Anak2 dan Cu4 berlibur ke Nusa Penida dan Uluwatu

Enak ya jalan2 berlima sekeluarga…….

Di NUSA PENIDA

Di ULUWATU, Bali

Menyaksikan pentas RAMAYANA di Uluwatu

Penonton sampai 1.00 orang lebih…..

Hanoman KEREN !

Hanoman ditangkap namun dapat selamay ……..

Penonton dari aneka bangsa……..

….. dan juga anak cucuku……..

Demikianlah foto2 yang diterima dan aku menjaga rumah bersama Madja……..

DIES NATALIS UNSRAT ke-57, Bagian ke II

21 November 2018

Acara Perkenalan.

Sehari sebelum Acara Puncak, kami diundang oleh REKTOR UNSRAT,. Ibu Prof. Ellen Kumaat untuk berkenalan dengan para DEKAN FAKULTAS2 UNSRAT sambil menikmati makan siang direstoran pinggir laut. Acara sangat meriah dan menyempatkan pula agar ilmuwan2 yang pintar mengayunkan dendang aneka ritma menghibur kita semua……







Kalo mo ba-selfie samua senang…..

ALBUM aneka foto Dies yang lain aku temukan

SELAMAT HARI NATAL dan SELAMAT TAHUN BARU
Setelah Arara Resmi selesai


DIES NATALIS UNSRAT ke 57, Bagian ke-1

22 November 2018

Alangkah berbahagianya saya sewaktu menerima UNDANGAN untuk menghadiri Dies Natalis ke-57 Universitas Sam Ratulangi (UNSRAT). Ini adalah satu kehormatan bagi saya diundang dan menyampaikan beberapa patah kata. Dibawah ini berbagai foto beserta keterangannya.

Foto lengkap yang memperlihatkan segenap panggung lengkap..






Sesuai acara maka ini adalah aku lagi ber”pidato”

Ternyata podest yang disediakan terpaksa harus saya tinggalkan agar dapat melihat apa2 yang diproyeksi

 Gubernur SULUT Bpk Olly Dondokambey menyampaikan sambutan

Suasana di Aula UNSRAT


Setelah bagian resmi selesai maka digelar  Acara Tiup Lilin dan Makan Siang bersama

Pada kesempatan itu maka saya teringat akan satu permohonan yang pernah didiskusika antara keluarga anak2 keturunan SAM RATULANGIE yang adalah sebagai berikut: Alangkah indahnya jikalau diarea Makam dan Monuman di Tondano disediakan satu perpustakaan dimana diupayakan agar segenap tulisan2 dari Sam Ratulangie dikumpulkan agar dapat dibaca oleh masyarakat luas.  Disamping itu koleksi buku2 pribadi dari anak dan cucu dapat dikumpulkan pula ditempat itu

Misalnya nama perpustakaan ini:

                                                PUSTAKA SAM RATULANGIE,                        PUSAT DATA DAN INFORMASI ILMIAH, TONDANO

Perpustakaan ini dikelola oleh seorang pustakawan profesional yang siap melayani berbagai permohonan informasi, baik yang ada ditempat maupun yang ada di perpustakaan lain didalam dan luar negeri melalui internet. Disamping itu akan diperlukan pula layanan audio-visual untuk kunjungan berkelompok.

Yang sangat membahagiakan saya adalah bahwa taggapan Bpk. Gubernur secara spontan adalah bahwa beliau setuju dengan permohonan yang kami ajukan ini, Bahkan ternyata bahwa setelah beliau meninggalkan Acara Dies, langsung menelpon kepada kami agar segera menemui Bupati Minahasa, Bpk. Ir. R.O.Roring yang kebetulan berada di Kantor Gubernur untuk memberi follow up atas persetujuan yang tadinya diberikan.

Maka oleh karena itu kami dengan diantar oleh Bp. Pankie Pangemanan segera berangkat ke kantor Gubernur dab menemui Bpk Bupati dan Wakil Bupati diruang tamu Gubernuran seperti dapat dilihat di foto2 berikut.

 

Ternyata Bpk Bupati dan Wakil Bupati sedang didepan gedung bercakap2 dengan para wartawan waktu kami tiba.
 
Agar tidak bertele2maka kami berkumpul di ruang pterima tamu Gubernuran untuk memulai diskusi

Saya sangat terkesan akan perhatian serius yang diberikan oleh kedua Bapak2 Pejabat Kabupaten Minahasa.

Hal ini tentu sangat menggembirakan bagi saya.

Monumen dan Makam Sam Ratulangie difoto dari atas.

Waktu kembali ke Jakarta maka langsung kami kabarkan berita indah yang membahagiakan kami semua kepada para saudara2 anak cucu SAM RATULANGIE> 

BAGIAN ke-II menyusul selekasnya.

NUSA PENIDA (keindahan negeriku yang masih tersembunyi )

Dibulan Mei kemarin, cucuku EWALDO yang sedang bekerja dinegeri dewata punya ide untuk jalan2 bersama kawan2 sekerjanya berpetualang dengan backpack.

Tujuannya adalah NUSA PENIDA. Dan seperti kata orang ………. BEAUTY needs no words! Maka dibawah ini foto2 yang ia buat dan kirim ke kami sekeluarga………..

img-20180415-wa0002img-20180415-wa0004img-20180415-wa0001img-20180415-wa0005img-20180415-wa00031

By GA 627 from MANADO to JAKARTA, May 2nd 2018

Waiting to check in at the GARUDA counter.
On the left side the over crowded Lion Air Check in counter….. .

THE SINGLE SENIOR TRAVELER

Traveling has always been my enjoyment. When at previous times active as a professional, later as a senior couple…… It was always exciting. I have written various postings about my experiences…… However now it is different…. Being 85 years old it need some technical adaptations. But the spirit is still high.

Now I am waiting for the counter to open be able to deliver and receive my luggage tags of which I have two pieces. Silly girl. This should be a lesson for me the next time’

My fellow travellers from Manado to Jakarta includes (I guess) a group of Chinese schoolgirls. Also 6 young cadets i suppose going for a training course.

It did not took long or the girls asked for an opportunity to be able to make a picture with the young men. And I enjoyed to see that young people apparently are the same not depending on race or ethnicity.

Sam Ratulangie Airport Gate 1

Chinese schoolgirls posing with a group of cadets.

A SMALL INCIDENT

wp-1525445154152..jpeg
My e-ticket and boarding pass

After safe arrival at home in Jakarta and 2 days of rest I remember that I want to write about something that happened to me on this flight. Although I have traveled around a lot both to domestic as well as overseas destinations, but my experience during this flight was quite unique so that I thought that I have to add it to this posting.

Upon takeoff I had a look at the beautiful new movie by Disney – PIXAR about little Miguel and his guitar. I had my dinner, and my plate was taken away and I became fully absorbed in viewing the movie. Suddenly one of the many female flight attendants came rushing passed my aisle seat and smacked down, without any comments. 3 plastic packages on my still open table.

I inspected the packages and found out that each of them contained a bun that seemed stale because it showed a few light green and red coloration that is a sign of the buns being not too fresh.   I waited a while to see if the other passengers were also been given the same “bonus”, but that was not the case. I therefore called another (still rushing around) female attendant and gave her the three buns whilst asking her why I was given this non-requested present, also saying that I did not asked for it and also do not want it. I also said that the way in which the he buns were smacked down on my table was not polite and a sign of bad manners. I asked her to report this incident to her superiors, which she did.

Soon the purser came and I reported the happening. He offered his excuses but the expression on his face did not appear to be too sincere, rather having a bit of fun having to offer his apology, which shows me to be more of a defensive reaction than of truly being sorry of the happening. This observation I also made of the over polite request by the other flight attendant on their apologies, that was bordering to cynicism of having to put a formal excuse to what happened.  

Anyway I said that it is indeed shameful for a passenger who, after all, has paid money for the flight, to be treated this way by a flight attendant.

Hopefully this little affair can get the attention way up to the people in charge with educating the flight attendants to teach them that the customers are STILL KING, and should be treated at least politely.

After a few years I see that the last part was gone sothout any explanation. OK anything might have happened and I will cbeck it out later

Perjuangan Ketujuh Tokoh Pergerakan Kebangsaan di Makassar dan Serui (Yapen) 1946 – 1948

serui7

Oleh : Ir. Zainuddin Daeng Maupa *)

disampaikan pada peringatan Syukuran Sarasehan Makassar Serui (SSMS96) di Ujung Pandang , 30 Juli 1996, dalam rangka mengenang 50 tahun pembuangan ketujuh tokoh pergerakan kebangsaan Makassar ke Serui, Yapen, Irian Jaya oleh penjajah Belanda

PROLOG

SEKELUMIT Sejarah dalam upaya mempertahankan persatuan INDONESIA seutuh2nya 
Pada suatu saat beberapa tahun lalu (2011 barangkali) waktu kakak saya Emilia Augustina Pangalila-Ratulangie berkunjung ke Minahasa saya bertanya padanya satu hal yang sudah lama ingin saya tanyakan : MENGAPA SEBENARNYA KELUARGA KAMI (kecuali Emilia Augustina Pangalila-Ratulangie} ditahun 1942 ramai2 berpindah ke Makassar?….. khan sudah enak2 di jakarta tinggal dirumah besar di van Heutz Boulevard (sekarang Jl. Teuku Umar) lalu jawabnya sbb. Semenjak awal pecah PD II maka Sam Ratulangie bersama sahabat paling kentalnya yakni Oom Alex Maramis mengamati seluruh perkembangan pendudukan Indonesia oleh Tentara Jepang, diman ternyata tentara Jepang menggunakan pola pembagian area sbb.Bagian Barat Indonesia akan diduduki RIKUGUN (Angkatan Darat jepang) sedangkan Bagian Timur akan dikuasai KAIGUN (Angkatan Laut Jepang). Sam dan Alex menganalisa bagaimana akibat NANTI di masa depan dari pembagian ini. Kata kakak saya mereka telah berfirasat bahwa kalau ini dibiarkan saja maka ujung2nya akan terjadi pembelahan Indonesia menjadiDUA.bagian yang bebas-lepas. Adanya organisasi KRIS (Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi ) yang didirikan oleh kedua tokoh ini bersama kemudian menyesuaikan strateginya dgn visi baru dengan pimpinan sbb. Misi kelompak yang ke TIMUR dipimpin Sam dkk, Sedang misi kelompok KRIS yang tinggal tetap ditumbuh kenbangkan dpp Alex Maramis (Silahkan lihat didokumen2 KRIS) tentang kedua “spiritual leaders” ini yang kedua2nya memang sangat HEBAT !!!! Demkian keterangan yang saya peroleh dari kakak saya Emilia Augustina Pangalila-RatulangieTERIMA KASIH. 4 April 2017

PENDAHULUAN

Dalam mengenang kembali peristiwa yang terjadi di Sulawesi Selatan dan Serui ± 50 tahun yang lalu, perkenankanlah kami untuk menjelaskan peranan ketujuh tokoh pergerakan / pemimpin itu di Makassar. Melalui sarasehan ini, kami mendekati latar belakang pergerakan di daerah ini, tanpa maksud meremehkan dan atau membesar – besarkan peran beliau – beliau.

Kami mencoba mendekatinya melalui publikasi yang ada, apa yang kami dengar dan ataupun alami langsung, karena untuk bagian – bagian tertentu kami ikut turut berperan didalamnya melalui cara seobyektif mungkin.

Selanjutnya atas kepercayaan dari keluarga penerus ketujuh tokoh ini dalam menyusun uraian ini pada tempatnya kami mengucapkan banyak terima kasih. Dan bila terdapat kekurangan didalamnya terbuka untuk dikoreksi.

PERANAN DR. G.S.S.J. RATULANGIE DKK DI MAKASSAR

Sejalan dengan kebijaksanaan pemerintah pendudukan Jepang (RIKU – GUN) di Jakarta, oleh pihak MINSEI-FU (KAI-GUN) di Makassar, sejak awal pendaratan tentara Jepang disini, telah merangkul Lanto Daeng Pasewang, H. Sewang Daeng Muntu, M. A. Pelupessy, Tio Heng Sui dan H. Nusu Daeng Mannangkasi sedangkan Nadjamuddin Daeng Malewa diangkat menjadi Walikota Makassar pada bulan Mei 1945, melalui wadah : SYUKAI-GIIN, merupakan Badan Penasehat Penguasa MINSEI-FU.

Pada akhir tahun 1944, tiba dari Jakarta rombongan DR. Ratulangie, Pondaag dan Tobing, kemudian menyusul Mr. Tajuddin Noor dan Mr. A. Zainal Abidin.

Kehadiran beliau – beliau dimaksud untuk memperkuat barisan pro kemerdekaan segera beliau tiba di Makassar, maka wadah diatas berganti nama : SUMBER DARAH RAKYAT (SUDARA) dalam bahasa Jepang : KEN KOKU DOSIKAI. Wadah ini dipimpin oleh Lanto Daeng Pasewang, A. Mappanyukki dan Mr. Tajuddin Noor, sebagai akibat kekalahan demi kekalahan yang dialami pihak Jepang di kepulauan Solomon.

Wadah ini berkembang pesat, meliputi seluruh potensi perjuangan di Sulawesi Selatan, serta merupakan mantel organisasi binaan tokoh – tokoh pemuda antara lain : A. Mattalatta, Saleh Lahode, Amiruddin Mukhlis, Manai Sophian Sunari, Sutan M. Yusuf SA, Man, Y. Siranamual, dll.

Kunjungan Ir. Soekarno dan rombongan ke Makassar pada tanggal 28 April s/d 2 Mei 1945, merupakan suatu momentum sejarah karena lebih membangkitkan dan membakar semangat kemerdekaan, baik melalui pertemuan khusus dengan para tokoh masyarakat ataupun melalui rapat umum di lapangan Hasanuddin, dimana ribuan pemuda (pemudi) menghadiri pengibaran bendera “Merah – Putih”. Agaknya para tokoh – tokoh itu menerima isyarat kemerdekaan dari Bung Karno, karena peristiwa tanggal 30 April 1945 itu sangat penting bagi perjuangan selanjutnya di Sulawesi Selatan.

Dalam posisi Jepang yang makin terjepit oleh pihak sekutu, para pemuka masyarakat itu, yang tergabung dalam SUDARA, menyempurnakan struktur dan personalia di perluas dengan susunan sebagai berikut :

Ketua Kehormatan : Mappanyukki

Ketua Umum : DR. G.S.S.J. Ratulangie

Ketua Pusat : Lanto Daeng Pasewang

Kepala Bagian Umum : M. A. Pelupessi

Kepala Tata Usaha : A. N. Hajarati

Kepala Bag. Pendidikan : Abd. Wahab Tarru

Komando Pusat : G. R. Pantouw, H. M. Tahir, M. Suwang Dg. Muntu

Majelis Pendidikan Pusat :

Najamuddin Daeng Malewa

Mr. S. Binol Maddusila Daeng Paraga

Pembentukan cabang awal di Pare – Pare yang diprakarsai oleh A. Abdullah Bau Massepe, yang diresmikan pada tanggal 30 Juni 1945 oleh Ketua Umum atas nama Ketua Kehormatan, kemudian diikuti Cabang Bosowa di Watampone oleh A. Pangeran Daeng Parani dan seterusnya meliputi seluruh Sulawesi Selatan. Pembinaan hadir diketuai oleh Mr. Tajuddin Noor di Watampone. (Catatan : Keluarga Ratulangie mengungsi ke Watampone, ingat pembunuhan massal cendikiawan oleh Jepang di daerah tambang emas di Kab. Sambar (Kal-Bar)).

Mengenai bapak Suwarno adalah bekas Kepala Perguruan Taman Siswa yang didirikan pada tahun 1936 di Makassar sebagai orang Jawa yang berprinsip : “Sepih ing pamrih, rame ing gawe”

Para pimpinan SUDARA sekaligus menjadi penggerak dan propagandes yang tekun dan ulet. Hubungan dengan tokoh – tokoh pemerintahan dijalin dengan baik antara lain Ince Saleh Daeng Tompo, Abd. Salam Daeng Masikki, Mangkulla Daeng Patompo, M. Yunus Daeng Mile (semuanya ex Bestuur Ambtenaar) demikian pula dengan para tokoh pemuda diatas.

Pembentukan kekuatan mempunyai dua tujuan yang antagonistis, yaitu : bagi kepentingan Jepang, untuk perang semesta dan dipihak lain diarahkan untuk menuju kemerdekaan Indonesia.

Sementara SUDARA melebarkan sayapnya dan membina kesadaran politik di kalangan rakyat, diterima surat undangan dari Badan Pekerja Untuk Persiapan Kemerdekaan (BPUPKA) pada tanggal 7 Agustus 1945, untuk mengirim utusan yang paling terpercaya untuk menghadirinya dan disepakati secara bulat, yaitu : A. Mappanyukki, DR. G.S.S.J. Ratulangie dan A. Sultan Daeng Raja dan Sekr. Mr. A. Zainal Abidin.

  1. Mappanyukki berhalangan hadir, karena puncak perayaan perkawinan puteri beliau mendapatkan A. Jemma (Datu Luwu) dan karenanya diwakili oleh A. Pangerang Daeng Parani. Mereka menuju ke Jakarta pada tanggal 10 Agustus 1945. Karena alasan pembubaran BUPK oleh Pemerintah Jepang di Jakarta, maka pimpinan Nasional menggantikannya dengan nama : Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).

Atas restu Laksamana Maeda kelompok pemuda militan yang menerima inspirasi dari Bung Syahrir dan Tan Malaka mendesak pimpinan Nasional Soekarno – Hatta, yang mengetahui tentang Kapitalisasi Jepang terhadap sekutu pada tanggal 14 Agustus 1945, agar beliau – beliau segera memprolamirkan Kemerdekaan Indonesia, yang dikenal dengan peristiwa Rongkasdengkol. Para utusan setempat menghadiri Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Jalan Pengangsaan Timur oleh Soekarno – Hatta atas nama bangsa Indonesia dan selanjutnya menghadiri PPKI pada tanggal 18 – 19 Agustus 1945.

Selanjutnya rombongan DR. Ratulangie kembali pada tangga 24 Agustus 1945, dan pesawat yang ditumpanginya mendarat di Sapiria dekat kota Bulukumba. DR. Ratulangie dan Mr. Andi Zainal Abidin balik ke Makassar, A. Sultan Daeng Raja menetap di Bulukumba karena alasan sakit, sedangkan A. Pangerang Daeng Parani langsung menuju ke Watampone. Setibanya DR. Ratulangie di Makassar, langsung menginap di Hotel Empress bersama Mr. A. Zainal Abidin selama seminggu. Selaku Gubernur Sulawesi, beliau menyadari sedalam – dalamnya, bahwa posisi beliau amat sulit. Bandingkan dengan Gubernur Maluku Mr. Latuhari – hari yang tidak pernah ke Ambon.

Pada pertemuan tanggal 28 Agustus 1945 antara DR. Ratulangie dengan para tokoh SAUDARA di Makassar, terdapat kekecewaan di kalangan tokoh pemuda dan kecaman tajam dan Najamuddin Daeng Malewa (akhir Desember 1945, telah hilang dari penganut republikein).

Pada akhir bulang itu juga, DR. Ratulangie selaku Gubernur Sulawesi menyusun aparat pemerintahannya sebagai berikut :

Gubernur : DR. G.S.S.J. Ratulangie

Sekretariat : Mr. A. Zainal Abidin

Wakil Sekretaris : F. Tobing

Biro Umum : Lanto Daeng Pasewang

Biro Ekonomi : Najamuddin Daeng Malewa dan Mr. Tajuddin Noor

Biro Pemuda : Siaranamual dan Saelan

Biro Penerangan : Manai Sophian

Pembantu-Pembantu : A. N. Hajarati, GR. Pantouw, Syam, Supardi, Pondaag Dr. Syafrie dan Saleh Lahade

Penyebaran berita proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia itu disebarkan secara formal, melalui Tim DR. Ratulangie menuju ke Utara sedangkan Tim Lanto Daeng Pasewang ke Selatan dan beliau bertemu di Kota Sengkang.

Dimaksudkan untuk menyusun kekuasaan dan menggalang persatuan dengan makin santernya berita pendaratan tentara sekutu di Sulawesi Selatan. DR. Ratulangie tetap mempertahankan pendiriannya untuk tetap menghindari perlawanan bersenjata dan menggantikannya dengan jalan diplomasi, berdasarkan suatu perhitungan yang matang (calculated risk).

Beliau menghargai sifat – sifat heroisme masyarakat Sulawesi Selatan (Bugis – Makassar), tetapi dalam memperhitungkan situasi dan kondisi yang ada, ialah : Maluku dikenal sebagai Propinsi XII Minahasa ke XII dari Propinsi Nederland, belum lagi penduduk NTT yang simpati dengan pihak Belanda. Dasar pertimbangan ini dikemukakan kepada kami bertiga di Serui secara lisan, dalam menyusun konsep buku, “Indonesia diatas Papan Ctur Politik Internasional”. Kami akan membahas inti – intinya kelak.

Jika di Sumatera dan Pulau Jawa terjadi benturan fisik / pertempuran bersenjata, melalui perampasan senjata oleh para pemuda – pemuda, hal semacam itu ingin dihindari oleh beliau karena akan membawa ekses dendam kesumat (haatzaai) antara suku bangsa di wilayah ini. Karenanya beliau tidak merestusi permintaan para pemuda militan melalui SAUDARA untuk melucuti persenjataan tentara Jepang. Berberda dengan daerah lainnya dimana pada awalnya Proklamasi Kemerdekaan didukung oleh para raja – raja termasuk raja – raja lokal.

Kami pernah memperoleh penjelasan dari Lanto Daeng Pasewang bahwa beliau mengadakan Sumpah Setia dengan Arumpone A. Mappanyukkimdan Datu Luwu A. Jemma, “siapa yang mengkhianati RI akan digantikan isterinya”, dalam bahasa Bugis.

Jika A. Ijo (yang kemudian diangkat menjadi Raja Gowa oleh NICA pada bulan Desember 1946), beliau mengatakan kepada kami, bahwa beliau didahului oleh Najamuddin Daeng Malewa menggarapnya. Patut dijelaskan, bahwa pelucutan senjata Jepang, terjadi juga di Luwu dan Kolaka.

GERAKAN SISWA – SISWA PERGURUAN NASIONAL

Gerakan Kelompok Siswa Perguruan Nasional di Makassar yang dijiwai oleh Perguruan Taman Siswa Perguruan Nasional didirikan oleh DR. Ratulangie dan Lanto Daeng Pasewang dan Suwarno.

Dibawah prakarsa Abd. Rivai Paerai, yang mengadakan pertemuan dengan Sdr. Syamsul Ma’arif dan La Ode Hadi bertempat di rumah Lanto Daeng Pasewang (ex Maradekaya weg No. 28) ; mereka memutuskan bahwa saat penyerangan dilaksanakan pada tanggal 28 Oktober 1945, sesuai Hari Sumpah Pemuda pada jam 05.00 pagi.

Sasaran penyerangan disusun sebagai berikut :

  1. Kelompok Perguruan Nasional, dipimpin langsung oleh Abd. Rivai Paerai (alm.), menyerang Hotel Empress dimana CO – NICA Dr. Lion Cochet, berkantor dan menginap. Pangkalan penyerangan ditetapkan rumah Bapak Saelan (Tweede Zeestraat), memasuki sekolah Frater selanjutnya menuju sasaran : Kelompok ini akan dibantu oleh PEMUDA PATTUNUANG (lihat lampiran dalam bentuk skema).
  2. Kelompok Perguruan ISLAM Datumuseng, menyerang kantor Polisi (ex kantor Gouverneur Grote Oost dan Min Seifu, Jepang) dengan dibantu oleh permuda dari kampung Baru. Dewasa ini menjadi kantor Walikota Kota Madya Ujung Pandang

Catatan : Setelah Proklamasi kemerdekaan diproklamirkan dua perguruan dibuka di Makassar masing – masing Perguruan Nasional dan Perguruan Datu Museng yang dipelopori oleh H. Masyikur Daeng Tompo, H. Gazali Sackhlan, H. Darwis Zakaria, dan lain – lain ( lahir seminggu lebih dahulu dari Perguruan Nasional).

  1. Kelompok Ka’ MINO, menyerang Radio dan dibantu oleh Pemuda Lariang Banggi.

Ada dugaan dari kami bahwa gerakan tersebut direstui oleh Lanto Daeng Pasewang karena pada tanggal 27 Agustus 1945 pagi hari, kami diperintahkan untuk mengantar surat untuk Pajongan Daeng Ngalle (Karaeng Polongbangkeng) yang diterima oleh kurirnya di Palleko. Kami berangkat naik sepeda bersama Rajadin Daeng Lau, agaknya direncanakan dan akan merupakan “terugval basis” bila gerakan ini dipukul mundur oleh pasukan Sekutu / NICA. Tepat pada jam 23.30 Sdr. Abd. Rivai Pae’rai menawarkan pengibaran bendera Merah Putih tepat pada jam 24.00 di depan hotel EMPRESS. Kami berdua yaitu Abd. Rachman Lanto (alm) melaksanakannya sesuai dengan perintah dan berjalan lancar tanpa gangguan apa – apa dari pihak Australia. Tetapi sial bagi kami, karena sekembalinya dari pelaksanaan tugas, Radjadin Daeng Lau, Abd. Latief Daeng Nyau dan kami sendiri ketiduran di garage Bapak Saelan mungkin karena kecapean melaksanakan tugas – tugas ke Palleko, ke Pattunuang dan pengibaran sangsaka Merah Putih.

Kurang lebih pada jam 02.30, kami bertiga meninggalkan rumah Bapak Saelan menuju sasaran, di Jalan Hasanuddin (sekarang) antara bioskop ISTANA dan GELAEL, kami terkepung oleh pasukan polisi yang dipimpin oleh Van der Pol, yang membawa pistol Jepang ilaha Rajadin Daeng Lau, pistol tersebut dilempar ke pinggir jalan dan diketemukan oleh mereka. Mereka akan mengikat kami, tetapi kami mengatakan tidak usah tuan, kami tidak akan lari, oleh der Pol mengatakan : “engkau pemimpinnya, he ?”

Di Kantor Polisi (dewasa ini kantor Walikota UP), kami diinterogasir. Oleh Komisaris Polisi Koekrits diancam : “He Zainuddin engkau akan rata dengan tanah besok pagi”. Kami jawab “Terserah pada tuan – tuan.” Menjelang jam 05.00 pagi kami minta untuk shalat dan mereka mengizinkannya. Selesai shalat, kami lari meninggalkan dua teman kami itu dan kami ditembaki oleh mereka, Alhamdulillah kami selamat.

Selamat karena tempat ini diserang oleh pemuda – pemuda kampung Beru dari arah Fort Rotterdam. Keduanya yang kami tinggalkan dimasukkan dalam kandang macan. Sebahagian dari anggota penyerang Hotel Empress, menuju Polongbangkeng dan gugur sebagai kesuma bangsa antara lain : Emmy Saelan, Wolter Mongisidi, Koko Sam, Abdullah Saleh Tompo dan Moh. Noer Pabeta gugur kemudian pada serangan umum tanggal 1 Maret 1949 di Yogyakarta.

Gerakan ini oleh pihal Belanda disebut Palagan I. Seterusnya dimana – mana terjadi perlawanan fisik oleh para pemuda dan ataukan ekspedisi dari Pulau Jawa akibatnya timbul korban 40.000 jiwa. Akibat serangan umum itu, momentum perjuangan beralih keluar kota Makassar, ke pedalaman. Secara politis kedudukan Gubernur Sulawesi DR. Ratulangie makin tersudut dan memindahkan pemerintahannya ke kota Watampone, melalui jaminan Arumpone A. Mappanyukki dan rakyatnya yang semula mendukung proklamasi RI. Tetapi pihak NICA mempraktekkan politik “bagi dan kuasai (verdeel en heers)” dengan cara membonceng pihak sekutu.

Pada bulan Nopember 1945, Gubernur Sulawesi membentuk badan perjuangan yang bercorak politik dengan nama PUSAT KESELAMATAN RAKYAT SULAWESI (PKRS) dengan susunan pengurus sebagai berikut :

Ketua : DR. G.S.S.J. Ratulangie (Gubernur Sulawesi)

Sekretaris : WST Pondaag

Bendahara : Suwarno

Wakil Ketua Komite Nasional Indonesia Selebes : Lanto Daeng Pasewang

Anggota – anggotanya :

  1. H. Mansyur Daeng Tompo (Ketua Jamiah Islamiyah Selebes)
  2. Inche Saleh Daeng Tompo (Wakil Golongan Pamong Raja)
  3. J. Latumahina (Ketua Dewan Kristen Selebes)
  4. Makki (Wakil Golongan Buruh)
  5. H. Sewang Daeng Muntu (Ketua Muhammadiyah Cab. Sulawesi)
  6. Sam (Kepala Bag. Pendidikan Pusat Keselamatan Rakyat)

Pada tanggal 21 Nopember 1945, Brigjen FO Chilton, mengeluarkan satu perintah kepada komandan bawahannya, bahwa NICA merupakan bahagian integral dari administrasi kemiliteran, dimana peraturan – peraturan dan perintah – perintahnya dilakukan atas kewenangan dari komando sekutu sewaktu setiap tindakan atas nama pemerintah RI dilarang.

Pada bulan Desember 1945 inisiatif sudah beralih ketangan NICA dan pada tanggal 18 Desember 1945, untuk pertama kalinya PKRS mengadakan perundingan dengan pihak CONICA. DR. Ratulangie cs tetap setia asas tujuan dan pendiriannya bersedia secara damai bekerjasama untuk pelaksanaan pembangunan demi kepentingan rakyat dan bangsa. DR. Ratulangie menyampaikan kepada DR. Lion Cachet mengenai asas dan pendirian PKRS sebagai berikut :

  1. Pendirian Prinsipil Kami berdiri dibelakang RI sesuai UUD yang diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945, dimana Selebes merupakan bahagian yang tidak dapat dipisahkan
  2. Pertimbangan – pertimbangan untuk berunding
  3. Nasib dari Indonesia akan ditentukan oleh konperensi yang akan diadakan antara pemerintah Pusat RI dengan wakil – wakil Pemerintah Belanda dan pada akhirnya oleh konperensi internasional PBB
  4. Tindakan – tindakan yang akan diambil dalam hubungannya dengan konprensi – konprensi tersebut kami serahkan kepada Pemerintah RI di Jakarta, kepada siapa kami memberikan kepercayaan sepenuhnya
  5. Sikap kami dari semula sampai sekarang adalah untuk mewujudkan cita – cita kami dengan menghindarkan terjadinya tindakan – tindakan kekerasan

III. Petunjuk dalam perundingan

Mengusahakan agar perkembangan masyarakat dan ekonomi rakyat dapat berlangsung secara normal juga dalam masa peralihan ini pengertian bahwa kami menunggu adanya keputusan, keputusan mengenai nasib Indonesia.

Pertemuan kedua pada tanggal 20 Desember 1945 antara PKRS dan CONICA. DR. Ratulangie mengusulkan adanya Panitia Penghubung terdiri dari 3 orang yang disusun dengan pemufakatan raja – raja.

Pihak CONICA menyetujui pembentukan Panitia Penghubung, tetapi mereka telah mengangkat sebelumnya A. Ijo selaku Sombaya di Gowa dan Pabbenteng menjadi Arumpone.

Arsiteknya ialah cendikiawan tokoh – tokoh politik Sonda Daeng Mattayang, Najamuddin Daeng Malewa, Abdullah Daeng Mappuji, Baso Daeng Malewa, Abd. Rajab, Mr. S. Binol, Husein Puang Limboro, dll.

Pada tanggal 25 Pebruari 1946, CONICA telah berhasil membentuk Dewan Penasehat yang terdiri dari anggota – anggotanya antara lain : A. Pebbenteng, Laode Fahili, La Cibu, Najamuddin Daeng Malewa dan Sonda Daeng Mattayang.

SERUI

Pada tanggal 15 April – 17 Juni 1946 Gubernur Sulawesi DR. Ratulangie bersama 6 orang pembantu – pembantunya dipenjarakan di Hoge Pad Weg, dan selanjutnya dibuang / diinternir ke Serui (P. Japen). Rombongan I diangkut dengan kapal terbang CATALINA, pada tanggal 18 Juni 1946, yang terdiri atas 3 keluarga yaitu keluarga DR. Ratulangie, Lanto Daeng Pasewang dan J. Latumahina. Keluarga lainnya tiba melalui kapal laut. Tindakan pengasingan itu agaknya dimaksudkan untuk :

  1. a. mempercepat penyerahan kekuasaan dari pihak sekutu kepada NICA yang berlangsung pada tanggal 10 Juli 1946
  2. b. mengadakan konferensi Malino pada tanggal 15 – 25 Juli 1946, sebagai embrio pembentukan NIT
  3. Melalui NIT, merealisir NIGEO, yang telah direncanakan sejak Pemerintahan pelanan Nederland Indie ke Australia

Di Serui terdapat kesepakatan antara beliau – beliau untuk mendirikan Partai Kemerdekaan Indonesia Irian berpusat di Serui yang dilaksanakan pada akhir tahun 1946. Para beliau mendekati Bapak Silas Papare seorang mantan anggota tentara Amerika Serikat dan bekerja sebagai manteri kesehatan di Serui. Peranan Bapak Latumahina cukup bersar, karena pada umumnya para anggota Zending di Irian sebagian besar berasal dari Maluku.

Dari kalangan pemuda yang mendukung ide antara lain Stefanus dan adiknya. Yang bersangkutan pernah ditahan pada kantor Polisi Serui bersama Sdr. Palangkey Daeng Lagu, karena mereka berdua mengunjungi (dataran Pulau Irian).

Atas perjuangan DR. Ratulangie keduanya dibebaskan. Lain halnya Bapak Silas Papare dimana beliau ditangkap oleh pemerintah dan dibawa ke Hollandia untuk dipenjarakan.

Pengasingan ke Serui, memberi kesempatan kepada DR. Ratulangie untuk menyusun konsep buku “Indonesia diatas papan catur politik internasional” yang menurut beliau akan dipersembahkan kepada bangsa Indonesia.

Kami sempat menerimanya dari tangan pertama, karena pada suatu kesempatan kami mengancam beliau bahwa di Serui akan diadakan pemberontakan fisik dipimpin oleh kami. Kami akan membunuh Controleur den Hertog bersama isterinya, dikala beliau sedang berjalan – jalan sore hari di Serui. Alasan: kami telah mati . sebelum mati. Beliau menanyakan kepada kami, darimana Nudin memperoleh senjata. Kami jawab, bahwa kami memperoleh dukungan dari polisi asal Minahasa dan Ambon. Yang kami takuti ialah apabila Oom Sam dan tante serta anggota lainnya akan dibunuh oleh pihak Belanda.

Spontan beliau menjawab itu rencana gila Nudin. Ngoni mau apa ? Kami menjawab : ajarlah kami Oom tentang politik. Ngoni atur waktu. Maka diadakanlah pendidikan oleh beliau 2 x seminggu.

Catatan :

Buku tersebut tidak sempat dipubliser sampai beliau meninggal pada tahun 1949 di Jakarta. Mayat beliau disemayamkan di Tondano (Minahasa) tempat kelahirannya. Disini didirikan sebuah TAMAN dengan sebuah patung besar setengah badan. Untuk mengenal lebih mendalam, siapa DR. G.S.S.J. Ratulangie.

Pada kesempatan yang baik ini, kami akan jelaskan sebagai berikut :

  1. Beliau memulai pembahasannya tentang negara CHINA, sejak Zaman Keizer Ming, seterusnya ke Sun Yat Tsen dengan konsep San Min Chui-nya yang terkenal dan dilanjutkan ke Generalisme Chiang Kai Shek dengan konsep Kuo Mintang – nya. Beliau mengupas tentang famili Chung, yang oleh beliau dianggap komparador imprealisme Barat. Beliau menjelaskan juga tentang Perang Boxer dimana pelabuhan Syang-Hai dipaksakan dibuka oleh Amerika Serikat melalui pengiriman kapal perang. Beliau menjelaskan juga mengenai perang Chiang melawan komunis Mao Tse Tung dan juga tentang perang Chiang melawan Jepang. Dari kupasan beliau diatas, beliau mengambil kesimpulan bahwa daratan China akan dikuasai oleh Mao Tse Tung.
  2. Selanjutnya dikupas pula mengenai perang Jepang melawan Rusia pada tahun 1904 – 1905, yang dimenangkan oleh pihak Jepang. Kaitan dengan peristiwa ini, beliau mengarang buku tentang “Pacific in de branding”
  3. Akibat perang dunia II, setelah kapitulasi pihak Jepang terhadap Sekutu, pada tanggal 14 Agustus 1945, beliau mengambil kesimpulan, bahwa Amerika Serikat akan membangun negeri Jepang, sebagai “anti pode” berkuasanya Mao Tse Tung di dataran China. Eropa Barat yang porak poranda akan dibangun oleh Pemerintah Amerika Serikat yang dikenal kemudian melalui “Marshall Plan”, menghadapi komunis Uni Sovyet.
  4. Selanjutnya beliau mengupas tentang kedudukan Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaannya. Menurut beliau, bahwa Amerika Serikat memandang letak geografis Indonesia sangat strategis. Pihak Amerika sangat berkepentingan dan tidak menghendaki labilitas politik di Asia Tenggara menghadapi komunisme internasional. Kita ketahui bahwa diXXXX Indo – China pun sedang terjadi pemberontakan menghadapi pemerintah kolonial Perancis. Beliau mengambil kesimpulan bahwa Pemerintah Belanda akan dipaksa oleh majikannya Pemerintah Amerika Serikat untuk berunding dengan pihak Republik Indonesia dan Indonesia akan keluar sebagai pemenang.
  5. Selain itu, beliau mengupas tentang kemungkinan pecahnya Perang Dunia ke III. Bahwa dalam perut bumi di Asia Tengah tersimpan milyarden ton bensin dan minyak tanah. Dunia ini berputar dengan bensin dan minyak tanah. Siapa yang menguasai Asia Tengah dia akan menguasai dunia. Mengenai latar belakang pergolakan diwilayah ini, beliau mengupas tentang peranan Ballfour, Singa padang pasir pada peristiwa Perang Dunia I, yang mengeluarkan “Ballfour Declaration”. Bahwa negara Mesir harus diisolir dari Turki. Untuk itu dibentuk “bufferstate”, meliputi negara Jordania di bawah protectoraat Inggeris, Libanon dibawah Perancis dan Palestina oleh keduanya. Oleh Pemerintah Inggeris diangkat ayah Raja Husein menjadi Raja. Setelah Perang Dunia II usai, Zeonisme bangkit dan menggelegar kekacauan di negara Palestina. Pada akhirnya mereka berhasil memojokkan kekuasaan Inggeris dan berdirilah negara Zeonist yaitu Israel. Selain itu beliau menjelaskan peranan Yahudi dalam perekonomian Amerika Serikat bahwa Wall Street dikuasia oleh orang Yahudi, demikian pula Bank of Swiss dan bahkan Bank of London. Bahwa orang Yahudi itu Keras Kepala, tercantum dalam Bybel Oom dan Alquran Nudin, katanya.

Dalam menutup karangan beliau itu, beliau mengambil “kesimpulan diatas kesimpulan” (conclusie boven conclusie) :

  1. Bahwa komunis Mao Tse Tung akan menguasai dataran China
  2. Negara Jepang akan dibangun kembali oleh Pemerintah Amerika Serikat sebagai Antipode diatas
  3. Pihak Belanda akan dipaksa oleh majikannya Amerika Serikat untuk berunding dengan pihak Republik Indonesia, dan Indonesia akan keluar sebagai pemenang
  4. Pecahnya Perang Dunia III, kemungkinan besar akan meletus di Asia Tengah. Semua perhitungan orang lain salah dan inilah yang benar. Akibat Perjanjian Renville setelah Clash I, seluruh rombongan dikembalikan ke Yogyakarta (Ibukota RI).

Disini beliau menderita sakit dan dirawat di Jakarta. Sebelum itu, puteri – puteri beliau telah dikirim ke Jakarta untuk bersekolah.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Arus Revolusi di Sulawesi Selatan (Dewan Harian Daerah Angkatan 45 Prop. Sul – Sel Masa Bhakti 1985 – 1989)
  2. Indonesia Diatas Papan Catur Politik Internasional oleh DR. G.S.S.J. Ratulangie (tidak sempat dipublikasikan)

*) Purnawirawan Sekretaris Jenderal Departemen Pertanian, Alamat sekarang : Ujung Pandang : Telepon : 0411 – 851265

SEKELUMIT Sejarah Perjuangan Kemerdekaan Indonesia

Mijn halve Indische jeugd

Memories of a “halflife” in lovable Nederlandsch Indie……..

Java Post

Door Nico Vink

Sobats, vrienden. Laat mij u vertellen over mijn Indische jeugd, mijn halve jeugd. Ik zal u zeggen hoe die was. Niks Indische literaire traditie, die kende ik niet toen ik kind was. Die speelde ook geen rol toen ik groot gegroeid over mijn halve Indische jeugd nadacht en de herinneringen opborrelden. Ik wil u niets doen geloven. Ik wil alleen maar vertellen hoe mijn jonge leventje toen was, wat ik me daar nu van herinner, denk te herinneren. Uniek zoals elk leven en dertien in een dozijn zoals enkele meer. Overdreven jubelen is mijn stijl niet. Bij mij geen heerlijke-heerlijkere-heerlijkste toppunten van Indische zaligheid, niet de avontuurlijkste Indische Indianenverhalen. Geen mooi, meeslepend verhaal. Geen paradijselijke idyllische stereotypen. Ik heb nooit genoten van de aan Indië aangepaste Ot en Sien waarin bijvoorbeeld een tuttige koloniale papa in jas toetoep en Ot samen met een gewillige kebon op de…

View original post 4,251 more words

Konspirasi Belanda Menyelamatkan Westerling (Reblogged)

Batara R. Hutagalung with Bert KoendersREBLOGGED dari GAGASAN NUSANTARA   tulisan Bpk.  Batara Hutagalung (http://batarahutagalung.blogspot.co.id/2012/05/teror-westerling-di-republik-indonesia.html

Setelah kegagalan “kudeta” yang sangat memalukan itu, pemerintah Belanda memutuskan untuk secepat mungkin mengevakuasi pasukan RST. Pada sidang kabinet tanggal 6 Februari dipertimbangkan, untuk memindahkan pasukan RST ke Papua Barat, karena membawa mereka ke Belanda akan menimbulkan sejumlah masalah lagi. Pada 15 Februari 1950 Menteri Götzen memberi persetujuannya kepada Hirschfeld untuk mengirim pasukan RST yang setia kepada Belanda ke Belanda, dan pada hari itu juga gelombang pertama yang terdiri dari 240 anggota RST dibawa ke kapal Sibajak di pelabuhan Tanjung Priok. Komandan RST Letkol Borghouts terbang ke Belanda untuk mempersiapkan segala sesuatunya.

Disediakan tempat penampungan di kamp Prinsenbosch dekat Chaam, 15 km di sebelah tenggara kota Breda. Pada 17 Maret 1950 gelombang pertama pasukan RST tiba di tempat penampungan, dengan pemberitaan besar di media massa. Pada 27 Maret dan 23 Mei 1950 tiba dua rombongan pasukan RST berikutnya. Keseluruhan pasukan RST bersama keluarga mereka yang ditampung di Prinsenbosch sekitar 600 orang. Sekitar 400 orang telah didemobilisasi di Jakarta, dan di Batujajar sekitar 200 orang pasukan RST, sedangkan 124 orang pasukan RST yang terlibat dalam aksi Westerling, ditahan di pulau Onrust menunggu sidang pengadilan militer.

Jumlah tentara Belanda yang ditahan untuk disidangkan jelas sangat kecil, dibandingkan dengan yang tercatat telah ikut dalam aksi kudeta Westerling, yaitu lebih dari 300 orang.

Demikianlah akhir yang memalukan bagi pasukan elit Reciment Speciale Troepen (RST) yang merupakan gabungan baret merah (1e para compagnie) dan baret hijau (Korps Speciale Troepen) yang pernah menjadi kebanggaan Belanda, karena “berjasa” menduduki Ibukota Republik Indonesia, Yogyakarta.

Namun bagi Westerling dan anak buahnya yang tertangkap, ceriteranya belum berhenti di sini. Westerling sendiri masih membuat pusing pimpinan Belanda, baik sipil mau pun militer di Jakarta. Dia merencanakan untuk lari ke Singapura, di mana dia dapat memperoleh bantuan dari teman-temannya orang Tionghoa. Maka dia kemudian menghubungi relasinya di Staf Umum Tentara Belanda di Jakarta.

Sejak kegagalan tanggal 23 Januari, Westerling bersembunyi di Jakarta, dan mendatangkan isteri dan anak-anaknya ke Jakarta. Dia selalu berpindah-pindah tempat, antara lain di Kebon Sirih 62 a, pada keluarga de Nijs.

Pada 8 Februari 1950 isteri Westerling menemui Mayor Jenderal van Langen, yang kini menjabat sebagai Kepala Staf, di rumah kediamannya. Isteri Westerling menyampaikan kepada van Langen mengenai situasi yang dihadapi oleh suaminya. Hari itu juga van Langen menghubungi Jenderal Buurman van Vreeden, Hirschfeld dan Mr. W.H. Andreae Fockema, Sekretaris Negara Kabinet Belanda yang juga sedang berada di Jakarta. Pokok pembicaraan adalah masalah penyelamatan Westerling, yang di mata banyak orang Belanda adalah seorang pahlawan. Dipertimbangkan antara lain untuk membawa Westerling ke Papua Barat. Namun sehari setelah itu, pada 9 Februari Hatta menyatakan, bahwa apabila pihak Belanda berhasil menangkap Westerling, pihak Republik akan mengajukan tuntutan agar Westerling diserahkan kepada pihak Indonesia. Hirschfeld melihat bahwa mereka tidak mungkin menolong Westerling karena apabila hal ini terungkap, akan sangat memalukan Pemerintah Belanda. Oleh karena itu ia menyampaikan kepada pimpinan militer Belanda untuk mengurungkan rencana menyelamatkan Westerling.

Namun tanpa sepengetahuan Hirschfeld, pada 10 Februari Mayor Jenderal van Langen memerintahkan Kepala Intelijen Staf Umum, Mayor F. van der Veen untuk menghubungi Westerling dan menyusun perencanaan untuk pelariannya dari Indonesia. Dengan bantuan Letkol Borghouts -pengganti Westerling sebagai komandan pasukan elit KST- pada 16 Februari di mess perwira tempat kediaman Ajudan KL H.J. van Bessem di Kebon Sirih 66 berlangsung pertemuan dengan Westerling, di mana Westerling saat itu bersembunyi. Borghouts melaporkan pertemuan tersebut kepada Letkol KNIL Pereira, perwira pada Staf Umum, yang kemudian meneruskan hasil pertemuan ini kepada Mayor Jenderal van Langen.

Westerling pindah tempat persembunyian lagi dan menumpang selama beberapa hari di tempat Sersan Mayor KNIL L.A. Savalle, yang kemudian melaporkan kepada Mayor van der Veen. Van der Veen sendiri kemudian melapor kepada Jenderal van Langen dan Jenderal Buurman van Vreeden, Panglima tertinggi Tentara Belanda. Dan selanjutnya, Van Vreeden sendiri yang menyampaikan perkembangan ini kepada Sekretaris Negara Andreae Fockema. Dengan demikian, kecuali Hirschfeld, Komisaris Tinggi Belanda, seluruh jajaran tertinggi Belanda yang ada di Jakarta –baik militer maupun sipil- mengetahui dan ikut terlibat dalam konspirasi menyembunyikan Westerling dan rencana pelariannya dari Indonesia. Andreae Fockema menyatakan, bahwa dia akan mengambil alih seluruh tanggungjawab.

Pada 17 Februari Letkol Borghouts dan Mayor van der Veen ditugaskan untuk menyusun rencana evakuasi. Disiapkan rencana untuk membawa Westerling keluar Indonesia dengan pesawat Catalina milik Marineluchtvaartdienst – MLD (Dinas Penerbangan Angkatan Laut) yang berada di bawah wewenang Vice Admiral J.W. Kist. Rencana ini disetujui oleh van Langen dan hari itu juga Westerling diberitahu mengenai rencana ini. Van der Veen membicarakan rincian lebih lanjut dengan van Langen mengenai kebutuhan uang, perahu karet dan paspor palsu. Pada 18 Februari van Langen menyampaikan hal ini kepada Jenderal van Vreeden.

Van der Veen menghubungi Kapten (Laut) P. Vroon, Kepala MLD dan menyampaikan rencana tersebut. Vroon menyampaikan kepada Admiral Kist, bahwa ada permintaan dari pihak KNIL untuk menggunakan Catalina untuk suatu tugas khusus. Kist memberi persetujuannya, walau pun saat itu dia tidak diberi tahu penggunaan sesungguhnya. Jenderal van Langen dalam suratnya kepada Admiral Kist hanya menjelaskan, bahwa diperlukan satu pesawat Catalina untuk kunjungan seorang perwira tinggi ke kepulauan Riau. Tak sepatah kata pun mengenai Westerling.

Kerja selanjutnya sangat mudah. Membeli dolar senilai f 10.000,- di pasar gelap; mencari perahu karet; membuat paspor palsu di kantor Komisaris Tinggi (tanpa laporan resmi). Nama yang tertera dalam paspor adalah Willem Ruitenbeek, lahir di Manila.

Pada hari Rabu tanggal 22 Februari, satu bulan setelah “kudeta” yang gagal, Westerling yang mengenakan seragam Sersan KNIL, dijemput oleh van der Veen dan dibawa dengan mobil ke pangkalan MLD di pelabuhan Tanjung Priok. Westerling hanya membawa dua tas yang kelihatan berat. Van der Veen menduga isinya adalah perhiasan. Pesawat Catalina hanya singgah sebentar di Tanjung Pinang dan kemudian melanjutkan penerbangan menuju Singapura. Mereka tiba di perairan Singapura menjelang petang hari. Kira-kira satu kilometer dari pantai Singapura pesawat mendarat di laut dan perahu karet diturunkan.

Dalam bukunya De Eenling, Westerling memaparkan, bahwa perahu karetnya ternyata bocor dan kemasukan air. Beruntung dia diselamatkan oleh satu kapal penangkap ikan Cina yang membawanya ke Singapura. Setibanya di Singapura, dia segera menghubungi temanTionghoanya Chia Piet Kay, yang pernah membantu ketika membeli persenjataan untuk Pao An Tui. Dia segera membuat perencanaan untuk kembali ke Indonesia.

Namun pada 26 Februari 1950 ketika berada di tempat Chia Piet Kay, Westerling digerebeg dan ditangkap oleh polisi Inggris kemudian dijebloskan ke penjara Changi. Rupanya, pada 20 Februari ketika Westerling masih di Jakarta, Laming, seorang wartawan dari Reuters, mengirim telegram ke London dan memberitakan bahwa Westerling dalam perjalanan menuju Singapura, untuk kemudian akan melanjutkan ke Eropa. Pada 24 Februari Agence Presse, Kantor Berita Perancis yang pertama kali memberitakan bahwa Westerling telah dibawa oleh militer Belanda dengan pesawat Catalina dari MLD ke Singapura. Setelah itu pemberitaan mengenai pelarian Westerling ke Singapura muncul di majalah mingguan Amerika, Life. Pemberitaan di media massa tentu sangat memukul dan memalukan pimpinan sipil dan militer Belanda di Indonesia.

Kabinet RIS membanjiri Komisaris Tinggi Belanda Hirschfeld dengan berbagai pertanyaan. Hirschfeld sendiri semula tidak mempercayai berita media massa tersebut, sedangkan Jenderal Buurman van Vreeden dan Jenderal van Langen mula-mula menyangkal bahwa mereka mengetahui mengenai bantuan pimpinan militer Belanda kepada Westerling untuk melarikan diri dari Indonesia ke Singapura. Keesokan harinya, tanggal 25 Februari Hirschfeld baru menyadari, bahwa semua pemberitaan itu betul dan ternyata hanya dia dan Admiral Kist yang tidak diberitahu oleh van Vreeden, van Langen dan Fockema mengenai adanya konspirasi Belanda untuk menyelamatkan Westerling dari penagkapan oleh pihak Indonesia.

Fockema segera menyatakan bahwa dialah yang bertanggung- jawab dan menyampaikan kepada Pemerintah Republik Indonesia Serikat, bahwa Hirschfeld sama sekali tidak mengetahui mengenai hal ini. Menurut sinyalemen Moor, sejak skandal yang sangat memalukan Pemerintah Belanda tersebut terbongkar, hubungan antara Hirschfeld dengan pimpinan tertinggi militer Belanda di Indonesia mencapai titik nol.

Pada 5 April 1950 Sultan Hamid II ditangkap atas tuduhan terlibat dalam “kudeta” Westerling bulan Januari 1950.

Pada 7, 8, 10 dan 11 Juli 1950 dilakukan sidang Mahkamah Militer terhadap 124 anggota pasukan RST yang ditahan di pulau Onrust, Kepulauan Seribu. Pada 12 Juli dijatuhkan keputusan yang menyatakan semua bersalah. Namun sebagian besar hanya dikenakan hukuman yang ringan, yaitu 10 bulan potong tahanan, beberapa orang dijatuhi hukuman 11 atau 12 bulan, satu orang kena hukuman 6 bulan dan hanya Titaley diganjar 1 tahun 8 bulan. Tidak ada yang mengajukan banding. Hukuman yang sangat ringan yang dijatuhkan oleh Mahkamah Militer Belanda terhadap tentara Belanda yang telah membantai 94 anggota TNI, termasuk Letkol Lembong, menunjukkan, bahwa Belanda tidak pernah menilai tinggi nyawa orang Indonesia. Setelah berakhirnya Perang Dunia II di Eropa, tentara Jerman yang terbukti membunuh orang atau tawanan yang tidak berdaya dijatuhi hukuman yang sangat berat, dan bahkan para perwira yang memerintahkan pembunuhan, dijatuhi hukuman mati.

Sementara itu, setelah mendengar bahwa Westerling telah ditangkap oleh Polisi Inggris di Singapura, Pemerintah RIS mengajukan permintaan kepada otoritas di Singapura agar Westerling diekstradisi ke Indonesia. Pada 15 Agustus 1950, dalam sidang Pengadilan Tinggi di Singapura, Hakim Evans memutuskan, bahwa Westerling sebagai warganegara Belanda tidak dapat diekstradisi ke Indonesia. Sebelumnya, sidang kabinet Belanda pada 7 Agustus telah memutuskan, bahwa setibanya di Belanda, Westerling akan segera ditahan. Pada 21 Agustus, Westerling meninggalkan Singapura sebagai orang bebas dengan menumpang pesawat Australia Quantas dan ditemani oleh Konsul Jenderal Belanda untuk Singapura, Mr. R. van der Gaag, seorang pendukung Westerling.

Westerling sendiri ternyata tidak langsung dibawa ke Belanda di mana dia akan segera ditahan, namun –dengan izin van der Gaag- dia turun di Brussel, Belgia. Dia segera dikunjungi oleh wakil-wakil orang Ambon dari Den Haag, yang mendirikan Stichting Door de Eeuwen Trouw – DDET (Yayasan Kesetiaan Abadi). Mereka merencanakan untuk kembali ke Maluku untuk menggerakkan pemberontakan di sana. Di negeri Belanda sendiri secara in absentia Westerling menjadi orang yang paling disanjung.

Awal April 1952, secara diam-diam Westerling masuk ke Belanda. Keberadaannya tidak dapat disembunyikan dan segera diketahui, dan pada 16 April Westerling ditangkap di rumah Graaf A.S.H. van Rechteren. Mendengar berita penangkapan Westerling di Belanda, pada 12 Mei 1952 Komisaris Tinggi Indonesia di Belanda Susanto meminta agar Westerling diekstradisi ke Indonesia, namun ditolak oleh Pemerintah Belanda, dan bahkan sehari setelah permintaan ekstradisi itu, pada 13 Mei Westerling dibebaskan dari tahanan. Puncak pelecehan Belanda terhadap bangsa Indonesia terlihat pada keputusan Mahkamah Agung Belanda pada 31 Oktober 1952, yang menyatakan bahwa Westerling adalah warganegara Belanda sehingga tidak akan diekstradisi ke Indonesia.

Setelah keluar dari tahanan, Westerling sering diminta untuk berbicara dalam berbagai pertemuan, yang selalu dipadati pemujanya. Dalam satu pertemuan dia ditanya, mengapa Sukarno tidak ditembak saja. Westerling menjawab:

“Orang Belanda sangat perhitungan, satu peluru harganya 35 sen, Sukarno harganya tidak sampai 5 sen, berarti rugi 30 sen yang tak dapat dipertanggungjawabkan.”

Beberapa hari kemudian, Komisaris Tinggi Indonesia memprotes kepada kabinet Belanda atas penghinaan tersebut.

Pada 17 Desember 1954 Westerling dipanggil menghadap pejabat kehakiman di Amsterdam di mana disampaikan kepadanya, bahwa pemeriksaan telah berakhir dan tidak terdapat alasan untuk pengusutan lebih lanjut. Pada 4 Januari 1955 Westerling menerima pernyataan tersebut secara tertulis.

Dengan demikian, bagi orang Belanda pembantaian ribuan rakyat di Selawesi Selatan tidak dinilai sebagai pelanggaran HAM, juga “kudeta’ APRA pimpinan Westerling tidak dipandang sebagai suatu pelanggaran atau pemberontakan terhadap satu negara yang berdaulat.

Westerling kemudian menulis dua buku, yaitu otobiografinya Memoires yang terbit tahun 1952, dan De Eenling yang terbit tahun 1982. Buku Memoires diterjemahkan ke bahasa Prancis, Jerman dan Inggris. Edisi bahasa Inggris berjudul Challenge to Terror sangat laku dijual dan menjadi panduan untuk counter insurgency dalam literatur strategi pertempuran bagi negara-negara Eropa untuk menindas pemberontakan di negara-negara jajahan mereka di Asia dan Afrika.

Kemudian bagaimana dengan nasib KNIL (Koninklijk Nederlands-Indisch Leger)? Berdasarkan keputusan kerajaan tanggal 20 Juli 1950, pada 26 Juli 1950 pukul 00.00, setelah berumur sekitar 120 tahun, KNIL dinyatakan dibubarkan. Berdasarkan hasil keputusan Konferensi Meja Bundar, mantan tentara KNIL yang ingin masuk ke TNI harus diterima dengan pangkat yang sama. Beberapa dari mereka kemudian di tahun 70-an mencapai pangkat Jenderal Mayor TNI!

Westerling meninggal dengan tenang tahun 1987.

Kepada Bapak Batara Hutagalung saya sampaikan terima kasih.

Siapakah Bpk Batara Hutagalung ? https://www.blogger.com/profile/11228398991023101968

“Kudeta” Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) (Reblogged)

westerlingREBLOGGED dari GAGASAN NUSANTARA   tulisan Bpk.  Batara Hutagalung (http://batarahutagalung.blogspot.co.id/2012/05/teror-westerling-di-republik-indonesia.html)

Setelah Persetujuan Renville, anggota pasukan KST (Korps Speciale Troepen) ditugaskan juga untuk melakukan patroli dan “pembersihan”, antara lain di Jawa Barat. Namun sama seperti di Sulawesi Selatan, banyak anak buah Westerling melakukan pembunuhan sewenang-wenang terhadap penduduk di Jawa Barat. Perbuatan ini telah menimbulkan protes di kalangan tentara KL (Koninklijke Leger) dari Belanda, yang semuanya terdiri dari pemuda wajib militer dan sukarelawan Belanda.

Pada 17 April 1948, Mayor KL R.F. Schill, komandan pasukan 1-11 RI di Tasikmalaya, membuat laporan kepada atasannya, Kolonel KL M.H.P.J. Paulissen di mana Schill mengadukan ulah pasukan elit KST yang dilakukan pada 13 dan 16 April 1948. Di dua tempat di daerah Tasikmalaya dan Ciamis, pasukan KST telah membantai 10 orang penduduk tanpa alasan yang jelas, dan kemudian mayat mereka dibiarkan tergeletak di tengah jalan.

Pengaduan ini mengakibatkan dilakukannya penyelidikan terhadap pasukan khusus pimpinan Westerling. Setelah dilakukan penyelidikan, ternyata banyak kasus-kasus pelanggaran HAM yang kemudian mencuat ke permukaan. Di samping pembunuhan sewenang-wenang, juga terjadi kemerosotan disiplin dan moral di tubuh pasukan elit KST. Kritik tajam mulai berdatangan dan pers menuding Westerling telah menggunakan metode Gestapo (Geheime Staatspolizei), polisi rahasia Jerman yang terkenal kekejamannya semasa Hitler, dan hal-hal ini membuat gerah para petinggi tentara Belanda.

Walaupun Jenderal Spoor sendiri sangat menyukai Westerling, namun untuk menghindari pengusutan lebih lanjut serta kemungkinan tuntutan ke pangadilan militer, Spoor memilih untuk menon-aktifkan Westerling. Pada 16 November 1948, setelah duasetengah tahun memimpin pasukan khusus Depot Speciale Troepen (DST) kemudian KST (Korps Speciale Troepen), Westerling diberhentikan dari jabatannya dan juga dari dinas kemiliteran. Penggantinya sebagai komandan KST adalah Letnan Kolonel KNIL W.C.A. van Beek. Setelah pemecatan atas dirinya, Westerling menikahi pacarnya dan menjadi pengusaha di Pacet (Puncak), Jawa Barat.

Namun ternyata Westerling tidak berpangku tangan dan menikmati kehidupan seorang sipil, melainkan aktif menjaga hubungan dengan bekas anak buahnya dan menjalin hubungan dengan kelompok Darul Islam di Jawa Barat. Secara diam-diam ia membangun basis kekuatan bersenjata akan digunakan untuk memukul Republik Indonesia, yang direalisasikannya pada 23 Januari 1950, dalam usaha yang dikenal sebagai “kudeta 23 Januari.”

Pada 23 Januari 1950, segerombolan orang bersenjata di bawah pimpinan mantan Kapten KNIL Raymond “si Turki” Westerling, mantan komandan pasukan khusus KST (Korps Speciale Troepen), masuk ke kota Bandung dan membunuh semua orang berseragam TNI yang mereka temui. Ternyata aksi gerombolan ini -yang kemudian dikenal sebagai Peristiwa Kudeta APRA (Angkatan Perang Ratu Adil)- telah direncanakan beberapa bulan sebelumnya oleh Westerling dan bahkan telah diketahui oleh pimpinan tertinggi militer Belanda.

apra

Pada bulan November 1949, dinas rahasia militer Belanda menerima laporan, bahwa Westerling telah mendirikan organisasi rahasia yang mempunyai pengikut sekitar 500.000 orang. Laporan yang diterima Inspektur Polisi Belanda J.M. Verburgh pada 8 Desember 1949 menyebutkan bahwa nama organisasi bentukan Westerling adalah “Ratu Adil Persatuan Indonesia” (RAPI) dan memiliki satuan bersenjata yang dinamakan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA). Pengikutnya kebanyakan adalah mantan tentara KNIL dan yang desersi dari pasukan khusus KST/RST. Dia juga mendapat bantuan dari temannya orang Tionghoa, Chia Piet Kay, yang dikenalnya sejak berada di kota Medan.

Pada 25 Desember malam, sekitar pukul 20.00 dia menelepon Letnan Jenderal Buurman van Vreeden, Panglima Tertinggi Tentara Belanda, pengganti Letnan Jenderal Spoor yang meninggal secara misterius (ada yang mengatakan, bahwa Spoor bunuh diri karena kecewa atas persetujuan Roem-Royen yang membidani Konferensi Meja Bundar). Westerling menanyakan bagaimana pendapat van Vreeden, apabila setelah penyerahan kedaulatan dia (Westerling) melakukan kudeta terhadap Sukarno dan kliknya. Van Vreeden memang telah mendengar berbagai rumors, antara lain ada sekelompok militer yang akan mengganggu jalannya penyerahan kedaulatan. Juga dia telah mendengar mengenai kelompoknya Westerling. Jenderal van Vreeden, sebagai yang harus bertanggung-jawab atas kelancaran “penyerahan kedaulatan” pada 27 Desember 1949, memperingatkan Westerling agar tidak melakukan tindakan tersebut. Bahwa van Vreeden tidak segera memerintahkan penangkapan Westerling adalah suatu kesalahan, karena kurang dari satu bulan kemudian terbukti, bahwa Westerling melaksanakan niat jahatnya yang membawa malapetaka baru bagi bangsa Indonesia terutama TNI.

Pada hari Kamis tanggal 5 Januari 1950, Westerling mengirim surat kepada pemerintah RIS yang isinya adalah suatu ultimatum. Dia menuntut agar Pemerintah RIS menghargai Negara-Negara bagian, terutama Negara Pasundan serta Pemerintah RIS harus mengakui APRA sebagai tentara Pasundan. Pemerintah RIS harus memberikan jawaban positif dalm waktu 7 hari dan apabila ditolak, maka akan timbul perang besar.

Ultimatum Westerling ini tentu menimbulkan kegelisahan tidak saja di kalangan RIS, namun juga di pihak Belanda dan dr. H.M. Hirschfeld (kelahiran Jerman), Nederlandse Hoge Commissaris (Komisaris Tinggi Belanda) yang baru tiba di Indonesia. Kabinet RIS menghujani Hirschfeld dengan berbagai pertanyaan yang membuatnya menjadi sangat tidak nyaman. Menteri Dalam Negeri Belanda, Stikker menginstruksikan kepada Hirschfeld untuk menindak semua pejabat sipil dan militer Belanda yang bekerjasama dengan Westerling.

Pada 10 Januari 1950 Hatta menyampaikan kepada Hirschfeld, bahwa pihak Indonesia telah mengeluarkan perintah penangkapan terhadap Westerling. Sebelum itu, ketika Lovink masih menjabat sebagai Wakil Tinggi Mahkota (WTM), dia telah menyarankan Hatta untuk mengenakan pasal exorbitante rechten terhadap Westerling. Hal ini tentu merupakan suatu ironi, karena Hatta sendiri serta banyak pemimpin bangsa Indonesia pernah menjadi korban exorbitante rechten.

Sementara itu, pada 10 Januari 1950 Westerling mengunjung Sultan Hamid II dari Kalimantan, di Hotel Des Indes, Jakarta. Sebelumnya, mereka pernah bertemu bulan Desember 1949. Westerling menerangkan tujuannya, dan meminta Hamid menjadi pemimpin gerakan mereka. Hamid ingin mengetahui secara rinci mengenai organisasi Westerling tersebut. Namun dia tidak memperoleh jawaban yang memuaskan dari Westerling. Pertemuan hari itu tidak membuahkan hasil apapun. Setelah itu tak jelas pertemuan berikutnya antara Westerling dengan Hamid. Dalam otobiografinya Mémoires yang terbit tahun 1952, Westerling menulis, bahwa telah dibentuk Kabinet Bayangan di bawah pimpinan Sultan Hamid II dari Pontianak, oleh karena itu dia harus merahasiakannya.

Pertengahan Januari 1950, Menteri UNI dan Urusan Provinsi Seberang Lautan, Mr.J.H. van Maarseven berkunjung ke Indonesia untuk mempersiapkan pertemuan Uni Indonesia-Belanda yang akan diselenggarakan pada bulan Maret 1950. Hatta menyampaikan kepada Maarseven, bahwa dia telah memerintahkan kepolisian untuk menangkap Westerling. Ketika berkunjung ke Belanda, Menteri Perekonomian RIS Juanda pada 20 Januari 1950 menyampaikan kepada Menteri Götzen, agar pasukan elit RST yang dipandang sebagai faktor risiko, secepatnya dievakuasi dari Indonesia. Sebelum itu, satu unit pasukan RST telah dievakuasi ke Ambon dan tiba di Ambon tanggal 17 Januari 1950. Pada 21 Januari Hirschfeld menyampaikan kepada Götzen bahwa Jenderal Buurman van Vreeden dan Menteri Pertahanan Belanda Schokking telah menggodok rencana untuk evakuasi pasukan RST.

Namun upaya mengevakuasi Reciment Speciaale Troepen, gabungan baret merah dan baret hijau, terlambat dilakukan. Dari beberapa bekas anak buahnya, Westerling mendengar mengenai rencana tersebut, dan sebelum deportasi pasukan RST ke Belanda dimulai, pada 23 Januari 1950 Westerling melancarkan “kudetanya.”

Subuh pukul 4.30 hari itu, Letnan Kolonel KNIL T. Cassa menelepon Jenderal Engles dan melaporkan: “Satu pasukan kuat APRA bergerak melalui Jalan Pos Besar menuju Bandung.” Namun laporan Letkol Cassa tidak mengejutkan Engles, karena sebelumnya, pada 22 Januari pukul 21.00 dia telah menerima laporan, bahwa sejumlah anggota pasukan RST dengan persenjataan berat telah melakukan desersi dan meninggalkan tangsi militer di Batujajar. Mayor KNIL G.H. Christian dan Kapten KNIL J.H.W. Nix melaporkan, bahwa “compagnie Erik” yang berada di Kampemenstraat juga akan melakukan desersi pada malam itu dan bergabung dengan APRA untuk ikutserta dalam kudeta, namun dapat digagalkan oleh komandannya sendiri, Kapten G.H.O. de Witt. Engles segera membunyikan alarm besar. Dia mengontak Letnan Kolonel TNI Sadikin, Panglima Divisi Siliwangi. Engles juga melaporkan kejadian ini kepada Jenderal Buurman van Vreeden di Jakarta.

Pukul 8.00 dia menerima kedatangan komandan RST Letkol Borghouts, yang sangat terpukul akibat desersi anggota pasukannya, dan pada pukul 9.00 Letkol Sadikin mendatangi Engles. Ketika dilakukan apel pasukan RST di Batujajar pada siang hari, ternyata 140 orang yang tidak hadir. Dari kamp di Purabaya dilaporkan, bahwa 190 tentara telah melakukan desersi, dan dari SOP di Cimahi dilaporkan, bahwa 12 tentara asal Ambon telah desersi.

Di kota Bandung, secara membabi buta Westerling dan anak buahnya menembak mati setiap anggota TNI yang mereka temukan di jalan. Hari itu, 94 anggota TNI tewas dalam pembantaian tersebut, termasuk Letnan Kolonel Lembong, sedangkan di pihak APRA, tak ada korban seorang pun.

Sementara Westerling memimpin penyerangan di Bandung, sejumlah anggota pasukan RST dipimpin oleh Sersan Meijer menuju Jakarta dengan maksud menangkap Presiden Sukarno dan menduduki gedung-gedung pemerintahan. Namun dukungan dari pasukan KNIL lain dan TII (Tentara Islam Indonesia) yang diharapkan Westerling tidak muncul, sehingga “serangan” ke Jakarta gagal total. Demikian juga secara keseluruhan, pelaksanaan “kudeta” tidak seperti yang diharapkan oleh Westerling dan anak buahnya.

Setelah puas melakukan pembantaian di Bandung, seluruh pasukan RST dan satuan-satuan yang mendukungnya kembali ke tangsi masing-masing. Westerling sendiri berangkat ke Jakarta, di mana dia pada 24 Januari 1950 bertemu lagi dengan Sultan Hamid II di Hotel Des Indes. Hamid yang didampingi oleh sekretarisnya, dr. J. Kiers, melancarkan kritik pedas terhadap Westerling atas kegagalannya dan menyalahkan Westerling telah membuat kesalahan besar di Bandung. Tak ada perdebatan, dan sesaat kemudian Westerling pergi meninggalkan hotel.

Setelah itu terdengar berita bahwa Westerling merencanakan untuk mengulang tindakannya. Pada 25 Januari Hatta menyampaikan kepada Hirschfeld, bahwa Westerling, didukung oleh RST dan Darul Islam, akan menyerbu Jakarta. Engles juga menerima laporan, bahwa Westerling melakukan konsolidasi para pengikutnya di Garut, salah satu basis Darul Islam waktu itu.

Aksi militer yang dilancarkan oleh Westerling bersama APRA yang antara lain terdiri dari pasukan elit tentara Belanda, tentu menjadi berita utama media massa di seluruh dunia. Hugh Laming, koresponden Kantor Berita Reuters yang pertama melansir pada 23 Januari 1950 dengan berita yang sensasional. Osmar White, jurnalis Australia dari Melbourne Sun memberitakan di halaman muka: “Suatu krisis dengan skala internasional telah melanda Asia Tenggara.” Untuk dunia internasional, Belanda sekali lagi duduk di kursi terdakwa. Duta Besar Belanda di AS, van Kleffens melaporkan bahwa di mata orang Amerika, Belanda secara licik sekali lagi telah mengelabui Indonesia, dan serangan di Bandung dilakukan oleh “de zwarte hand van Nederland” (tangan hitam dari Belanda).

Selanjutnya :

Konspirasi Belanda Menyelamatkan Westerling

Kepada Bapak Batara Hutagalung saya sampaikan terima kasih.