuk keluarga – keluarga jang karena wudjud kekuasaannja, dapat disebut ‘dynasti’ jang daerah kekuasaannja tersebar di seluruh dunia ekonomi.
Dynasti – dynasti kapitalis itu, lambang dan inti dari susunan jang berkuasa itu, berkedudukan dan berpusat di Inggris, Amerika Utara, Perantjis dan Djerman. Dan dari negara itu berpantjarlah keaktifannja ketiap djurusan.
“Faham Kapitalis jang sebenarnja” – demikian kata Ferdinand Fried dalam bukunja jang bernama “Das Ende des Kapitalsmus” ditulis dalam tahun 1932, djadi sesudah Perang Dunia I, jang dengan tjerdasnja merangkai susunan dunia, pada hakekatnja tidak lain dari pada puntjak kesanggupan dari peradaban Barat jang berinti disekitar panggul dari Samudra Atlantik disebelah Utara ………
Perebutan, pembukaan dan penjebaran peradaban buat dunia dari segitiga “London – Paris – New York” jang semata – mata kapitalis itu, ialah salah satu triumphus (kemenangan) jang terbesar dari pikiran Barat, sedang perang (Jang dimaksudkan ialah Perang Dunia I R.L.) terhadap Djerman jang bertabiat lain sekali dan jang pula menderita perpetjahan dalam negeri, adalah suatu manifestasio jang maha besar dan jang terachir dari djiwa Barat, jang setelah itu letih dan lelah turun dari tachtanja dan kemudian karena seluruh pinggirnja bertjaruk – tjaruk lambat laun menemui adjalnja.
Hal jang tersebut diatas ini dikatakan oleh Fried dalam tahun 1932, djadi sebelum Perang Dunia II.
Kedjadian – kedjadian sesudah itu membantah pendapat, bahwa Perang Dunia I ialah “suatu manifestasio jang maha besar dan jang terachir dari faham kapitalis dunia jang setelah itu turun dari akan menemui adjalnja”.
Djuga pikiran bahwa Djerman sebelum Perang Duni I bertabiat lain sekali dari bagian – bagian Eropah Barat lainnja, tak dapat disetudjui. Djerman sebelum 1914 dalam segala hal sama tabiatnja dengan negara – negara jang oleh Fried disebut “negara – negara kapitalis”. Sebagai negara kapitalis pada saat itu Djerman masih “negara jang muda”. Semua tanda – tanda dan sifat – sifat djuga sjarat – sjarat untuk tumbuh sempurna pada ketika itu telah ada pada Djerman. Dalam politik international ia telah ikut serta dengan “chorus” (njanjian bersama) dari Negara – negara jang besar. Hal itu menggaduhkan dan membimbangkan negara – negara kapitalis jang agak “tua” seperti Perantjis dan Inggris.
Perkembangan industri dari Djerman mentjapai tingkat jang tinggi dan pada permulaan abad ini, hal tersebut mendorongnja untuk turut serta dalam perdagangan dan perkapalan dunia, dengan langsung menjaingi Inggris dan Perantjis.
Terutama dalam tahun – tahun permulaan abad ini atjapkali timbul insiden – insiden (kedjadian – kedjadian) antara Djerman dipihak jang satu dan Inggris dan Perantjis dipihak jang lainnja.
Insiden – insiden itu dikatakan disebabkan oleh sikap mendjadjah jang bersifat imperialis feodal dari Kaisar – Radja Wilhelm II jang pada waktu itu masih muda.
Tapi sebenarnja ia hanja exponen dari djiwa dari bangsa Djerman muda, bangsa Djerman Serikat dari Bismarck..
Faktor – faktor jang mendorong terutama dari politik luar negeri Djerman sama dengan faktor – faktor dari Inggris dan Perantjis, ialah potensi modal dan industri dari bangsa jang mentjari “Lebensraum” diluar batas negara sendiri. Modal Djerman pada saat itu djuga telah berhasrat hendak mendjadi kapital dunia.
Djadi Djerman pada ketika itu telah mendjadi kapitalis – imperialis. Hanja ia datang terlambat digelanggang, tempat perebutan hegemoni dunia. Waktu ia tiba disana, maka negara – negara kapitalis jang agak “tua” itu telah mempunjai djika kita mempergunakan istilah jang atjapkali salah dipakainja, ialah – hak – hak jang timbul dari pada sedjarah = historische rechten =
Sedang negara – negara kapitalis Eropah Barat (termasuk djuga Djerman) memperkembang susunan kapitalis itu, tumbuhlah satu pusat jang lain, “jang mewaris barang – barang jang berharga itu dari Barat” ja’ni Djepang. Ia mewaris bentuk perusahaan kapitalis dan organisasi – organisasinja; menjerapnja memberinja modulus (tuangan) dan djika perlu mengadakan perubahan dasar, disesuaikan kepada psychologi masjarakat Djepang. Di negeri Djepang terdjadi kelas, golongan kapitalis jang besar dan dipuntjaknja berdiri Zaibatsu, concern – concern jang besar dari keluarga Mitsui, Mitsubishi, Sumitomo dan Jasuda. Sebenarnja agak sukar untuk mengatakan bahwa tehnik Zaibatsu itu ialah versio atau “salinan” dari badan – badan monopoli kapitalis Barat.
Mereka mempunjai watak sendiri sesuai dengan konstruksi masjarakat Djepang dalam hubungannja dengan buruh “halus” (buruh intelektual) dan buruh “kasar” mereka jang sedang pada menempati djabatan – djabatan atas mereka masih berpegang pada tradisio, adat – istiadat keluarga Djepang. Akan tetapi bentuk luar mereka ialah semata – mata copy (salinan) dari bentuk Barat dari “holding companies”, trust, kartel dan badan – badan bank sendiri. Mereka mengadakan infiltrasi (penjebukan) pada pemerintah dan badan – badan pemerintah dan bekerdja sama dengan para opsir tinggi dari angkatan darat, udara dan laut, serta menjalankan politik luar negeri sendiri. Dalam pikiran maka mereka memadukan bentuk organisasi dan djalan pikiran realis dan rationalis dari Barat itu dengan faham mutlak feodal dari Timur.
Faham kapitalis Asia inipun sekali akan memainkan rolnja, rol jang bebas dan jang berpendirian sendiri, dengan sasaran kapitalis – imperialis sendiri.
Akan tetapi pada permulaan abad ini faham kapitalis Asia itu merasa belum tjukup kuat untuk memikul tanggung djawabnja sendiri. Ia pada ketika itu setidak – tidaknja masih seolah – olah tunduk pada kapital Barat – Amerika. Dalam tahun 1914 ia masih segaris dengan faham kapitalis Barat. Dan faham kapitalis Barat itu sebagai telah diterangkan berpusat disekitar Samudra Atlantik. Samudra itu pada permulaan abad ke XX ialah lautan dunia, jang bersulam benang – benang dari usaha politik dan keuangan, jang menentukan djalan hidup diseluruh dunia.
II. Aliran Bawah
Tiap – tiap sesuatu dalam dirinja mengandung hama – hama jang akan memusnahkannja. Ilmu dogmata akan menimbulkan tahanan kritik, djika batas tertentu dari paksaan kepertjajaan tertjapai; faham rationalis akan berachir dengan pikiran – pikiran jang djuga didjeludjur setjara rationalis akan tetapi jang logikanja berlawanan. Logika sendiripun djika didjalankan dengan keras sekali akan menimbulkan tjara berpikir jang berlawanan.
Djuga dalam masjarakat kapitalis terdjadi aliran berlawanan jang bermula sebagai aliran bawah dan baru kemudian mendjelang kepermukaan. Faham Marxis sebagai pengupasan soal masjarakat menurut ilmu pengetahuan mendjelma bentuk politik serupa faham komunis, faham sosialis dan varietas – varietas, bentuk – bentuk ubah lainnja dari faham – faham tersebut.
Kemerdekaan dari faham liberal memberi kemerdekaan untuk berorganisasi sosial dan politik bagi golongan proletar, golongan jang tak mampu dan kemudian untuk mengadakan pergerakan buruh menurut tjara berorganisasi jang berdasarkan ilmu pengetahuan. Sembojan “kemerdekaan”, persamaan dan persaudaraan ” dari faham liberal achirnja ternjata dalam masjarakat liberal – kapitalis tak sanggup membukakan pintu ke sorga dunia untuk kemanusiaan.
Kemerdekaan berarti atjapkali “kemerdekaan untuk memerah”, persamaan berarti seringkali ketidak-adilan terhadap dua kebesaran jang berbeda, djadi tak seharga, dan persamaan itu tak pernah berlaku dalam masjarakat kolonial, masjarakat djadjahan. Tentang persaudaraan sebaiknja kita diamkan sadja. Perkataan itu berbunji laksana behana dari sjaitan tertawa terbahak – bahak diangkasa medan peperangan dari Eropah, Asia dan Amerika.
Akan tetapi aliran bawah ini pada pertukaran abad tersebut belum lagi tjukup kukuh berdiri dalam masjarakat untuk pada saat itu betul – betul dan actualis dapat mempengaruhi kedjadian – kedjadian dalam mekanis dunia. Mereka tetap tinggal sebagai aliran bawah walaupun gaja dan potensinja selalu bertambah dan walaupun tiap kekalahan dalam pergelutan selalu berarti satu pengalaman lebih. Pengalaman – pengalaman itu ditjatat dan menghasilkan ramuan – ramuan untuk teori dari ilmu methodik jang revolusioner dan jang sosial psychologis, berdasarkan ilmu pengetahuan dan jang kemudian dipraktekkan dalam berbagai – bagai negara dari dunia untuk membasmi faham kapitalis.
Akan tetapi aliran bawah itu, bagaimanapun pentingnja karena sifatnja jang universus atau umum itu, untuk perkembangan pikiran kita dengan mengingat tahun permulaan abad ini lagi mempunjai arti jang actuel. Jang mempunjai arti actuel pada tahun – tahun itu ialah permusuhan antara Inggris, negara kapitalis jang tua dan Djerman, negara kapitalis jang muda dan baru terbit.
Karena rakjat Djerman hidup radjin dan hemat maka tertjiptalah didalam tapal batasnja Djerman kemakmuran jang membawa kekajaan dan adanja kapital. Modal untuk sementara dimasukkan kedalam industri – industri jang bekerdja untuk pasar – pasar dipedalaman. Akan tetapi pasar – pasar itu dengan segera dibandjiri oleh hasil – hasil industri itu, sedang teknik Djerman makin lama makin sempurna dan makin banjak menghasilkan barang – barang jang baru. Kapital Djerman tumbuh dan beranak – anak hingga bertimbun – timbun. Potensinja menjebabkan ia mendjadi expansif. Semangat Djerman mentjari diluar negeri perusahaan – perusahaan untuk memasukkan modalnja dan mentjari pasar – pasar untuk industri – industrinja jang senantiasa bertambah sempurna itu.
Suatu pengaruh jang reciprocus jang bertimbal balik terdapat antara golongan usahawan industri jang merasa dirinja makin lama makin kuat dan jang dibantu oleh ilmu pengetahuan Djerman, ilmu pengetahuan jang seolah – olah baginja tak ada sesuatu jang tak mungkin dalam hal menguasai materi. Semua itu berakibat bahwa dengan segera berdirilah suatu Djerman diatas panggung dunia jang menuntut bagiannja dari dunia, sebagai djuga 30 tahun kemudian Djepang di Orient akan memperlihatkannja kepada kita.
Akan tetapi Djerman jang muda itu pada permulaan tahun – tahun dari abad ini, dimana – mana selalu berselisihan, disini dengan Albion, negara kapitalis jang tua, disana dengan Perantjis, djuga suatu negara kapitalis jang tua, akan tetapi terutama dengan Inggris, negara jang dalam masa 300 tahun mendjadjah telah mentjiptakan suatu daerah kekuasaan didunia ini, daerah dimana matahari tak kundjung terbenam.
Pertentangan antara Inggris, negara kapitalis tua, dan Djerman negara kapitalis muda makin lama makin meruntjing. Politik international Eropah Barat dalam decennia pertama dari abad ke XX berputar di sekitar pertentangan itu sebagai inti. Golongan – golongan utama jang terdjadi mempunjai sebagai pusat atau Inggris atau Djerman. Entente Cordiale (perhubungan erat) antara Inggris, Perantjis dan Rusia menemui sebagai “pendant”nja atau satirannja, Dreibund (tiga sekawan) Djerman, Austria – Hongaria dan Italia.
Antara consentrasio – consentrasio ini terhujung – hujung politik luar negeri dari negara – negara Skandinavia. Iberia dan Balkan. Negara – negara disekitar lautan Utara (ja’ni Nederland, Belgi, Denmark) tidak mendjalankan politik luar negeri, melainkan mentjoba tinggal diluar kombinasi manapun djuga. Hal ini ternjata dalam Perang I untuk Belgia dan dalam Perang II untuk ketiga negara itu, suatu politik naief dan kurang pengertian.
Tak ada suatu negara didunia ini jang dapat menganggap dirinja sendiri maha mulia terhadap politik internasional, suatu politik jang pada achirnja dapat dipandang sebagai pernjataan dari kemauan dunia. Pengabaian kemauan dunia karena keangkuhan jang dungu, achirnja ajan membawa permusnahan diri sendiri. Pengalaman jang didapat sewaktu kedua Perang Dunia itu menundjukkan bahwa kepentingan bangsa – bangsa ketjil akan dikorbankan, djika petjah perang antara kekuasaan – kekuasaan besar.
Satu – satunja negara di Eropah Barat jang dapat mengalami kedua Perang Dunia dengan tak mendapat gangguan ialah negara Swiss, “negara jang tak berpantai”, negara jang dikelilingi oleh linea pertahanan dari gunung barisan jang tinggi – tinggi. Akan tetapi hal ini menjimpang dari pembitjaraan. Pandanglah sebagai suatu “penglihatan kesamping” sadja.
Keadaan international di Eropah Barat pada decennium pertama makin lama makin genting. Perang Balkan (1912 – 1914) waktu Turki dirungkap oleh djadjahann – djadjahannja jang dahulu, tidak djuga mengakibatkan perang jang diduga dan ditakutkan ja’ni Perang Umum Eropah.
Mega mendung ini masih berarak – arak meliwati Eropah Barat dengan tidak menimbulkan badai dan taufan. Rupanja tak satupun dari kekuasaan – kekuasaan besar, jang ada pada ketika itu berani bertanggung djawab atas sesuatu catalisyms (malapetaka) terhadap consciensis – dunia.
Akan tetapi dapat dikatakan bahwa pada saat itu jaitu pada achir decennium pertama kekuasaan – kekuasaan besar dari dunia itu telah memasuki gelanggang berdiri berhadap – hadapan siap sedia untuk mengadu kekuatan dan ketangkasan mereka.
III. Cataclysme, Perang Dunia I (1914 – 1918)
Atjapkali muntjul dalam sedjarah dunia orang – orang jang samasekali tak mempunjai arti jang oleh nasib dipilih dan ditundjuk untuk melakukan suatu perbuatan dengan akibat – akibatnja jang mempunjai arti untuk sedjarah dunia.
Dapat djuga dikatakan bahwa Pengendali alam bertjampur tangan dengan peristiwa dunia dengan memilih orang – orang untuk melakukan perbuatan jang tertentu atau mengalaminja sendiri.
Marilah kita melajangkan pikiran kepada kedjadian – kedjadian pada pertengahan bulan Djuli 1914 didusun Serajewo dipropinsi Bosnia jang dahulu , jang pada waktu itu masuk keradjaan Austria – Hongaria. Serajewo pada saat itu dan sekarang djuga ialah suatu dusun jang tak mempunjai arti sedikitpun. Akan tetapi djuga dusun – dusunnja baru. Hal tersebut terdjadi djuga di Serajewo pada tanggal 14 Djuli 1914. Sebagai telah ditakdirkan maka pada saat itu “Erzhertog” (Pangeran) Franz Ferdinand von Habsburg jang pada ketika itu mendjadi ahli waris makota dan isterinja kebetulan berada disana, mungkin sedang bertamasja dimusim panas.
Kebetulan djuga pada ketika itu didusun tersebut terdapat seorang mahasiswa jang berliburan disana, ja’ni mahasiswa Princep, anggauta organisasi Mahasiswa Servo-Krovatia, bagian activis. Kedua kedjadian itu menghasilkan dua tembakan dengan revolver hingga Erzhertog Franz Ferdinand dan “Erzhertogin”nja kedatangan maut dan Princep meneruskan liburannja dalam pendjara.
Jang achir ini menurut riwajat – riwajat ialah seorang mahasiswa jang kehilangan kesetimbangan maknawi, pada saat itu dengan sendiri akan akibat – akibat raksasa dari tindakannja itu. Kedjadian – kedjadian jang pada hakekatnja disebabkan oleh Princep itu berdjalan dengan mengadakan perobahan seluruhnja dari ketatanegaraan dan geografi Eropah Timur dan – Selatan dan negara – negara disekitar lautan Baltik, sedang neratja perekonomian dan politik dari kekuasaan – kekuasaan dunia sama sekali dirobah. Tentang hal ini akan kita bitjarakan kemudian.
Dalam bulan Djuli itu djuga Baron von Giesl Gieslingen pula seorang jang tak berarti, jang oleh nasib rupanja dipilih untuk melakukan suatu perbuatan jang bersedjarah dunia, menjampaikan sebagai duta dari Austria di Belgrado ultimatum Austria pada Servia. Baron itu suatu type dari “Junker” Djerman menampik dengan angkuhnja djawaban Servia karena negara itu tak ingin mengabulkan tuntutan – tuntutan dari “Keradjaan-rangkap” itu dengan tak ada perbatasan dalam semua fasal – fasal. Persurat-Kabaran Djerman dan Austria pada waktu itu memudji sikap baron jang gagah perkara dan “ganz militaerisch” (prawira) itu.
Akan tetapi karena kita sekarang dapat melihat kembali ke zaman jang lampau dan mengetahui apa jang kemudian terdjadi sesudah peristiwa itu, maka timbullah pertanjaan dalam hati kita apakah tidak ada baiknja djika seorang jang tak begitu “gagah perkasa” pada saat itu menjampaikan ultimatum itu.
Karena sikap jang gagah perkasa dari Baron Vladimir von Giesl Gieslingen itu maka petjahlah perang antara Austria-Hongaria dan Servia dan belum sebulan sesudah itu maka Inggris, Perantjis, Rusia dan negara – negara Balkan (ketjuali Bulgaria) turut serta dengan membantu Servia sedang Djerman memilih pihak Austria-Hongaria. Italia jang mula – mula berada dalam keragu – raguan kemudian melepaskan diri dari ikatan dari Dreibund dan berdjoang disamping Inggris, Perantjis dan Rusia menurut keterangan menteri luar negeri Italia dari zaman itu ja’ni Sonino; karena pertimbangan jang berdasarkan “sacro egoismo”, kepentingan diri sendiri jang kudus.
Golongan – golongan kapitalis jang tua dari Inggris dan Perantjis, melihat kesempatan jang baik itu kesempatan untuk memusnahkan kapital Djerman jang muda itu dengan berselimut sembojan – sembojan kebangsaan, menggabungkan diri pada gerombolan – gerombolan ultra – nationalis dan kemiliteran dari negara mereka masing – masing.
Bagi kedua golongan kekuasaan itu Entente dan Central (sedjak pengchianatan Italia itu maka tak lagi dipergunakan kata Dreinbund) maka petaruhannja ialah expansi dari usaha keuangan dan industri. Djadi perang itu ialah perang antara kapital Inggris – Perantjis jang tua dan kapital Djerman jang muda.
Inilah aliran utama. Ia mendapat makanan dari tjabang – tjabangnja, aliran simpang, suatu antithesa raciologis.
Bagi Djerman dan Austria peristiwa tersebut memberi kesempatan untuk menghantjurkan hidup kembali dari bangsa – bangsa Slavia, jang telah memulai “renaissance” (pembaruan) dinegara – negara Balkan dibawah lindungan Rusia. Tindakan Princep, orang Servo Kravatia itu di Sarajevo ialah salah satu puntjak dari antithese antara suku Germania dan Slavia.
Aliran samping jang lainnja, jang djuga bersifat raciologis ialah antithesis antara Anglo – Saxon dan Teuton (Germania) dan aliran samping raciologis jang ketiga ialah pertentangan antara bangsa – bangsa Latin (Italia dan Perantjis) dan Germania.
Semua pertentangan – pertentangan racioligis ini menghasilkan “slogan – slogan” bagi Perang Dunia I untuk menghasut bangsa – bangsa dunia satu terhadap jang lainnja dan untuk membawa mereka kedalam tingkat dari delirium – membentji ja’ni kekatjauan pikiran jang bersifat membentji. Dengan tak adanja keadaan – keadaan itu maka “levée en masse” atau mobilisasi umum dari bangsa – bangsa tak mungkin akan tertjapai.
Desakan tinggi jang imperialis – kapitalis itu, jang djuga diperkuat oleh aliran – aliran samping jang berasal dari sumber – sumber jang nationalis – chauvinis, oleh tembakan di Sarajevo itu mendapat kesempatan untuk meletus dalam Perang Dunia I. Perang jang berachir berbeda sekali dari pada apa jang diharapkan oleh pembuat – pembuat perang dikedua belah tepi dari garis demarkasi dalam tahun 1914.
Ketiga keradjaan Djerman, Austria – Hongaria dan Rusia mengachiri riwajat mereka jang kurang lebih megah itu dalam Perang Dunia I. Ketika bangsa – bangsa Eropah dalam tahun 1919 mulai bangun dari bius perang itu dan mendjadi sadar insjaflah mereka bahwa perbandingan politik telah berobah seluruhnja.
Pada constitutio Weimar (1919) Djerman mendjadi republik sosialis dengan Kaisar – Radja Wilhelm LL diganti oleh Ebert bekas tukang pelana sebagai kepala negara. Austria – Hongaria petjah dalam tiga buah republik, Austria, Tajecho – Slovakia dan Hongaria setelah kedua propinsi Bosnia dan Hezegowina diserahkan pada Servia, jang diperbesar mendjadi Yugoslavia sedang keradjaan Montenegro djuga dianaksirnja.
Satu keradjaan baru ditjiptakan, Albania.
Rusia dari Tzar ditjipta kembali kedalam bentuk Kesatuan Republik – Republik Sovjet setelah disobek dari padanja propinsi – propinsi Finlandia Estonia, Latvia dan Lithuania jang memproklamirkan dirinja sendiri hingga republik – republik jang merdeka. Semua negara – negara jang baru itu terdjadi karena kekuatan rumus dari presiden Amerika Serikat, Woodrow Wilson almarhum ja’ni “hak menentukan nasib sendiri” untuk bangsa – bangsa ketjil. Hal ini pada waktu itu dipandang sebagai satu – satunja indjil, sebagai satu – satunja Kebenaran untuk mendapat perdamaian jang abadi dihari – hari jang akan datang.
Sekarang, 30 tahun sesudah itu setelah dunia mendjadi lebih kaja dengan pengalaman – pengalaman, sekarang kita hanja mungkin tersenjum sadja. Senjuman jang mendjatuhkan iba kasihan terhadap pandangan itu.
Perobahan – perobahan jang berlangsung selama dan sedjenak sesudah Perang Dunia I dan jang disebabkan oleh perang itu tak sadja terbatas hingga Eropah. Turkipun mendjadi republik akan tetapi menjusut hingga wilajahnja (propinsi) jang dahulu, Anatolia, sedang dari propinsi – propinsinja di bagian Selatan timbul negara – negara Arab jang asli, di semenandjung Arab dan seterusnja Irak, Syria, Libanon – Trans – Jordania dan Mesir.
Akan tetapi untuk politik dunia jang mempunjai arti jang mendalam ialah perobahan – perobahan dalam perbandingan kapital internasional, jang timbul dari Perang Dunia I terutama kemunduran jang menjusul perang itu, kemunduran dari negara – negara industri Eropah Barat jang telah bersedjarah itu, kemunduran jang tak disangkakan oleh radja – radja wang dari 1914. Waktu kapital tua dari Inggris dan Perantjis dan kapital muda Djerman bergelut – gelutan jang satu terhadap jang lainnja untuk mendapat hegemonia dunia, mereka tak menjangka bahwa mereka sedang memotong akar – akar dari pohon – penghidupan mereka sendiri.
Perobahan – perobahan inilah dalam perbandingan kapital, jang disebabkan oleh Perang Dunia I, jang memindahkan lingkungan Pacific ketingkat pertama dari kedjadian – kedjadian dunia. Sedang lingkungan Atlantik, tempat faham kepitalis berketjambah, tumbuh dan achirnja hidup dengan suburnja, lingkungan itu didesak ketingkat kedua.
Pada lingkungan Pacifik tergabung renaissance (pembaharuan) Asia, pembaharuan Asia Purba, jang, djika tanda – tanda tak salah memperlihatkannja, sekarang dipilih untuk memainkan rolnja dihari – hari jang akan datang.
Apakah sebenarnja lingkungan Pacifik itu ?
LINGKUNGAN PACIFIK
IV. Daerah Geografik dari Pacifik
Dilihat semata – mata dari sudut geografik maka seharusnja dikatakan bahwa Pacifik itu ialah Lautan Teduh (Samudra Pacifik) dengan pulau – pulaunja dan jang dibatasi oleh pantai Barat dari Amerika Utara dan Selatan dan pantai Timur Asia jang bertemu satu dengan jang lainnja di Selat Bering. Selat jang didaerah kutub Utara amat sempit hingga hampir – hampir kedua benua itu (Asia dan Amerika) disitu bersintuk – sintukan. Kedua garis pantai itu dapat merupakan sisi – sisi tegak dari segitiga – bola, sedang garis – dasarnja dibentuk oleh rangkaian pulau – pulau Indonesia, Australia dan New-Zealand.
Djika kita menilik soal ini dari sudut politik geografik maka dalam daerah Pacifik termasuk semua negara dari Amerika Utara, Tengah dan Selatan. Rusia (atau Siberia), Korea, Djepang, Tiongkok, Muang Thai (Siam), Indo-China, Filipina, Burma, Malaya, Indonesia, Australia, New Zealand dan pulau – pulau di Lautan Teduh.
Untuk kepentingan ichtisar maka dibawah ini dilukiskan beberapa negara dengan banjaknja penduduk :
1. Pacifik Barat :
DAERAH
PENDUDUK
Da erah Rusia di Asia (Siberia)
11.752.000
Djepang
73.114.059
Korea
24.326.327
Manchuria
43.233.954
Tiongkok
461.000.000
Indo-China
23.750.000
MungThai (Siam)
15.717.000
Burma
16.824.000
Malaya
5.469.087
Djumlah
675.186.427
2. Pacifik Timur :
DAERAH
PENDUDUK
Canada
12.307.000
U.S.A.
140.387.000
Panama
673.0002
Mexico
632.000
Colombia
10.702.000
Equador
3.241.311
Peru
7.719.276
Chili
5.237.000
Djumlah
201.898.587
3. Garis Dasar Pacifik
DAERAH
PENDUDUK
Indonesia
72.000.000
Australia
7.446.000
New-Zaeland
1.746.319
Djumlah
81.192.319
4. Pulau – Pulau dalam segitiga Pacifik
DAERAH
PENDUDUK
Philipina
18.400.000
Micronesia
144.000
Melanesia
966.000
Polynesia (termasuk Hawai)
547.000
Djumlah
20.057.000
5. Titik berat segitiga Pacifik terletak di :
Hawai
423.000
Djadi kita dengan pasti dapat menentukan bahwa kira – kira 1000 djuta manusia atau lebih dari 1/3 dari djumlah penduduk dunia ini langsung turut berkepentingan dalam perkembangan politik dan eknomi dari Pacifik.
Dalam hal itulah terletak arti dari Pacifik. Sesuatu daerah jang lebar dan luas tetapi kosong tak akan mempunjai arti untuk sedjarah dunia. Ia baru akan mendapat arti untuk sedjarah karena usaha – usaha dari penduduk jang mendiami daerah itu. Individum dan masjarakat mempunjai kebutuhan mereka masing – masing dalam penghidupan.
Djika masih mengenai kebutuhan madi sadja maka hal ini hanja dapat dipenuhi dengan mempergunakan tenaga manusia (baik djasmani maupun rochani atau tjendekia) terhadap barang sesuatu jang terdapat dalam alam. Tjawat dan tjamping dari suku – suku bangsa kurang beradab dari Sentral – Afrika, suku – suku bangsa jang peradabannja tak dapat dipandang tinggi, dibuat menurut tjara tersebut. Akan tetapi djuga bom – bom jang hyper – modern dihasilkan menurut procedure diatas tadi.
Pada wudjudnja proses – proses dalam masjarakat manusia bersahadja sekali, asal djiwa memberanikan diri membuang perhiasan – perhiasan jang biasanja tak mempunjai arti sedikitpun.
Berbagai – bagai bangsa jang atjapkali mempunjai tudjuan jang bertentangan ikut serta dalam proses peleburan di Pasifik itu. Dibagian Barat – Laut dari daerah Pacifik bangsa – bangsa Mongolia berdesak – desakan dipantai – pantai dari Lautan Teduh sedang dibagian Barat – daja bangsa – bangsa Melaju dan Anglo – Saxon (Australia dan New Zealand).
Dibagian – bagian Tenggara berdiam dalam republik – republik Amerika – Selatan bangsa – bangsa Latin jang berasal dari Semenandjung Iberia, dibagian Timur – laut dari daerah Pacifik terdapat conglomerate, tjampuran dari turunan – turunan dari semua bangsa – bangsa Eropah dan dari bangsa – bangsa di pantai Barat dari Afrika.
Belum lagi disebut turunan – turunan dari penduduk asli dari Amerika ja’ni bangsa Indian, jang terutama di negara – negara Amerika Selatan mulai memperlihatkan tanda – tanda renaissance jang bersifat raciologis. Tersebar diseluruh kepulauan Pacifik didjumpai bangsa – bangsa Polynesia, Melanesia dan Micronesia, turunan – turunan dari suku – suku bangsa jang barangkali meninggalkan benua asalnja, Asia Tenggara, untuk pergi merantau.
Daerah Pacifik ialah suatu gedung artja untuk anthropolgi dan ethnologi. Akan tetapi jang mempunjai arti jang lebih aktualis dari pada perbedaan anthropologi dan ethnologi dari penduduk Pacifik ialah peristiwa, bahwa sebagian besar dari bangsa – bangsa ini sekarang sadar akan hak mereka, hak jang berbanding seharga terhadap kemungkinan – kemungkinan kemakmuran, jang dapat diberikan oleh Pacifik.
Sebab, oleh karena perihal tersebut diatas terdjadi antagonisma dan pertjideraan – pertjideraan jang akan berachir dengan petjahnja perang. Daerah Pacifik mengandung kekajaan jang tak terhingga, kekajaan diatas dan bawah tanah, dilaut dan disungai – sungai.
Djalan – djalan laut jang bersedjarah jang menudju kedaerah Pacifik terletak dibagian Barat-daja dikepulauan Indonesia dan dibagian Tenggara, antara Tierra del Fuego (=Pulau berapi) dan Cape Horn (Tandjung Tanduk), bagian jang paling Selatan dari Amerika Selatan. Meliwati djalan – djalan laut itu tibalah dizaman dahulu pelajar – pelajar jang gagah perkasa di Lautan Teduh dan dengan tjara demikian mereka menjebabkan pembukaan daerah itu untuk pergaulan dunia. Dalam abad ke 19 dibuat 2 buah djalan kereta api Trans Siberia jang menghubungkan Eropah via Rusia dengan Pacifik dan dalan tahun 1914 Panama canal (= terusan Panama) dibuka, jang menghubungkan Lautan Atlantik dengan Lautan Teduh.
Perhubungan – perhubungan dengan bagian – bagian lainnja dari dunia makin lama makin bertambah dan dalam waktu jang terachir perhubungan – perhubungan itu disempurnakan dengan perkembangan lalu lintas udara.
Semua itu terdjadi karena pengaruh timbal balik dari perhatian jang bertambah, perhatian jang ditjurahkan oleh bagian – bagian lain dari dunia terhadap Pacifik dan karena bangsa – bangsa di Pacifik sendiri makin lama makin auto-actief.
Mula – mula sebagai object passif ditarik kedalam lalu lintas dunia, daerah itu achirnja mendapat kedudukan sendiri karena potensi – potensinja jang bertambah itu. Ia tak lagi taruhan pada permainan, melainkan telah mendjadi sendiri salah seorang pemain.
Tumbuhnja akan kita uraikan menurut bagan dalam paragraf – paragraf, bagian – bagian, jang tertjantum dibawah ini.
V. Pacifik, daerah djadjahan
Dalam tiap buku tentang sedjarah dunia dapat dibatja bahwa pada permulaan abad 16 ja’ni dalam tahun 1513 seorang Spanjol jang gagah perwira, Vasco Nunes de Balboa, menjeberangi daerah Panama jang sempit itu. Berdiri disalah satu puntjak dari bukit – bukit maka laut jang tak terhingga itu, jang terhampar dimuka kakinja menimbulkan perasaan dihati sanubarinja, perasaan jang mempengaruhinja, jang menggetarkan djiwanja hingga timbullah hasratnja untuk berdjoang sebagai seorang djohan pahlawan. Disangkanja, dan dengan tepatnja, bahwa lautan itu memisahnja dari kepulauan Hindia jang diimpi – impikannja, untuk mana ia menjeberangi Samudra Atlantik. Ia memutuskan, menurut adat kebiasaan Eropah diwaktu itu, memiliki daerah jang luas dan tak terbatas itu bagi milik – miliknja.
Apakah penduduk daerah itu setudju atau tidak, rupanja bagi si “avonturier”, si pahlawan Dewi Fortuna itu, hal tersebut tidak merupakan soal jang harus dipertimbangkan.
Kedaulatan rakjat pada saat itu njata belum lagi didapat atau ditemui. Balboa itu menjatakan atas nama Ratu dari Castillia dan Aragon memiliki dengan sebenar – benarnja dan sesungguh – sungguhnja lautan tersebut dan negara – negara dan pantai – pantai, bandar – bandar pelabuhan dan pulau – pulau dibagian Selatan dan daerah – daerah jang ditaklukkan, keradjaan – keradjaan dan propinsi – propinsi jang termasuk padanja, dengan tjara apapun atau dengan hak manapun atau dengan gelar apapun didapat, jang sedang berada, atau jang akan berada, lama atau baru dizaman jang lampau, sekarang atau jang akan datang dengan tak ada satu pengetjualianpun.
Selandjutnja Balboa menjatakan Ratu dari Castillia dan Aragon sebagai satu – satunja Radja jang berkuasa di negara – negara, pulau – pulau dan benua – benua Hindia, dibagian Utara dan dibagian Selatan dengan laut – lautnja Arktik dan Anarktik, dikedua belah sisi dari chattul’listiwa, didalam atau diluar daerah panas, jang terletak antara garis balik Utara (Cancer) dan garis balik Selatan (Capricornus).
Dengan tidak memperhatikan kesombongan dari si Spanjol jang hidup dalam abad XVI itu dapat diterangkan bahwa dengan tindakan Balboa itu Pacifik ditjap sebagai : “djadjahan in optima forma” ja’ni daerah djadjahan dalam bentuk sebaik – baiknja. Karena selama lebih dari empat abad sesudah proklamasi jang angkuh itu, proklamasi dari “memiliki atas nama Ratu dari Castillia dan Aragon” dunia dengan sungguh – sungguh menghormati proklamasi itu. Dengan peristiwa itu mulailah status kolonial dari daerah Pacifik.
Oleh karena itu dianggap penting mengingatkan tindakan Balboa itu. Selama empat abad Proklamasi Balboa itu mengutuki bangsa–bangsa di Pacifik. Baru dalam abad ke XX akan menjingsinglah fadjar, fadjar kemerdekaan, untuk bangsa – bangsa itu karena rumus “hak menentukan nasib sendiri bagi bangsa – bangsa jang ketjil” (1917) dari Woodrow Wilson, presiden dari Amerika Serikat dalam amanatnja kepada congres dan untuk kedua kalinja karena Atlantik Pact (1941) dari Roosevelt dan Churchill. Akan tetapi kita tak akan mendahului kedjadian – kedjadian.
Karena proklamasi Balboa itu maka Pacifik berabad – abad tak mempunjai suasana sendiri. Ia adalah suatu daerah djadjahan dan tak mempunjai penghidupan ketatanegaraan sendiri jang bersifat internasional. Soal – soal daerah ini berobah sedikit waktu Amerika Utara muntjul dalam pertengahan abad ke 20. Pada waktu itu maka soal – soal Pacifik ditentukan oleh perbandingan sesama dari negara – negara jang terletak dipantai Utara dari Samudra Atlantik. Samudra itu tetap mendjadi lautan dunia karena kapital dunia dan kekuasaan dunia jang bersangkutan dengan kapital tersebut tetap berpusat pada pantai – pantai lautan itu. Kekuasaan dunia dan kekuasaan kapital pada waktu itu ialah synonimus atau pengertian jang sama : pengertian jang identiek.
Perobahan letak dari kekuasaan di Samudra Atlantik memprojeksi sebagai perobahan “pemilik” dari benua Pacifik. Di Eropah selalu terdapat perselisihan tentang “pemilikan” daerah – daerah itu dan daerah – daerah itu selalu mengalami penggantian jang memilikinja. Hal ini bergantung apakah negara Eropah jang satu dapat mengalahkan negara jang lain dan kemudian jang pertama mendapat gilirannja dirampas dari “hak – milik”nja oleh negara jang ketiga.
Mengabaikan perobahan detail, perobahan ketjil – ketjil maka berhubungan dengan keadaan tersebut diatas tadi dalam hal jang mengenai Indonesia dapat dikatakan, bahwa pada permulaan abad jang lampau kekuasaan berpindah dari tangan Belanda ketangan Perantjis, kemudian ketangan Inggris dan achirnja kembali ketangan Belanda.
Philipina hingga 1898 ialah kepunjaan Spanjol dan pada tahun itu mendjadi djadjahan Amerika karena Perang Spanjol – Amerika, perang untuk memperebutkan Cuba. Cuba mendjadi negara jang merdeka akan tetapi Philipina hanja berganti “jang empunja” sadja karena kepulauan itu didjual oleh Spanjol kepada Amerika pada perdamaian di Paris untuk 20 djuta dollar.
Seluruh daerah Pacifik, termasuk djuga negara – negara jang pro forma merdeka dan berdaulat seperti Djepang, Tiongkok dan Siam dan kesultanan – kesultanan jang merdeka di Semenandjung Malaka, biasa dipandang sebagai daerah djadjahan sadja untuk kepentingan negara – negara di Lautan Atlantik, jang pada saat itu hanja tjukup mempunjai kekuasaan dan tenaga militer untuk mendjalankan kehendak mereka terhadap negara – negara jang lain.
Tak usah diterangkan dengan pandjang lebar, bahwa berhubungan dengan negara – negara jang pro forma merdeka itu, hal tersebut disembunjikan dengan tjermat sekali. Mereka tak mempergunakan kekuasaan ketatanegaraan dengan langsung, melaiknan tjara – tjara ekonomi – keuangan untuk mentjapai tudjuan – tudjuan djadjahan.
Pacifik mendjadi daerah pengusahaan untuk kepentingan Eropah Barat selama lebih dari 4 abad dan achirnja sebagai akibat dari keangkuhan jang fatalis atau tjelaka itu dari nachoda badjak laut Spanjol (mungkin djuga pedagang budak) Vasco Nunes de Balboa (editor: Vasco Núñez de Balboa), jang dalam tahun 1513 menjatakan seluruh daerah sebagai “milik” dari maliknja, Ratu dari Castillia dan Aragon. Dapat dikatakan suatu tragi-comedia, suatu permainan sedih bertjampur gembira selama 400 tahun perbudakan kolonial dan kenistaan, karena chajal dari keangkuhan jang dungu : “Der Dummheitsmacht”.
Akan tetapi tiap-tiap susunan kekuasaan mengandung unsur-unsur untuk menghantjurkan dan memusnahkan diri sendiri. Demikian djuga susunan djadjahan jang dikendalikan dengan sembojan – sembojan jang murni akan tetapi jang hanja maja belaka. Hal tersebut ialah proses jang gaib, proses dari pembetulan dari keadilan. Seolah-olah dengan proses itu Pengendali Alam bermaksud membetulkan kechilafan-kechilafan dengan mempergunakan tenaga manusia, akan tetapi diluar kesadaran penglaksana insani sendiri.
(*) ORIENTASI
(Pendjelasan : Uraian diatas ini dikutip daripada bab pertama “Pendahuluan”, dari sebuah buku jang berkepala “Indonesia dalam gelora internasional”, dari kalam Dr. Ratu Langie. Buku in dalam waktu singkat akan terbit).
Catatan Editor:
Ejaan dalam tulisan diatas adalah sesuai yang digunakan oleh Penulis.
Video berikut, yakni penyajian Prof. Naom Chomsky, Guru Besar Ilmu Philosophy dari MIT didepan pendengar di Massachusetts Institute of Technology, dapat dianggap sebagai lanjutan dari URAIAN SAM RATULANGIE (1949) diatas, kini 64 tahun kemudian.
Untuk membuka buku ini silakan KLIK gambar cover diatas.
Satu buku yang memperlihatkan Perjuangan KRIS dalam gambar. Buku ini diterbitkan oleh Para Ibu2 yang tergabung dalam Badan Kontak Wanita KRIS di Jakarta (1977)
Catatan oleh editor (29 Mei 2010)
Dalam waktu dekat akan dibuat video dari foto2 ini.
Sejak bulan Agustus 2008, pada kesempatan ada cuaca buruk dan angin topan maka atap dari Gedung Yayasan Perguruan KRIS di Jalan Sam Ratulangie 26-28 rubuh…..
Berkali2 saya membuat foto dan juga video2 kecil yang saya kirim ke Facebook dibuat 2 September 2008 dan ada juga yang saya upload ke Youtube karena kesedihan saya melihat patung Alm. Ayah saya “menghiasi” satu situs yang hanya memperlihatkan kebobrokan manajemen dari pihak penanggung jawab. Ada yang berjdul “Bukan sekedar sebongkah batu” dan ada lagi ” Jakarta Middleschool in Decay” (Silakan klik.)
Dari kakak perempuan saya yang berada di negeri Belanda saya mendapat respon yang sangat kuat yang saya muat di blog saya yang berjudul: “Jalan Sam Ratulangie 26-28, Jakarta Pusat” dimana saya tambahkan juga kenang2an saya dari masa lalu.
Ditahun 2009 saya memberanikan diri untuk mengajukan satu usulan kepada pihak yang berkompeten yakni Ketua Yayasan Perguruan KRIS. Saat itu saya mendapat jawaban bahwa sudah ada rencana pada mereka untuk membuat satu Taman Kanak2 disana. Jawaban ini menyebabkan saya bersikap: “Let me wait and see….”
Silahkan klik DIATAS FOTO dibawah ini untuk membaca USULAN dari Yayasan Indonesia di Pasifik kepada Ketua Yayasan Perguruan KRIS ditahun 2009.
Sam Ratulangie's Bust at Jl. Sam Ratulangie 26-28 on 6 April 2011
Bulan ke bulan berlalu…. tahun ke tahun berlalu dan sampai kinipun tak ada sesuatu yang terjadi….
Keprihatinan ini, seperti Anda dapat lihat (jikalau anda KLIK pada FOTO dibawah in) juga dirasakan oleh beberapa pemuka senior masyarakat SULUT baik di Jakarta maupun yang di Sulawesi Utara yang tergabung dalam SULUT BOSAMI NETWORK (SBN). Ketua dari SBN adalah Bapak Joseph Karamoy (dijuluki Pak Kuntua) yang memang (tadinya) lebih sering berada di rig somewhere in the South China Sea…..
Kondisi bagian kiri Jalan Sam Ratulangi sekarang (April 2011)
Ada maksud saya untuk meminta perhatian akan masalah ini kepada pihak yang lebih tinggi dan lebih berkompeten, seperti misalnya pihak pemilik dari Kapling Jalan Sam Ratulangie no 28 yakni pihak DKI Jakarta karena secara historis kapling ini diserahkan-pinjamkan kepada Sekolah KRIS oleh Bapak Ali Sadikin (Walikota DKI Jakarta) ditahun 70-an karena sekolah itu waktu itu sedang mem”bludak” murid2nya. (Mantan Presiden Gus Dur, Prof. Dorodjatun Kuntjorojakti dan banyak sekali para cendekiawan lain pernah menimba ilmu ditempat itu). Semoga pokok ide dari usulan ini dapat memperoleh perhatian dan ditanggapi oleh mereka yang bertanggung jawab dan yang berwenang.
Isi materi blog ini adalah ungkapan dari suatu keinginan untuk lebih mengenal atau lebih memperdalam pengetahuan saya mengenai ayah saya, yang menurut kata orang adalah orang yang besar; berjiwa besar,namun bagi saya, beliau hanya saya kenal sebagai seorang ayah. Seorang ayah yang terlalu cepat pergi meninggalkan keluarganya.
Kini berkat pekembangan teknologi maka melalui ruang maya (Cyberspace) saya ingin membagi pengalaman saya dalam proses penjelajahan mengenai “apa sebenarnya cita-cita ayah saya?” mengenai “apa sebenarnya perjuangan ayah saya?” dengan mempelajari dokumen-dokumen, foto-foto, interview-interview dlsb.nya kepada saudara-saudara, teman-teman dan semua yang menaruh minat akan hal ini.
INTRODUCTION
This Blog is an expression of a desire to deepen my knowledge about my father, who, according to what people say, was a great man. For me, however, I only knew him as a father. A father who had to leave his family at a relatively young age.
My search to an answer to questions such as : “what were actually my fathers ideals?” and “what was actually the real struggle of my father?” will comprise digging into documents, hidden in old files, photographies, interviews etc. Now, thanks to modern technology, I want to share my experience in this search with our children, grandchildren, friends and all those who might be interested hereto.
( Catatan Editor: KISAH REMAJA disalin dari buku berjudul : “Pahlawan Kemerdekaan Nasional Mahaputera DR G.S.S.J. Ratu Langie” oleh W.S.T. Pondaag (1966), halaman 189 – 211, masih memakai Ejaan Lama.)
PROLOG
Kisah ini adalah tjeritera dari DR. Ratu Langie sendiri jang dimuat dalam madjalahnja “Nationale Commentaren” sebagai fragmen roman sosial dengan nama samaran Ir. Rindengan.
Di dalam tjeritera ini ia merenungkan masa remadjanja di Minahasa ketika ia sudah berusia lebih dari empat puluh tahun. Jadi Rondor Mamarimbing walaupun dikisahkan sebagai suatu type Kawanua remadja, sebenanja adalah juga pemuda Sam Ratu Langie sendiri jang mengalami penghidupannja sebagai putera remadja di Kasendukan (Minahasa).
Namaku Rondor Mamarimbing, nama keluargaku tidak begitu penting, dan saudara tidak usah mengetahuinja. Setjara bagaimana saja diberi nama itu akan kutjeriterakan.
Ayahku memberikannja padaku, pada saat itu ia seorang nasionalis jang baik. Kawan-kawanku pada waktu itu diberi nama jang bertjorak Djerman, seperti Friedrich, Siegfried, Winfried, Wilhelm dan lain-lain. Pada waktu itu memang sudah menjadi mode di Minahasa untuk memberi nama kepada anak-anak dari legenda-legenda dan saga-saga Djerman, akan tetapi ajahku menamakanku biasa saja jaitu Rondor Mamarimbing. Terhadap kakak-kakakku perempuan ayahku selalu menuruti kehendaknja sendiri. Gadis-gadis biasanja diberi nama jang sudah ditjap Djerman atau meningat kepada Almanach de Gotha, Hildegonda, Godefrieda, Victoria, Maria-Louise dan lain-lain adalah suara-suara jang biasa sekali pada pembaptisan-pembaptisan pada waktu itu. Pendeta jang terhormat itu pasti telah terkedjut sewaktu ajah mempbaptiskan kakakku perempuan jang sulung dan mentjatatkan namanja sebagai Saramatiti Linkambe’ne : Kakakku perempuan jang kedua dibaptiskan Pinkanwulauan Manampira.
Memang-pada waktu itu adalah zaman jang aneh sekali, jang kini tidak dapat dibajangkan lagi; dan sekarang kadang-kadang aku bertanja pada diri sendiri kenapa orang-orang dulu ingin mengelabuhi kepribadian nasional kita dengan nemberikan nama-nama asing pada anak-anaknja nama dari dunia lain. Apabila mata saudara ditutup dengan kain dan seorang akan memperkenalkan dirinja dengan suara stentornja, dengan kata-kata: “Perkenalkan sebentar, namaku Siegfried.” Seribu lawan satu, bahwa saudara akan membajangkan seorang Djerman atau Norwegia jang tinggi dan pirang, bermata biru dan barangkali berdjenggot pirang keemas-emasan. Akan tetapi sensasi apa jang saudara alami, djika penutup mata itu dibuka dan tidak ajal lagi memandang kepada seorang Kawanua jang sympatik, bersenjum laksana gambaran dari bulan pumama jang bersenyum penuh kesetiaan, jang barangkali djauh dibawah ukuran itu. Jang nampak bukan rambut pirang jang menghiasi dahi jang tinggi itu, akan tetapi sungguh-sungguh tjorak rambut jang kedjur lurus dari seorang Alfur.” Dan selagi mengharapkan mata biru jang “ins fernen hinein blicken,’ maka terlihatlah oleh saudara pandangan jang lemah lembut dari matanja jang hitam, sedikit terkerut seperti seorang Mongol.
Dan achirnja, bukanlah seorang dari keturunan Djerman jang tinggi dan ramping jang menghadapi saudara itu, akan tetapi seorang jang bertubuh kokoh-kuat dan kekar, :anaknja Toar.
Dan rangkaian-rangkaian kedjadian jang mengejutkan ini, bersumber pada pemberian nama jang salah kepada orang itu, jang “sebentar ingin memperkenalkan dirinja” sewaktu mata saudara sedang tertutup.
Oleh karena itu akan mengutamakan sekali nama-nama Minahasa kepada orang-orang Minahasa. “What is in a name”, akan saudara katakan. Dan djawabku ialah : lihat sadja bagaimana akibatnja jang tidak terduga karena nama Siegfried. Lagipula nomen est omen !
Maka dari itu, aku bersuka hati karena wajahku telah membaptiskanku Rondor Mamarimbing, nama jang bagaimanapun djuga tidak akan menimbulkan kesalahan pada perkenalan dengan mata tertutup sekali pun.
Bagaimana rupaku jang sebenamja bukan urusan saudara. Aku ingin menggambarkannja tetapi setjara sangat rahasia, bahwa akupun setjara fisik adalah seorang Minahasa. kukuh-kuat dibawah ukuran berambut kedjur-lurus dan “Schlitzaugen” seperti seorang Mongol. Apakah type ini serasi dengan saudara terserahlah, itu adalah urusan saudara dan bukan urusanku.
Aku hampir tua, tetapi saudara pasti bertjanja, bahwa kurang lebih 40 tahun jang lalu aku lebih muda dari sekarang. Pada waktu itu aku belum tjukup tua. Memori atau memoires ditulis orang, apabila tidak lagi menghiraukan lagi penghidupan, dan untunglah aku belum sampai disana walaupun rambutku jang lurus sudah beruban disana-sini.
Ada tambahan pula, memori ditulis orang-orang jang paling sedikit telah mentjetuskan perang dunia atau hampir mentjetuskannja. Itulah keistimewaan mereka!
Napoleon boleh menulis memori, imperator Kamel Ataturk, Franco dsb.nja. Dan mengenai wanita-wanitanja, hm…………hm…………umpamanja Josephine de Beauhamais, Madame Matahari dan lain-lain karena kemasyhurannja, akan tetapi lebih-lebih karena wewangian jang dihembuskan dari kamar-kamar tamunja jang sangat menarik itu; wanita-wanita itulah telah mengambil haknja untuk menulis memori.
Kita sebagai rakjat djelata jang tidak akan mentjetuskan atau hampir mentjetuskan perang dunia dan jang tidak akan menghembuskan keharuman dari wewangian itu, kita ini sama sekali tidak akan terpilih untuk menulis memori. Apa jang dapat kita tulis ialah hanja kenang-kenangan sadja. Kenang-kenangan biasa belaka, jang pada malam jang sunyi timbul lagi pada pikiran kita dari sendja-sendja penghidupan kita. Djadi apa jang akan ditjeriterakan olehku, Rondor Mamarimbing ada1ah kenang-kenangan belaka.
Kenang-kenanganku itu timbul padaku, djika dalam peladjaran-peladjaran jang banjak aku sedang duduk diatas geladak sebuah kapal uap jang modern serta njaman. Dan kapal-kapal itu berlajar melalui pulau-pulau jang sunji-senjap dibawah langit jang bertaburan bintang-bintang menjinarkan sinarnja jang gaib kearah laut jang sangat luas itu, dimana disana-sini berjajar perahu-perahu Bugis, tidak terburu-buru, bagaikan kapal-kapal dari saga-saga jang hampir dilupakan, tenang, diajun-ajunkan ombak, maka pada saat itulah kenanganku muntjul bagaikan bajangan-bajangan diatas lajar putih. Kadang-kadang riang gembira, kadang-kadang seperti burung jang lelah, jang dengan hempasan sajap jang berat itu mentjari djalan, menembus awan-awan jang gelap dan berdjatuhan. Akan tetapi kenang-kenangan itu selalu mempesonakan.
Semua ini berlaku bagi orang-orang jang telah mentjapai puntjak hidupnja dan kini sedang menudju hidup jang lain. Sebaliknja orang-orang jang masih muda, umpamanja jang berumur dibawah 30 tahun, maka pada saat seperti itu mereka membiarkan daja tjiptanja bekerdja dan melihat hari depan sebagaimana dikehendakinja. Mereka itu menunggangi kuda tjiptaannja dan paling sedikit kuda itu harus kuda Arab, mereka itu berlari-lari tidak terkendalikan menembus hari kemudian. (Always ahead of the herd).
Itulah memang perbedaan masa muda dan masa tua atau hampir tua, kedua-duanja membiarkan daya berhayal dan kenang-kenangannja bekerja pada waktu jang sunyi. Jang pertama memandang kearah masa depan, dan jang kedua menoleh kepada masa jang lampau. Akan tetapi kedua-duanja menemui dorongan dan inspirasi-inspirasi untuk tahun-tahun jang akan datang daripada bajangan itu.
Disinilah letak daya kekuatan jang hidup dari hayalan itu, jang memberi inspirasi kepada tjita-tjita jang kadang-kadang nampaknja seolah-olah melampaui batas dari keadaan sekarang. Janganlah mengira bahwa raja-raja jang sekarang menguasai dunia perekonomian jang tidak abadi ini, bukanlah orang-orang jang tidak mempunjai daya tjipta. Ford, Carnegie, Kreuger, bahkan Basil Zackarof adalah orang-orang terbesar dalam hal berangan-angan di antara manusia, mereka itu dapat mewujudkan angan-angannja. Kebanjakan dari kita tidak berhasil dalam hal jang terakhir ini.
Aku ingin mentjeriterakan kenang-kenanganku akan tetapi alangkah baiknja apabila aku mempersilahkan biografiku; ia akan melaksanakan dan menulisnja lebih menarik dari padaku. Lagi pula segala seusatu jang diperlukan telah kutjeriterakan kepadanja.
Rondor Mamarimbing, kini menjadi seorang pria jang berusia setengah abad. Akan tetapi saudara pertjaya bukan, bahwa 40 tahun jang lalu ia lebih muda. Kami ingin menulis tentang hal ihwal penghidupannja, dimana kita disana-sini akan menambahkan beberapa hayalan demi semaraknja tjeritera; itu memang terjadi dalam tiap biografi. Lagipula – ada baiknja bahwa saudara terlebih dahulu mengetahuinja – Rondor Mamarimbing tidak pernah ada. Kami tidak hendak menggambarkan seseorang, akan tetapi suatu type dari zaman tertentu di Minahasa. Ia adalah suatu type dari orang-orang jang telah dilahirkan sesaat sebelum pertukaran abad jang ditjengkeram dengan keinginannja untuk “turut aliran Barat”; terpesona oleh aureool jang pada waktu itu mengelilingi Barat itu.
Djadi Rondor Mamarimbing itu tidak pernah ada, akan tetapi banjaklah Rondor-Rondor. Dan pengalaman-pengalaman dari Rondor-Rondor dan Mamarimbing-Mamarimbing itulah telah digabungkan di dalam seorang chajalan, jaitu Rondor Mamarimbing. Untuk memudahkan pekerdjaan ini aku menamakannja sadja biografi. Atau apakah saudara mempunyai nama lain untuk ini jang lebih tepat?
Rondor Mamarimbing telah dilahirkan tahun jang lalu ; tempat kelahirannja terletak digunung-gunung di Minahasa, ditepi salah satu danau-danau gunung jang banjak terdapat disitu. Kami akan menamakan tempat itu Kasendukan. Orang tuanja termasuk orang jang berada di Kesendukan. Ajahnja seorang major dari distrik Kasendukan. Ia dibesarkan disuatu rumah, seperti banjak terdapat di Minahasa, jaitu rumah keluarga dari kaju amat besar, seringkali diperluas.
Tiap generasi memperluasnja sehingga keseluruhannja mendjadi suatu teka-teki jang terdiri dari ruangan-ruangan dan gang-gang. Tidak dapat diperkirakan berapa djiwa jang menempati rumah itu. Banjak pembantu-pembantu setia jang tinggal djuga di “godong” dan di rumah-rumah tambahan dihalaman. Mereka itu sebenarnja bukan benar-benar pembantu, akan tetapi kerap kali keluarga djauh. hubungan keluarga mereka dengan ajah Rondor adalah sebagai hubungan seorang anggauta keluarga dengan pater familias. Dalam hubungan ini tidak terdapat pembajaran upah. Pembantu-pembantu sematjam itu berbitjara dengan leluasa dan biarlah kami djelaskan disini – dengan hak jang sama seperti dirasakannja setjara bathin mengenai “ternak kita” dan “tanah kita” sebagaimana dikatakan oleh major dari Kesendukan. Seperti telah dikatakan, hubungan madjikan dan buruh tidak ada antara ajah Rondor dan pembantu-pembantu jang sebanjak itu, jang ada dihalamanja.
Diantara mereka itu terdapatlah Denan, jang memainkan peran sebagai major domus. Ia mempunyai ukuran-ukuran badan jang luar biasa dan kekuatan jang tidak ada tandingannja; mungkin djuga Denan, sewaktu tjeritera kami ini dimulai, menduduki tempat major domus setjara berangsung-angsur disebabkan kedua sifat jang mengagumkan itu. Ia dapat memegang banteng-banteng jang muda pada tanduknja, jang harus ditjap dengan membakarnja initial dari narna keluarga dan dengan tjara berdiri pada tempatnja dengan kuatnja, maka dengan satu gerakan dari lengan-lengannja jang kuat itu, ia dapat mendjatuhkan banteng-banteng itu tanpa memakai pegangan-pegangan jang tertentu, seperti pegangan Nelson jang sebagian atau seluluhnja. Lagipuia sudah tentu Denan tidak banjak rnengetahui tentang tjara gulat Grika-Romawi; padanja hanja perpaduan dari naluri “the fighting man” dengan kekuatan jang luar biasa. Dapat dibanggakan disini bahwa kekuatan jang hebat itu hampir tak pernah digunakan dalam hubungannja dengan sesama manusia. Ia dapat disebut seorang jang baik dan mau mengikuti orang; akan tetapi intelegensinja sedemikian rupa tjukupnja, sehingga apabila diperlukan, tidak mau dipermainkan orang.
Untuk Rumondor jang berumur 5 tahun itu, Denan adalah orang jang sempurna, seorang pahlawan. Ia senang sekali ada di dekat Denan dan untuk ber-djam-djam lamanja ia memandangnja dengan penuh kekaguman, bagaimana Denan mengangkat karung-karung padi dan melemparkannja ke dalam gerobak jang sudah menunggu dan siap untuk mengangkut kegilingan padi.
Pada suatu hari Rondor dengan diam-diam naik kedalam gerobak jang mau berangkat, dengan harapan untuk mendjadi penumpang gelap kegilingan padi dibawah perlindungan kegelapan. Akan tetapi nasib penumpang gelap ini rupa-rupanja sedang sial. Sewaktu gerobak yang ditumpangi Rondor jang sedang duduk diatas karung padi itu mulai bergerak, roda kanannja tergelintjir ke dalam sebuah got, dan oleh karena gerakan jang tidak terduga itu, maka Rondor terlempar dari gerobak bagaikan batu jang terlempar dengan sebuah ketapul. Ia menggambarkan suatu djalan lontaran, jang sebagaimana kelak dipeladjarinja dalam ilmu pesawat dan parabol-parabol, sehingga apa jang terpikir olehnja setjepat kilat, ialah dimanakah ia akan djatuh. Dan ia djatuh ditempat jang sama sekali tidak terduga semula, jaitu dalam tangkapan besi dari tangan Denan jang berotot kuat. Ia telah mengetahui maksud Rondor dan kemudian memperhatikan gerak-gerik gerobak dengan penumpang gelapnja, waspada akan tiap kedjadian. Ia menangkap penerbang jang sedang melajang dalam penerbangannja diangkasa, dan berkat sentuhan kekuatannja dengan mudahnja Denan telah menghindarkannja dari sentuhan dengan bumi jang pasti tidak akan menjenangkan dan tadinja sudah tidak dapat dihindarkan lagi.
Urusan Denan banjak sekali, apabila seekor anak sapi mati disebabkan patah lehernja karena djatuh ke dalam jurang sewaktu sedang mentjari makan, maka hal itu akan segera dilaporkan oleh anak buahnja kepada Denan, jang selandjutnja diteruskan kepada major, djika ia sedang minum teh diberanda belakang mendjelang sendja. Dengan djuga jang harus mempersiapkan segala sesuatunja, apabila salah seorang pemuda dari “halaman” itu hendak melangsungkan pernikahannja. Kelak major akan diberi laporan-laporan tentang itu; Denan djuga mengadakan perundingan-perundingan dengan tengkulak-tengkulak kopra Tionghoa, kalau kopra telah tiba dari tempatnja untuk didjual. Singkatnja, seluruh urusan rumah tangga dari keluarga jang besar itu dikendalikan oleh Denan.
Ada seorang lain lagi dengan siapa Rondor harus bergaul. Ia seorang pria jang berusia lebih dari 60 tahun, orangnja kurus ketjil, tapi masih sangat aktip. Sebenarnja ia tidak mempunyai pekerdjaan khusus, tetapi apa sadja jang dikerdjakannja tanpa disuruh oleh seorangpun. Pemuda-pemuda di ‘halaman’ memanggilnja tété, jaitu Kakek, jang lainnja tanpa pengetjualian “ito” jaitu paman, majorpun menggunakan nama panggilan ini, walaupun tidak nampak suatu hubungan keluarga.
Dalam masa mudanja ia pasti telah bepergian djauh, karena banjak jang ditjeriterakannja mengenai daerah Gorontalo dan Bugis dibagian Selatan jang tidaklah sedikit artinja pada waktu ia harus bepergian, sebab pada waktu itu tidak ada hubungan dengan kapal uap. Orang tua ini, tété Tialo, telah membebankan dirinja untuk mengurus anak-anak kalau major dan istrinja bepergian, kadang-kadang- berhari-hari apakah ke Menado untuk kundjungan jang resmi, ataukah nrenghadiri pesta pada keluarga-keluarga jang berdekatan, jang berlangsung beberapa hari sesuai dengan kebiasaan pada waktu itu.
Inilah saatnja bagi tété Tialo, jang dikerumuni oleh anak-anak untuk mengisahkan legenda-legenda dan sorga-saga kuno dari Minahasa dalam lagu dan sjair jang tidak hentinya. Tjeritera-tjeritera kuno inilah jang menarik perhatian Rondor, karena tété Tialo dan ini rupa-rupanja belum diketahui Rondor pada waktu itu – adalah seorang penjair jang ulung. Ia dapat menggambarkan Aäsaran jang tua sedemikian rupa dramatisnja, sehingga anak-anak itu duduk terpaku. Pilihan kata-katanja dalan-njanjian-njanjian jang sebentar digubahnja itu begitu rupa menakdjubkan dan iramanja begitu sempurna sehingga hal itu masih beralun dalam kenang-kenangan Rondor.
Kemudian, lama sekali setelah itu, sewaktu Rondor membatja tentang troubadour dan minstreel ia seringkali menjamakan tété Tialo dengan penjanji-penjanji dan penjair-penjair dari Abad pertengahan di Eropah itu.
Tialo adalah seorang pcnjanji dan penjair atas Karunia Allah, dan inilah sebabnja dari kemenangan jang gilang-gemilang untuk mempersonakan anak-anak di malam-malam jang pandjang, selama ia menghendakinja. Dan kadang-kadang Tialo sendiri harus memutuskan pertemuan-pertemuan seperti ini secara tiba-tiba, seolah-olah ada orang jang memanggilnja, dan tjepat-tjepatlah ia pergi untuk mengelakkan protes-protes Rondor.
Ada suatu kedudukan jang chas jang diisi oleh Tialo dalam keluarga major jang besar itu. Ia seorang jang dapat mengadakan hubungan dengan nenek-mojang dengan perantaraan burung-burung atau disebut “Tonaas” dan dukun dari keluarga itu. Kalau ada seorang jang sudah lama sakit dan apabila pengetahuan dokter–djawa jang sudah tua itu tidak membawa kesembuhan, maka Tialolah jang pergi kedesa untuk mentjari ajam-djago putih. Ajam itu dimasak menurut suatu tjara jang hanja diketahui oleh Tialo sadja, dan pada suatu malam jang sunji pergilah Tialo kesuatu mata air di hutan untuk memanggil burung-burung jang beterbangan pada malam hari dan nenek mojang. Kadang-kadang Rondor diperbolehkan untuk menemaninja dalam perdjalanan serupa itu dan dalam tahun-tahun selandjutnja ia seringkali merasa keheran-heranan, bahwa soring (seruling) Tialo memang didjawab oleh seekor manguni (burung hantu). Dan burung ini datang terbang dalam lingkaran jang semakin sempit ketempat dimana Tialo berdiri dan akhirnya bertengkar di pepohonan jang dekat. Setelah itu diadakan “tukar pikiran” antara tonaas tua dan burung manguni itu selalu didjawab oleh burung. Tidak lama kemudian Tialo mengumpulkan alat-alat dukun jang telah dibawa itu, seperti ajam djago putih, nasi dan tjangkir terbuat dari bambu. Setelah tiupan seruling tété Tialo jang kuat dan didjawab oleh manguni dengan kuat pula, maka berachirlah petemuan spirituil dan burung itu menghilang ke hutan dengna hempasan sajap jang tenang.
Setibanja di rumah, Rondor mendengar tété Tialo berkata kepada major : “semuanja sudah beres. Ia telah datang dan lain-lainnja djuga.” Major mendjawab : “Begitulah hendaknja.”
Tidak pernah djelas bagi Rondor apa jang dimaksudkan dengan “ia dan lain-lainnja”, tetapi ia suka sekali dengan hidangan panggang ajam djago putih dan nasi putih jang telah diberkati itu.
Dan jang paling penting, kakak perempuannja jang sakit itu sembuh kembali berkat tjara penjembuhan Tonaas itu. Rondor tidak pernah memikirkan setjara mendalam, apakah obat dari dokter-djawa itulah jang menjembuhkan kakaknja, ataukah ajam djago putih Tialo. Tetapi dokter-djawa itu memang seorang jang pandai dan dapat menjesuaikan diri : kadang-kadang ia turut djuga menikmati hidangan ajam djago putih dari Tialo.
Pada waktu-waktu jang tertentu seluruh keluarga pergi ke “pantai”. “Pantai” itu adalah kebun kelapa dan pala dari keluarga itu. Letaknja 60 km. dari Kasendukan dan djalannja bukanlah djalan raya jang diaspal. Banjak hal jang harus dipersiapkan lebih dahulu. Mereka menempuh perdjalanan itu dalam “sleeping-cars” ditarik oleh sapi-sapi, dikawali oleh beberapa roda-roda (gerobak) jang mengangkutkan bagasi dan persediaan makanan. Mereka berangkat waktu sendja agar dapat tiba di tempat tudjuan waktu fadjar. Pada kedjadian seperti itu, Denanlah jang memimpin iringan-iringan itu. Setjara sederhana sekali dibuatlah lampu-lampu minjak tanah dari botol-botol jang kosong dan potongan-potongan kain, jang kemudian dimasukkan kedalam bumbung bambu dan diberi daun-daun woka sebagai penghalang angin. Maka selesailah lampu-lampu untuk dipakai dalam perdjalanan itu. Ia mengetahuai apa jang diperlukan dalam perdjalanan seperti itu dan selalu dapat mengatasinja. Ia mengatur iringan-iringan itu, dimana berhenti untuk makan malam dan untuk mengistirahatkan sapi-sapi sebelum menempuh djalan yang mendaki. Tempat istirahat itu biasanja terletak didekat sungai jang ketjil dan djernih.
Denan djuga mernberi isjarat untuk memasang sapi-sapi itu pada roda-roda siap untuk rneneruskan perdjalanan. Dialah jang mempersilahkan musafir-musafir jang kebetulan lewat disana untuk turut serta makan malam jang biasanja ditolak oleh mereka.
Dan Denan pulalah jang selalu mengobrol dengan orang-orang jang lewat disana, hal mana sangat mentjurigakan Rondor, djangan-djangan ada hal jang perlu diketahui selain informasi-informasi mengenai tjuatja djalan sadja. Pada saat seperti itu, berdirilah Denan dengan tangan bersilang didada, tangan kanannja tertutup, mentjurigakan dekat pegangan tangkai goloknja. “Golok” ini sebenarnja sebuah pedang untuk memenggal kepala orang, jang disamping itu dapat djuga dipakai sebagai golok biasa. Setelah informasi sematjam itu, Denan dengan diam-diam menemui major dan mengatakan umpamanja “Mereka itu adalah orang-orang dari desa ini atau itu” jang rupa-rupanja diartikan seperti ini : “Mereka itu orang baik-baik.” Apabila major belum tertidur didalam sleeping-car ia biasanja mendjawab “begitulah hendaknja.” Rondor selalu tidak jakin apakah informasi-informasi Denan itu memang diperlukan. Ia tidak pernah mendengar terdjadinya perampokan. Akan tetapi bagi Denan hal itu rnerupakan dorongan naluri pribumi di Minahasa jang menganggap setiap asing ada kemungkinan sebagai musuh. Tetapi Denan seorang jang berani, terbukti dari tjara jang tenang kalau menghadapi sekelompok orang-orang jang tidak dikenalnja. Rondor jakin, bahwa Denan dapat menerima segala akibatnja, apabila infonnasi-informasi rnengenai tjuatja dan djalan itu dan orang-orang dari dusun ini atau itu, ternjata tidak benar.
Untuk sekali keberanian Denan tidak perlu diudji dan “golok”nja tidak pernah meninggalkan sarungnja, selain untuk menebang ranting-ranting dan tangkai-tangkai jang menghalangi mereka dalam perdjalanannja.
Kalau iring-iringan sudah bergerak lagi, maka penghalau-penghalau sapi itu berjanji untuk mempersingkat waktunja. Kadang-kadang bergemalah suara mereka meniru teriakan kemenangan dari pemenggal-pemenggal kepala orang, jang selalu didjawab oleh mereka entah dari mana. Hutan-hutan, kebun-kebun dan dusun-dusun jang masih sunji senjap telah dilaluinja. Dan pada saat Bintang Timur sudah nampak maka terdengarlah deburan ombak. Tudjuan dari perdjalanan sudah dekat.
Rondor dibesarkan dalam suasana penghidupan di Kasendukan. Di Kasendukan ada sekolah dasar, jang disebut Europese Lagere School dan sudah tentu ia harus bersekolah disana. Kepala sekolah adalah seorang jang berwatak tinggi tapi kuno, jang menggembleng tata bahasa sedemikian rupa, sehingga diketahuinja kemudian oleh Rondor sewaktu ia sudah ada di negeri Belanda, bahwa ia lebih memahami bahasa Belanda daripada kebanjakan bangsa Belanda sendiri. Ia senang kepada guru-gurunja tetapi ia tidak suka kepada sekolahnja. Ia lebih senang lagi kalau dapat membantu anak-anak jang ada di “halaman” dikebun-kebun atau menggembala kuda-kuda dan ternak-ternak ketegalan-tegalan rumput jang lain.
Sewaktu ia sudah berumur 13 tahun, ia sendiri memilih kuda jang berumur 3 tahun dan dididiklah kuda itu sendiri. Ia membatja buku tentang Indian-indian dan cowboys itu tapi ia tidak “tertarik”.
Kepandaian cowboys itu dapat ditirunja dengan mudah. Ia tidak dapat mengerti mengapa Carl May dan Gustave Airmand menggembar-gemborkan bahwa orang-orang Indian menaiki kudanja tanpa pelana dan berlarian setjepat kilat di padang rumput. Baginja tidak ada kesulitan, lagipula pelana itu hanja rintangan sadja. Barang itu menambah kemungkinan-kemungkinan jang tidak diinginkan sadja. Kalau tali pengikatnja terlepas sewaktu berlari, nah pasti kau akan djatuh!
Sekali pernah terdjadi, bahwa ia mengendarai Sandlewood ajahnja kedesa jang berdekatan untuk menyampaikan satu pesanan. Di dalam perdjalanan ia bertemu dengan kawan dari sekolah yang djuga menaiki kuda, jang memutuskan untuk menemaninja. Sudah tentu mereka itu mentjoba ketjepatan kudanja, sewaktu sampai di djalan lurus. Sewaktu berlari ia mendengar terputusnja tali pengikat itu dan perlahan-lahan ia merasa bahwa duduknja mendjadi miring. Ia masih ingat sewaktu ia sudah berputus asa untuk mentjoba menghentikan kudanja jang achirnja sia-sia belaka. Kemudian ia tidak ingat apa-apa lagi jang telah terdjadi dan sadar kembali sewaktu ia sudah berada di tempat tidurnja.
Kakak perempuannja mengatakan padanja, bahwa beberapa djam jang lalu Sandelwood telah berlari kehalaman tanpa penumpang, sehingga major menarik kesimpulan, bahwa Rondor telah tergeletak di pinggir djalan. Oleh karena itu, Denan telah diperintahkan untuk mendjemputnja dengan cabriolet. Untunglah kedjadian itu tidak mengakibatkan hal-hal jang tidak diinginkan, hanja mengompres lutut dan selama tudjuh hari harus berbaring. Setelah itu Rondor lebih senang naik kuda tanpa pelana, jang sangat mentjemaskan ibunja karena menganggap bawah tjelana menjadi rusak.
Penghidupan jang bebas ini, diantara kuda-kuda, banteng-banteng muda dan anak-anak lari dari “halaman” berachir sewaktu ia mentjapai usia 14 tahun dan disekolahkan di Tondano pada Hoofdenschool. Ia tinggal dengan bibinja. Jang paling sial baginja ialah, bahwa ia harus berkelakuan seperti Tuan. Kalau ia bepergian maka ia harus bersepatu dan berpakaian putih jang dikandji keras-keras; dirumah ia harus berselop dan tiap-tiap sore ia harus tidur, sungguhpun ia tidak mengantuk.
Hoofdenschool zaman Rondor itu ialah untuk seluruh Sulawesi Utara, seperti Eton untuk kaum ningrat di Inggris. Setiap orang di Sulawesi Utara jang merasa dirinja termasuk putera-putera “orang berbangsa” mentjoba menjekolahkan putera-puteranja disana.
Ini tidak selalu berhasil, sebab banjaknja murid sudah ditentukan sampai maximum 40 orang. Disekolah itu Rondor bertemu dengan putera-putera dan tjutju-tjutju dari kepala-kepala di Minahasa dan radja-radja dari bagian Sulawesi Utara lainnja. Di kemudian hari setelah ia kembali lagi di Sulawesi Utara dari pengembaraannja di dunia, ia bertemu dengan kawan-kawannja lagi jang memangku djabatan pamong.
Ia senang bersekolah disitu. Tetapi ia segera mengetahui, bahwa tidak banjak jang akan dipeladjarinja. Mata peladjarannja tidak begitu merangsang keinginannja untuk mengetahui lebih banjak sebab sudah banjak jang diketahuinja dari sekolah jang lalu dan dari buku-buku ajahnja, jang telah dibatjanja disana-sini.
Pulau Djawa mendjadi daja penariknja. Salah seorang saudara sepupu jang lebih tua daripadanja ada di Indische Artsenschool ; pada waktu itu masih disebut sekolah dokter djawa. Rondor terus berkorespondensi dengan saudaranja itu. Berulang kali Rondor membatja gambaran saudaranja jang dibesar-besarkan, mengenai penghidupan disekolah dokter djawa itu. Iapun mengedarkan tulisan itu dikalangan kawan-kawan akrabnja. Chajalannja menambahkan hal-hal jang sama sekali tidak pernah ditulis dalam surat-surat itu. Akibatnja ialah rindu hendak pergi ke djawa.
Tibalah hari jang sangat penting itu. Kepala sekolah dari Hoofdenschool mengumumkan, bahwa dari Djawa ada permintaan untuk mengirim 3 orang untuk dididik disekolah dokter djawa. Mereka itu harus pemuda-pemuda jang berbakat. Rondor berpendapat bahwa ia mempunyai bakat untuk beladjar terus dan ia mendaftarkan diri. Kepala sekolah dan guru-gurunja mengadakan seleksi diantara peminat dan Rondor termasuk pula diantara murid-murid jang akan dikirim ke Djawa. Ia diberi surat oleh kepala sekolah agar ajahnja mempersiapkan keberangkatannja itu. Sewaktu urusan ini sudah mentjapai taraf serupa itu, maka teringatlah oleh Rondor, bahwa ia sama-sekali belum menberitahukan maksudnja kepada ajahnja. Masih mendjadi teka-teki, apakah ia akan menjetudjuinja. Apabila tidak diperkenankan, pastilah akan timbul kesulitan-kesulitan baru bagi Rondor.
Hari hampir mendjadi malam, sewaktu Rondor menaiki kudanja, jang telah dibawa ke Tondano, memasuki halaman jang luas di Kasendukan. Ia langsung membawa kudanja ke kandang untuk memperpandjang waktu, dan dilihatnja bahwa Sandelwood ajahnja jang besar itu tidak ada ditempatnja.
Dengan lega hati Rondor menarik kesimpulan bahwa ajahnja sedang bepergian, mungkin melakukan inspeksi. Ia mendapatkan ibu dan kakak-kakaknja diberanda belakang dan ia segera berterus-terang untuk apa ia pulang. Ibunja terkedjut dan menangis, ia tidak sampai hati untuk berpisah bertahun-tahun.
Pulau Djawa itu djauh menurut perhitungan pada waktu itu, pulau Djawa terletak di udjung dunia. Kakak-kakaknja perempuan bersuka hati bahwa mereka mempunjai seorang adik laki-laki di pulau Djawa, akan tetapi demi perasaan ibunja mereka itu tidak memperlihatkan kegembiraannja. Mereka itu masih memperbintjangkan soal ini, sewaktu major maniki tangga. Ia seorang jang tidak banyak berbitjara. Ia mengulurkan tangannja kepada Rondor, akan tetapi ia tidak bertanja apa-apa, tidak memperlihatkan keheranannja, bahwa Rondor pulang ke Kasendukan dipertengahan minggu. Achirnja Rondor memutuskan untuk memberitahukan maksud kedatangannja, dan menerangkan dalam kata-kata jang singkat dan tegas apa jang hendak dilakukannja dan apa jang sudah dikerdjakan.
Major seorang ahli djiwa jang berpengalaman. Dalam beberapa detik sadja ia mendapat gambaran dari keadaan yang sebenarnja. Apabila Rondor tidak diperkenankan pergi dari Minahasa karena kekuasaan ajahnja, maka mula-mula ia akan mendjadi seorang putera jang tidak merasa puas dan dikemudian hari akan mendjadi seorang pria dimana perasaan tanggung jawab dalam penghidupannja akan dibebankan kepada ajahnja. Berkat batjaan jang tjukup banjak jang telah dikirim dari pulau Djawa, maka major itu mempunjai pandangan jang luas mengenai perubahan dari hubungan-hubungan dalam penghidupan jang sejogjanja akan terjadi. Ia melihat perkembangan rakjat dan setjara logis ia memetjahkan soal-soal ha1 kelahiran Negeri itu sendiri tidak luas. Hal-hal itu ia hubungkan dengan puteranja. Ia sudah biasa untuk menarik kesimpulan dan tjepat pula mengarnbil keputusan.
“Engkau sudah tentu mengerti”, berkata ia kepada Rondor, ”bahwa djika engkau telah pergi, selalu ada tempat bagitnu dirumah kita, akan tetapi dinegeri sendiri tidak ada.” “sekarang pergilah engkau! Akan tetapi djanganlah kembali dengan kopor jang kosong”.
Rondor mengerti ajahnja. Ia mengerti pula bahwa nasibnja ada ditangan sendiri. Dalam waktu jang singkat ia merasa bahwa ia sudah mendjadi dewasa. Darah perdjuangan dari generasi-generasi jang silam mengalir lagi dalam tubuhnja, akan tetapi dalam bentuk jang lain jaitu untuk terus berdjuang dalam keadaan bagaimana djuga dimana djalan untuk mundur kembali telah diputuskan.
“Ja ajah! Apabila saja terus dikaruniai kesehatan, maka apa jang dikenedaki ajah akan terlaksana.”
Rondor mempunjai kepertjajaan jang teguh kepada pembantu pendeta Belanda dari Kasendukan, akan tetapi ia lebih tjondong kepada Tialo sebagai Tonaas itu. Kelebihan Tialo disebabkan karena pribadinja sesuai sekali dengan tjara penghidupar dirimba dan dengan malam-malam jang bertaburan bintang dinegerinja.
Bagi Rondor, pembantu pendeta itu merupakan seorang tuan Belanda jang disegani dengan isterinja jang baik budi serta anak-anaknja jang sangat patuh. Akan tetapi Tialo adalah pendeta jang tertinggi, jang berkat burung-burungnja dapat berhubungan dengan generasi-generasi jang hidup dalam abad-abad jang silam. Ia mendengarkan tentang pengetahuan nenek-mojang dalam bahasa burung dari Mamarimbing.
Tonaas jang besar dari legenda-legenda. Untuk Rondor, kisah-kisah jang dinjanjikan Tialo merupakan bisikan-bisikan dari waktu jang silam jang bagaikam djembatan-djembatan menghubungkan abad-abad jang memisahkan waktu sekarang dengan zaman legenda-legenda dan saga-saga jang kelam. Ia sungguh-sungguh menjelami romantika jang bergelora dari generasi-generasi pedjoang jang telah hilang, jang harus mempertahankan dirinja, ditengah berbagai kesulitan jang membahajakan hidupnja. Ia mengetahuinja lagu-lagu perang dari zaman itu, jang dinjanjikan oleh pria dengan suaranja jang bergema di seluruh desa sewaktu mereka berkumpul dalam upatjara “Kabasaran”. Ia mengetahui pula njanjian-njanjian jang memudja dewa-dewa dimana mereka itu mengeluarkan perasaannja karena tidak berdaja terhadap kekuasaan dewa-dewa dan-taufan dengan dahsjat menampar danau-danau dan lautan jang tenang di Minahasa, atau menghalau awan-awan gelap diantara gunung-gunung.
Keberanian untuk berdjoang dan berkelahi jang primitif dari “The fighting man” dizaman jang silam, sekarang mengalami perubahan pada Rondor dengan nada jang halus.
Ia tidak kenal takut, badaniah maupun rochaniah ia menafsirkan soal-soal penghidupan sesuai dengan pandangannja dan hanja setjara bathin merasa bawahannja dari dewa-dewa negerinja.Tentu sadja Rondor tidak menginsjafi hal itu, sewaktu kisah ini terdjadi. Ia baru insjaf dikemudian hari dan dapat meneropong penghidupannja, setelah ia mempunjai pandangan hidup jang matang, ditambah pula dengan pengetahuan jang mendalam dari bagian dunia lain.
Pada waktu itupun ia tidak sadar, bahwa semua pengetahuan jang telah dipeiadjarinja disekolah atau jang telah dipeladjarinja dari buku-buku, hanja mendjadi djalan sadja untuk menggunakan akal budi pekerti Tialo, Tonaas itu, dalam sjarat penghidupan jang baru.
Dengan tidak sadar apa jang dikerdjakannja, ia mengendapkan daripada semua peladjaran dari barat itu, hanja hal-hal jang dapat berpaduan dengan djiwa rakjatnja, seperti merekapun didjadikan karena pengaruh jang berabad-abad dari alam disekelilingnja.
Begitulah Rondor Marnarimbing pada saat akan meninggalkan negerinja untuk berkenalan dengan negeri-negeri jang baru. Ia dapat menerima hal-hal jang baru, sebab kisah-kisah jang dinjanjikan Tialo telah merangsang hasratnja untuk berpengetahuan jang lebih banjak. Dan sewaktu ia sedang duduk sendirian diberanda muka sambil memikirkan nasib masa depannja dan berchajalan, maka terdengarlah suara “Manguni Rondor” dari djauh dan menudju kearahnja, maka ia jakin pula bahwa nenek-mojangnja menjetudjui maksudnja. Ia mengetahui pula bahwa ia akan berhasil, walaupun pada waktu itu tidak diketahuinja, bagaimana nasibnja akan membawanja djauh dari kampung halaman.
Hari keberangkatannja hampir tiba. Tamu-tamu bertambah banjak, kawan-kawan dari keluarga dan sanak saudara jang djauh. Kadang-kadang mereka itu datang dari tempat jang djauh dan oleh karena itu harus menginap di Kasendukan untuk beberapa hari. Ada jang menginap dirumah major atau disalah satu rumah tambahan dihalaman, ada pula jang menginap dirumah orang-orang jang terpandang didesa. Mereka itu makan bersama didalam sebuah bangsal jang tergesa-gesa telah dibangun dengan medja-medja makan jang pandjang. Sesuai dengan adat-istiadat pada waktu itu, maka setiap keluarga membawa berbagai bahan makanan jang dihasilkan alam berlimpah-limpah seperti : ajam, telur, babi, buah-buahan dan lain-lain.
Denan lagi jang setiap hari harus mengatur, bagaikan seorang djenderal ditempat peperangan, mengerdjakan pria dan wanita dari “halaman” untuk membantu dengan apa sadja jang harus diselesaikan. Tungku-tungku menjala sampai djauh malam, matanja wanita-wanita mendjadi merah karena kepulan asap dan rambutnya dibungkus kain agar tidak terurai dan tidak terkena asap.
Anak-anak laki-laki dari “halaman” hilir-mudik dengan roda-roda untuk mengangkut bahan-bahan jang dibutuhkan. Ada air minum jang harus diambil dalam tong dari sumber mata air diluar desa, atau dari daun djagung dan batang-batangnja untuk makanan binatang-binatang penghela jang banjak kepunjaan tamu-tamu jang ada di “halaman”. Tiap hari roda-roda jang dimuati penuh dengan padi itu pergi ke penggilingan, untuk kemudian kembali lagi dengan beras. Bukan main ramainja, seolah-olah sedang diadakan persiapan untuk pesta perkawinan.
Untuk Rondor kesibukan seperti ini tidak asing lagi. Kesibukan jang disebabkan karena kepergiannja jang lain datang. Sewaktu saudara sepupunja hendak pergi ke pulau Djawa dua tahun jang lalu untuk maksud jang sama, maka ia pun telah menjaksikan kesibukan-kesibukan jang sama dirumah pamannja. Bepergian ke Djawa pada waktu itu kila maksudkan ini kurang lebih 50 tahun jang dapat ditafsirkan sebagai bepergian untuk selama-lamanja. Mereka sama sekali tidak mempertimbangkan kemungkinan untuk pulang dan waktu liburan. Mereka tidak jakin bahwa banjak jang akan terdjadi dalam djangka waktu sembilan tahun. Rondor melihat masa depannja dengan kejakinan, bahwa ia akan datang kembali dan mungkin akan mengganti dokter-djawa jang telah tua di Kasendukan.
Dunia sosial tjiptaannja berhenti sampai dipelabuhan Menado. Apa jang ada diluar itu, tidak termasuk dunianja. Ia pergi kepulau Djawa hanja untuk beladjar dan melihat hal-hal jang asing baginja. Fikiran-fikiran untuk mengatakan orientasi kemasjarakatan diluar Minahasa sama sekali tidak ada. Ia akan berangkat dan sudah pasti akan kembali 1agi, asal ia tetap sehat sadja. Segitulah pandangan masa depannja. Begitupun dari kebanjakan orang-orang jang bepergian.
Hari keberangkatan ke Menado adalah puntjak keramaian ; tiap orang dari Kasendukan berpamitan lagi dengan Rondor. Untuk sementara orang tua, ia mendjadi tuan-muda, akan tetapi kebanjakan masih menganggapnja ia sebagai anak jang suka menaiki kuda tanpa pelana dan berlarian dengan kudanja ditanah-tanah datar dan pegunungan di daerah Kasendukan. Sepandjang hari ia sibuk. Ia duduk dengan sekelompok wanita-wanita jang sudah lanjut usianja dan mentjoba mendjawab kelutjuan-kelutjuan jang dilontarkan kepadanja dan kemudian ia duduk dengan kaum pria, mendengarkan tjeritera-tjeritera jang agak dibesar-besarkan mengenai Tamporok, seorang sersan pensiunan jang dianugerahi “Ridder-kruis” di Atjeh dan karenanja disebut orang “Ridder”.
Penduduk Kasendukan sudah mengetahui kisah itu, pada tiap-tiap pertemuan kisah itu ditjeriterakan, jang tiap tahun bertambah hebat dan semarak. Kadang-kadang major bertanja pada diri sendiri, apakah Tamporok sendiri masih mengenal garis antara apa jang sebenarnja dan apa jang ditambah dalam tahun-tahun sesudahnja itu. Rondor berpendapat bahwa apabila meniadakan chajalan dari kisah itu maka apa jang masih ketinggalan tetap tjukup membanggakan pedjoang kawakan itu. Dan djika hal sematjam itu akan terdjadipula dengan dirinja, maka iapun tidak akan mengenal garis itu. Pemuda-pemuda di Kasendukan menggemari sekali kisah Tamporok : Mereka itu membesarkan hati pahlawan dan dengan pertanjaan-pertanjaannja menambahkan semangat veteran itu, sehingga “kenang-kenangannja” bertambah kalau ia memanggil mereka itu untuk “Kebasaran”, dimana ia telah mengangkat diri sendiri sebagai kepala dan pelopor, maka mereka itu datang dan tunduk melaksanakan segala perintah-perintah Tamporok jang bergema dikalangan barisan. Ia termasuk orang jang dianugerahkan djenggot tebal dinegeri itu sehingga ia diberi djulukan “sokoman” jang berdjenggot tebal, dan mungkin hal itu menambah kewibaannja, menimbulkan rasa kagum dari orang, kalau ia dengan berpakaian perang untuk kaum tua memeriksa barisannja.
Rondor menjamakannja dengan seorang adu gulat Djerman, jang pernah dilihat gambarnja dalam buku sedjarah. Dan achirnja, setelah bermatjam-matjam dalam gerakan-gerakan terdengarlah komando “ajat unsati” angkat sendjata dan suara Tamporok jang bernada berat bagaikan besi menguasai teriakan-teriakan peperangan dari gerombolannja. Memang ia adalah seorang pemimpin gerombolan.
Sewaktu Rondor pagi itu sedang mendengarkan kisah Tamporok, datanglah Denan dan duduk bersama-sama. Tamporok jang melihat tubuh Denan serupa Hercules itu, segera memutuskan kisahnja mengenai penjerbuan benteng duri dan terus memandang Denan.
“Sebenarnja engkau harus turut serta denganku untuk menjerang musuh”, berkata ia pada Denan. “Tidak ito”, Denan mengelakkannja, “biarlah aku tinggal di Kasendukan untuk rnengurus kampung halaman dan ternak. Aku tidak sudi berkelahi dengan orang-orang jang tidak pernah bersalah padaku. Apabila rnereka datang kemari untuk mengusir kita dari negeri leluhur kita, nistjajalah aku akan turut berdjuang denganmu”.
Pak guru dari desa jang suka bertjanda turut tjampur dalam pembitjaraan ini dan berkata: “Ach, kau Denan, kukira engkau takut”. “Ja”, djawab Denan, “aku memang tidak berani untuk berkelahi dengan orang-orang jang tidak pernah mengganggu kita. Kusangsikan apakah Emnpung-Empung dapat, menjetudjuinja”. ”Engkau benar Denan”, berkata penrdeta dengan tegas. “Engkau tidak boleh berbuat sesuatu kepada orang lain apa jang kau sendiri tidak rnenghendakinja”.
Rondor membenarkan Denan djuga, dan untuk menghentikan pembitjaraan jang bertele-tele itu, maka ia mendesak kepada Tamporok untuk melandjutkan kisah penjerbuan benteng-duri.
Dengan senang hati Tamporok memenuhi permintaan itu dan mengisahkan bahwa dialah orang pertama jang dapat menerobos benteng dan dikerumuni sepuluh orang musuh.
“Bukankah delapan orang, sebagaimana kau katakan padaku waktu jang lalu?” bertanjalah pak guru jang bandel itu.
“Mungkin adalah delapan orang” djawab Tamporok. ”Limabelas tahun jang lalu ha1 ini terdjadi dan sudah tentu aku tidak begitu ingat lagi. Bagaimanapun djuga aku memukul kekiri dan kekanan dan memanggil Empung-Empung untuk memberi bantuan padaku. Beberapa saat kemudian kuketahui bahwa gagang senapanku hantjur karena pukulan-pukulan itu dan hanja larasnja sadja jang tertinggal dalam tanganku. Pada saat itu, Setoe, seorang kopral Djawa, dapat merembes pula dengan enam orang anak buahnja. Segera selesailah pertempuran. Dan, Denan kalau Empung-Empung tidak menjetudjuinja pekerdjaan itu, nistjaja mereka itu telah menjuruh musuh untuk membunuhku”.
Rondor memberi isjarat kepada Denan, agar ia tidak memperdebatkan itu. Pada saat itu datanglah seorang anak laki-laki memanggil Rondor, ia harus pergi ke major diberanda muka untuk menerima pembantu pendeta dan pak guru Belanda jang sudah tua jang djuga ingin berpamitan. Begitulah berlangsungnja hari terachir di Kasendukan.
Sesudah sendja Denan melaporkan bahwa iring-iringan roda sudah siap untuk belangkat ke Menado. Mendjelang sendja tibalah mereka disana dan memasuki “bandar”. Sebelum djam 6.00 orang tidak diperkenankan memasuki “Bandar”. Nampak lagi pada Rondor kedjadian-kedjadian jang berkesan. Mereka itu menaiki roda-roda itu dan berangkatlah iring-iringan itu. Terdepan berdjalanlah beberapa rodaveer jang dinaiki oleh keluarga major dan beberapa sanak saudara kemudian disusul oleh 10 orang-roda lainnja. Dekat njala lampu dari bumbung bambu itu nampaklah giring-giring roda-roda berdjalan disebelah pasangan sapi-sapi.
Mereka itu adalah anak-anak dari “halaman”. Dengan tjambuk diselimpangan dilengannja dan kepalanja ditutup dengan handuk mereka itu menghalau pasangan sapi jang dipertjajakan dengan kata-kata jang muluk-muluk dan maki-makian.
Denan memimpin iring-iringan dan dengan goloknja dipinggang jang sebenarnja pedang pemenggal kepala orang itu, ia berdjalan dari roda ke roda lain, sambil memberi instruksi jang perlu dan tidak perlu.
Tialo duduk dalam roda jang terachir, karena merasa bertanggung jawab. Mungkin djuga nanti ada kedjadian-kedjadian jang tidak diinginkan, seperti umpamanya pengikut jang turun dan ketinggalan atau orang-orang jang tidak dikenal jang menaruh perhatian jang tidak diinginkan. Tialo memperhatikan segala rupa jang terdjadi, suara burung menjebabkan ia menentukan arahnja, jang serentak diperbintjangkan dengan Denan di tempat manakah iring-iringan harus berhenti sebentar untuk melepaskan lelah binatang-binatang penghela itu.
Waktu seekor ular menjeberang djalan di depan rodanja, ia segera berseru kepada Denan untuk berhati-hati. “Sebentar lagi tentu akan terdjadi sesuai”.
Setibanja disebuah desa, mereka itu melewati rumah dimana lampunja diberanda muka masih menjala. Ada 20 orang pria dan wanita duduk disitu memenuhi ruangan, banjakan terdiam dengan menundukkan kepala. “Ada jang meninggal dunia”, demikianlah kesimpulan Denan. Berkata Tialo “Itulah jang dimaksudkan ular tadi!” “Dan bagaimanakah kalau tadi itu adalah pesta perkawinan, Ito?” “Kalau memang demikian maka ular itu seharusnja menjeberang djalan dari kanan dan bukan dari kiri” sahut Tialo dengan tjepat.
Major menghentikan rodanja dan memasuki rumah jang tertimpa kemalangan itu. Rumah itu masih termasuk daerahnja, dan sebagai pater familias dari rakjatnja, maka ia tidak boleh melewati “rumah susah” itu begitu sadja. Jang hadir segera berdiri dan memanggil tuan rumah jang tergesa-gesa keluar dan memegang tangan jang diulurkan oleh major dengan kuat-kuat. Salah seorang puteranja djatuh dari pohon aren sewaktu ditemukan orang dibawah pohon aren dalam keadaan sudah meninggal dunia. Demikianlah keterangannja kepada major. “Ia tidak diperkenankan lebih landjut lagi daripada disitu sadja”, lto”, kata major “apakah jang dapat kita perbuat sebagai manusia?”. Major duduk didepan medja dan menggulung rokok dari daun djagung dan tembakau jang sudah tersedia. Dengan sabar ia mendengarkan tjeritera-tjeritera tentang panen, kemudian memberi petundjuk disana-sini, dan achirnja meminta diri. Suami-isteri menghantarnja ke rodaveer untuk memberi hormat kepada keluarganja.
Sementara itu ia menjuruh orang kedapur untuk mengambil beberapa bambu jang sudah terbakar, kemudian diserahkan kepada Tialo dengan pesanan : “Untuk didjalanr”. Rondor mengetahui bahwa bambu itu terisi lauk-pauk jang telah dimasak menurut tjara dinegerinja.
Perdjalanan dilandjutkan. Iring-iringan roda bertambah pandjang sebab roda-roda jang memuat barang telah menggabungkan diri. Mereka merasa aman untuk pergi bersama-sama, kalau terdjadi hal-hal jang tidak diinginkan, mereka dapat saling bantu membantu. Sudah tentu Tialo dan Denan telah menjakinkan terlebih dahulu, bahwa mereka itu tidak berniat djahat. Ditempat istirahat jang sudah ditentukan, dekat sungai, mereka itu berhenti untuk makan malam. Sapi-sapi dilepaskan dari roda-roda dan penghalau-penghalaunja mentjari tempat jang ada tjukup rumputnja.
Denan dan Tialo memberitahukan kepada orang-orang jang telah menggabungkan diri itu, dengan maksud apa major mengadakan perdjalanan ini, dan inilah kesempatan baik bagi mereka untuk bertemu dengan keluarga major.
Didekat djembatan ada sebuah bangsal dari bambu jang dibangun chusus untuk musafir jang beristirahat. Didalamnja terdapat sebuah medja jang kasar dan bangku dari bambu pada kedua belah sisinja. Beberapa anak buah Denan harus membersihkan tempat itu. Kemudian makanan jang telah dibawa dan dibungkus dalam daun woka dan itu ditempatkan diatas medja, setelah medja itu ditutup dengan daun pisang jang baru dipotong dari pohon, sehingga merupakan taplak. Orang-orang jang sudah tua dari antara jang menggabungkan diri itu dipersilahkan untuk makan bersama. Major itu bertjakap-tjakap tentang ternak, panen, perairan, pendeknja perihal segala rupa jang ada hubungannja dengan usaha petani. Mereka itu mendengarkan dengan seksama dan kadang-kadang memberi tanda setudju atau mendjawab pertanjaan-pertanjaan jang diadjukan. Sudah larut malam major itu berdiri dan Denan memberi isjarat kepada anak buahnja untuk memasang sapi-sapi pada roda-roda. Perdjalanan dilandjutkan.
Terdengarlah njanjian jang sedih dari roda jang terachir. Itulah sebuah lagu dari pengembara-pengembara hutan, jang apabila mereka itu sedang mengembara diwaktu malam hanja mempunjai bintang-bintang dan gunung-gunung jang tinggi sadja sebagai pedoman. Djika suara itu menghilang didalam malam jang berbintang itu, maka lagu itu dilandjutkan lagi oleh jang lain, seraja menjelesaikan tjorak jang telah dimulai tadi itu.
Seperti biasa Rondor dengan tekun mendengarkan semua njanjian-njanjian itu, banjak jang telah difahami, tetapi djika ada terdapat sedikit perbedaan sadja atau ada lagu jang baru, maka ia segera menghafalkannja dan mentjoba menjanjikan lagu itu. Ia terpesona oleh gairah jang dirasakan oleh penjanji-penjanji : mungkin dengan tidak sadar dan menurut nalurinja. “Alangkah bagusnja”. Ia menangkap perkataan ibunja jang duduk didepannja, pada suatu bagian dari lagu itu. Dan Rondor mengetahui, bahwa ibunja telah mendengarkan djuga, sebab iapun dapat membedakan bagian jang baru itu.
“Orang jang dapat menjanjikan sebagus itu sudah tentu orang jang baik, ibu”, djawab Rondor. “Memang mereka itu demikian, nak”, kata ibunja, “dan ingatlah selalu kepada hal ini, apabila engkau sudah ada di negeri asing diantara orang-orang asing”.
Rondor tidak begitu memahami apa jang dimaksudkan ibunja, akan tetapi ia tidak mempunjai waktu untuk memikirkan itu. Perhatiannja tertarik lagi oleh suara jang baru. Suara jang menjanjikan pengembaraan Manimporok, jang dibimbing oleh seekor kerut lawuan, seekor burung laut, mentjari seorang puteri aror jang tjantik.
Pembahasan buku Dr. G.S.S.J. Ratu Langie: Indonesia in den Pacific. Kernproblemen van den Aziatischen Pacific, Soekabumi, 1 Juni 1937
Ekonomi Politik Asia Pasifik Pada Tahun 1937 dan Kecenderungannya di Abad XXI*
C.P.F. Luhulima
Bagi Dr. Ratu Langie, pada saat ia menerbitkan buku ini di tahun 1937, sudah terjadi suatu perpindahan modal yang sangat besar dari Eropa, yang merupakan pusat keuangan dunia pada masa itu, ke dunia Asia Pasifik. Kedua raksasa ekonomi, Amerika Serikat dan Jepang tidak perlu lagi berpaling ke pasar uang Eropa untuk kebutuhan modal mereka; mereka sendiri sudah menjadi negara kreditor sebagai akibat dari perkembangan industri yang sangat cepat. Dan perubahan ini, pergeseran pusat keuangan dari Eropa, dari Lautan Atlantik ke Asia Pasifik inilah bagi Dr Ratu Langie merupakan sebab terbentuknya suatu lingkungan ekonomi-politik yang baru, yaitu lingkungan Pasifik (de Pacific-sfeer). Dasar dari lingkungan baru ini ialah “New-York-Tokio” dengan perpanjangan ke Nanking dan Canton, “mencakup seluruh Lautan Teduh.” Lautan ini tidak teduh lagi karena sudah ramai dilalui oleh kapal-kapal dagang berbagai negara dan kapal-kapal perang Amerika, Inggris, Jepang dan Prancis.
Dari semua negara di Asia Pasifik ini Jepangplah merupakan eksponen yang paling menonjol, karena telah mengambil alih semua unsur dunia Barat untuk memodernisasikan dirinya dan dalam proses itu sekaligus berusaha untuk mempertahankan dirinya sebagai salah satu adidaya di samping dan setingkat dengan Amerika Serikat dan Inggris. Kekuatan militer Jepang yang telah dibangun, didukung oleh kekuatan ekonomi dan sosial yang telah terbangun pula. Untuk membangun kebesaran itu, Jepang mengandalkan angkatan darat dan laut yang kuat. Karena itu Ratu Langie menyebut Jepang sebagai eksponen utama atau kekuatan yang paling menonjol di Asia Pasifik ini.
Pemetaan Empat “Kompleks Kekuatan” Asia Pasifik
Dr Ratu Langie memetakan empat “kompleks kekuatan” ekonomi politik di kawasan ini, yaitu Kompleks Barat, Timur, Utara dan Selatan, yang sekaligus merupakan perimbangan kekuatan di kawasan Asia Pasifik pada waktu itu. Tiga kepentingan di kompleks Selatan ini ialah kepentingan Nederland, Inggris dan Perancis. Inggris merupakan kekuatan dengan kepentingan yang terbesar di kompleks ini, dengan kepentingan perdagangan di kota-kota besar Cina (Kanton, Shanghai dan Nanking). Pertanyaan bagi Dr. Ratu Langie ialah apakah Inggris dapat mengembangkan kekuatannya secara penuh di kawasan ini, karena berbagai hambatan yang terdapat di dalam Imperium Inggris itu sendiri – di India, Mesir, Irak, Palestina, Afrika Selatan dan Kanada, bahkan di Skotlandia, yaitu usaha-usaha untuk merenggangkan hubungan dengan Inggris, bahkan melepaskan diri darinya. (hal. 22-27) Hanya Australia dan Selandia Baru saja yang tidak memperlihatkan kecenderungan ke arah pembebasan itu.
Perancis berusaha keras untuk mengikat semenanjung Indo-Cina lebih erat ke negara itu, karena modal yang semakin besar yang ditanamkan di wilayah ini, yang tentu berarti peningkatan ketergantungannya kepada pusatnya di Eropa. Nederland sendiri sudah memperbesar penanaman modalnya di wilayah Indonesia dan karena itu menghendaki dukungan pemerintah yang pasti untuk mempertahankan kolonienya.
Dr. Ratu Langie melihat bahwa Perancis, Nederland, Inggris dengan appendix-nya Australia muncul sebagai satu kompleks kekuatan politik di Asia Pasifik. Dasar dari kompleks ini ialah alur yang mencakup Hongkong-Saigon-Singapura-Batavia (Jakarta)-(Soerabaya)-Balikpapan.
Kompleks Timur terdiri dari kepentingan Amerika Serikat sebagai inti dan mencakup seluruh benua Amerika. Pada satu pihak, Amerika menanamkan modalnya dalam jumlah yang besar di kawasan ini, tetapi pada lain pihak, penetrasi Jepang dan Cina merupakan masalah yang besar bagi Amerika Utara dan Selatan. Suatu imigrasi yang tidak terbatas orang-orang Jepang dan Cina berarti membolehkan suatu persaingan yang ketat dengan ras kulit putih, yang, “setelah berkali-kali dibuktikan” tidak dapat bersaing dengan energi dan kesederhanaan imigran dari kedua negara Asia ini. (hal. 32) Seluruh benua Amerika mengalami masalah “rasial-ekonomi” ini. Hal ini berarti bahwa Amerika tidak dapat mempertahankan doktrin Monroe yang menetapkan bahwa tidak satu kekuatan non-Amerikapun boleh ikut campur dalam masalah-masalah politik di benua Amerika dan sebaliknya, Amerika tidak boleh pula memcampuri urusan non-Amerika. Tiga kali Amerika Serikat melanggar doktrin ini: pertama, ketika Laksamana Perry di tahun 1853 dengan armada Pasifiknya memaksa Jepang membuka pintunya bagi perdagangan Amerika. Kedua, ketika Amerika Serikat berperang melawan Spanyol (1898) dan memperluas perang itu sampai ke teluk Manila dengan munculnya Laksamana Dewey dan armadanya dengan atau tanpa permintaan Aquinaldo yang memberontak terhadap Spanyol dan telah mengepung Manila. Pada perjanjian Paris (1899) Amerika Serikat mendapat Filipina dengan pembayaran sebesar US$20juta ke Spanyol. Ketiga, ketiga Amerika melibatkan diri dalam Perang Dunia I. Dengan pengalaman-pengalaman ini Amerika memutuskan untuk menarik diri ke dalam lingkaran Aleoeten-Kepulauan Hawaii-Terusan Panama dengan melepaskan Filipina sebagai “Achillespees van Amerika” sebagai penentu hubungannya dengan Jepang.
Kompleks Barat mencakup Jepang, Cina, Siam (Thailand), Manchukuo dan nantinya Filipina, dengan Jepang sebagai eksponen utama dalam kompleks ini. Tapi Dr. Ratu Langi bertanya apakah ada kesatuan dalam kompleks ini mengingat ketegangan dan konflik yang senantiasa terjadi antara Jepang dan Cina. Kendatipun demikian, Cina mengakui keunggulan Jepang dalam pengembangan sistem persenjataan modern dan dalam pengembangan lembaga-lembaga kenegaraan dan kemasyarakatan yang modern. Lagi pula, sejak perang Jepang-Rusia sudah ada hubungan intelektual dan batin antara Cina dan Jepang. Prinsip atau konsep “Asia Raya” yang dicetuskan Dr. Sun Yat Sen bermaksud untuk membangun suatu Liga Pan-Asia di bawah pimpinan Cina dan Jepang. Konsep ini kemudian diambil alih oleh Giichi Tanaka (1860-1929) dalam testamen politiknya. Dalam testamen itu dianjurkan agar supaya Jepang membuat aliansi dengan Cina untuk menjalankan suatu politik Asia, yang mendapat dukungan dari pemimpin-pemimpin Jepang lain seperti Inukai Tsuyashi (1855-1932), Ryohei Uchida (1874-1937), Koki Hirota (1878-1948) dan lain-lain. Bahkan salah seorang pemimpin dari pemerintah Kanton menyatakan bahwa pendekatan antara Cina dan Jepang harus didasari oleh testamen politik Sun Yat Sen. Dan hubungan harus memperluas perdagangan Jepang dengan Cina. Juga Jenderalimus Chang Kai Shek menyatakan dengan gamblang bahwa perbaikan hubungan Cina-Jepang sudah tiba saatnya menuju “stabilisasi Asia Timur.” (hal. 44)
Dalam konteks ini Jepang juga berusaha untuk menarik Thailand dari pengaruh Inggris dan Perancis. Sudah pada permulaan tahun 1936 Jepang melakukan pembicaraan dengan pemerintah Thailand untuk membangun terusan Kra, yang sampai kini masih saja menjadi terusan yang menarik untuk dilaksanakan. Apabila terusan ini sampai dibangun, maka arti Singapura bagi perdagangan dan pangkalan angkatan laut akan menurun. Pembangunan terusan Kra akan berarti pengurangan jarak sepanjang 600 mil bagi transportasi perdagangan dan pemindahan kekuatan angkatan laut Inggris, Perancis dan Nederland. Bagi Dr. Ratu Langie kompleks kekuatan Pasifik Barat ini yang mencakup Thailand, Cina, Manchukuo dengan Jepang sebagai kekuatan utama dapat bertindak sebagai satu blok. Baginya Filipina juga akan bekerjasama dengan Jepang. Dengan pengecilan ruang lingkup strategis Amerika Serikat dengan pembatasan pada Aleoeten-Kepulauan Hawaii-Terusan Panama, maka Kompleks Barat ini yang terdiri dari negara-negara Asia Pasifik yang dapat melebarkan sayapnya di lautan yang luas ini.
Kompleks Utara merupakan peta kekuatan terakhir yang dibahas Dr. Ratu Langie, yang terdiri dari Uni Sovjet. Usaha Rusia untuk mendapatkan pelabuhan air panas di Selatan dan membuat negara itu berperang dengan Jepang, yang berketetapan untuk menjaga kedaulatan Korea dan integritas Cina di Manchuria, tidak berhasil setelah angkatan laut Jepang di bawah pimpinan Laksamana Togo berhasil mengalahkan Rusia yang menjurus ke perdamaian yang ditengahi Presiden Theodore Roosevelt di Portsmouth (1905). Kekalahan Rusia ini merupakan “breakdown” prestise dunia Barat di Asia Timur dan Jepang menjadi kekuatan pemenang yang tidak tertandingkan di Asia Timur (dengan Amerika yang menarik diri di belakang garis imajiner Aleoeten-Hawaii-Panama). Kekalahan Rusia dari Jepang tidak membuat Rusia menarik diri dari Asia Pasifik. Ia kemudian melebarkan sayapnya melalui komunisme, yang tidak saja mengancam Cina, melainkan juga Inggris dan Amerika.
Kecenderungan Ekonomi di Asia-Pasifik
Pemetaan politik Dr. Ratu Langie ini kemudian dilengkapi dengan pemetaan kekuatan ekonomi di kawasan Asia Pasifik. Dasar dari pembahasan kecenderungan ekonomi ini ialah suatu konferensi yang diprakarsai Institute of Pacific Relations (yang didirikan di tahun 1927) yang diadakan di Yosmite National Park di Kalifornia di tahun 1936. Konferensi mengetengahkan ekspansi Jepang di pasar dunia. Topik ini dipilih karena Jepang menghadapkan dunia dengan suatu masalah ekonomi yang baru, yaitu perkembangan industrinya sesudah Perang Dunia I dan keharusannya untuk mengekspansi ekspornya. Orientasi ekspor Jepang membuat produk-produk yang berlabel “Made in Germany” yang tadinya menggusarkan para industrialis Inggris digantikan oleh hasil produksi industri dengan label “Made in Japan,” yang menembus hampir semua negara di dunia, “juga di sana di mana dahulu tidak ada kebutuhan akan produk-produk industri.”
Tahun 1868 tidak saja merupakan titik balik politik bagi Jepang, melainkan juga titik balik ekonomi negara itu. Tahun itu modernisasi Jepang mulai dengan melandasi ekonomi Jepang dengan sistem keuangan modern. Tahun 1882 Bank Jepang dibentuk sebagai bank sentral. Muncullah empat klan kapitalis: Mitsui, Mitsubishi, Sumitomo dan Kawasaki. Dengan keluarga kekaisaran Jepang terdapat lima klan yang membangun ekonomi Jepang secara besar-besaran. Negara kemudian membangun infrastruktur transportasi, pertambangan dan industri dengan Yokohama Speciebank yang dibentuk tahun 1887 untuk membiayai perdagangan luar negeri Jepang. Lengkaplah sudah infrastruktur perdagangan luar negeri Jepang. Lengkaplah sudah infrastruktur perdagangan luar negeri Jepang.
Yang sangat penting bagi modernisasi ekonomi Jepang dan perluasannya ialah peran pemerintah yang sangat sentral dalam pengembangan ekonomi yang berorientasi ekspor sejak Restaurasi Meiji. Negara merupakan lembaga yang paling penting dalam pembangunan ekonomi di abad yang lalu, dan peran negara tidak pernah ditinggalkan dalam pengembangan dan pertumbuhan ekonomi sampai sekarang. Memang, elit Jepang di zaman Meiji mengakui bahwa kebijakan industri sebagaimana ia dipraktekkan oleh Alexander Hamilton dan Bismarck dan dikumandangkan oleh Friedrich List lebih siap diambil alih posisi ekonomi Jepang daripada teori laissez faire Adam Smith. (Lihat Ian Austin, Pragmatism and Public Policy in East Asia: Origins, Adaptations and Developments, Singapore: Fairmont International Private Limited, 2001, hal 12 ff) Perkembangan ini sangat berbeda dengan Cina di mana pertumbuhan ekonomi dipegang sektor swasta, karena pada waktu itu Cina memang mengalami kekacauan dalam negeri yang diperparah oleh intervensi negara-negara Eropa yang tidak dapat dihindarinya sehingga pembentukan pemerintah pusat yang kuat tidak dapat dilakukannya. Tidak ada otoritas pusat yang kuat yang dapat mempersatukan berbagai kekuatan masyarakat dalam negeri serta menyusun rencana pembangunan ekonomi dan pelaksanaan rencana itu, yang berorientasi ekspor pula. Kendatipun demikian, pemerintah nasional Cina mendorong pengembangan “industri-industri kunci” seperti pabrik mesin, dan pabrik-pabrik besi, baja dan amoniak. Perkembangan Cina yang lamban ditakutkan merupakan sebab bahwa Jepang akan mengembangakan imperialisme di dan agresi ke negara itu. Hal ini merupakan topik yang populer dalam literatur Inggris, bahwa Cina akan menjadi korban “politik kontinen Jepang, ekspansi industri Jepang ke Cina dan bantuan keuangan dan pinjaman ke Cina. Dr. Ratu Langie berpendapat bahwa “ekspansi” Jepang ke daratan Cina tidak terhindarkan karena kedekatan geografi Jepang dibandingkan dengan kekuatan-kekuatan Eropa, terutama Inggris. Cina memang terlalu sibuk, tulisnya, dengan masalah-masalah dalam negeri untuk secara efektif menghadang capmpur tangan langsung dunia luar ke dalam masalah-masalah dalam negerinya. Baru dalam tahun 192, dengan Perjanjian Sembilan Negara di Washington kedaulatan Cina diperkokoh kembali.
Perkembangan dan ekspansi Jepang, bagi Dr, Ratu Langie, adalah akibat dari industrialisasinya yang berhasil merupakan unsur yang paling aktif dalam – untuk menggunakan istilah dewasa ini – ekonomi politik internasional. “Suatu bangsa industrial hidup pada tingkat materiil yang lebih tinggi daripada bangsa agraris. Pengusaha, pemimpin dan tenaga kerja industrial secara intelktual lebih dinamis daripad tuan tanah dan petani. Pertarungan untuk merebut pasar dunia pada instansi pertama adalah pertarungan pusat-pusat industri untuk menjual hasil produksi mereka secara sangat menguntungkan.” Kemudian, baginya, industri itu terjaring dengan penemuan-penemuan “psycho-technis” jaman modern, dengan perkembangan lanjut dari intelek manusia. Bahkan kita dapat mengatakan, lanjutnya, bahwa industri adalah produk dari kemajuan intelek manusia. (hal. 86) Industri tidak akan tercipta tanpa penemuan-penemuan ilmu fisika dan teknik abad 19 dan 20.
Industrialisasi Jepang sudah mencapai tingkat yang sangat tinggi yang diikuti Cina walaupun dalam gerak yang lebih lambat. Thailand dan Filipina sudah mengambil langkah pertama ke arah itu, meskipun masih terkonsentrasi pada kegiatan agraris. Negara-negara kolonial di Asia Tenggara masih terkonsentrasi pada pertanian. Dr. Ratu Langie mengutip Tadao Yamakawa, penasehat perjanjian internasional pada Kementerian Kelautan Jepang, yang menulis dalam Pacific Affairs (1936) bahwa Cina dan India akan mengikuti langkah industrialisasi Jepang. India sudah disebut sebagai suatu kekuatan industri potensial (hal. 88), negara yang kini kita masukkan juga dalam ekuasi kekuatan industri di kawasan Asia Pasifik.
Dr. Ratu Langie kemudian membagi Asia Pasifik ke dalam dua bagian: yang Utara yang industrial aktif dan yang Selatan yang agraris dan secara internasional pasif. (hal. 91)
Perimbangan Politik di Asia Pasifik
Dr Ratu Langie memulai sub-bab ini dengan pembukaan paksa Cina bagi perdagangan Eropa dan Amerika, yang dimulai dengan perjanjian Nanking (1842) dan Boca Tigris (1843), dan sekaligus masuknya kegiatan ekonomi-politik yang tidak terbendung. Satu perjanjian mengikuti yang lain: Hongkong menjadi wilayah Inggris; Kanton, Shanghai, Amoy, Foochow dan Ningpo menjadi pelabuhan dengan kediaman orang-orang asing yang menentukan peraturan di sana; Cina dibagi-bagi dalam daerah-daerah pengaruh sehingga dia merupakan suatu koloni. Inspektur dan penasehat asing menentukan apa yang harus dilakukan orang-orang Cina. Negara ini menjadi korban dari ekspansi perdagangan negara-negara Eropa sebagai akibat dari perkembangan industri Eropa Barat. Ketiadaan energi dan kekuatan, sebagai akibat dari runtuhnya otoritas pusat untuk menghadapi penetrasi ekonomi dan politik membuat Cina sebagai tempat penampungan surplus produksi semua negara industri Eropa Barat dan Amerika. Cina menjadi suatu negara di mana wakil-wakil negara-negara Eropa Barat dan Amerika kadang-kadang berintrik satu dengan lain, dan kadang-kadang bersama-sama membagi-bagi keuntungan dari perdagangan mereka melalui berbagai perjanjian. Cina, bagi Dr. Ratu Langie, menjadi eksponen penderitaan (exponent van lijdelijkheid) bagi kegiatan politik dan ekonomi negara-negara Barat di Asia Pasifik. Dan penderitaan Cina menjadi sangat menonjol karena penetrasi Barat terjadi ketika negara itu mengalami krisis yang mendalam yang berakhir dengan revolusi politik yang merubah Cina dari suatu kerajaan menjadi suatu republik. Lain halnya dengan Jepang yang dapat memanfaatkan penetrasi Barat untuk memodernisasi diri di bawah pimpinan negara dan politisi Jepang sendiri.
Kekuatan-kekuatan asing yang bermain di Asia Pasifik ini telah membagi kawasan ini dalam negara-negara kolonial di sebelah Selatan, negara-negara yang berdaulat di Utara dan negara-negara semi-kolonial di antara kedua lapisan itu, Thailand, Filipina dan Cina. Situasi di Asia Pasifik yang pertama ialah penetrasi ekonomi dan politik negara-negara bermodal. Penetrasi yang mulai dari Selatan oleh “geoctrooide compagnieen,” melalui kepulauan Indonesia ke Utara merupakan dasar dari penetrasi politik ke kawasan Asia Pasifik. Di abad 19 negara mengambil alih tempat “geoctrooide compagnieen” ini. Kemudian, negara-negara Eropa Barat merasakan betapa pentingnya kawasan ini sebagai pasar bagi gelombang industrialisasi dan sebagai wilayah bagi modal yang terus bertambah. Arus masuk metoda politik dan ekonomi membangkitkan kesadaran akan pemikiran Barat di antara bangsa-bangsa Asia. Di Selatan Asia Pasifik kesadaran ini paling lemah, karena masih hidup di bawah penjajahan. Semakin ke Utara, semakin kuat kesadaran ini, yang mencapai puncaknya di Jepang, dengan daya tahan yang terorganisasi secara berencana terhadap penetrasi kepentingan asing.
Arus pengaruh yang ketiga bagi Dr. Ratu Langie ialah Moskou. (hal. 106) Stalin pernah mengeluarkan kalimat perjuangan ini: Kita harus memerangi sistem kapitalisme dunia di titiknya yang paling lemah, dan itu adalah di Asia. Langkah berikutnya ialah penyusupan organisasi-organisasi nasional dan pembelokan gerakan-gerakan ini ke arah komunisme. Hal ini tampak di Cina, di mana pengaruh Moskou masuk sampai kepada pimpinan tentara tertinggi. Arus bawah komunisme ini harus membendung penetrasi kapitalisme Barat dan gerakan-gerakan nasional di negara-negara yang dijajah.
Jadi, bagi Dr Ratu Langie, ada tiga gerakan politik yang berusaha untuk menguasi kawasan Asia Pasifik: penetrasi negara-negara kapitalis Eropa dan Amerika; gerakan nasionalis negara-negara kawasan ini yang muncul sebagai akibat penetrasi Barat itu sendiri dan “propaganda komunis” yang disebarkan Uni Sovjet. Gerakan komunisme ini ditujukan terhadap negara-negara Barat dan karena itu akan memperlihatkan kedekatan dengan gerakan-gerakan nasional, tetapi dalam perkemb angan lanjutnya harus menghadapi gerakan nasional pula karena mereka ini menerima kapitalisme bagi negara mereka yang akan merdeka kelak. Dr. Ratu Langie berpendapat bahwa negara-negara kapitalisme Barat sebaiknya bekerjasama dengan gerakan-gerakan nasionalis, karena gerakan-gerakan ini, apakah itu di Cina, Filipina atau Indonesia, ingin mempertahankan prinsip kapitalisme. Mereka hanya menentang penguasaan kapitalisme modern dan eksploatasi sumber daya negara-negara yang dijajah oleh negara-negara Barat.
Dan kini telah menjadi jelas, tulis Dr. Ratu Langie, bahwa ini adalah suatu tawaran bagi negara-negara kapitalis Eropa Barat, bahwa kepentingan suatu bangsa lebih jauh jangkauannya daripada hidup generasi yang sekarang ini saja. Betapa sering sudah dikonstatasi oleh para sejarawan bahwa suatu tindakan yang berjangka pendek, yang pada saatnya dianggap sebagai kebijakan politik yang canggih, membelokkan sejarah suatu bangsa secara menyedihkan, yang tidak dapat diperbaiki lagi. (hal. 109)
Akhirnya, aliran keempat yang dikemukakan ialah Pan-Aziatisme. Ia muncul dari kehendak pertimbangan rasional gerakan-gerakan anti-penetrasi Barat, yang tersebar di berbagai negara Asia Pasifik, untuk menggabungkan diri. Bahwa Jepang merasa terpanggil untuk memimpin gerakan bersama ini tidak perlu diperdebatkan lagi. Ajaran Dr. Sun Yat Sen yang bertema Prinsip Asia Raya dan direkam dalam testamen Giichi Tanaka menyesuaikan Pan Aziatisme itu ke dalam konsep Nieuw Aziatisme. Konsep ini bersumber pada pemirkian bahwa permasalahan-permasalahan Asia mempunyai satu akar utama, yaitu pertemuan antara arus politik, ekonomi dan budaya Timur dan Barat. Ide “Nieuw Aziatisme” ini diluncurkan seorang mahasiswa Korea Kwan Yong Lee di tahun 1918-1920. Kwan Yong Lee merumuskan Aziatisme Baru ini sebagai dinamika bangsa-bangsa Asia, sebagai akibat dari pertemuan mereka dengan dunia Barat dan asimilasi ilmu pengetahuan dan ideologi Barat, yang mencapai “kesempurnaannya” di Jepang. (hal.111) Jepang menjadi contoh modernisasi tokoh-tokoh mahasiswa dan pemimpin Asia, tidak saja Kwan Yong Lee, tetapi juga bagi Dr. Ratu Langie sendiri, yang bagi Daniel Dhakidae, sudah “melangkah satu langkah ke depan dibandingkan dengan Soekarno dan Thamrin yang juga secara serius mempersoalkan masalah Pasifik. (Daniel Dhakidae, Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangi, “Pijar-Pijar Bintang Kejora dari Timur,” dalam J.B. Kristant (ed.), Seribu Tahun Nusantara, Jakarta: Kompas 2000, hal. 649-50)
Dengan demikian, Dr. Ratu Langie melihat bahwa tiga aliran pemikiran dengan ramifikasi politik bermain di kawasan Asia Pasifik, aliran kapitalisme Barat yang terus “menggempur” kawasan ini, yang membangkitkan aliran penentangnya, yaitu Pan-Aziatisme atau “Nieuw Aziatisme” dan yang tidak kurang kuatnya ialah komunisme yang bersumber di Moskou. “Ini adalah pertarungan ide atau paham, yang besok lusa mencari penyelesaiannya dalam konflik bersenjata, kecuali terlahir suatu aliran yang lebih kuat yang mendominasi aliran-aliran ini dan memaksa pemimpin-pemimpin untuk tunduk kepada kemauan damai seperti yang terjadi dalam tahun-tahun pertama sesudah Perang Dunia I dengan pembentukan Liga Bangsa-Bangsa.” Tetapi Dr Ratu Langie sendiri tidak yakin bahwa suatu penyelesaian semacam ini akan terlaksanakan di Asia Pasifik, karena muncul dan meluasnya suatu konsentrasi kekuatan internasional, yang terdiri dari negara-negara industri yang tidak mempunyai koloni. Kekuatan-kekuatan ini akan memaksa suatu pembagian kembali koloni-koloni. Jepang, yang begitu diagungkan Dr. Ratu langie, sebagai contoh negara-negara Asia Pasifik untuk menghadapi kekuatan Eropa, termasuk dalam kekuatan-kekuatan perebut ini di samping Jerman, Italia dan Polandia. Karena itu ia sangat mengharapkan bahwa ada suatu kekuatan di atas semuanya yang dapat membalikkan arus pembagian kembali ini. (hal. 114)
Indonesia di Pasifik
Dalam bab tentang Indonesia di Asia Pasifik, Dr, Ratu Langie mulai dengan pembahasan nilai strategis negara ini – walaupun masih dijajah – yang sangat tinggi, sebagai negara konsumsi, negara penyedia bahan baku dan negara investasi. Dengan berbagai statistik ia memperlihatkan nilai strategis di ketiga bidang itu. Baginya Indonesia dapat mempunyai arti yang sangat penting bagi ekonomi dan politik dunia, dari segi geografo-economisch, sebagai posisi kunci dalam lalu lintas dunia; geo-economisch dengan kekayaan alamnya; socio-economisch, karena penduduknya yang bersedia bekerja dengan upah rendah tetapi sekaligus sebagai konsumen hasil-hasil produksi industri; klimatologisch; finansial. Kendati keunggulan-keunggulan ini, Indonesia merupakan unsur-unsur pasif dalam kepentingan dan kegiatan internasional.
Neranca pembayaran Hindia Belanda telah memeprlihatkan perlakuan yang diterima Indonesia dari penguasa kolonial. Walaupun perdagangan Hinda Belanda selalu positif (1930-1935), yang lebioh menentukan posisi Indonesia ialah neraca pembayaran. Aliran uang yang masuk melalui perdagangan tidak seimbang dengan aliran uang yang keluar: uang yang masuk keluar dengan sama derasnya.
Instede van toevloeing van geld in Indonesia is er afvloeing uit dit land naar de Westersche kapitaalslanden. De verklaring van dit feit zit hierin, dat the productiefuncties met uitzondering van de coprah, inheemse rubber en inheemsche thee, geheel gedreven wordt door buitenlandsch kapitaal-initiatief.
Karena itu tidak ada pembentukan modal di Indonesia. Hal ini sangat berbeda dengan keadaan di India. Industriawan Tata, “yang kekayaannya dinilai sebesar f32 juta, memiliki lebih dari duakali kekayaan dibandingkan dengan 60 juta rakyat Indonesia secara bersama.” (hal. 132) Modal ini tidak berakar di tanah ini baik secara rasial, kultural dan ideologis-politis. Karena itu Indonesia merupakan “tanah jajahan modern yang semurni-murninya.” (hal. 134; Lihat juga Daniel Dhakidae, Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangi, “Pijar-Pijar Bintang Kejora dari Timur,” hal. 631-659)
Sebagai akibat dari alasan-alasan yang disebutkan di atas, Indonesia menarik perhatian dari upaya pembagian kembali koloni-koloni yang mencuat di tahun 1936 itu. Yang menarik perhatian dalam pembagian ini adalah koloni-koloni Belgia, Portugal dan Nederland. Bahkan ada isyu pembagian Hindia-Belanda antara Jerman dan Jepang. Jawa, Sumatra dan Papua akan menjadi koloni Jerman, sedangkan Kalimantan, Sulawesi dan Indonesia Timur lainnya menjadi koloni Jepang. Tetapi Dr. Ratu Langie sadar bahwa ungkapan ini hanya isyu belaka, walaupun pemunculannya mencerminkan adanya pemikiran ke arah itu.
Pemikiran-pemikiran tentang kedudukan Indonesia dalam buku ini dengan sendirinya menimbulkan pertanyaan apakah posisi ekonomi yang merugikan ini harus dipertahankan. Tapi Dr. Ratu Langie tidak memberikan jawaban atas pertanyaan ini di sini.
Het antwoord op deze vraag valt echter buiten het bestek van dit werk; wij hebben ons enkel to opgave gesteld een overzichtelijk samenvatting te geven van de vraagstukkun, waarom het gaat. (hal. 134)
Mungkin sekali jawaban-jawaban ini dia berikan dalam Nationale Commentaren, yang diterbitkannya pada 8 Desember 1937, enam bulan sesudah penerbitan buku ini. (Lihat Dhakidae, Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangi, “Pijar-Pijar Bintang Kejora dari Timur,” hal. 650-51)
Tinjauan Penutup
Pertanyaan yang diajukan kepada penulis ialah apakah hidupnya kembali rasa kebangsaan yang telah kita catat di mana-mana di sekitar kita dapat diberikan tempat di dalam skema ekonomi politik Asia Pasifik? Bagi Dr. Ratu Langie, pergerakan nasional di berbagai negara tidak dapat dilihat secara terpisah-pisah. Gerakan-gerakan itu adalah penampilan sepotong-sepotong dari garis kekuatan umum yang sudah dibahas dalam bab-bab sebelumnya, yaitu reaksi besar-besaran bangsa-bangsa Asia Pasifik atas penetrasi ekonomi politik terus-menerus oelh negara-negara industri Eropa dan sebelumnya Amerika Serikat.
Marilah kita batasi diri pada Indonesia; di sini pun terdapat arus perlawanan nasionalis, yang terwujud dalam berbagai organisasi nasionalis, yang menentang ideologi imperial Nederland. Kata-kata keras terdengar di kedua kubu. Secara psikologis kata-kata itu sampai tingkat tertentu dapat difahami. Tetapi kendatipun demikian, adalah tugas para pemikir dan pemimpin kedua bangsa untuk menemukan pemikiran-pemikiran yang konstruktif, yang mencakup keserasian antara Timur dan Barat.
Orang tidak hanya menerima apa yang sudah terjadi sebagai titik tolak, melainkan juga apa yang sedang terjadi yang sudah tergoreskan dalam kemunculan Hari Esok di Timur. (hal. 148)
Reaksi yang keras yang ditunjukkan kepada kolonialisme negara-negara Eropa tidak menghindarinya dari pengakuan bahwa ekspansi bangsa-bangsa Eropa – bersama-sama dengan De Kat Angelino – sebagai suatu suratan untuk mengeluarkan bangsa-bangsa di bagian-bagian dunia lain dari isolasinya untuk memenuhi perannya dalam sistem ekonomi dan konstelasi politik dunia yang dicaiptakannya.
Kebesaran jiwa Dr. Ratu Langie dan pejuang-pejuang kemerdekaan lainnya, seperti Soekarno, Hatta, Sjahrir, dan lain-lain, yang memrakarsai pembentukan Republik Indonesia, bersumber dari pengakuan bahwa perkembangan intelektual bangsa-bangsa Eropa memang merupakan modal utama untuk membangun bangsa dan negara Indonesia menuju kawasan Asia Pasifik yang damai dan sejahtera.
Jakarta, 28 Mei 2004
* Bahan ceramah untuk Acara Diskusi yang diselenggarakan Yayasan Indonesia di Pasifik, Taverna Kebagusan, Jalan Kebagusan I No. 4, Jakarta Selatan, 29 Mei 2004 (UN-EDITED RELEASE)
Uploaded 13 June 2004, by Dr. M. Sugandi-Ratulangi at geocities and Uploaded at Laniratulangi’s WordPress Blog: 14 february 2010